Anda di halaman 1dari 65

ASPEK

ASPEK HUKUM
HUKUM dan
dan
PERUNDANG-UNDANGAN
PERUNDANG-UNDANGAN
PHLEBOTOMI
PHLEBOTOMI
MATERI :
a.Paradigma Pelayanan
Kesehatan
b.Pengertian
c.Pelaksana Phlebotomi
d.Tanggung Jawab
e.Perlindungan Hukum
f.Peraturan Perundang-
undangan
Pelatihan Flebotomi Sehari , 10 April 2016
Pembekalan Kesehatan HMJ Analis Kesehatan Poltekkes Kemneks Yogyakarta
PENDAHULUAN

Setiap orang berhak Negara berkewajiban


memperoleh menyediakan fasilitas
pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan

SUMBER pelayanan kesehatan


yang aman, bermutu, UPAYA
DAYA KESEHATAN
KESEHATAN dan terjangkau

TENAGA KESEHATAN
Setiap aspek pelayanan RS mengutamakan
keselamatan pasien

Keselamatan pasien di laboratorium ???

70% penatalaksanaan
terhadap pasien tergantung Kesalahan
pada hasil laboratorium
Laboratorium
(Ogden:2005)

Akibat buruk bagi


pasien
KEMATIAN
Phlebotomy
Berasal dari bahasa Yunani (Greek):
phleb/o = vena
tome = insisi Insisi vena
untuk
memperoleh
darah

Phlebotomy (venesection) is the act of drawing or removing blood from the circulatory
system through a cut (incision) or puncture in order to obtain a sample for analysis and
diagnosis
(http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/phlebotomy)
Tujuan Phlebotomy

- Pemeriksaan
Laboratorium
- Pengobatan (kuratif)
- Donor darah

Suatu tindakan (intervensi tubuh, efek samping, alat


medis)
Memperoleh sampel darah dalam volume yang
cukup untuk pemeriksaan laboratorium
Kedudukan Flebotomis dalam Pelayanan
Kesehatan

Keterbatasan tenaga kesehatan kerja lintas


sektor dan fungsi efisiensi pelayanan kesehatan
Dibentuk tim kerja misal di ICCU, Pemeriksaan Gas
Darah, POCT, Lab sentral, dll
Pengaturan kerja (RS) Pasien rawat inap
(Perawat) dan pasien rawat jalan (Ahli Teknologi
Lab Medik) SOP
Pelatihan lintas sektor dan fungsi Tim yang
handal

(misalnya : Rumah Sakit)


Isu
Medikoleg
1. Siapa
al :
pelaksana phlebotomi
(kompetensi dan kewenangan) ?
2. Bagaimana prosedur standarnya ?
3. Perlukah supervisi ?
4. Siapa yang bertanggungjawab atas
resiko yang terjadi ?
HUBUNGAN HUKUM Pelayanan
KESEHATAN
Pemberi Pelayanan Prose Penerima Pelayanan
(Health Providers : dokter, s
nakes lainnya) (Health Receivers :
Pasien)
Saling
Berkomunikasi
Produsen Jasa Konsumen Jasa
(Subjek Hukum) (Subjek Hukum)

Objek
(Upaya Kesehatan)
Hak dan Hak dan
Kewajiban Kewajiban

Harus cermat dan


Hati2
Ikatan kontrak terapeutik
Perdata Hubungan dengan pasien

Tanggung jawab: Pidana Perilaku amoral


Pidana administratif
-Inform concent
- Rekam Medik Ijazah / sertifikat
- SP, SPO, Etika STR
- Hukum
Administrasi SIK
SOP/Penugasan
Siapa Pelaksana
Phlebotomi ?

Tenaga Kesehatan Profesional


(PROFESI KESEHATAN) TENAGA KESEHATAN
PROFESI KESEHATAN

Pekerjaan yang memenuhi


kriteria :
Memiliki pengetahuan, sikap
dan keterampilan
(kompetensi) melalui
pendidikan bidang
kesehatan
Memiliki kewenangan
kewenangan untuk
melaksanakan pelayanan
kepada klien maupun tenaga
kesehatan lain
TENAGA KESEHATAN (UU No. 36 tahun
2009)
- Setiap Orang Yang Mengabdikan Diri Dalam Bidang Kesehatan
- Serta Memiliki Pengetahuan Dan Atau Keterampilan (Dlm Bidang Kes)
Melalui Pendidikan Di Bidang Kesehatan
- Yang Untuk Jenis Tertentu Memerlukan Kewenangan Untuk Melakukan
Upaya Kesehatan
Pasal 1 Butir 6

Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum (Pasal


22 : 1)

Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan


kesehatan (Pasal 23 : 1)
Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang
dimiliki (Pasal 23 : 2)

Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi


ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan
kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional
(Pasal 24 : 1)
Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur oleh ORGANISASI PROFESI. (Pasal 24 : 2)
DASAR HUKUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN
Pasal 23
(1)Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan
pelayanan kesehatan.
(2)Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang
keahlian yang dimiliki.
(3)Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan
wajib memiliki izin dari pemerintah.
(4)Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai
materi.
(5)Ketentuan mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) diatur dalam Peraturan Menteri.

Penjelasan Pasal 23 Ayat (1)


Kewenangan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kewenangan
yang diberikan berdasarkan pendidikannya setelah melalui proses
DASAR HUKUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN

Penyelenggara fasilitas kesehatan dilarang mempekerjakan tenaga


kesehatan yang tidak memiliki kualifikasi dan izin melakukan
pekerjaan profesi (Pasal 34 : 2)
DASAR HUKUM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014
TENTANG TENAGA KESEHATAN

Pasal 46
(1)Setiap Tenaga kesehatan yang menjalankan praktik di bidang pelayanan
kesehatan wajib memiliki izin
(2)Izin sebagaimaan dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk SIP.
(3)SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh pemerintah
daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan yang
berwenang di kabupaten/kota tempat Tenaga Kesehatan menjalankan
praktiknya
(4)Untuk mendapatkan SIP bagaimana dimaksud pada ayat (2), Tenaga
Kesehatan harus memiliki :
a.STR yang masih berlaku
b.Rekomendasi dari Organisasi Profesi; dan
c.Tempat praktik
(5)SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing-masing berlaku hanya
untuk 1(satu) tempat
(6)SIP masih berlaku sepanjang:
a.STR masih berlaku; dan
b.Tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam SIP
(7)Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada
DASAR HUKUM
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013
TENTANG REGISTRASI TENAGA KESEHATAN

Pasal 2 ayat (1)


Setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan praktik
dan/atau pekerjaan keprofesiannya wajib memiliki izin
dari pemerintah

Pasal 2 ayat (2)


Untuk memperoleh izin dari pemerintah diperlukan STR
Pengertian

Standar Profesi adalah batasan kemampuan minimal berupa


pengetahuan, ketrampilan dan perilaku profesional yang harus
dikuasai dan dimiliki oleh seorang individu untuk dapat melakukan
kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri dibuat
oleh organisasi profesi bidang kesehatan

Kode Etik adalah sistem norma, nilai & juga pola aturan
profesional tertulis, tata cara, tanda, pedoman etis ketika
melakukan suatu kegiatan / suatu pekerjaan atau berperilaku

Standar Pelayanan Profesi adalah pedoman yang diikuti oleh


Tenaga Kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan

Standar Prosedur Operasional adalah suatu perangkat


instruksi/langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan
proses kerja rutin tertentu dengan memberikan langkah yang
benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk
melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang
Registra
SERTIFIKASI
SERKOM
si

Uji Permenkes No. UU No. 36 Tahun 2014


kompeten 46 Tahun 2013 Fortofolio STR Pepres No. 72/2012

si

UU No. 36 Tahun 2014


UU No. 36 Tahun 2009
Permenkes No. 46 Tahun 2013 Lisensi
Permenkes No, 42 Tahun 2015
(SIP)
Phlebotomi
(Kompetensi & Kewenangan)
Ahli Teknologi
Laboratorium Medik

Perawat
KOMPETENSI
Bidan
KEWENANGAN
TTD ?
Pengertian

Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang Tenaga


Kesehatan berdasarkan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap
profesional untuk dapat menjalankan praktik

Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan,


ketrampilan dan perilaku peserta didik pada perguruan tinggi yang
menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang Kesehatan

Standar Kompetensi adalah ukuran atau patokan yang


disepakati, sebagai ukuran kemampuan seseorang yang dapat
terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan standar
kinerja (performance) yang ditetapkan.
Kompetensi Profesional
Informed consent Persiapan
Prilaku Pasien
profesional Prosedur
(Kode Etik) Standar
Hak pasien Quality
Assurance
Patient Safety

Building Positive Attitude


Developing
Communication Skill
Handling Moment of Truth
Handling Customer Complain
PRAKTIK
AHLI TEKNIKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

LABORATORIUM KEWENANGAN AHLI MADYA TLM


PRAKTIK
AHLI TEKNIKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

KEWENANGAN
Does
Terampil melakukan secara mandiri Ujian praktek kerja,
misalnya portofolio, logbook

Shows
Ujian praktek dalam
Terampil melakukan
pengawasan
atau menerapkan
di bawah supervisi

Ujian tulis pilihan berganda


Knows how atau
Pernah melihat Menyelesaikan kasus secara
atau didemonstrasikan tertulis dan atau lisan

Knows
Mengetahui
dan Ujian tulis
Menjelaskan
Kewenangan Phlebotomi ?

