Anda di halaman 1dari 104

HUKUM PERDATA BAG.

III
TENTANG PERIKATAN
OLEH:
SURYATI, S.H, M.H.
DOSEN FH. UNWIKU PWT
ISTILAH & PENGERTIAN PERIKATAN
BUKU III BW BERJUDUL VAN VERBINTENISSEN.
ISTILAH TERSEBUT MERUPAKAN SALINAN
ISTILAH OBLIGATION DALAM CODE CIVIL
PERANCIS, YANG JUGA DIAMBIL DARI HUKUM
ROMAWI.
ISTILAH VERBINTENIS DALAM BUKU III BW
TERSEBUT TERNYATA DITERJEMAHKAN
BERBEDA DALAM KEPUSTAKAAN HUKUM
INDONESIA. ADA YANG MENTERJEMAHKAN :
PERUTANGAN (SRI SOEDEWI MASJCHOEN
SOFWAN, KUSUMADI), PERIKATAN (SUBEKTI,
MARIAM DARUS BADRULZAMAN, J. SATRIO).
PADA UMUMNYA DIGUNAKAN ISTILAH
PERIKATAN UNTUK MENTERJEMAHKAN
VERBINTENIS.
TERJEMAHAN VERBINTENIS DENGAN
PERUTANGAN, KARENA ADA UTANG
PRESTASI.
DARI SEGI TATABAHASA VERBINTENIS
BERASAL DARI KATA KERJA VERBINDEN
YANG BERARTI MENGIKAT, JADI
VERBINTENIS MENUNJUK KEPADA ADANYA
IKATAN ATAU HUBUNGAN, SEHINGGA
VERBINTENIS DITERJEMAHKAN DENGAN
PERIKATAN.
PERIKATAN DIATUR DALAM BUKU III BW/ KUH.
PERDATA, NAMUN PEMBUAT UNDANG-
UNDANG LUPA UNTUK MEMBERIKAN
DEFINISI PERIKATAN ITU SENDIRI.
PENGERTIAN PERIKATAN UMUMNYA
DIBERIKAN OLEH PARA SARJANA/ DOKTRIN.
MENURUT DOKTRIN: PENGERTIAN PERIKA-
TAN ADALAH HUBUNGAN HUKUM ANTARA
DUA PIHAK DI DALAM LAPANGAN HUKUM
KEKAYAAN, DIMANA PIHAK YANG SATU
(KREDITUR) BERHAK ATAS PRESTASI &
PIHAK YANG LAIN (DEBITUR) BERKEWA-
JIBAN MEMENUHI PRETASI.
DEFINISI PERIKATAN

PERIKATAN MENURUT MARIAM DARUS


BADRULZAMAN, ADALAH HUBUNGAN
HUKUM YANG TERJADI ANTARA DUA ORANG
ATAU LEBIH YANG TERLETAK DALAM
LAPANGAN HUKUM KEKAYAAN, DIMANA
PIHAK YANG SATU BERHAK ATAS PRESTASI
DAN PIHAK LAINNYA WAJIB MEMENUHINYA.
MENURUT SUBEKTI PERIKATAN, ADALAH
SUATU PERHUBUNGAN HUKUM ANTARA
DUA ORANG/2 PIHAK, BERDASARKAN MANA
PIHAK YANG SATU BERHAK MENUNTUT
SUATU HAL DARI PIHAK YANG LAIN DAN
PIHAK YANG LAIN BERKEWAJIBAN UNTUK
MEMENUHI KEWAJIBAN ITU.
MENURUT J SATRIO, PERIKATAN ADALAH
HUBUNGAN HUKUM DALAM LAPANGAN
HUKUM KEKAYAAN ANTARA DUA PIHAK
PADA PIHAK YANG SATU ADA HAK DAN PADA
PIHAK YANG LAIN ADA KEWAJIBAN.
PERIKATAN ADALAH HUBUNGAN HU-KUM DALAM
LAPANGAN HUKUM KEKA-YAAN ANTARA DUA PIHAK
DIMANA DISATU PIHAK ADA HAK & DI PIHAK LAIN
ADA KEWAJIBAN.
DARI DEFINISI TERSEBUT DAPAT DIKETAHUI CIRI-CIRI
PERIKATAN:
1.HUBUNGANNYA MERUPAKAN HUBUNGAN HUKUM.
HUKUM DISINI MENGATUR HUBUNGAN PARA PIHAK
DENGAN MEMBERIKAN AKIBAT HUKUM, ARTINYA
HAK & KEWAJIBAN YANG MUNCUL DARI HUBUNG-
AN ITU DIATUR OLEH HUKUM. UNTUK PELAKSA-
NAAN KEWAJIBAN TERSEBUT JIKA PERLU OLEH
PARA PIHAK DAPAT DIMINTAKAN BANTUAN HUKUM.
INI YANG MEMBEDAKAN PERIKATAN HU-KUM
DENGAN PERIKATAN YANG MUNCUL DALAM
LAPANGAN MORAL.
2.ADA DUA PIHAK/SEGI:
SEGI AKTIF: ADA HAK-HAK TAGIHAN ATAS
SUATU PRESTASI. ORANG YANG PUNYA TA-
GIHAN DI SANA ADA KREDITUR

SEGI PASIF: ADA KEWAJIBAN UNTUK BER-


PRESTASIYANG BERKEWAJIBAN UNTUK
BERPRESTASI DI SANA ADA DEBITUR

HUKUM PERIKATAN MENGATUR HUBU-


NGAN HUKUM ANTARA KREDITUR DENGAN
DEBITUR
3.DALAM LAPANGAN HUKUM KEKAYAAN
PERIKATAN MERUPAKAN BAGIAN DARI
HUKUM KEKAYAAN, YAITU HUKUM YANG
MENGATUR HAK-HAK KEKAYAAN, ARTINYA
HAK & KEWAJIBAN ITU MEMPUNYAI NILAI
UANG/ EKONOMIS, ATAU DENGAN KATA LAIN
JIKA KEWAJIBAN TIDAK DIPENUHI, MAKA
KREDITUR MENDAPATKAN PENG-GANTIAN
KERUGIAN YANG DAPAT DIJABAR-KAN
DALAM SEJUMLAH UANG TERTENTU.
DALAM PERKEMBANGANNYA UNSUR BAHWA HAK &
KEWAJIBAN MEMPUNYAI NILAI UANG SAMA SEKALI
TIDAK RELEVAN DALAM PERIKATAN, SEBAB SETIAP
KEWAJIBAN YANG MEMPUNYAI NILAI UANG
MEMANG MERUPAKAN KEWAJIBAN PERIKATAN,
ARTINYA NILAI UANG BUKAN SATU-SATUNYA CIRI
PERIKATAN. DI DALAM PERIKATAN JIKA KEWAJI-BAN
TIDAK DIPENUHI MASIH DAPAT DITUNTUT HAL-HAL
LAIN SEPERTI: PEMENUHAN/PEMBATALAN. SELAIN
ITU DALAM PERKEMBANGANNYA TUNTU-TAN GANTI
RUGI ATAS KERUGIAN YANG BERSIFAT IDIIL, MISAL:
KEMATIAN ANAK DALAM KECELAKAAN, RASA SAKIT
KARENA PENGANIAYAAN, PENDERI-TAAN BATIN
DAN SEBAGAINYA SUDAH DAPAT DITERIMA,
PADAHAL KERUGIAN TERSEBUT SEBE-NARNYA
TIDAK DAPAT DINILAI DENGAN UANG.
SUBYEK PERIKATAN:

