Anda di halaman 1dari 38

ASKEP TUBERKULOSIS

KMB 2
Ns. Zalis Neta Mawardi, S.Kep
TUBERKULOSIS PARU (TB
PARU)
Tuberkulosis merupakan penyakit
infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Kuman
batang tahan asam ini dapat
merupakan organisme patogen
maupun saprofit. Ada beberapa
mikrobakteria patogen , tetapi hanya
strain bovin dan human yang
patogenik terhadap manusia. Basil
tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai
4 m, ukuran ini lebih kecil dari satu
sel darah merah.
World Health Organization (WHO)
dalam Annual Report on Global
TB Control 2003 menyatakan
terdapat 22 negara dikategorikan
sebagai high-burden countries
terhadap TB. Indonesia termasuk
peringkat ketiga setelah India
dan China dalam menyumbang
TB di dunia.
ETIOLOGI
Mycobacterium Tuberculosis merupakan jenis
kuman berbentuk batang berukuranpanjang
1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Sebagian
besar komponen Mycobacterium Tuberculosis
adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman
mampu tahan terhadap asam serta sangat
tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik.
Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob
yakni menyukai daerah yang banyak oksigen.
Oleh karena itu, Mycobacterium Tuberculosis
senang tinggal di daerah apeks paru-paru
yang kandungan oksigennya tinggi. Daerah
tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk
penyakit tuberkulosis (Somantri,2008).
C. Patofisiologi
Penularan terjadi karena kuman dibatukan
atau dibersinkan keluar menjadi droflet
nuklei dalam udara. Partikel infeksi ini
dapat menetap dalam udara bebas selama
1 2 jam, tergantung ada atau tidaknya
sinar ultra violet. dan ventilasi yang baik
dan kelembaban. Dalam suasana yang
gelap dan lembab kuman dapat bertahan
sampai berhari hari bahkan berbulan, bila
partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang
sehat akan menempel pada alveoli
Patofisiologi lanjutan..
kemudian partikel ini akan
berkembang bisa sampai puncak
apeks paru sebelah kanan atau kiri
dan dapat pula keduanya dengan
melewati pembuluh linfe, basil
berpindah kebagian paru paru yang
lain atau jaringan tubuh yang lain.
Setelah itu infeksi akan menyebar
melalui sirkulasi, yang pertama
terangsang adalah limfokinase, yaitu
akan dibentuk lebih banyak untuk
merangsang macrofage,
Patofisiologi lanjutan
berkurang tidaknya jumlah kuman
tergantung pada jumlah macrofage.
Karena fungsinya adalah membunuh
kuman / basil apabila proses ini
berhasil & macrofage lebih banyak
maka klien akan sembuh dan daya
tahan tubuhnya akan meningkat.
Tetapi apabila kekebalan tubuhnya
menurun maka kuman tadi akan
bersarang didalam jaringan paru-paru
dengan membentuk tuberkel (biji biji
kecil sebesar kepala jarum).
Patofisiologi lanjutan.
Tuberkel lama kelamaan akan
bertambah besar dan bergabung
menjadi satu dan lama-lama
timbul perkejuan ditempat
tersebut.apabila jaringan yang
nekrosis dikeluarkan saat
penderita batuk yang
menyebabkan pembuluh darah
pecah, maka klien akan batuk
darah (hemaptoe).
D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala pada klien secara
obyektif adalah :
1. Keadaan postur tubuh klien yang
tampak terangkat kedua bahunya.
2. BB klien biasanya menurun; agak
kurus.
3. Demam, dengan suhu tubuh bisa
mencapai 40 41 C.
4. Batuk lama, > 1 bulan atau adanya
batuk kronis.
.5 Batuk yang kadang disertai
hemaptoe.
6. Sesak nafas.
7. Nyeri dada.
8. Malaise, (anorexia, nafsu makan
menurun, sakit kepala, nyeri otot,
berkeringat pada malam hari).
E. Pemeriksaan
Penunjang
Kultur sputum : positif untuk
mycobakterium pada tahap akhir
penyakit.
Ziehl Neelsen : (pemakaian asam
cepat pada gelas kaca untuk
usapan cairan darah) positif
untuk basil asam cepat.
. Pemeriksaan
Penunjang..
Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan

vollmer) ; reaksi positif (area durasi 10


mm) terjadi 48 72 jam setelah injeksi
intra dermal. Antigen menunjukan
infeksi masa lalu dan adanya anti body
tetapi tidak secara berarti menunjukan
penyakit aktif. Reaksi bermakna pada
pasien yang secara klinik sakit berarti
bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan
atau infeksi disebabkan oleh
mycobacterium yang berbeda.
. Pemeriksaan
Penunjang
Elisa / Western Blot : dapat
menyatakan adanya HIV.
Foto thorax ; dapat menunjukan
infiltrsi lesi awal pada area paru atas,
simpanan kalsium lesi sembuh
primer atau efusi cairan, perubahan
menunjukan lebih luas TB dapat
masuk rongga area fibrosa.
. Pemeriksaan
Penunjang.
Histologi atau kultur jaringan
( termasuk pembersihan gaster ;
urien dan cairan serebrospinal,
biopsi kulit ) positif untuk
mycobakterium tubrerkulosis.
Biopsi jarum pada jarinagn paru ;
positif untuk granula TB ; adanya
sel raksasa menunjukan nekrosis
. Pemeriksaan
Penunjang..
Elektrosit, dapat tidak normal
tergantung lokasi dan bertanya
infeksi ; ex ;Hyponaremia, karena
retensi air tidak normal, didapat
pada TB paru luas. GDA dapat tidak
normal tergantung lokasi, berat dan
kerusakan sisa pada paru.
Pemeriksaan fungsi pada paru ;
penurunan kapasitas vital,
peningkatan ruang mati,
peningkatan rasio udara resido dan
kapasitas paru total dan
penurunan saturasi oksigen
sekunder terhadap infiltrasi
parenkhim / fibrosis, kehilangan
jaringan paru dan penyakit pleural
(TB paru kronis luas).
F. Penemuan Pasien TBC
Adapun strategi penemuan pada
tuberkulosis adalah:
a. Penemuan pasien TB dilakukan
secara pasif dengan promosi aktif.
Penjaringan tersangka pasien
dilakukan di unit pelayanan kesehatan;
didukung dengan penyuluhan secara
aktif, baik oleh petugas kesehatan
maupun masyarakat, untuk
meningkatkan cakupan penemuan
tersangka pasien TB.
b. Pemeriksaan terhadap kontak
pasien TB, terutama mereka yang
BTA positif dan pada keluarga anak
yang menderita TB yang
menunjukkan gejala sama, harus
diperiksa dahaknya.
c. Penemuan secara aktif dari rumah
ke rumah, dianggap tidak cost
efektif.(Depkes RI, 2007)
3). Klasifikasi Penyakit dan Tipe
Pasien
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe
pasien tuberkulosis memerlukan suatu
definisi kasus yang meliputi empat
hal, yaitu:
1) Lokasi atau organ tubuh yang sakit:
paru atau ekstra paru.
2) Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak
secara mikroskopis): BTA (Basil Tahan
Asam ) positif atau BTAnegatif
3) Tingkat keparahan penyakit: ringan
atau berat.
4) Riwayat pengobatan TB sebelumnya:
baru atau sudah pernah diobati
Pengobatan TB diberikan dalam 2
tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
a. Tahap awal (Intensif):
1) Pada tahap intensif (awal) pasien
mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah
terjadinya resistensi obat.
2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut
diberikan secara tepat, biasanya pasien
menularmenjadi tidak menular dalam
kurun waktu 2 minggu.
3) Sebagian besar pasien TB BTA positif
menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.

b. Tahap lanjutan:
1). Pada tahap lanjutan pasien
mendapat jenis obat lebih sedikit,
namun dalam jangka waktu yang
lama.
2). Tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persister
sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.(Depkes RI, 2007)
3). Pemantauan dan Hasil
Pengobatan TB Pemantauan
kemajuan hasil pengobatan pada
orang dewasa dilaksanakan
denganpemeriksaan ulang dahak
secara mikroskopis. Pemeriksaan
dahak secara mikroskopis lebih baik
dibandingkan dengan pemeriksaan
radiologis dalam memantau
kemajuanpengobatan.
Untuk memantau kemajuan
pengobatan dilakukan pemeriksaan
specimen sebanyak dua kali
(sewaktu dan pagi). Hasil
pemeriksaan dinyatakan negatif bila
ke 2 spesimen tersebut negatif. Bila
salah satu spesimen positif atau
keduanya positif, hasilpemeriksaan
ulang dahak tersebut dinyatakan
positif (Depkes RI, 2007).
G. Penatalaksanaan

