Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

ANAK S DIRUANG PERAWATAN


OTJE RS RAJAWALI BANDUNG

OLEH: SRI LASMINI


LATAR BELAKANG

Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita (bayi


dibawah 5 tahun) terbesar didunia.
Menurut catatan UNICEF, setiap detik 1 balita meninggal karena
diare.
Diare sering kali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di
tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya.
Menurut catatan WHO, diare membunuh 2 juta anak didunia
setiap tahun, sedangkan di Indonesia, menurut Surkesnas (2001)
diare merupakan salah satu penyebab kematian ke 2 terbesar
pada balita.
Solusi dalam hal ini adalah memberikan pengajaran kepada orang
tua mengenai kesehatan dan perawatan anak dan bayi di rumah.
RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi penyakit Diare?


2. Apa saja jenis-jenis penyakit Diare?
3. Bagaimana menjelaskan penyebab dan proses
terjadinya Diare?
4. Bagaimana menjelaskan cara mengatasi Diare?
5. Menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada
anak yang terkena penyakit Diare ?
TUJUAN

1. Mengetahui tentang penyakit Diare.


2. Mengetahui tentang jenis-jenis penyakit Diare.
3. Menjelaskan penyebab dan proses terjadinya
Diare.
4. Menjelaskan cara mengatasi Diare.
5. Menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada
anak yang terkena penyakit Diare .
PENGERTIAN

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah


tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200
cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengah padat,
dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO
(1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x
sehari.
Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau
cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih
sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari)
(Depkes RI Ditjen PPM dan PLP, 2002). Diare terbagi 2
berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan
kronis (Mansjoer,A.1999,501).
ETIOLOGI

1. Faktor infeksi : Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio


kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida
(Candida Albicans).
2. Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering
terjadi pada anak-anak).
3. Faktor malabsorbsi : Karbohidrat, lemak, protein.
4. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak
lemak, sayuran dimasak kurang matang.
5. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.
6. Obat-obatan : antibiotic.
7. Penyakit usus : colitis ulcerative, crohn disease, enterocolitis,
obstruksi usus
KOMPLIKASI

DEHIDRASI DEHIDRASI
RINGAN

DEHIDRASI
DEHIDRASI
SEDANG

DEHIDRASI
BERAT
KOMPLIKASI

Renjatan hipovolemik
Hipokalemia
Hipoglikemia
Intoleransi laktosa sekunder
Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
Malnutrisi energi protein
PENATALAKSANAAN

CAIRAN PER
ORAL
PEMBERIAN
CAIRAN
CAIRAN
PARENTERAL
MEDIS DIATETIK

OBAT-
OBATAN
INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
skunder terhadap diare
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x
24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara
maksimal
Kriteria hasil :
Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,5 0
c, RR : < 40 x/mnt )
Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak
cowong, UUB tidak cekung. Konsistensi BAB lembek,
frekwensi 1 kali perhari
INTERVENSI KEPERAWATAN

INTERVENSI:
Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekatan
urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki
defisit

Beri LRO (larutan rehidrasi oral)


R/ Untuk rehidrasi dan penggantian kehilangan cairan melalui feses

Berikan LRO sedikit tapi sering/anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3
lt/hr
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral

Setelah rehidrasi berikan diet regular pada anak sesuai toleransi


R/ Karena penelitian menunjukkan pemberian ulang diet normal secara dini bersifat
menguntungkan untuk menurunkan jumlah defekasi dan penurunan berat badan serta
pemendekan durasi penyakit

Pantau intake dan output (urin, feses, dan emesis)


R/ Untuk mengevaluasi keefektifan intervensi
INTERVENSI KEPERAWATAN

Timbang berat badan setiap hari


R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt.

Kaji TTV, turgor kulit, membrane mukosa, dan status mental setiap 4 jam atau sesuai indikasi
R/ Untuk mengkaji hidrasi

Hindari masukan cairan jernih seperti jus buah, minuman berkarbonat, dan gelatin
R/ Karena cairan ini biasanya tinggi karbohidrat, rendah elektrolit, dan mempunyai osmolaritas
yang tinggi

Kolaborasi :
Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K, Ca, BUN)
R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik
untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk
menghambat endotoksin.

Instruksikan
keluarga dalam memberikan terapi yang tepat, pemantauan masukkan dan keluaran, dan
mengkaji tanda-tanda dehidrasi
R/ Untuk menjamin hasil optimum dan memperbaiki kepatuhan terhadap aturan terapeutik
KESIMPULAN

Perlu penanganan yang tepat untuk mencegah diare. Pencegahan diare bisa dilakukan
dengan mengusahakan lingkungan yang bersih dan sehat :
Usahakan untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
Usahakan pula menjaga kebersihan alat-alat makan.
Sebaiknya air yang diminum memenuhi kebutuhan sanitasi standar di lingkungan tempst
tinggal. Air dimasak benar-benar mendidih, bersih, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak
berasa.
Tutup makanan dan minuman yang disediakan di meja.
Setiap kali habis pergi usahakan selalu mencuci tangan, kaki, dan muka.
Biasakan anak untuk makan di rumah dan tidak jajan di sembarangan tempat. Kalau bisa
membawa makanan sendiri saat ke sekolah.
Buatlah sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal, seperti air bersih
dan jamban/WC yang memadai.
Pembuatan jamban harus sesuai persyaratan sanitasi standar. Misalnya, jarak antara
jamban (juga jamban tetangga) dengan sumur atau sumber air sedikitnya 10 meter agar air
tidak terkontaminasi. Dengan demikian, warga bisa menggunakan air bersih untuk
keperluan sehari-hari, untuk memasak, mandi, dan sebagainya.