Anda di halaman 1dari 33

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI

BAKTERI SHIGELLA
Herlina, SKM, M.Kes

Prodi DIV Analis Kesehatan


Universitas Prof. Dr. Hamka
Jakarta
Pendahuluan
Shigella sp adalah kuman patogen usus yang telah lama
dikenal sebagai agen penyebab penyakit disentri basiller
Berada dalam tribe Escherichiae karena sifat genetic yang
saling berhubungan, tetapi dimasukkan dalam genus
tersendiri yaitu genus shigellla karena gejala kinik yang
disebabkannya bersifat khas.
Sampai saat ini terdapat 4 spesies Shigella yaitu: Shigella
dysenteriae, shigella flexneri, shigella boydii, dan shigella
sonnei.
Morfologi
Ciri-ciri Khas Organisme
Shigella adalah kuman batang gram negatif ramping;
bentuk kokobasil dan ditemukan pada biakan muda

Biakan
Shigela bersifat fakultatif anaerob tetapi paling baik
tumbuh secara aerobik. Koloninya konveks, bulat,
transparan dengan pinggiran utuh yang mencapai
diameter kira-kira 2 mm dalam 24 jam.
Morfologi
Sifat-sifat Pertumbuhan :

Semua Shigella meragikan glukosa. Bakteri ini tidak meragi


laktosa, kecuali Shigella sonnei
Ketidakmampuannya untuk meragikan laktosa membedakan
bakteri Shigella pada perbenihan diferensial
Shigella membentuk asam dari karbohidrat, tetapi jarang
menghasilkan gas
Shigella juga dapat dibagi menjadi bakteri yang meragikan
manitol dan yang tidak.
Morfologi
Variasi :
Mutan-mutan dengan sifat-sifat biokimia, antigen
dan patogen yang berbeda sering timbul dari strain
induk.
Variasi dari bentuk koloni halus (H) menjadi kasar
(K) dihubungkan dengan hilangnya daya invasi.
Klasifikasi

Kingdom : : Bakteria
Filum : Proteobakteria
Kelas : Gamma Proteobakteria
Ordo : Enterobakteriales
Famili : Enterobakteriaceae
Genus : Shigella
Spesies : S. boydii ; S. dysenteriae ;
S. flexneri ; S. sonnei
Klasifikasi

Spesies shigella diklasifikasi menjadi empat


serogroup:
Serogroup A: S. dysenteriae (12 serotypes)
Serogroup B: S. flexneri (6 serotypes)
Serogroup C: S. boydii (23 serotypes)
Serogroup D: S. sonnei (1 serotype).
Fisiologi
Sifat pertumbuhan adalah aerob dan fakultatif anaerob
pH perrtumbuhan 6,4 7,8
suhu pertumbuhan optimum 370C kecuali S. sonnei dapat tumbuh
pada suhu 450C.
sifat biokimia yang khas adalah negative pada reaksi adonitol
tidak membentuk gas pada fermentasi glukosa,
tidak membentuk H2S kecuali S.flexneri,
negative terhadap sitrat, DNase, lisin, fenilalanin, sukrosa, urease,
VP, manitol, laktosa secara lambat, manitol, xylosa dan negative
pada test motilitas.
Sifat koloni kuman adalah sebagai berikut : kecil, halus, tidak
berwarna, bila ditanam pada media agar SS, EMB, Endo, Mac
Conkey.
Daya Tahan
Shigella sp yang kurang tahan terhadap agen fisik dan kimia
dibandingkan Salmonella.
Tahan dalam % fenol selama 5 jam dan dalam 1% fenol
dalam jam.
Tahan dalam es selama 2 bulan.
Di dalam laut tahan selama 2-5 bulan.
Toleran terhadap suhu rendah dengan kelembaban yang cukup.
Garam empedu konsentrasi yang tinggi menghambat
pertumbuhan strain tertentu.
Kuman akan mati pada suhu 550C.
Struktur Antigen

Shigella mempunyai susunan antigen yang


kompleks. Terdapat banyak tumpang tindih dalam
sifat serologi pelbagai spesies, dan sebagian besar
kuman ini mempunyai antigen O yang juga dimiliki
oleh kuman enteric lainnya.
Antigen somatik O shigella adalah
lipopolisakharida. Kekhususan serologinya
tergantung pada polisakarida. Terdapat lebih dari
40 serotipe. Klasifikasi shigella didasarkan pada
sifat-sifat biokimia dan antigenik
S. S.flexn S. S

dysentria eri boydii sonne


e i
Golongan dan A (1-10) B (1-6) C (1- D 1
Tipe 15)