Dalam pengobatan TB paru dibagi


2 bagian :
Jangka pendek.
Dengan tata cara pengobatan :
setiap hari dengan jangka waktu 1
3 bulan.
Streptomisin inj 750 mg.
Pas 10 mg.
Ethambutol 1000 mg.
Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka
panjang, tata cara pengobatannya
adalah setiap 2 x seminggu, selama
13 18 bulan, tetapi setelah
perkembangan pengobatan ditemukan
terapi.
Therapi TB paru dapat dilakkukan
dengan minum obat saja, obat yang
diberikan dengan jenis :
INH.
Rifampicin.
Ethambutol.
Dengan fase selama 2 x seminggu,
dengan lama pengobatan kesembuhan
menjadi 6-9 bulan.
Dengan menggunakan obat program
TB paru kombipack bila ditemukan
dalam pemeriksan sputum BTA ( + )
dengan kombinasi obat :
Rifampicin.
Isoniazid (INH).
Ethambutol.
Pyridoxin (B6
Pengkajian
. Riwayat PerjalananPenyakit
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas
berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit
tidur, demam, menggigil, berkeringat pada
malam hari.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat
kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi
radang sampai setengah paru), demam
subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak
diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit
kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
Pengkajian ..
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non
produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai
batuk dengan sputum hijau/purulent,
mukoid kuning atau bercak darah,
pembengkakan kelenjar limfe,
terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di
daerah apeks paru, takipneu (penyakit
luas atau fibrosis parenkim paru dan
pleural), sesak napas, pengembangan
pernapasan tidak simetris (effusi
pleura.), perkusi pekak dan penurunan
fremitus (cairan pleural), deviasi
trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat
karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang
sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri
bisa timbul bila infiltrasi radang sampai
ke pleura sehingga timbul pleuritis.

e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah
keuangan, perasaan tak berdaya/tak
ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap
dini), ansietas, ketakutan, mudah
tersinggung.
Riwayat Kesehatan Dahulu :
a. Pernah sakit batuk yang lama
dan tidak sembuh-sembuh.
b. Pernah berobat tetapi tidak
sembuh.
c. Pernah berobat tetapi tidak
teratur.
d. Riwayat kontak dengan
penderita Tuberkulosis Paru.
e. Daya tahan tubuh yang
menurun.
f. Riwayat vaksinasi yang tidak
teratur.
.
g.Riwayat Pengobatan Sebelumnya:
Kapan pasien mendapatkan
pengobatan sehubungan dengan
sakitnya.
Jenis, warna, dosis obat yang
diminum.
c. Berapa lama. pasien menjalani
pengobatan sehubungan dengan
penyakitnya.
d. Kapan pasien mendapatkan
pengobatan terakhir
4. Riwayat Sosial Ekonomi
Diagnosa keperawatan
Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan: Sekret
kental atau sekret darah,
Kelemahan, upaya batuk buruk.
Edema trakeal/faringeal.
Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan:
Berkurangnya keefektifan
permukaan paru, atelektasis,
Kerusakan membran alveolar
kapiler, Sekret yang kental,
Edema bronchial.
Diagnosa kep...
Resiko tinggi infeksi dan
penyebaran infeksi berhubungan
dengan: Daya tahan tubuh
menurun, fungsi silia menurun,
sekret yang inenetap, Kerusakan
jaringan akibat infeksi yang
menyebar, Malnutrisi,
Terkontaminasi oleh lingkungan,
Kurang pengetahuan tentang
infeksi kuman.
Diagnosa kep
Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang
dari kebutuhan berhubungan
dengan: Kelelahan, Batuk yang
sering, adanya produksi sputum,
Dispnea, Anoreksia, Penurunan
kemampuan finansial.
Kurang pengetahuan tentang
kondisi, pengobatan, pencegahan
berhubungan dengan: Tidak ada
yang menerangkan, Interpretasi
yang salah, Informasi yang didapat
tidak lengkap/tidak akurat,
Terbatasnya pengetahuan/kognitif