Tindakan Medik (intervensi tubuh, efek


samping, alat medis) Kewenangan dokter
(UU Praktek Kedokteran)
Pendelegasian wewenang :
- Standar Profesi (regulasi)

- Standar Operating Prosedur/SOP (Hospital by


law atau laboratory by law)
- Permintaan pemeriksaan laboratorium
PRAKTIK
AHLI TEKNIKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

Pasal 65 UU No.36/2014
ttg Nakes
Tenaga Kesehatan dalam
melakukan pelayanan
kesehatan, dapat MANDAT
menerima pelimpahan
tindakan medis dari
tenaga medis

DELEGATI
F
STANDAR PROFESI

Standar Pendidikan :
-Kurikulum Berbasis
Kompetensi
-Standar Kompetensi
Lulusan Uji

Kompetensi :
-Blue Print
-Soal Uji Kompetensi

Penyelenggaraan
Pekerjaan Tenaga
Kesehatan
(Kewenangan)
Standar Pelayanan Terkait Phlebotomi
DASAR HUKUM Ketentuan
Kepmenkes RI No : Memiliki keterampilan untuk
370/Menkes/SK/III/2007 melaksanakan proses teknis
tentang Standar Profesi operasional pelayanan laboratorium,
Analis Kesehatan yaitu Keterampilan pengambilan
spesimen, termasuk penyiapan
pasien, labeling, penanganan,
pengawetan, fiksasi, pemrosesan,
penyimpanan dan pengiriman
spesimen
Kep Dirjen Yanmed Uraian tugas tenaga analis
Depkes RI No. kesehatan/medis adalah
HK.00.06.3.3.10381 mengambilan dan penanganan bahan
tanggal 3 Desember 1998 pemeriksaan laboratorium
tentang Pengelolaan
Laboratorium Klinik
Rumah Sakit
Per Menpan No. Bab V Pasal 8 tentang rincian
Per/08/M.PAN/3/2006 kegiatan dan unsur yang dinilai
tentang Jabatan sesuai jenjang jabatan yaitu
PELAKSANA
PHLEBOTOMI
Didalam praktek, phlebotomi di rumah sakit atau di
laboratorium dilakukan oleh perawat atau analis
laboratorium atau orang yang dilatih khusus untuk itu,
yang disebut teknisi phlebotomi.
Kemampuan atau competency diperoleh seseorang dari
pendidikan atau pelatihannya. Sedangkan kewenangan
atau authority diperoleh dari penguasa atau pemegang
otoritas dibidang tersebut melalui pemberian ijin.
Sebagai dokter, perawat dan bidan, kompetensi dan
kewenangan melakukan tindakan phlebotomi telah
dimilikinya, tanpa disebutkan secara eksplisit didalam
sertifikasi kompetensinya dan atau surat ijin praktek
profesinya.
Tanggung Jawab Hukum
PERLINDUNGAN
HUKUM

PERLINDUNG
AN HUKUM
PERLINDUNGAN
HUKUM (1)
PERLINDUNGAN HUKUM
NAKES (Berlaku juga kpd ATLM)

1.Pasal 27 UU 36/2009 PERAN STANDAR


tentang KESEHATAN
Tenaga kesehatan berhak Harus dipatuhi dan
mendapatkan imbalan dan
pelindungan hukum dalam dilaksanakan
melaksanakan tugas sesuai Menjamin Upaya
dengan profesinya.
terbaik
2.Pasal 57 UU No. 36/2014 Tidak menjamin
tentang NAKES keberhasilan upaya
Tenaga Kesehatan dalam atau kesembuhan
menjalankan praktik berhak pasien
memperoleh pelindungan
hukum sepanjang Modifikasi hanya
melaksanakan tugas sesuai dilakukan atas dasar
dengan Standar Profesi, Standar keadaan yang
Pelayanan Profesi, dan Standar
Prosedur Operasional; memaksa untuk
kepentingan pasien
Mematuhi = dilindungi
MAKNA
PERLINDUNGAN HUKUM