Manitol - + + +

Ornitin - - - +
Dekarboksilase
Jordans tertrate variabel - - +

Rabinosa dengan - Variabe - variab
pengeraman yang l el
diperpanjang
Patogenesis dan Patologi
Infeksi Shigella hampir selalu terbatas pada saluran pencernaan
sedangkan invasi ke aliran darah sangat jarang karena habitat alamiah
Shigella terbatas pada saluran pencernaan manusia dan primata
lainnya.
Shigella sangat menular dan membutuhkan dosis kurang dari 103
organisme untuk menimbulkan infeksi.
Proses patologik yang penting adalah invasi epitel mukosa,
mikroabses pada dinding usus besar dan ileum terminal yang
menyebabkan nekrosis selaput mukosa, ulserasi superfisial,
perdarahan dan pembentukan pseudomembran pada daerah ulkus.
Pseudomembran ini terdiri atas fibrin, leukosit, sisa sel, selaput
mukosa yang nekrotik dan bakteri. Bila proses mulai membaik, jaringan
granulasi mengisi ulkus dan terbentuk jaringan parut.
Toksin
1. Endotoksin
Pada waktu terjadi autolisis, semua Shigella mengeluarkan
lipopolisakaridanya yang toksik. Endotoksin ini mungkin menambah
iritasi pada dinding usus.

2. Eksotoksin (Shigella dysentriae)


S. Dysentriae tipe 1 (basil Shiga) memproduksi eksotoksin tidak
tahan panas yang dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan
sistem saraf pusat.
Eksotoksin merupakan protein yang bersifat antigenik (merangsang
produksi antitoksin) dan mematikan hewan percobaan.
Sebagai enterotoksin, zat ini dpat menimbulkan diare, sebagaimana
halnya enterotoksin
Gambaran Klinik
Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara
mendadak timbul nyari perut, deman dan tinja encer.
Tinja encer tersebut berhubungan dengan kerja
eksotoksin dalam usus halus.
Sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi
meliputi ileum dan kolon, maka jumlah tinja
meningkat; tinja kurang encer tetapi sering
mengandung lendir dan darah.
Gambaran Klinik
Tiap gerakan usus disertai dengan mengendan dan
tenesmus (spasmus rektum), yang menyebabkan nyeri
perut bagian bawah.
Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5 hari
pada lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada
anak-anak dan orang tua, kehilangan air dan elektrolit dapat
menyebabkan dehidrasi, asidosis, dan bahkan kematian.
Penyakit yang disebabkan oleh S.dysenteriae dapat sangat
berat.
Gambaran Klinik
Kebanyakan orang pada penyembuhan,
mengeluarkan kuman disentri untuk waktu yang
singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi
pembawa kuman usus menahun dan dapat
mengalami serangan penyakit berulang-ulang.
Pada penyembuhan infeksi, kebanyakan orang
membentuk antibody terhadap shigella dalam
darahnya, tetapi antibody ini tidak melindungi
terhadap reinfeksi.
Tes Diagnosis Laboratorium
Bahan terdiri dari tinja segar, lendir, dan usapan
rectum untuk pembiakan.
Sejumlah besar lekosit dan darah fekal sering
terlihat secara mikroskopis.
Bahan serum, bila diinginkan harus diambil 10 hari
jaraknya untuk menunjukkan kenaikkan titer
antibody aglutinasi.
Pengobatan dan
Pencegahan
Penggunaan antibiotika mengurangi beratnya penyakit
maupun angka kematian, walaupun banyak penderita yang
tidak merasa perlu untuk pergi ke dokter karena penyakit ini
dapat sembuh spontan.

Antibiotika ampisilin, tertasiklin dan trimethoprim-


sulfametoksasol banyak digunakan dalam pengobatan disentri
basiler, tetapi dengan semakin banyaknya ditemukan strain
kuman yang resisten terhadap bermacam-macam antibiotika
maka sebaiknya dilakukan terlebih dahulu tes kepekaan
kuman terhadap antibiotika sebelum memulai pengobatan
Pengobatan dan
Pencegahan
Pada pencegahan penyakit disentri basiler
kebersihan lingkungan, pencarian dan pengobatan
carrier serta khlorinasi air minum memegang
peranan penting. Carrier tidak diperbolehkan
bekerja sebagai food handler.
Epidemiologi
Disentri basiler adalah penyakit yang endemis di Indonesia,
hal ini antara lain disebabkan sanitasi lingkungan yang belum
memadai.
Penyebaran kuman Shigella adalah dari manusia ke manusia
yang lain, dimana carrier merupakan reservoir kuman.
Dari carrier ini, Shigella disebabkan oleh lalat, juga melalui
tangan yang kotor, makanan yang terkontaminasi, tinja serta
barang-barang lain yang terkontaminasi ke orang lain yang
sehat.
Juga harus diperhatikan kebersihan air minum, untuk hal ini
perlu dilakukan pengawasan dan khlorinasi sumber air minum.
Identifikasi

Spesiemen
Spesimen pada identifikasi Shigella mencakup
feses segar, usapan rectum, makanan dan
minuman.
Identifikasi

Media Isolasi
MC (MacConkey)
EMB (Eosin Methilen Blua)
SSA (Salmonella Shigella Agar)

Media Identifikasi
TSIA(Triple Sugar Iron Agar)
SIM (Sulfur Indol Motil)
SCA (Simmon Citrate Agar)
Glukosa OF
MRVP (Methyl Red Voges Proskauer)
Nitrate Broth
Malonate Broth
Gula-Gula (Glukosa ; laktosa ; Manitol ; Maltosa ; Sakrosa)
Pengambilan, Penangan, dan Penyimpanan Spesimen

Waktu Pengambilan:
Sebelum penderita mendapatkan pengobatan dengan antibiotika atau
obat-obat kimia.