1.KREDITUR ADALAH PIHAK YANG


BERHAK ATAS PRESTASI
2. DEBITUR ADALAH PIHAK YANG WAJIB
MEMBERIKATAN PRESTASI
DALAM HUKUM PERDATA DITENTUKAN BAHWA:
1.KREDITUR :
- BISA TERTENTU ORANGNYA, MISAL PADA PIUTANG
ATAS NAMA
- BISA TIDAK TERTENTU ORANGNYA (TIDAK PERLU
DIKETAHUI IDENTITASNYA OLEH DEBITUR, SE-
HINGGA PENGGANTIAN KREDITUR DAPAT TERJADI
SECARA SEPIHAK):
a.TAGIHAN KEPADA ORDER: WESEL, PROMES
b.TAGIHAN AAN TOONDER : CEK.
PADA PRINSIPNYA SEMUA TAGIHAN BISA DIPINDAH
TANGANKAN, KECUALI ADA HAK PRIBADI YANG
KUALITATIF YANG MELEKAT PADA KUALITAS
TERTENTU (PASAL 625,1576 BW, 263 KUHD.
2.DEBITUR
DEBITUR HARUS TERTENTU (DEBITUR ORANGNYA
HARUS SELALU DIKETAHUI IDENTITASNYA OLEH
KREDITUR, KARENA KREDITUR TENTU TIDAK
DAPAT MENAGIH PEMENUHAN PRESTASI KEPADA
DEBITUR YANG TIDAK DIKENAL). HARGA/ NILAI
SUATU TAGIHAN BERGANTUNG DARI DEBITUR.
KONSEKWENSINYA PADA ASASNYA KEWAJIBAN
PERIKATAN HANYA BISA DIALIHKAN DENGAN
PERSETUJUAN KREDITUR, KARENA JIKA TIDAK
DEMIKIAN BISA SAJA NANTI DEBITUR JUSTRU
TIDAK MAMPU MELAKSANAKAN KEWAJIBANYA,
MAKA MENIMBULKAN KERUGIAN TERHADAP
KREDITUR (PASAL 1415 JO 1417 BW).
CATATAN: ADA KEWAJIBAN KUALITATIF DALAM ARTI
KEWAJIBAN ITU MENGKUTI BENDA TERTEN-TU &
TERHADAP ORANG TERTENTU DALAM KUA-
LITASNYA SEBAGAI PEMILIK BENDA YANG BER-
SANGKUTAN, MISAL: KEWAJIBAN MEMBAYAR
GROND RENTE (PASAL 1576 BW & 263 KUHD)
SEGI AKTIVA PERIKATAN
PADA SEGI AKTIVA SUATU PERIKATAN ADA
HAK & KEWENANGAN UNTUK MENUNTUT,
YANG BISA DIBEDAKAN MENJADI:
-HAK MATERIILNYA: HAK ATAS PRESTASI
-KEWENANGAN UNTUK MEWUJUDKANNYA
YAITU HAK TUNTUTNYA YANG DIWUJUD-
KAN MELALUI GUGATAN
ATAS DASAR ITU PERIKATAN PERDATA BISA
DIPAKSAKAN PEMENUHANYA MELALUI
BANTUAN HUKUM
PADA ASASNYA TERSERAH KEPADA SI
EMPUNYA HAK UNTUK MENGGUNAKAN
ATAU TIDAK HAKNYA
PADA PERIKATAN ALAMIAH SARANA UNTUK
MEWUJUDKAN HAK MATERIILNYA TIDAK
ADA
SEGI PASIVA PERIKATAN
PADA SEGI PASIVA PERIKATAN ORANG
MEMBEDAKAN ANTARA:
-HUTANG/SCHULD, YANG BERUPA KEWAJI-
BAN UNTUK BERPRESTASI. SEORANG
DEBITUR MEMPUNYAI HUTANG MAUPUN
HAFTUNG. IA WAJIB UNTUK MEMENUHI
KE-WAJIBAN BERPRESTASINYA &
HARTANYA DAPAT DIAMBIL SEBAGAI
PELUNASAN HUTANGNYA.
-HAFTUNG= TANGGUNG JAWAB YURIDIS-
NYA, HARTA YANG BISA DIAMBIL SEBAGAI
PELUNASAN
BERDASARKAN PASAL 1131 BW,
TANGGUNG JAWAB PERDATA ORANG
ADALAH DENGAN SELURUH HARTA-
NYA. PERKECUALIANNYA: PASAL 197
(8) HIR, PASAL 451,452 RV DAN PASAL
20 K (KEPAILITAN).
DALAM SUATU PERJANJIAN BOLEH
DISEPAKATI PEMBATASAN TANG-
GUNG JAWAB YURIDISNYA.
HUTANG & HAFTUNG
PADA UMUMNYA HUTANG & HAFTUNG BERKUMPUL
PADA SATU ORANG YANG SAMA.
SEBAGAI PERKECUALIAN BISA TERJADI:
-ORANG PUNYA HUTANG, TAPI TIDAK PUNYA
HAFTUNG, MISALNYA PERIKATAN ALAMIAH
(BUKAN HIBAH)
-ORANG PUNYA HAFTUNG, TAPI TIDAK PUNYA
HUTANG, MISAL PIHAK KETIGA YANG MEMBERI-
KAN JAMINAN KEBENDAAN
TIDAK MUNGKIN ADA HAFTUNG TANPA ADA HUTANG.
PADA JAMINAN KEBENDAAN, YANG DIBERIKAN
SEBELUM PERJANJIAN POKOKNYA DITANDA
TANGANI, PERJANJIAN TERSEBUT BELUM
MEMPUNYAI DAYA KERJA.
HUKUM KEKAYAAN: HUKUM YANG MENGA-
TUR HAK-HAK KEKAYAAN. HAK KEKAYAAN
ADALAH HAK-HAK YANG MEMPUNYAI NILAI
EKONOMIS, NILAI UANG ATAU BISA DIJA-
BARKAN DALAM SEJUMLAH UANG TERTEN-
TU.
HAK KEKAYAAN DIBEDAKAN:
1.ABSOLUT (BUKU II BW & DILUAR BW)
TERDIRI HAK KEBENDAAN & HAK ATAS
BENDA IMMATERIIL
2. YANG RELATIF (BUKU III BW & DILUAR)
PEMBICARAAN KITA ADALAH TENTANG
PERIKATAN SEBAGAI YANG DIATUR DALAM
BUKU III KUH PERDATA/BW
HAK KEKAYAAN ABSOLUT: KEKAYAAN YANG DAPAT
DITUJUKAN KEPADA SEMUA ORANG, MISAL:
1. HAK KEBENDAAN: DAPAT DITUJUKAN TERHADAP
SIAPAPUN & MEMPUNYAI SIFAT DROIT DE SUIT
(HAK MILIK ATAS BENDA BERGERAK, GADAI,
HIPOTIK (DALAM BW), HAK TANGUNGAN (DILUAR).
2. HAK ATAS BENDA IMMATERIIL: HAK MUTLAK
TETAPI TIDAK ATAS SUATU BENDA, BERSIFAT
MONOPOLITIS (DILUAR BW): HaKI (HAK CIPTA : UU
NO.19/2002, MEREK (UU NO.15/2001), PATEN: UU
NO.14/2001),RAHASIA DAGANG: UU NO.30/2000),
DESAIN INDUSTRI: UU NO.31/2000), PERLIN-
DUNGAN VARIETAS TANAMAN: UU NO.29/2000),
SIRKUIT TERPADU: UU NO. 32/2000).
HAK KEKAYAAN RELATIF: HAK KEKAYAAN
YANG HANYA DITUJUKAN KEPADA ORANG
TERTENTU ,SEPERTI TAGIHAN, ORANG
MENAMAKAN JUGA PERIKATAN.
-HAK YANG BISA DITUJUKAN PADA ORANG
TERTENTU SAJA, YANG BISA MELANGGAR
HANYA ORANG TERTENTU, TIDAK ADA
KEWAJIBAN PADA PIHAK KETIGA UNTUK
MENGHORMATINYA.
-HAK YANG MUNCUL DARI PERIKATAN
SEBAGAI YANG DIATUR DALAM BUKU III
BW
-HAK YG BERSIFAT SEMENTARA AKAN
HAPUS DENGAN PEMENUHAN PERIKATAN
-HAK KEKAYAAN RELATIF ADALAH HAK
KEKAYAAN DILUAR HAK KEBENDAAN &
HAK ATAS BENDA IMMATERIIL
JADI HAK RELATIF/HAK PRIBADI ADALAH HAK
YANG HANYA BISA DITUJUKAN KEPADA
PERSOON TERTENTU SAJA. MERUPAKAN
HAK UNTUK MENUNTUT PEMENUHAN
PERIKATAN YANG BERUPA PRESTASI
PERIKATAN DARI PERSOON TERTENTU
SAJA.
PRESTASI PERIKATAN BISA:
-BENDA TERTENTU, MISAL RUMAH/UANG
-KARYA TERTENTU (PRESTASI KERJA)
-HAK AGAR ORANG LAIN TIDAK MELAKUKAN
SESUATU
PERIKATAN YANG DIMAKSUD BUKU III
BW MEMPUNYAI CIRI DALAM NILAI
EKONOMIS/ NILAI UANG DARI PRES-
TASINYA. JADI JIKA HAK & KEWAJIBAN
PERIKATAN TIDAK DIPENUHI,HARUS
ADA KERUGIAN YANG BISA DINILAI
DENGAN UANG, PALING TIDAK PATUT
UNTUK DIGANTI DENGAN UANG
(PENGGANTIAN DENGAN UANG BISA
MENDEKATI KERUGIAN YANG
DIDERITA).
UNSUR NILAI UANG TIDAK BISA DIPERTA-
HANKAN SECARA KONSEKWEN:
-DENGAN PERUBAHAN HUKUM, SERINGKALI
TERNYATA BIDANG MORAL DIAMBIL OLEH
NORMA HUKUM
HUKUM ROMAWI & ABAD PERTENGAHAN
MENGANUT SISTEM HUKUM PERJANJIAN
YANG TERTUTUP. DI LUAR PERJANJIAN
KHUSUS YANG ADA, PERJANJIAN HANYA
MELAHIRKAN PERIKATAN MORAL.
-ATAS PELANGGARAN PERIKATAN, TERNYA-
TA ADA SARANA TUNTUTAN LAIN DARI
MINTA GANTI RUGI, MISAL NUNTUT PEME-
NUHAN, PEMBATALAN (PASAL 1266 BW),
PERNYATAAN MINTA MAAF & PEMULIHAN
NAMA BAIK (PASAL 1372 &PS 1374 BW).
-ATAS PELANGGARAN PERIKATAN,
ORANG BISA MINTA PEMENUHAN
DIKAITKAN DENGAN UANG
PAKSA/DWANGSOM (PASAL 611 A RV)
-ADANYA GANTI RUGI ATAS DASAR
PENGHINAAN.
PENGATURAN HUKUM PERIKATAN