Perlindungan hukum bukanlah ketentuan yang


menghilangkan adanya kemungkinan penuntutan
hukum oleh orang lain, tetapi memberikan
perlindungan untuk:
Memberikan Yankes sesuai ketentuan
perundang-undangan
ATLM

Bekerja bebas sesuai profesi, tanpa paksaan dan


ancaman oleh pihak lain
Memperoleh kewenangan yang sesuai dengan
kompetensi keprofesiannya
Memperoleh kesempatan untuk membela diri
dan diproses secara adil apabila diduga
melakukan pelanggaran profesi, baik di sidang
profesi, institusi RS, maupun di peradilan umum.
NAKES BEBAS DARI
GUGATAN PERDATA....?
(Berlaku juga kpd ATLM)

Pasal 58 ayat (1) UU No 36 / 2009


Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap
seseorang tenaga kesehatan, dan/atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan
kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya
NAKES BEBAS DARI
GUGATAN PERDATA...?
(Berlaku juga kpd ATLM)

1. Pasal 77 UU No. 36/2014 Tentang NAKES


Setiap Penerima Pelayanan Kesehatan yang dirugikan akibat
kesalahan atau kelalaian Tenaga Kesehatan dapat meminta
ganti rugi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

2. Pasal 78 UU No. 36/2014 Tentang NAKES


Dalam hal Tenaga Kesehatan diduga melakukan kelalaian
dalam menjalankan profesinya yang menyebabkan kerugian
kepada Penerima Pelayanan Kesehatan, perselisihan yang
timbul akibat kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih
dahulu melalui penyelesaian sengketa di luar
pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 58 UU KES dan
Pasal 77 & 78 UU NAKES

UU KES dan UU NAKES tidak


berkehendak menghilangkan tuntutan
M pidana dan perdata bagi NAKES yg
A diduga melakukan pelanggaran
disiplin
K
UU KES dan UU NAKES tidak
N menerapkan Peradilan Profesi
A KTKI hanya melayani persidangan
dugaan pelanggaran disiplin (kuasi
peradilan), dan memberikan sanksi
disiplin, sedangkan masalah hukum
diselesaikan di pengadilan
PERLINDUNGAN (PERDATA)
BAGI NAKES
(Berlaku juga kpd ATLM)

Pasal 58 ayat (2) UU No 36 / 2009


Tuntutan ganti rugi tidak berlaku bagi
tenaga kesehatan yang melakukan
tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang
dalam keadaan darurat.
Perlindungan HUKUM
Upaya/ Keterangan
Berusaha Izin Sarana Kesehatan meliputi : Persyaratan
Secara SAH sarana kesehatan, Standar pelayanan kesehatan,
Akreditasi
Izin Praktek Profesi meliputi : Kompetensi dan
kewenangan, Etika dan standar profesi
Otonomi Sertifikat kompetensi, Registrasi (STR) dan Izin (SIK)
Profesi Bekerja sesuai kompetensi dan kewenangan
Bekerja sesuai etik profesi
Bekerja sesuai standar profesi dan standar prosedur
operasional
Kewajiban Beri Yanmed sesuai standar profesi, SOP dan
Pemberi kebutuhan medis
Layanan Merujuk pasien bila tak mampu
Memegang rahasia pasien
Pertolongan darurat
Menambah dan mengikuti perkembangan
IPTEKDOK
Memberi ganti rugi bila salah/lalai
Prinsip Perlindungan Hukum

Kompetensi
dan Etik dan
Kewenanga budaya
n kerja

Tetapi jangan dilihat dari human factor saja,


melainkan dilihat sebagai suatu sistem, berbagai
komponen yang saling mempengaruhi: organisasi,
manajemen, peraturan, SDM, peralatan,
lingkungan, dll
TINDAK LANJUT
Matur
Nuwun
PENDAHULUAN

Setiap orang berhak Negara berkewajiban


memperoleh menyediakan fasilitas
pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan

SUMBER pelayanan kesehatan UPAYA


DAYA yang aman, bermutu, KESEHATA
KESEHATA dan terjangkau N
N
TENAGA KESEHATAN
UNDANG-UNDANG
BIDANG KESEHATAN

TAHUN 2014
TAHUN 2009 PSL 28
UUD 45
1. Undang-
TAHUN
undang
Nomor 35
2004
1. Undang-undang
Setiap orang NAKES
Nomor18 ttg berhak
memperoleh
meningk
Keswa
2. Undang-undang pelayanan atkan
Nomor 36 kesehatan Pelayanan derajat
2. Undang- kesehatan
kesehata
undang
3. Undang-undang Yang
n
Nomor
Nomor 44 36 ttg Aman,
masyara
Nakes Negara
berkewajiban
Bermutu,
Dan kat
4. Undang-undang
UNDANG-UNDANG
3.NOMOR
Undang-
Nomor 2952
TAHUN 2004
menyediakan
fasilitas
terjangkau setinggi-
undang TTG
PRAKTIK KEDOKTERAN
pelayanan tingginy
Nomor 38 ttg kesehatan
a.
Keperawatan ATLM
PSL 34
UUD 45
KUALIFIKASI
UU No.36/2014

TENAGA DI BIDANG KESEHATAN

TENAGA KESEHATAN

kualifikasi minimum
pendidikan menengah
Kualifikasi minimum
di bidang kesehatan
diploma tiga
hanya dapat bekerja di
Kecuali tenaga medis.
bawah supervisi
Tenaga Kesehatan.
PENGELOMPOKAN NAKES
UU No.36/2014

1. Tenaga medis 8. Tenaga Gizi


2. Tenaga Psikologi Klinis 9. Tenaga Keterapian
3. Tenaga Keperawatan Fisik
10. Tenaga Keteknisian
4. Tenaga Kebidanan
Medis
5. Tenaga Kefarmasian
11. Tenaga Teknik
6. Tenaga Kesehatan Biomedika
Masyarakat 12. Tenaga Kesehatan
7. Tenaga Kesehatan Tradisional
Lingkungan 13. Tenaga Kesehatan
TEKNIK BIOMEDIKA Lainnya
Radiografer, Elektromedis, Ahli Teknologi
Laboratorium Medik, Fisikawan Medik,
Radioterapis, dan Ortotik Prostetik
PENDIDIKAN
TENAGA KESEHATAN

Spesialis
(Ners
Spesialis
) Doktor
Profesi
(Ners) (S3)

Diplom Magister
Sarjana (S2)
a
(S1)

= Pendidikan = Pendidikan = Pendidikan


Vokasi Akademik Profesi
PENDIDIKAN NAKES
UU No. 36/2014

memperhatikan keseimbangan
antara kebutuhan
penyelenggaraan Upaya
Kesehatan dan dinamika
PENYELENGGARAAN

kesempatan kerja,
keseimbangan antara
kemampuan produksi Tenaga HASILKAN
Kesehatan dan sumber daya NAKES
yang tersedia; dan BERMUTU
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Dalam rangka penjaminan mutu
lulusan, penyelenggara
pendidikan tinggi bidang kesehatan
hanya dapat menerima
mahasiswa sesuai dengan
kuota nasional.
SERTIFIKASI
NAKES

Mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa


pendidikan vokasi dan profesi harus
mengikuti Uji Kompetensi secara nasional.
Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi
bekerja sama dengan Organisasi Profesi, lembaga
pelatihan, atau lembaga sertifikasi yang
PSL 21 terakreditasi.
UU Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat
NAKES (2) ditujukan untuk mencapai standar
kompetensi lulusan yang memenuhi standar
kompetensi kerja.
Standar kompetensi kerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) disusun oleh Organisasi Profesi
dan konsil masing-masing Tenaga Kesehatan
dan ditetapkan oleh Menteri.
REGISTRASI
NAKES
PROFESIONALISME NAKES,
SERTIFIKASI, REGISTRASI & LISENSI

INSTITUSI
MTKI
=
PENDIDIKAN
MTKP & OP

SERTIFIKASI
KKI/MTKI/KFN
KTKI
KAB/KOTA
Lulus Pendidikan
REGISTRASI
LISENSI
Uji
Kompetensi

STR SIP
Sertifikat
Kompetensi SIK
PRAKTIK
AHLI TEKNIKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

LABORATORIUM KEWENANGAN AHLI MADYA TLM


PRAKTIK
AHLI TEKNIKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

KEWENANGAN
PRAKTIK
AHLI TEKNIKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

Pasal 65 UU
No.36/2014 ttg Nakes
Tenaga Kesehatan
dalam melakukan
pelayanan kesehatan, MANDAT
dapat menerima
pelimpahan tindakan
medis dari tenaga
medis
DELEGATI
F
PENDAYAGUNAAN
TENAGA KESEHATAN