Cara Pengambilan
Feses dapat diambil dari tempat penampungan atau dari rectum.

a. Dari tempat penampungan:


Yang perlu diperhatikan yaitu bahwa tempat penampungan tidak boleh
desinfectansia.
Feses diambil dengan mencelupkan 2-3 batang lidi kapas steril
kedalamnya. Boleh juga diambil dengan pipet Pasteur steril 1-2 ml feses.
Pengambilan, Penangan, dan
Penyimpanan Spesimen
b. Dari rectum:
Pasien tidur telungkup atau miring, kaki diangkat dan ditekuk pada lutut.
Dalam keadaan terpaksa pasien boleh berdiri sambil menungging.
Lebarkan anus dengan tangan kiri dengan tangan kanan masukkan lidi
kapas steril kedalam anus atau rectum perlahan-lahan sambil diputar
searah jarum jam sampai diperoleh feses, kemudian ditarik sambil diputar
pula. Sebelum dipakai sebaiknya lidi kapas dibasahi dulu dengan air
garam steril atau dengan transport media yang akan dipakai. Feses yang
sudah diambil dengan lidi kapas ini disebut rectal swab.
Untuk menghindari kontaminasi/ infeksi sebaiknya menggunakan sarung
tangan.
Pengambilan, Penangan, dan
Penyimpanan Spesimen

c. Jumlah yang diambil dan penanganannya:


Apabilamenggunakan lidi kapas ambil 2-3 batang
lidi kapas dimasukkan ke dalam 1-2 botol Carry &
Blair sampai dasarnya.
Kalau feses cair, ambil 1-2 ml feses dimasukkan
kedalam Carry & Blair dengan ditusuk-tusukkan.
Pengambilan, Penangan, dan
Penyimpanan Spesimen
Penyimpanan:
Feses yang sudah dimasukkan kedalam Carry &
Blair boleh disimpan didalam almari biasa selama 3
hari atau di dalam lemari es selama 15 hari.
Identifikasi pada Media

No Media yang Digunakan Morfologi Koloni

1 Mac Conkey Agar (MCA) koloni tidak memfermentasi laktosa, kecil-


sedang, tidak berwarna, keeping dan smooth
2 Eosin Metilen Blue (EMB) : koloni sedang, bulat, tidak berwarna, keping
dan smooth

3 Salmonella Shigella Agar koloni kecil-kecil sekali, tidak berwarna, jernih,


(SSA) keeping dan smooth
4 Endo Agar (EA) koloni kecil-sedang, bulat, merah muda, jernih,
keeping dan smooth
5 HE Agar koloni kecil-sedang, hijau, jernih, keeping dan
smooth

6 XLD Agar koloni kecil-sedang, merah, jernih, keping dan


smooth
28
Non-lactose
fermenting
non- motile
organisms

Mannitol Mannitol
negative positive

Shigella Non lactose Lactose


dysenteria fermenter fermenter

Indole negative Indole positive Shigella sonnei

Shigella boydii Shigella flexneri

29
30
Points
Points of
of identifications
identifications between
between Salmonella
Salmonella and
and Shigella
Shigella ::

Shigella Salmonella Feature


Bacillary dysentery Typhoid fever Disease
Non motile Motile Motility
Negative Positive H2S

K/A + K/A TSIA reaction

GIT Systemic Nature of infection

Short period Lasting Immunity

Endo and exotoxin Potent Endotoxin Metabolite

31
Shigella
Media Reagen dysenteriae flexneri boydii Sonnei
Gula-gula
Glukosa + + + +
Laktosa - - - -
Manitol - + + +
Maltosa - + + +
Sukrosa - - - -
Malonate Broth Negative (-)
MR Methyl red Positif (+)
KOH 40% +
VP Negatif (-)
naftol
Nitrat Broth Nitrit 1 + nitrit 2 Positif (+)
Sulfur Negatif (-)
SIM
Indol Kovac - + + -

Motil Negatif (-)
SCA Negative (-)
lereng
/ dasar Merah
/ kuning = alkali
/asam
TSIA
H2S Negative (-)

Gas - - + -
Glukosa OF Fermentative
Catalase test - + + +
ONPG test + - - +
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai