Anda di halaman 1dari 26

AMFETAMIN

Oleh:
Niken Kasatie 04084821517071
Mohammad Riedho Cahya Atazsu 04054821517139

Pembimbing:
dr. Mansyuri, SpKF
PENDAHULUAN

Menurut Saferstein yang dimaksud dengan Forensic


Science adalah the application of science to low,
maka secara umum ilmu forensik (forensik science)
dapat dimengerti sebagai aplikasi atau
pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk
penegakan hukum dan peradilan.
Ilmu toksikologi merupakan ilmu yang menelaah
tentang kerja dan efek berbahaya zat kimia atau
racun terhadap mekanisme biologis suatu
organisme.
Psikotropika merupakan zat atau obat bukan narkotika,
baik alamiah maupun sintetis yang memiliki khasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas
normal dan perilaku.
Psikotropika dikelompokkan ke dalam 3 golongan yaitu
depresan, stimulan, dan halusinogen. Salah satu contoh
kelompok stimulan yaitu amfetamin.
Amfetamin merupakan suatu stimulan dan menekan
nafsu makan.
Amfetamin menstimulasi sistem saraf pusat melalui
peningkatan zat-zat kimia tertentu di dalam tubuh.
DEFINISI
Amfetamin merupakan suatu stimulan dan menekan nafsu makan.

Amfetamin dapat berupa bubuk putih, kuning, maupun coklat,


atau bubuk putih kristal kecil.

Senyawa ini memiliki nama kimia methylphenethylamine


merupakan suatu senyawa yang telah digunakan secara
terapetik untuk mengatasi obesitas, attention-deficit
hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi.

Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan amfetamin adalah:

1. Amfetamin

2. Metamfetamin

3. Metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstasy atau Adam)


MEKANISME KERJA

Aktivitas amfetamin di seluruh otak lebih spesifik,


hanya reseptor-reseptor tertentu yang dapat
merespon amfetamin tetapi beberapa daerah di
otak cenderung tidak merespon, contohnya
dopamin D2 reseptor di hippocampus.
Sistem saraf utama yang dipengaruhi oleh
amfetamin sebagian besar terlibat dalam sirkuit
otak. Neurotransmitter yang terlibat dalam jalur
berbagai hal penting di otak menjadi target utama
dari amfetamin yaitu dopamin.
Amphetamine telah ditemukan memiliki beberapa
analog endogen, yaitu molekul struktur serupa
yang ditemukan secara alami di otak. l- Fenilalanin
dan - phenethylamine adalah dua contoh, yang
terbentuk dalam sistem saraf perifer serta dalam
otak itu sendiri.
Efek klinis amfetamin akan muncul dalam waktu 2-
4 jam setelah penggunaan. Senyawa ini memiliki
waktu paruh 4-24 jam dan dieksresikan melalui urin
sebanyak 30% dalam bentuk metabolit. Metabolit
amfetamin terdiri dari p-hidroksiamfetamin, p-
hidroksinorepedrin, dan penilaseton.
PATOFISIOLOGI

Otak : Penggunaan amfetamine secara kronis


dengan dosis tinggi akan menginduksi perubahan
toksik pada sistim monoaminergik pusat.
Kadar dopamin terdepresi hanya pada darah, bagian
otak lain tidak terpengaruh. Kondisi toksik
amfetamine ini juga mempengaruhi sistim
serotoninergik, hal ini diperlihatkan dengan
perubahan aktivitas triptophan hidroksilase
terutama pada penggunaan fenfluramin.
Perifer:

Efek yang menonjol adalah terhadap kerja jantung.


Katekolamin mempengaruhi sensitivitas miokardium
pada stimulus ektopik, karena itu akan menambah
resiko dari aritmia jantung yang fatal.
Amfetamine mempengaruhi pengaturan suhu
secara sentral di otak oleh peningkatan aktivitas
hipothalamus anterior. Penyebab kematian yang
besar pada toksisitas amfetamine disebabkan oleh
hiperpireksia.
EFEK SAMPING

Fisik :

Infark miokardium, hipertensi berat, penyakit serebrovaskular, dan


kolitis iskemia. Gejala neurologis yang berkepanjangan, dari kedutan,
tetani, kejang, sampai koma dan kematian.
Penggunaan amfetamin intravena dapat menularkan human
immunodeficiency virus dan hepatitis serta menyebabkan
perkembangan abses paru, endokarditis, dan angiitis nekrotikans lebih
lanjut.
Efek samping yang tidak mengancam nyawa mencakup semburat
merah, pucat, sianosis, demam, sakit kepala, takikardia, palpitasi, mual,
muntah, bruksisme (gigi gemeretuk), sesak nafas, tremor, dan ataksia.
Wanita hamil yang menggunakan amfetamin sering melahirkan bayi
dengan berat lahir rendah, lingkar kepala kecil, usia kehamilan dini, dan
retardasi pertumbuhan.
Psikologis : kegelisahan, disforia, insomnia,
iritabilitas, sikap bermusuhan, kebingungan,
gangguan ansietas menyeluruh dan gangguan panik
serta ide rujukan, waham paranoid, dan halusinasi.
TEMUAN DALAM AUTOPSI

Jika obat dihirup, dapat ditemukan sejumlah kecil bubuk


pada saat hidung dibuka atau melalui swab methanol pada
septum hidung.
Pada injeksi biasanya digunakan jarum insulin, dan bekas
suntikan biasanya agak sulit dilihat. Kaca pembesar dapat
digunakan untuk melihat bekas suntikan tersebut, bekas
suntikan tersebut kemungkinan tidak terdapat perdarahan.
Penggunaan berulang kali, bekas tusukan cenderung
banyak dan berkumpul disekitar vena yang sering
digunakan.
Terkadang bekas tato di atas vena menyembunyikan bekas
tusukan
Jika obat dihisap atau dikonsumsi secara oral, terdapat
tanda terbakar pada jari telunjuk bagian palmar yang
digunakan untuk memegang pipa panas pada
penggunaan oral.
Sampel autopsi harus menyertakan darah perifer, urin,
jaringan hepar, empedu, isi lambung dan rambut. Urin,
cairan spinal dan jaringan dapat positif untuk beberapa
hari setelah penggunaan pertama, dan positif untuk
waktu yang lebih lama pada penggunaan kronis.
Rambut juga dapat dianalisis untuk melihat positif
tidaknya penggunaan MDMA (Methylene Dioxy Meth
Amphetamine) yang terkenal dengan sebutan Ecstasy
TEMUAN
Pada otak:

Studi post mortem memperlihatkan perubahan level


serotonin dan metabolit utamanya pada otak pada
pengguna jangka panjang amfetamine.
Level serotonin berkurang 50%80% pada regio
yang berbeda pada otak, pada perbandingan
dengan yang tidak menggunakan amfetamine.
Dapat memperlihatkan gambaran disseminated
intravaskular coagulation (DIC), edema dan
degenerasi neuron nampak pada lokus ceruleus.
Pada paru paru :

Pada pemeriksaan internal, paru paru pada


intoksikasi amfetamin menjadi berat, biasanya
berat masing masing 400 hingga 500 gram, tapi
berat paru paru dapat sampai 1000 gram atau
lebih.
Jika digunakan secara intravena, dapat ditemukan
benda asing pada paru.
Pada jantung :

Jantung adalah target organ, terkadang terjadi


penambahan berat, terutama pada hipertrofi
ventrikel kiri dan pembesaran jantung bagian kanan.
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan kongesti
dari organ dengan edema. Juga dapat ditemukan
peningkatan sejumlah partikel karbon. Bisa juga
terlihat nekrosis myofibril.
Jantung sering terdapat area iskemi dan mionekrosis
yang dikelilingi oleh neutrofil dan makrofag.
Pada hepar :

Terdapat pembesaran hepatosit dan pada


sitoplasma bisa mengandung banyak vakuola.
Kasus intoksikasi yang menyebabkan hipertermia
dengan kegagalan fungsi hati sering terdapat
nekrosis hepatis massif, perlemakan, dilatasi
sinusoidal dan inflamasi juga ditemukan.
Pemeriksaan darah :

Waktu paruh yang cukup lama menyebabkan obat dapat dideteksi


pada darah dalam waktu beberapa jam, bergantung dari dosisnya.
Kebanyakan tes skrining darah untuk amfetamin adalah
menggunakan teknik imunoassay. Dapat juga dengan
menggunakan gas kromatografi dan analisis spektroskopi.
Identifikasi amfetamine dengan menggunakan saliva telah ada
dan dapat digunakan untuk tes simpel yang non-invasif.
Buflomedil adalah vasodilator untuk penyakit cerebrovaskular dan
arteri perifer yang bercampur dengan enzim multiplied
immunoassay (EMIT) untuk amfetamin.
Trazodon telah dilaporkan menyebabkan hasil false positif.
Bloker Histamin (H2) seperti ranitidin adalah
penyebab utama dari hasil false positif.
Ritodrine, sebuah beta simpatomimetik yang
digunakan dalam manajemen persalinan preterm,
dan derivat fenotiazin seperti klorpromazin dan
prometazin juga diketahui mengganggu identifikasi.
Selegilin dimetabolisasi menjadi L-amfetamin dan L-
metamfetamin dan menyebabkan hasil positif.
Klobenzorex, sebuah obat anorektik yang diresepkan di
Meksiko, dimetabolisasi menjadi amfetamin, memberikan hasil
positif pada tes dengan gas kromatografi dan analisis
spektroskopi.
Pencapaian terbaru dalam mendeteksi amfetamin adalah
menggunakan spektroskopi dengan transmisi inframerah.
Spektroskopi non akueous elektroforesis-fluoresens kapiler
telah dievaluasi dan digunakan sebagai metode deteksi cepat
untuk amfetamine.
Ketika mengambil spesimen darah pada orang yang sudah
meninggal, lebih direkomendasikan untuk mengambil darah
pada bagian perifer daripada darah di dekat jantung, hal ini
karena redistribusi amfetamin ke jantung mengakibatkan
kadar amfetamin yang lebih tinggi8.
Pada ginjal :