PEMERINTAH/PE
MDA
PERLINDUNGAN
HUKUM

PERLINDUN
GAN HUKUM
PERLINDUNGAN
HUKUM (1)
PERLINDUNGAN HUKUM
NAKES (Berlaku juga kpd ATLM)

1.Pasal 27 UU 36/2009 PERAN STANDAR


tentang KESEHATAN
Tenaga kesehatan berhak Harus dipatuhi dan
mendapatkan imbalan dan
pelindungan hukum dalam dilaksanakan
melaksanakan tugas sesuai Menjamin Upaya
dengan profesinya.
terbaik
2.Pasal 57 UU No. 36/2014 Tidak menjamin
tentang NAKES keberhasilan upaya
Tenaga Kesehatan dalam atau kesembuhan
menjalankan praktik berhak pasien
memperoleh pelindungan
hukum sepanjang Modifikasi hanya
melaksanakan tugas sesuai dilakukan atas dasar
dengan Standar Profesi, Standar keadaan yang
Pelayanan Profesi, dan Standar
Prosedur Operasional; memaksa untuk
kepentingan pasien
Mematuhi = dilindungi
MAKNA
PERLINDUNGAN HUKUM

Perlindungan hukum bukanlah ketentuan yang


menghilangkan adanya kemungkinan penuntutan
hukum oleh orang lain, tetapi memberikan
perlindungan untuk:
Memberikan Yankes sesuai ketentuan
perundang-undangan
ATLM

Bekerja bebas sesuai profesi, tanpa paksaan dan


ancaman oleh pihak lain
Memperoleh kewenangan yang sesuai dengan
kompetensi keprofesiannya
Memperoleh kesempatan untuk membela diri
dan diproses secara adil apabila diduga
melakukan pelanggaran profesi, baik di sidang
profesi, institusi RS, maupun di peradilan umum.
NAKES BEBAS DARI
GUGATAN PERDATA....?
(Berlaku juga kpd ATLM)

Pasal 58 ayat (1) UU No 36 / 2009


Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap
seseorang tenaga kesehatan, dan/atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan
kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya
NAKES BEBAS DARI
GUGATAN PERDATA...?
(Berlaku juga kpd ATLM)

1. Pasal 77 UU No. 36/2014 Tentang NAKES


Setiap Penerima Pelayanan Kesehatan yang dirugikan akibat
kesalahan atau kelalaian Tenaga Kesehatan dapat meminta
ganti rugi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

2. Pasal 78 UU No. 36/2014 Tentang NAKES


Dalam hal Tenaga Kesehatan diduga melakukan kelalaian
dalam menjalankan profesinya yang menyebabkan kerugian
kepada Penerima Pelayanan Kesehatan, perselisihan yang
timbul akibat kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih
dahulu melalui penyelesaian sengketa di luar
pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 58 UU KES dan
Pasal 77 & 78 UU NAKES

UU KES dan UU NAKES tidak


berkehendak menghilangkan tuntutan
M pidana dan perdata bagi NAKES yg
A diduga melakukan pelanggaran
disiplin
K
UU KES dan UU NAKES tidak
N menerapkan Peradilan Profesi
A KTKI hanya melayani persidangan
dugaan pelanggaran disiplin (kuasi
peradilan), dan memberikan sanksi
disiplin, sedangkan masalah hukum
diselesaikan di pengadilan
PERLINDUNGAN (PERDATA)
BAGI NAKES
(Berlaku juga kpd ATLM)

Pasal 58 ayat (2) UU No 36 / 2009


Tuntutan ganti rugi tidak berlaku bagi
tenaga kesehatan yang melakukan
tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang
dalam keadaan darurat.
AKHIR KATA

1. ATLM yang bermutu dan profesional di mulai dari


Pendidikan tinggi bidang kesehatan.
2. Pelayanan Kesehatan ATLM dapat dilakukan secara
langsung atau berdasarkan Pelimpahan dan harus
di lakukan sesuai dengan kewenangan dan wajib
mematuhi Standar Profesi, Standar Pelayanan
Profesi, dan Standar Prosedur Operasional..
3. ATLM berhak mendapatkan perlindungan Hukum,
Perlindungan Hukum ditujukan untuk dapat
bekerja secara profesional dan kebebasan profesi
serta dapat bekerja tanpa ancaman kekerasan atau
intimidasi lain.
4. ATLM dalam memberikan pelayanan kesehatan
tidak terbebas dari tuntutan hukum, kecuali dalam
rangka penyelamatan jiwa