Amfetamine mengakibatkan myoglobinuric tubular


necrosis, sedangkan metamfetamine dapat
menyebabkan Proliferatif Glomerulonephritis akibat
dari suatu systemic necrotizing vasculitis.
Biasanya terjadi bila amfetamine digunakan secara
intravena, Merupakan keadaan yang jarang terjadi,
dan timbul bila terjadi overdosis. Yang paling sering
adalah derivat metamfetamin.
Tes Urin :

Pengguna MDMA akan memperlihatkan hasil positif


pada amfetamin (metode umum) dan
metamfetamin (metode tes yang baru dan lebih
jarang digunakan).
Periode deteksi amfetamin pada urin adalah 24-96
jam setelah penggunaan (rata rata 72 jam).
Periode deteksi amfetamin dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti pH dan status hidrasi.
Tes Rambut :

Analisis rambut juga dapat digunakan untuk


mengidentifikasi amfetamin dan derivatnya, namun
penggunaannya tidak direkomendasikan. Tes
rambut secara umum memerlukan sekitar 1.5 inci
dari rambut. Ini menyediakan periode dekteksi
sekitar 90 hari. Jika rambut seseorang kurang dari
1,5 inci, periode deteksinya akan lebih pendek.
ASPEK MEDIKOLEGAL
Pasal yang menerangkan tentang intoksikasi (keracunan)
MDMA adalah pasal 133 (1) KUHP, yang berbunyi : Dalam
hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang
diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli
lainnya; pengertian atau batasan dari racun itu sendiri tidak
dijelaskan, dengan demikian dipakai pengertian racun yang
telah disepakati oleh para ahli. Pengertian yang paling
banyak dianut adalah racun ialah suatu zat yang bekerja
pada tubuh secara kimiawi dan secara faali, yang dalam
dosis toksik, selalu menyebabkan gangguan fungsi tubuh,
hal mana dapat berakhir dengan penyakit atau kematian.
Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintetis yang disebut
stimulan sistem saraf pusat (SSP). Amfetamin merupakan satu jenis
narkoba yang dibuat secara sintetis dan kini terkenal di wilayah Asia
Tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih, kuning, maupun
coklat, atau bubuk putih kristal kecil. Senyawa ini memiliki nama kimia
methylphenethylamine merupakan suatu senyawa yang telah
digunakan secara terapetik untuk mengatasi obesitas, attention-deficit
hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi.

Intoksikasi Amfetamin dapat didiagnosis menggunakan DSM-IV-TR

Terdapat beberapa temuan dalam autopsi pada korban intoksikasi


amfetamin.


DAFTAR PUSTAKA
Kerrigan, S. 200. Drug Toxicology for Prosecutors Targeting Hardcore Impaired Drivers. New Mexico
Department of Health Scientific Laboratory Division Toxicology Bureau : New Mexico.
I.M.A. Gelgel Wirasuta. 2008. Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan Analisis. Indonesian Journal
of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):47-55 Asosiasi Forensik Indonesia Jakarta.
Mansyur. Toksikologi Keamanan Unsur Dan Bidang-Bidang Toksikologi. htpp://www.freewweb.com. access :
maret 2016
BNN. 2008. Petunjuk Teknis Advokasi Bidang Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba. www.bnn.go.id. access :
maret 2016
Kusminarno, Ketut. 2002. Penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya
(NAPZA). Cermin dunia kedokteran no. 135 hal 17-20. Jakarta.
Stephen BG. Investigation of death from drug abuse. In: Spitz WU, Spitz DJ. Spitz and Fishers Medicolegal
Investigation of Death. 4 th ed. Charles C Thomas Publisher LTD;USA.
Kalant H. 2001. The Pharmacology and Toxicology of ecstasy (MDMA) and Related Drug. CMAJ[serial online]
Oct 2, 2001; 165(7):917-28. Available from : URL :http://www.cmaj.ca
Leikin JB, Watson WA. 2004. Interpretationn of Analytical Result in Forensic Toxycology. In: Dart RC (editor).
Medical Toxicology. 3th edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Syarif A, al. e. 2007. Farmakologi dan Terapi. 5th ed. Gunawan SG, al. e, editors. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Departemen Kesehatan R I. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ).
Edisi ke III. Jakarta.
TERIMA KASIH