MENURUT SISTEMATIKA HUKUM PERDATA


MENURUT BW, TENTANG PERIKATAN TERLETAK
DI BUKU III YANG TERBAGI MENJADI 18 BAB/
TITEL, YAITU:
-BAB I (PASAL 1233-1312): PERIKATAN PADA
UMUMNYA
-BAB II (PASAL 1313-1351): PERIKATAN YANG LAHIR
DARI PERJANJIAN
-BAB III (PASAL 1352-1380):PERIKATAN YANG LAHIR
DARI UNDANG-UNDANG
-BAB IV (PASAL 1381-1456): HAPUSNYA PERIKATAN
-BAB V-XVIII DITAMBAH BAB VII A (PASAL 1457-1864)
: PERJANJIAN KHUSUS
BAB I-IV MERUPAKAN KETENTUAN UMUM, SE-
DANGKAN BAB V-XVIII DITAMBAH BAB VII A
MERUPAKAN KETENTUAN KHUSUS.
KETENTUAN UMUM MEMUAT PERATURAN
YANG BERLAKU UNTUK SEMUA PERIKATAN
YANG LAHIR DARI PERJANJIAN BAIK PER-
JANJIAN BERNAMA (PERJANJIAN KHUSUS)
MAUPUN TIDAK BERNAMA, SEPANJANG
TIDAK DIATUR SECARA KHUSUS MENYIM-
PANG DI DALAM KETENTUAN KHUSUS. JIKA
DIATUR SECARA KHUSUS, MAKA KETEN-
TUAN UMUM ITU TIDAK BERLAKU LAGI (LEX
SPECIALIS DEROGAT LEGI GENERALI)----(al:
BAGAIMANA LAHIR & HAPUSNYA PERIKA-
TAN, MACAM-MACAM PERIKATAN).
BAGIAN KHUSUS : MEMUAT PERATU-
RAN TENTANG PERJANJIAN YANG
BANYAK DIPAKAI DALAM MASYA-
RAKAT DAN SUDAH PUNYA NAMA-
NAMA TERTENTU (PERJANJIAN
BERNAMA), MISALNYA: PERJANJIAN
JUAL BELI, SEWA MENYEWA, TUKAR
MENUKAR, PINJAM MEMINJAM DAN
LAIN-LAIN (BAB V S/D XVIII + VII A).
PENGATURAN HUKUM PERIKATAN MENGA-
NUT SISTEM TERBUKA ARTINYA SETIAP
ORANG BOLEH MEMBUAT PERIKATAN APA
SAJA BAIK YANG SUDAH DITENTUKAN/
DIATUR DALAM UNDANG-UNDANG MAUPUN
BELUM. HAL INI DISEBABKAN BW MENGA-
NUT ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK
(PARTIJ OTONOMY) YAKNI ORANG BEBAS
MENGADAKAN PERIKATAN ATAU PERJAN-
JIAN APA SAJA ASAL TIDAK BERTENTENG-
AN DENGAN UNDANG-UNDANG, KESUSI-
LAAN & KETERTIBAN UMUM
SUMBER PERIKATAN

PASAL 1233 BW PERIKATAN LAHIR DARI :


1.PERJANJIAN ,DIATUR DALAM BUKU III :TITEL II (
PASAL 1313-1351), TITEL V-XVIII (PASAL 1457-1864)
2.UU , DIATUR DALAM BUKU III (PASAL 1352-1380 BW
), DI LUAR BW TERSEBAR DI SELURUH PERUN-
DANG-UNDANGAN:
a.UU SAJA, MISAL PASAL 321 BW
b.UU KARENA PERBUATAN MANUSIA (PASAL 1353
BW), DIBEDAKAN YANG MENURUT HUKUM (PASAL
1354, 1359 BW) & YANG MELAWAN HUKUM (PASAL
1365 1380 BW, PASAL 534 KUHD)
YURISPRUDENSI MENGAKUI MORAL SEBAGAI
SUMBER PERIKATAN
BEBERAPA PENDAPAT TERHADAP SUMBER
PERIKATAN
-DIEPHUIS, ASSER, SUYLING :SUMBER PERI-
KATAN PADA PERJANJIAN & UU PADA HA-
KEKATNYA TIDAK ADA PERBEDAAN, KARE-
NA MESKIPUN BERSUMBER PADA PERJAN-
JIAN PADA HAKEKATNYA BARU MEMPUNYAI
KEKUATAN SEBAGAI PERIKA-TAN KARENA
DIAKUI OLEH UU & KARENA MENDAPAT
SANKSI DARI UU
-VAN BRAKEL, LOSECAAT-VERMER, HOF-
MANN OPSTAL : KEDUA MACAM SUMBER
PERIKATAN ITU TETAP ADA PERBEDAANYA.
PADA PERIKATAN YANG BERSUMBER UU,
PERIKATAN ITU DICIPTAKAN LANGSUNG
KARENA SUATU KEADAAN TERTENTU, PER-
BUATAN/ KEJADIAN DAN --
MEMIKULKAN SUATU KEWAJIBAN DENGAN
TIDAK MENGHIRAUAN KEHENDAK ORANG
YANG HARUS MEMENUHINYA.
PADA PERIKATAN YANG BERSUMBER PER-
JANJIAN, MESKI MENDAPAT SAKSI DARI UU,
TAPI KEHARUSAN UNTUK MEMENUHI
KEWAJIBAN BARU TERCIPTA SETELAH
YANG BERSANGKUTAN YANG HARUS
MEMENUHINYA MEMBERIKAN PERSETU-
JUANNYA/MENGHENDAKINYA
-PARA AHLI PERDATA PADA UMUMNYA
SEPENDAPAT BAHWA SUMBER
PERIKATAN SEBAGAIMANA DISEBUT
PASAL 1233 KUH PERDATA, YAITU
PERJANJIAN DAN UNDANG-UNDANG
ADALAH KURANG LENGKAP. SUMBER
PERIKATAN YANG LAIN ADALAH ILMU
PENGETAHUAN HUKUM PERDATA,
HUKUM TIDAK TERTULIS DAN
KEPUTUSAN HAKIM
(YURISPRUDENSI).
PADA PERIKATAN YANG LAHIR DARI PERJANJIAN
ATAU KONTRAK DIATUR DALAM TITEL II (PASAL
1313-1351) DAN TITEL V-XVIII (PASAL 1457- 18640
KUH.PERDATA
- LAHIRNYA PERIKATAN DIDASARAN ATAS
KEHENDAK PARA PIHAK SENDIRI.
KARENA BUKU III BW MENGANUT SISTEM TERBUKA,
MAKA ORANG BEBAS MENCIPTAKAN PERIKATAN
DENGAN SEGALA VARIASINYA.

DALAM PERKEMBANGANNYA PERIKATAN JUGA


MUNCUL DARI MORAL.

JADI HUBUNGAN HUKUM KEKAYAAN MUNCUL


SEBAGAI AKIBAT DARI PERJANJIAN/KETENTUAN
UU
DEFINISI PERJANJIAN DISEBUTKAN DALAM
PASAL 1313 KUH. PERDATA, YANG MENEN-
TUKAN: PERJANJIAN ADALAH SUATU
PERBUATAN DENGAN MANA SATU ORANG
ATAU LEBIH MENGIKATKAN DIRINYA TER-
HADAP SATU ORANG LAIN ATAU LEBIH.
DEFINISI TERSEBUT MENURUT PARA
SARJANA MENGANDUNG KELEMAHAN:
1.PADA KATA PERBUATAN, LEBIH TEPAT JIKA
DIGANTI DENGAN KATA PERBUATAN HU-
KUM, YAITU PERBUATAN YANG BERTUJUAN
MENIMBULKAN AKIBAT HUKUM. JADI AKIBAT
HUKUM DIKEHENDAKI/ DIANGGAP DIKEHEN-
DAKI.
2.KALIMAT DENGAN MANA SATU ORANG ATAU
LEBIH MENGIKATKAN DIRINYA TER-HADAP
SATU ORANG LAIN ATAU LEBIH, SE-
HARUSNYA DITAMBAH DENGAN PERKA-
TAAN ATAU SALING MENGIKATKAN DIRI-NYA,
SEBAB JIKA TIDAK DITAMBAHKAN
PERKATAAN TERSEBUT, PERUMUSAN TADI
TERKESAN HANYA COCOK UNTUK PERJAN-
JIAN SEPIHAK, SEDANGKAN MAKSUDNYA
JUGA BERLAKU UNTUK SEMUA PERJANJI-
AN, TERMASUK PERJANJIAN TIMBAL BALIK.
JADI SEHARUSNYA PERJANJIAN: PERBUATAN
HUKUM DENGAN MANA SATU ORANG ATAU
LEBIH MENGIKATKAN DIRINYA TERHADAP
SATU ORANG LAIN ATAU LEBIH ATAU DIMA-
NA PARA PIHAK SALING MENGKATKAN DIRI-
NYA TERHADAP LAWAN JANJINYA.
DASAR PEMBEDAAN PASAL 1233 BW ADALAH
PERAN KEHENDAK.
-PADA PERIKATAN YANG LAHIR DARI UNDANG-
UNDANG, PERIKATAN LAHIR TIDAK
BERGANTUNG DARI KEHENDAK PARA
PIHAK, UNDANG-UNDANG MENGKAITKAN
LAHIRNYA PERIKATAN PADA KEADAAN
/PERISTIWA TERTENTU (PASAL 1352, 1353
BW).
MISAL: PASAL 625 BW (UU BERTETANGGA), PS
1354 BW (ZAAKWAARNEMENG), PS 1359
AYAT 1 (PEMBAYARAN TAK TERUTANG), PS
1365 BW (PERBUATAN MELAWAN HUKUM).
JENIS PERIKATAN

A.BERDASARKAN ISI/PRESTASINYA
UU DALAM PASAL 1234 BW
MEMBEDAKAN PERIKATAN:
a.UNTUK MEMBERIKAN SESUATU
b.UNTUK MELAKUKAN SESUATU
c.UNTUK TIDAK MELAKUKAN SESUATU
PERIKATAN UNTUK TIDAK MELA-
KUKAN SESUATU, BAGI YANG
SATU MERUPAKAN HAK UNTUK
MENUNTUT AGAR SESUATU TI-
DAK DILAKUKAN ATAU UNTUK
MELARANG ORANG LAIN BERBU-
AT SESUATU, SEDANG BAGI
YANG LAIN ADALAH KEWAJIBAN
UNTUK TIDAK MELA-KUKAN SE-
SUATU.
PERBEDAAN ANTARA PERIKATAN
MEMBERIKAN & MELAKUKAN
SESUATU ADALAH :
-MEMBERI DIARTIKAN MENYERAHKAN
KEDALAM PEMILIKAN ORANG LAIN
ATAU UNTUK DINIKMATI/DIKUASAI
OLEH ORANG LAIN
-SEDANG MELAKUKAN SESUATU
ADALAH SETIAP PRESTASI POSITIP
YANG BUKAN BERUPA MEMBERIKAN
SESUATU SEPERTI MENGANGKUT
BARANG ATAU MEMBETULKAN KE-
RUSAKAN
PERMASALAH :
1.PADA PERJANJIAN RIIL, YANG MENJADI
MASALAH ADALAH PACTUM DE
CONTRAHENDONYA
2.APAKAH PEMENUHANNYA MERUPAKAN
TINDAKAN MEMBERI ATAU MELAKUKAN
SESUATU
3.BERGANTUNG DARI APAKAH PERLU
DIIKUTI DENGAN SEPAKAT BARU? KALAU
YA, MAKA DISANA ADA PERJANJIAN UN-
TUK MELAKUKAN SESUATU, KALAU TIDAK,
MAKA ADA PERJANJIAN UNTUK MEMBERI-
KAN SESUATU
PERIKATAN UNTUK MEMBERIKAN
SESUATU
BISA UNTUK:
-MENYERAHKAN BARANG: UNTUK
DIMILIKI, DIPAKAI , UNTUK
DINIKMATI
-MENYERAHKAN UANG
-MEMBAYAR GANTI RUGI
PERIKATAN UNTUK MELAKUKAN
SESUATU
BISA UNTUK:
-MEMBANGUN RUMAH
-MEMELIHARA/MERAWAT SEBAGAI
BAPAK KELUARGA YANG BAIK
-MENGANGKUT BARANG
PERIKATAN UNTUK TIDAK MELAKUKAN
SESUATU
WUJUDNYA BISA:
-MEMBIARKAN AIR LIMBAH HUJAN MELEWATI
PEKARANGAN YANG LEBIH RENDAH
(PASAL 626 BW )
-BISA UNTUK TIDAK MELAKUKAN
PEKERJAAN TERTENTU (PASAL 1601 X BW)
-TIDAK MEMBOCORKAN RAHASIA
PERUSAHAAN (PASAL 1603 D BW).
CIRI UTAMANYA: BERSIFAT PASIF
B.PERIKATAN MENURUT DOKTRIN
1.PERIKATAN PERDATA & ALAMIAH
PERIKATAN PERDATA ADALAH PERIKATAN YANG
PELAKSANAANNYA DAPAT DITUNTUT DIDEPAN
PENGADILAN
PERIKATAN ALAMIAH ADALAH PERIKATAN YANG
PEMENUHANNYA TIDAK DAPAT DITUNTUT DI DE-
PAN PENGADILAN, TAPI SEKALI ORANG MELUNA-
SI PERIKATAN ALAMIAH SECARA SUKARELA, MA-
KA UANG PELUNASAN TDK DAPAT DITUNTUT
KEMBALI (PASAL 1359 AYAT 2 BW), SE AKAN-
AKAN SETELAH DILAKUKAN PEMBAYARAN, MAKA
PERIKATAN TERSEBUT BERUBAH MENJADI
PERIKATAN PERDATA & KARENANYA MENDAPAT
PERLINDUNGAN HUKUM. KONSEKWENSINYA
PEMBAYARAN TERSEBUT MERUPAKAN PEMBA-
YARAN YANG SAH & BUKAN PEMBAYARN YANG
TAK TERUTANG.
2.PERIKATAN POKOK &ACCESOIR
-PERIKATAN POKOK MERUPAKAN
PERIKATAN YANG BERDIRI SENDIRI, MISAL:
PERJANJIAN JUAL BELI DIATUR HUBUNGAN
HAK & KEWAJIBAN ANTARA PARA PIHAK
-PERIKATAN ACCESOIR MERUPAKAN
PERIKATAN YANG DITEMPELKAN PADA
PERIKATAN POKOK, YANG TANPA PERIKA-
TAN POKOK TIDAK DAPAT BERDIRI SENDI-
RI, MISAL; KEWAJIBAN PENJUAL UNTUK
MENJAMIN
3.PERIKATAN SEPINTAS &MEMAKAN WAKTU
-PERIKATAN SEPINTAS YAITU PERIKATAN
YANG PEMENUHANNYA HANYA
MEMBUTUHKAN WAKTU YANG SINGKAT &
KARENANYA HUBU-NGAN HUKUMNYA
HANYA BERLANGSUNG UNTUK WAKTU
YANG PENDEK, MISAL: DALAM JUAL BELI,
KEWAJIBAN PENJUAL UNTUK
MENYERAHKAN BENDA YANG DIJUAL
-PERIKATAN YANG MEMAKAN WAKTU:
PERIKATAN YANG PEMENUHANNYA
MEMBUTUHKAN JANG-KA WAKTU YANG
LAMA, MISAL: KEWAJIBAN PENJUAL
UNTUK MENJAMIN PADA PERJANJIAN JUAL
BELI
4.PERIKATAN POSITIF& NEGATIF
-PERIKATAN POSITIP: PERIKATAN YANG ISINYA
MEWAJIBKAN UNTUK MEMBERIKAN
SESUATU, MISAL: PERIKATAN YANG ISINYA
UNTUK MENYERAHKAN BERAS 5 KG
-PERIKATAN NEGATIF: PERIKATAN YANG
MELARANG ORANG BERBUAT SESUATU
ATAU WAJIB MEMBIARKAN SESUATU
BERLANGSUNG, MISAL: PERIKATAN YANG
ISINYA UNTUK MEMBIARKAN AIR HUJAN
LEWAT PEKARANGAN YANG LEBIH RENDAH
5.PERIKATAN GENERIK & SPESIFIK
-PERIKATAN GENERIK: PERIKATAN DIMANA
OBJEKNYA HANYA DITENTUKAN MENURUT
JENISNYA & JUMLAHNYA BARANG YANG
HARUS DISERAHKAN DEBITUR KEPADA
KREDITUR. MISAL: KEWAJIBAN MENYE-
RAHKAN 100 KG TERIGU
-PERIKATAN SPESIFIK: PERIKATAN YANG
OBJEKNYA DITENTUKAN SECARA TERPE-
RINCI,SEHINGGA NAMPAK CIRI-CIRI KHU-
SUS. MISAL: KEWAJIBAN MENYERAHKAN
RUMAH TERTENTU YANG TELAH DITUNJUK,
MENYERAHKAN TV 21 INCHI MEREK SONY
TIPE XL
6.PERIKATAN BERSYARAT & DENGAN
KETENTUAN WAKTU
-PERIKATAN BERSYARAT, YAITU PERIKATAN
YANG PRESTASINYA DIGANTUNGKAN PADA
SATU PERISTIWA/KEJADIAN YANG MASIH
AKAN DATANG/TERJADI & TERJADINYA
BELUM TENTU TERJADI.
a.SYARAT TANGGUH: PERIKATAN LAHIR JIKA
PERISTIWA YANG DIMAKSUD ITU TERJADI
(PS 1263 BW), MISAL: A SANGGUP/AKAN
MENYEWAKAN RUMAHNYA KEPADA B
APABILA A JADI PINDAH KE LAIN DAERAH
b.SYARAT BATAL:PERIKATAN YANG SUDAH
LAHIR JUSTRU BERAKHIR/DIBATALKAN
APABILA PERISTIWA YANG DIMAKSUD ITU
TERJADI (PS1265 BW).
MISALNYA: A MAU MENYEWAKAN RUMAHNYA
PADA B ASAL TIDAK DIPAKAI UNTUK
BENGKEL. JIKA B KEMUDIAN MEMBUKA
BENGKEL, MAKA PERIKATAN LALU PUTUS
KARENA SARAT ITU SUDAH DIPENUHI.
-PERIKATAN DENGAN KETENTUAN WAKTU:
PERIKATAN DIMANA PEMENUHAN PRESTASINYA
MASIH AKAN TERJADI & PASTI AKAN TERJADI
MESKIPUN MUNGKIN BELUM DAPAT DITENTU-KAN
KAPAN DATANGNYA, HANYA MENANGGUH-KAN
PELAKSANAANNYA ATAU MENENTUKAN LAMA
WAKTU BERLANGSUNGNYA SUATU PERJANJIAN.
MISAL: SAYA MENYEWAKAN RUMAH PER 1 AGUS-
TUS 2005 ATAU MENYEWAKAN RUMAH SAMPAI 1
DESEMBER 2005
CATATAN: JIKA DALAM KETENTUAN PERJANJI-
ANNYA TERDAPAT UNSUR YANG PASTI, MAKA
DISEBUT PERIKATAN DENGAN KETENTUAN
WAKTU& JIKA DALAM KETENTUAN PERJANJIAN
TIDAK TERDAPAT UNSUR YANG PASTI, MAKA
DISEBUT PERIKATAN BERSYARAT.
PERISTIWA HUKUM
TIND.HK

TINDAKAN
HUKUM
SEPIHAK
PERJJ TIMBL
BALIK
TINDAKAN
MANUSIA
TIND HK
DUA PIHAK
PERJJ
SEPIHAK
BUKAN TINDK
HUKUM
ONRECHTATIGE
DAAD 1365
RECHTMATIGE
DAAD 1354, 1359
PERISTIWA
HUKUM
BUKAN TINDKAN
MANUSIA:
KELAHIRAN, KEMATIAN, DALUWARSA
PERISTIWA HUKUM

DIBAGI:
A.TINDAKAN MANUSIA
B.BUKAN TINDAKAN
MANUSIA/PERISTIWA HUKUM YANG
LAIN
TINDAKAN MANUSIA DIBAGI:
1.TINDAKAN HUKUM
a.TINDAKAN HUKUM SEPIHAK
b.TINDAKAN HUKUM BANYAK PIHAK/
PERJANJIAN:
-PERJANJIAN SEPIHAK
-PERJANJIAN TIMBAL BALIK
2.BUKAN TINDAKAN HUKUM
a.MENURUT HUKUM/RECHTMATIG
b.MELAWAN HUKUM/ONRECHTMATIG
PERISTIWA HUKUM: PERISTIWA YANG DIBERI
AKIBAT HUKUM, DIATUR HAK & KEWAJIBAN
YANG TIMBUL DARI PERISTIWA TERSEBUT.
PERISTIWA HK TINDAKAN MANUSIA:
PERISTIWA HK YANG MUNCULNYA ADA
DALAM KEKUASAAN MANUSIA UNTUK
MENENTUKANNYA,
MISAL: A PINJAM SEPEDA PADA B, MAKA
LAHIR PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
TINDAKAN HUKUM: TINDAKAN-TINDAKAN
YANG MENIMBULKAN AKIBAT HUKUM &
AKIBAT HUKUM ITU MEMANG DIKEHENDAKI
ATAU DIANGGAP DIKEHANDAKI
MISAL: JUAL BELI
TINDAKAN HUKUM SEPIHAK: TINDAKAN
HUKUM YANG UNTUK TIMBULNYA AKIBAT
HUKUM YANG DIKEHENDAKI ATAU DIANG-
GAP DIKEHENDAKI CUKUP DILAKUKAN
SATU ORANG SAJA
MISAL: IJIN KAWIN, PENGAKUAN ANAK LUAR
KAWIN, PEMBUATAN TESTAMEN
TINDAKAN HUKUM DUA PIHAK/ PERJANJIAN:
TINDAKAN HUKUM YANG UNTUK TIMBUL-
NYA AKIBAT HUKUM YANG DIKEHENDAKI
HARUS DILAKUKAN OLEH DUA PIHAK
PERJANJIAN SEPIHAK: PERJANJIAN YANG
MENIMBULKAN HAK DISATU PIHAK &
KEWAJIBAN DILAIN PIHAK
MISAL: HIBAH
PERJANJIAN TIMBAL BALIK: PERJANJIAN
YANG MENIMBULKAN HAK & KEWAJIBAN
PADA KEDUA PIHAK. MISAL: JUAL BELI
PERISTIWA HUKUM BUKAN TINDAKAN
MANUSIA : PERISTIWA HUKUM YANG
MUNCULNYA ADA DILUAR KENDALI
MANUSIA
MISAL: KELAHIRAN, KEMATIAN, DALUWARSA

TINDAKAN MANUSIA BUKAN TINDAKAN


HUKUM: TINDAKAN YANG MENIMBULKAN
AKIBAT HUKUM & AKIBAT HUKUM TERSE-
BUT TIDAK DIKEHENDAKI
MISAL: PERBUATAN MELAWAN HUKUM
PERJANJIAN

PERIKATAN YANG LAHIR DARI PERJANJIAN/


KONTRAK DIATUR DALAM TITEL II (PASAL
13131351) & TITEL V-XVIII (PASAL 1457-1864)
BW. PENGERTIAN PERJANJIAN TERDAPAT
DALAM PASAL 1313 BW.- LIHAT URAIAN DI
DEPAN
UNSURUNSUR PERJANJIAN:
1.ESSENSIALIA
2.NATURALIA
3.ACCIDENTALIA
ESSENSIALIA
ADALAH UNSUR-UNSUR YANG SELALU
HARUS ADA DI DALAM SUATU
PERJANJIAN, UNSUR MUTLAK, DIMA-
NA TANPA ADANYA UNSUR TERSEBUT
PERJANJIAN TAK MUNGKIN ADA,
MISALNYA: DALAM PERJANJIAN JUAL
BELI, HARGA MERUPAKAN UNSUR
ESSENSIALIA
NATURALIA

ADALAH UNSUR PERJANJIAN YANG OLEH


UNDANG-UNDANG DIATUR, TETAPI OLEH
PARA PIHAK DAPAT DISINGKIRKAN ATAU
DIGANTI. DISINI HAL TERSEBUT OLEH UU
DIATUR SEBAGAI HUKUM YANG MENAM-
BAH/ ANVULLENDRECHT.
UNSUR TERSEBUT DIANGGAP DIKEHENDAKI
OLEH PARA PIHAK, MISAL: KEWAJIBAN
PENJUAL UNTUK MENJAMIN CACAT
TERSEMBUNYI, KEWAJIBAN MEMIKUL
RESIKO.
ACCIDENTALIA

UNSUR PERJANJIAN YANG DITAMBAHKAN


OLEH PARA PIHAK, UNDANG-UNDANG
SENDIRI TIDAK MENGATUR HAL TERSEBUT.
UNSUR INI HARUS SECARA TEGAS DIPER-
JANJIKAN, MISAL: JUAL BELI RUMAH DENG-
AN PERALATAN RUMAH TANGGANYA.
PERALATAN RUMAH TANGGA MERUPAKAN
UNSUR ACCIDENTALIA, HARUS TEGAS
DIPERJANJIKAN.
SYARAT SAHNYA PERJANJIAN
PASAL 1320 KUH PERDATA MENENTUKAN UNTUK
SAHNYA PERJANJIAN DIPERLUKAN 4 SYARAT :
1.SEPAKAT MEREKA YANG MENGIKATKAN DIRINYA
2.KECAKAPAN UNTUK MEMBUAT SUATU PERJANJIAN
3.SUATU HAL TERTENTU
4.SUATU SEBAB YANG HALAL
SYARAT 1 & 2, DINAMAKAN SYARAT SUBJEKTIF KA-
RENA MENGENAI SUBJEKNYA YANG MENGADA-KAN
PERJANJIAN. JIKA SYARAT INI TIDAK DIPENU-HI,
MAKA AKIBATNYA PERJANJIAN TERSEBUT DAPAT
DIBATALKAN (VERNIETIGBAAR)
SYARAT 3 & 4 DINAMAKAN SYARAT
OBJEKTIF, KARENA MENGENAI
PERJANJIANNYA SENDIRI/OBJEK DARI
PERBUATAN HUKUM YANG DILAKU-
KAN ITU. JIKA SYARAT INI TIDAK
DIPENUHI, AKIBATNYA PERJANJIAN
BATAL DEMI HUKUM (NIETIG VAN
RECHTSWEGE)
SEPAKAT MEREKA YANG MENGIKATKAN DIRINYA
YANG DIMAKSUD SEPAKAT : KEDUA SUBJEK YANG
MENGADAKAN PERJANJIAN SETUJU ATAU SESUAI
KEHENDAKNYA MENGENAI HAL-HAL POKOK DARI
PERJANJIAN YANG DIADAKAN.
MISAL: DALAM PERJANJIAN JUAL BELI, SI PENJUAL
MENGHENDAKI UANG/HARGANYA & PEMBELI
MENGHENDAKI BARANG YANG DIJUAL ITU.
PASAL 1321 BW: TIADA SEPAKAT YANG SAH APABILA
SEPAKAT ITU DIBERIKAN KARENA KEKHILAFAN
(DWALING), ATAU DIPEROLEHNYA DENGAN
PAKSAAN (DWANG) ATAU PENIPUAN (BEDROG).
KECAKAPAN UNTUK MEMBUAT PERJANJIAN
MAKSUDNYA ORANG YANG MEMBUAT PERJANJIAN
HARUS CAKAP MENURUT HUKUM.
PASAL 1329 BW:SETIAP ORANG ADALAH CAKAP
UNTUK MEMBUAT PERIKATAN-PERIKATAN, KECUA-
LI JIKA IA OLEH UU TIDAK DINYATAKAN TAK CAKAP.
DALAM PASAL 1330 BW DISEBUTKAN ORANG-ORANG
YANG TIDAK CAKAP UNTUK MEMBUAT PERJANJIAN
:
1.ORANG YANG BELUM DEWASA
2.MEREKA YANG DITARUH DIBAWAH PENGAMPUAN
3.ORANG-ORANG PEREMPUAN DALAM HAL-HAL YANG
DITETAPKAN OLEH UU, PADA UMUMNYA SEMUA
ORANG KEPADA SIAPA UU TELAH MELA-RANG
MEMBUAT PERJANJIAN-PERJANJIAN TER-TENTU.
BERKAITAN DENGAN KETIDAK CAKA-
PAN ISTERI, DENGAN BERLAKUNYA
UUP/UU NO.1 TAHUN 1974, MAKA
ISTERI ADALAH CAKAP BERTINDAK.
DISIMPULKAN DARI:
- PASAL 31 AYAT (2),
- PASAL 35 AYAT (2),
- PASAL 36 AYAT (2) UNDANG-UNDANG
PERKAWINAN/UUP
SUATU HAL TERTENTU
YANG DIAMKSUD SUATU HAL TERTENTU DALAM
SUATU PERJANJIAN ADALAH OBJEK PERJANJIAN,
SUATU POKOK (BENDA) UNTUK MANA DIADAKAN
SUATU PERJANJIAN. DITINJAU DARI KREDITUR &
DEBITUR, HAL TERTENTU MERUPAKAN ISI DARI
PADA PERIKATAN UTAMA (PRESTASI), YANG MUN-
CUL DARI PERJANJIAN TERSEBUT. PRESTASI TER-
SEBUT HARUS TERTENTU, ATAU PALING SEDIKIT
DITENTUKAN JENISNYA (PASAL 1333 AYAT (1) KUH
PERDATA). OBJEKNYA HARUS TERTENTU, INI
DIMAKSUDKAN AGAR ORANG DAPAT MENUNTUT
PEMENUHAN HAKNYA & MELUNASI KEWAJIBAN-
NYA. BENDA TERSEBUT TIDAK PERLU SEJAK SE-
MULA HARUS SUDAH TERTENTU, ASALKAN DIKE-
MUDIAN HARI JUMLAH TERSEBUT BISA DITENTU-
KAN ATAU DIHITUNG (PASAL 1333 AYAT (2) KUH
PERDATA ).
SUATU SEBAB/CAUSA YANG HALAL

YANG DIMAKSUD SEBAB/CAUSA/OORZAAK, YAITU


TUJUAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN, TETAPI
ADA PENDAPAT YANG MENGATAKAN BAHWA YANG
DIMAKSUD SEBAB ADALAH ISI PERJANJI-AN.
KEMUDIAN YANG DIMAKSUD HALAL ADALAH TIDAK
BERTENTANGAN DENGAN UNDANG-UNDANG,
KESUSILAAN & KETERTIBAN UMUM.
JADI YANG DIMAKSUD SEBAB YANG HALAL ADALAH
BAHWA TUJUAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN
TIDAK BOLEH BERTENTANGAN DENGAN UU,
KESUSILAAN & KETERTIBAN UMUM.
LAHIRNYA PERJANJIAN

PERJANJIAN DILIHAT DARI LAHIRNYA DIBEDAKAN


PERJANJIAN KONSENSUIL, RIIL & FORMIL.
-PERJANJIAN KONSENSUIL: SUATU PERJANJIAN
DIMANA ADANYA KATA SEPAKAT ANTARA PARA
PIHAK SUDAH CUKUP UNTUK TIMBULNYA/ LAHIR-
NYA PERJANJIAN.
-PERJANJIAN RIIL: PERJANJIAN YANG BARU TERJADI,
KALAU BARANG YANG MENJADI POKOK PERJAN-
JIAN TELAH DISERAHKAN
-PERJANJIAN FORMIL; PERJANJIAN YANG BARU
TERJADI SETELAH DIPENUHI FORMALITAS
TERTENTU YANG DISYARATKAN OLEH UNDANG-
UNDANG.
PERJANJIAN MENURUT KUH PERDATA PADA
UMUMNYA BERSIFAT KONSENSUIL KECUALI
BEBERAPA PERJANJIAN TERTENTU. MENURUT
ASAS KONSENSUALISME, SUATU PERJANJIAN
LAHIR PADA DETIK TERCAPAINYA KESEPAKATAN
ANTARA KEDUA PIHAK MENGENAI HAL YANG
POKOK DARI APA YANG MENJADI OBJEK PERJAN-
JIAN. SEPAKAT ADALAH BERTEMUNYA DUA
KEHENDAK DIMANA KEHENDAK ORANG YANG SATU
SALING MENGISI APA YANG DIKEHENDAKI PIHAK
LAIN. KARENA HUKUM HANYA MENGATUR
PERBUATAN NYATA ,MAKA SEPAKAT ITU HARUS
DINYATAKAN.
UNTUK MENGETAHUI APA TELAH LAHIR PERJANJIAN
& KAPAN PERJANJIAN ITU LAHIR ? HARUS DIPAS-
TIKAN APAKAH TERCAPAI SEPAKAT & KAPAN
SEPAKAT ITU TERCAPAI.
UNTUK MENENTUKAN APAKAH TELAH TERCAPAI
SEPAKAT & KARENANYA TELAH LAHIR PERJANJIAN
TIDAK TERLALU SULIT, JIKA KEDUA PIHAK YANG
BERJUMPA / HADIR SENDIRI & PEMBICARAAN
DILAKUKAN LISAN.
PENETAPAN TERCAPAINYA SEPAKAT & KARENA-NYA
LAHIR PERJANJIAN MENGALAMI KESULITAN DALAM
HAL PARA PIHAK BERADA DALAM DAERAH YANG
BERBEDA & HUBUNGAN DILAKUKAN MELALUI ALAT
KOMUNIKASI SEPERTI: SURAT/TELEGRAM.
PENETAPAN MENGENAI LAHIR/TIMBULNYA
PERJANJIAN MENIMBULKAN TEORI2:
1.TEORI PERNYATAAN (UITINGS THEORIE):
PERJANJIAN LAHIR PADA SAAT PIHAK PENERIMA/
AKSEPTOR MENYATAKAN MENERIMA TAWARAN
PIHAK LAIN DALAM BENTUK TULISAN. PADA SAAT
INI KEDUA PIHAK SALING BERTEMU
2.TEORI PENGIRIMAN (VERZENDINGS THEORIE) ,
SAAT PENGIRIMAN JAWABAN AKSEPTASI ADALAH
SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN. MAKA ORANG
MEMPUNYAI PEGANGAN YANG RELATIF PASTI
MENGENAI SAAT TERJADINYA PERJANJIAN,
TANGGAL CAP POS DAPAT DIPAKAI SEBAGAI
PATOKAN, SEBAB SEJAK SAAT SURAT DIKIRIM,
AKSEPTOR TIDAK MEMPUNYAI KEKUASAAN LAGI
ATAS SURAT JAWABAN TERSEBUT.
3.TEORI PENGETAHUAN (VERNEMINGS
THEORIE): SAAT LAHIRNYA PERJANJIAN
ADALAH PADA SAAT DIKETAHUI ISI SU-RAT
JAWABAN AKSEPTASI OLEH ORANG YANG
MENAWARKAN
4.TEORI PENERIMAAN (ONTVANGS THEORIE),
SAAT PENERIMAAN SURAT JAWABAN
AKSEPTASI ADALAH SAAT LAHIRNYA
PERJANJIAN TIDAK PEDULI APAKAH SURAT
TERSEBUT DIBUKA ATAU DIBIARKAN TIDAK
DIBUKA.
AZAS-AZAS PERJANJIAN al:
1.AZAS KONSENSUALISME: PADA DASAR-NYA
PERJANJIAN LAHIR SEJAK SAAT TERCAPAINYA
SEPAKAT DARI MEREKA YANG MEMBUAT
PERJANJIAN ITU TANPA DIIKUTI DENGAN
PERBUATAN HUKUM LAIN. PADA UMUMNYA
PERJANJIAN DALAM BUKU II B.W BERSIFAT
KONSENSUIL (LIHAT PASAL 1338 AYAT 1 JO PASAL
1320).
2.AZAS PACTA SUNT SERVANDA: PERJANJIAN YANG
DIBUAT SECARA SAH OLEH PARA PIHAK MENGIKAT
BAGI MEREKA YANG MEMBUATNYA SEPERTI
UNDANG-UNDANG. MENGIKAT ARTINYA PARA PIHAK
YANG MEMBUAT PERJANJIAN BERKEWA-JIBAN
UNTUK MENTAATI & MELAKSANAKAN PERJANJIAN
(LIHAT PASAL 1338 AYAT 1 B.W).
3.AZAS KEBEBASAN BERKONTRAK: ORANG
BEBAS UNTUK TIDAK MEMBUAT ATAU
MEMBUAT PERJANJIAN PERJANJIAN DI
LUAR YANG DISEBUTKAN DALAM UU,
BEBAS UNTUK MENENTUKAN SIAPA
PIHAKNYA, ISINYA MAUPUN BENTUK
PERJANJIAN YANG DIBUATNYA, ASALKAN
TIDAK BERTENTANGAN DENGAN UNDANG-
UNDANG, KESUSILAAN DAN KETERTIBAN
UMUM. ASAZ KEBEBASAN BERKONTRAK
TERDAPAT DALAM PASAL 1338 AYAT 1
KUH.PERDATA/B.W
MENURUT PITLO YANG DISITIR J.SATRIO
BAHWA BERDASARKAN PASAL 1338 AYAT 1
KUH PERDATA AZAS KEBEBASAN BERKON-
TRAK ADALAH MELIPUTI:
-ORANG BEBAS UNTUK MEMBUAT KONTRAK
-BEBAS UNTUK MENGATUR SENDIRI ISI
PERJANJIAN YANG AKAN MENGIKAT PER-
BUATANNYA
-BAHKAN ORANG DAPAT MEMPERJANJIKAN
BAHWA IA HANYA BERTANGGUNG JAWAB
SAMPAI BATAS-BATAS TERTENTU SAJA.
PERIKATAN YANG LAHIR DARI PERJANJIAN
AKAN DIBAHAS DETEL DALAM HUKUM
PERIKATAN
WANPRESTASI & AKIBATNYA
JIKA DEBITUR TIDAK MELAKSANAKAN KEWAJIBAN/
TIDAK MEMENUHI PRESTASI YANG DITENTUKAN
DALAM PERJANJIAN YANG SAH, MAKA IA DIKATA-
KAN WANPRESTASI. WANPRESTASI BERASAL DARI
BAHASA BELANDA WANPRESTATIE ARTINYA TIDAK
MEMENUHI KEWAJIBAN YANG TELAH DITETAPKAN
DALAM PERIKATAN, BAIK PERIKATAN YANG TIMBUL
DARI UU MAUPUN YANG TIMBUL DARI PERJANJIAN
(ABDULKADIR MUHAMMAD).
ALASAN DEBITUR TIDAK MEMENUHI KEWAJIBANNYA,
BISA KARENA:
1.PADA DEBITUR ADA KESALAHAN(SENGAJA/LALAI)
2.DEBITUR MENGHADAPI KEADAAN MEMAKSA
/OVERMACHT (TIDAK ADA KESALAHAN).
WANPRESTASI SEORANG DEBITUR
DAPAT BERUPA:
1.DEBITUR TIDAK MEMENUHI PRESTASI
SAMA SEKALI
2.DEBITUR TERLAMBAT MEMENUHI
PRESTASI
3.DEBITUR MEMENUHI PRESTASI
SECARA TIDAK BAIK/MEMBERIKAN
PRESTASI YANG TIDAK SEMESTINYA.
SEJAK KAPAN DEBITUR DIKATAKAN
WANPRESTASI ?
PASAL 1238 B.W : SI BERUTANG ADALAH LALAI
JIKA IA DENGAN SURAT PERINTAH ATAU
DENGAN SEBUAH AKTA SEJENIS ITU TELAH
DINYATAKAN LALAI ATAU DEMI
PERIKATANNYA SENDIRI IALAH JIKA INI
MENETAPKAN BAHWA SI BERUTANG AKAN
HARUS DIANGGAP LALAI DENGAN LEWAT-
NYA WAKTU YANG DITENTUKAN.
JADI DEBITUR DIANGGAP LALAI/WANPRESTASI SEJAK
IA MENDAPAT SOMASI/ INGEBREKESTEL /TEGURAN
DENGAN SURAT PERINTAH/DENGAN SEBUAH AKTA
SEJENIS YANG MENYATAKAN DEBITUR LALAI
DENGAN AKTA ITU.
PADA PERJANJIAN YANG PRESTASINYA UNTUK
BERBUAT SESUATU/MEMBERIKAN SESUATU, YANG
TIDAK MENENTUKAN KAPAN DEBITUR ITU HARUS
MEMENUHI PRESTASI TERSEBUT, DEBITUR HARUS
LEBIH DAHULU DIBERI SOMASI/TEGURAN AGAR
DEBITUR MEMENUHI KEWAJIBANNYA.
ATAU DEBITUR DIANGGAP LALAI/WANPRESTASI DEMI
PERIKATANNYA SENDIRI, JIKA DI DALAM PERIKA-
TANYA DITETAPKAN BAHWA DEBITUR DIANGGA P
LALAI DENGAN
LEWATNYA WAKTU YANG DITENTUKAN. PADA
PERJANJIAN YANG PRESTASINYA UNTUK TIDAK
BERBUAT SESUATU, MAKA KETIKA DEBITUR
JUSTRU BERBUAT SESUATU, MAKA KETIKA ITU
PULA IA DALAM KEADAAN WANPRESTASI.
PASAL 1238 B.W MENENTUKAN BAGAIMANA CARA
MEMBERIKAN SOMATIE, YAITU DENGAN SURAT
PERINTAH/DENGAN AKTA SEJENIS.
MENURUT YURISPRUDENSI ( HR 9-12-1892) SURAT
PERINTAH: PERINGATAN RESMI OLEH JURU SITA
PENGADILAN. AKTA SEJENIS: SUATU TULISAN
BIASA (BUKAN RESMI), SURAT MAUPUN TELEGRAM
YANG TUJUANNYA SAMA YAITU UNTUK MEMBERI
PERINGATAN KEPADA DEBITUR AGAR MEMENUHI
PERJANJIAN DALAM SEKETIKA/DALAM JUMLAH
WAKTU TERTENTU.
SEMA NO.3/1963 MENYATAKAN ANTARA LAIN PASAL
1238 KUH PERDATA TIDAK BERLAKU LAGI. DALAM
SEMA DISEBUTKAN BAHWA SURAT TEGURAN DAPAT
DIANGGAP SEBAGAI PENAGIHAN, OLEH
KARENANYA TERGUGAT MASIH DAPAT MENG-
HINDARKAN TERKABULNYA GUGATAN DENGAN
MEMBAYAR HUTANGNYA SEBELUM SIDANG
PENGADILAN. MASALAHNYA APAKAH TENGGANG
WAKTU ANTARA HARI DITERIMANYA TURUNAN
SURAT GUGATAN OLEH DEBITUR SEBAGAI TERGU-
GAT SAMPAI PADA HARI SIDANG PENGADILAN
DAPAT DIANGGAP WAKTU YANG PANTAS BAGI
DEBITUR UNTUK MEMENUHI SEGALA MACAM
PRESTASI. MENURUT RIDUAN SYAHRANI, HARUS
DILIHAT SECARA KASUSISTIS.
AKIBAT /HUKUMAN BAGI DEBITUR YANG
WANPRESTASI:
1.MEMBAYAR GANTI RUGI YANG DIDERITA
OLEH KREDITUR (PASAL 1247 BW)
2.PEMBATALAN PERJANJIAN (PASAL 1266 BW)
3.PERALIHAN RESKO (PASAL 1237, 1460 BW)
4.MEMBAYAR BIAYA PERKARA, JIKA SAMPAI
DIPERKARAKAN DI PENGADILAN (PASAL 181
HIR).
JIKA DEBITUR DALAM KEADAAN WANPRES-
TASI, MAKA KREDITUR DAPAT MEMILIH
DIANTARA BEBERAPA KEMUNGKINAN
TUNTUTAN SEBAGAIMANA YANG DISE-
BUTKAN PASAL 1267 BW :
1.PEMENUHAN PERJANJIAN
2.PEMENUHAN PERJANJIAN DENGAN GANTI
RUGI
3.GANTI KERUGIAN
4.PEMBATALAN PERJANJIAN
5.PEMBATALAN DENGAN GANTI RUGI
PENGANTIAN KERUGIAN
DIATUR PASAL 1243-1252 BW.
GANTI RUGI: SANKSI YANG DAPAT DIBEBANKAN
KEPADA DEBITUR YANG TIDAK MEMENUHI
PRESTASI DALAM SUATU PERIKATAN UNTUK
MEMBERIKAN PENGGANTIAN BIAYA, RUGI DAN
BUNGA.
BIAYA: SEGALA PENGELUARAN/PERONGKOSAN YANG
NYATA-NYATA TELAH DIKELUARKAN OLEH
KREDITUR.
RUGI: SEGALA KERUGIAN KARENA MUSNAHNYA/
RUSAKNYA BARANG-BARANG MILIK KREDITUR
AKIBAT KELALAIAN DEBITUR.
BUNGA: SEGALA KEUNTUNGAN YANG DIHARAPKAN/
SUDAH DIPERHITUNGKAN
TUNTUTAN GANTI RUGI DIBATASI OLEH
SYARAT-SYARAT:
-KERUGIAN YANG BENAR-BENAR DIDERITA
-KERUGIAN HARUS BISA DIBUKTIKAN
-KERUGIKAN HARUS DAPAT DIDUGA/
DIPERHITUNGKAN DEBITUR PADA WAKTU
TIMBULNYA PERIKATAN
-KERUGIAN HARUS MERUPAKAN AKIBAT
LANGSUNG, KALAU IA MENURUT PENGALA-
MAN MANUSIA PATUT DHARAPKAN MUN-
CUL KARENA WANPRESTASI.
PEMBATALAN PERJANJIAN
PEMBATALAN PERJANJIAN DISINI BUKAN PEMBA-
TALAN PERJANJIAN KARENA TIDAK MEMENUHI
SYARAT SUBJEKTIF DALAM SAHNYA PERJANJIAN,
TAPI KARENA DEBITUR WANPRESTASI.
BERDASARKAN PENDAPAT AHLI HUKUM PADA
UMUMNYA TERHADAP PASAL 1266 BW, ADA SYA-
RAT YANG HARUS DIPENUHI UNTUK PEMBATALAN
PERJANJIAN:
1. PERJANJIAN HARUS BERSIFAT TIMBAL BALIK
2. HARUS ADA WANPRESTASI
3. HARUS DENGAN KEPUTUSAN HAKIM (PASAL 1266
AYAT 2 BW).
DALAM PRAKTEK PARA PIHAK SERING MENCANTUM-
KAN KLAUSULA DALAM PERJANJIAN BAHWA MERE-
KA SEPAKAT UNTUK MELEPASKAN/ MENGENYAM-
PINGKAN KETENTUAN PASAL 1266 BW, SEHINGGA
JIKA DEBITUR WANPRESTASI PERJANJIAN BATAL
DEMI HUKUM.
OVERMACHT/KEADAAN MEMAKSA/
FORCE MAJEURE

DIATUR DALAM PASAL 1244-1245,1444 BW


KEADAAN MEMAKSA : SUATU KEADAAN YANG DAPAT
MENYEBABKAN SEORANG DEBITUR TIDAK MEME-
NUHI PRESTASI KEPADA KREDITUR, DIMANA
KEADAAN TERSEBUT MERUPAKAN YANG TIDAK
DAPAT DIKETAHUI OLEH DEBITUR PADA WAKTU
MEMBUAT PERJANJIAN/ DENGAN KATA LAIN
TERJADINYA DILUAR KEKUASAAN DEBITUR
(HARTONO HADISUPRAPTO)
MACAM OVERMACHT:
1.YANG BERSIFAT MUTLAK (ABSOLUT)
2.BERSIFAT RELATIF (NISBI).
OVERMACHT YANG ABSOLUT: SUATU KEADAAN
MEMAKSA YANG MENYEBABKAN SUATU PERIKA-
TAN BAGAIMANAPUN TIDAK MUNGKIN DILAKSA-
NAKAN.
CONTOH: SEORANG PENJUAL SEEKOR KUDA
TERTENTU, TAPI KETIKA KUDA ITU DIBAWA UNTUK
DISERAHKAN KEPADA PEMBELI, DI TENGAH JALAN
KUDA TERSEBUT DISAMBAR PETIR, SEHINGGA
MATI SEKETIKA, KARENANYA PENJUAL KUDA TIDAK
MUNGKIN MEMENUHI PRESTASINYA.
OVERMACHT YANG RELATIF: SUATU KEADAAN
YANG MEMAKSA YANG MENYE-BABKAN
SUATU PERIKATAN HANYA DAPAT
DILAKSANAKAN OLEH DEBITUR DENGAN
PENGORBANAN YANG DEMIKIAN BESAR-
NYA, SEHINGGA TIDAK LAGI PANTAS PIHAK
KREDITUR MENUNTUT PELAKSANAAN PERI-
KATAN TERSEBUT.
UNTUK MENENTUKAN OVERMACHT NISBI ADA
2 UKURAN : UKURAN OBYEKTIF &
SUBJEKTIF.
YANG DIMAKSUD UKURAN OBYEKTIF: UKU-
RAN BAGAIMANA KEADAAN ORANG PADA
UMUMNYA. JIKA SUATU KEADAAN MENYE-
BABKAN SEMUA ORANG TIDAK DAPAT ME-
LAKSANAKAN PERIKATAN, INI MERUPAKAN
KEADAAN MEMAKSA YANG DIUKUR SECARA
OBYEKTIF.
MISAL: A PEDAGANG DI JKT MENYERAHKAN
BERAS KEPADA B/PEMBELI DI PWT. SEBE-
LUM BERAS DISERAHKAN A TANPA DIDUGA
KELUAR PERDA DKI JKT YANG BERISI LARA-
NGAN PENGIRIMAN BERAS DARI JKT KE
DAERAH LAIN, DENGAN ANCAMAN YANG
BERAT BAGI SIAPA SAJA YANG MELANG-
GAR. DI SINI A MASIH MUNGKIN MENYERAH-
KAN BERAS KE B /PWT TAPI PENGORBA-
NANNYA BESAR DIMANA IA AKAN MENDA-
PAT SANKSI YANG BERAT JIKA DIKETAHUI.
UKURAN SUBYEKTIF: UKURAN BAGAIMANA
KEADAAN SEORANG TERTENTU YANG BER-
BEDA DENGAN ORANG LAIN.UKURAN INI
MENENTUKAN JIKA SUATU KEADAAN ME-
NYEBABKAN ORANG TERTENTU TIDAK DA-
PAT MELAKSANAKAN PERIKATAN KARENA
HAL-HAL YANG MELEKAT PADA DIRI ORANG
YANG BERSANGKUTAN.
MISAL: A BERJANJI MENYERAHKAN TV MILIK-
NYA KEPADA B. BELUM SEMPAT DISERAH-
KAN MALAMNYA TV DIRAMPOK OLEH PE-
RAMPOK YANG BERSENJATA PISTOL DE-
NGAN MENGANCAM AKAN MENEMBAK JIKA
TIDAK MENYERAHKAN TV. PADA SAAT ITU A
JUGA MEMEGANG PISTOL, NAMUN TV DIBI-
ARKAN DIAMBIL PERAMPOK KARENA A TER-
KENAL PENAKUT.
SIAPA YANG HARUS MEMBUKTIKAN?
PASAL 1244 & 1444 BW: PIHAK DEBITUR YANG
TERPAKSA TIDAK DAPAT MEMENUHI
PRESTASI YANG HARUS MEMBUKTIKAN.
PADA AKHIRNYA TERGANTUNG PADA
PENILAIAN HAKIM TERHADAP BUKTI YANG
DIAJUKAN PARA PIHAK, APA BENAR TIDAK
DAPAT DIPENUHI PERJANJIAN KARENA
OVERMACHT & SEJAUH MANA OVERMACHT
TERJADI.
RESIKO
YAITU KEWAJIBAN MEMIKUL KERUGIAN YANG
DISEBAKAN KARENA KEJADIAN DILUAR KE-
SALAHAN SALAH SATU PIHAK/KEADAAN
MEMAKSA. JADI RESIKO BERPOKOK PANG-
KAL PADA KEJADIAN OVERMACHT/ KEADA-
AN MEMAKSA ATAU RESIKO ADALAH
BUNTUT OVERMACHT.
RESIKO DIATUR DALAM PASAL 1237,1264 DAN
1444 BW : YANG MENENTUKAN SECARA
TERSIRAT, DIMANA DARI KETENTUAN ITU
DAPAT DISIMPULKAN DARI PERKATAAN
YANG DIPAKAI DI DALAMNYA.
PASAL 1237 BW:DALAM HAL ADANYA
PERIKATAN UNTUK MEMBERIKAN SESUATU
KEBENDAAN TERTENTU, KEBENDAAN ITU
SEJAK PERIKATAN DILAHIRKAN ADALAH
ATAS TANGGUNGAN SI PERPIUTANG.
MISAL: HIBAH TV. RESIKO DALAM PASAL 1237
ADALAH RESIKO DALAM PERJANJIAN
SEPIHAK DITANGGUNG KREDITUR.
PASAL 1264 & 1444 BW: MENGATUR RESIKO
DALAM PERJANJIAN TIMBAL BALIK
DITANGGUNG PEMILIK BARANG.
PASAL 1237, 1264 & 1444 BW MERUPAKAN KETEN-
TUAN UMUM BUKU III BW YANG MENGATUR
RESIKO.
BAGIAN KHUSUS BUKU III BW TENTANG PERJANJIAN
TERTENTU JUGA MENGATUR RESIKO:
- PASAL 1460,1461,1462 (RESIKO PADA PERJANJIAN
JUAL BELI),
-PASAL 1545 (RESIKO PADA PERJANJIAN TUKAR
MENUKAR),
-PASAL 1553 (RESIKO PERJANJIAN SEWA MENYEWA)
KETENTUAN RESIKO JIKA DIHUBUNGKAN KEBEBA-
SAN BERKONTRAK DISERAHKAN KEPADA PARA
PIHAK UNTUK MENGATUR & MENENTUKAN SEN-
DIRI SEDEMIKIAN RUPA RESIKO YANG MEREKA
INGINKAN, SEBAB KETENTUAN RESIKO DALAM
BUKU III BERSIFAT ANVULLEND/PELENGKAP
PERIKATAN YANG LAHIR DARI UU
DIATUR DALAM PASAL 1352-1380 TITEL III
BUKU III BW. KETENTUAN INI BUKAN SE-
BAGAI KETENTUAN UMUM JENIS PERIKA-
TAN YANG LAHIR DARI UU, MELAINKAN
HANYA MENGATUR BEBERAPA JENIS
PERIKATAN YANG BERSUMBER DARI UU,
YAITU:
-ZAAKWAARNEMING,
-ONVERSCHULDIGDE BETALING
-ONRECHTMATIGE DAAD
MENGATUR JUGA : NATUURLIJKE VERBIN-
TENIS
HAPUSNYA PERIKATAN
HAL-HAL YANG MENGAKIBATKAN HAPUSNYA
PERIKATAN DIATUR PASAL 1381 TITEL IV BW:
1.PEMBAYARAN
2.PENAWARAN PEMBAYARAN TUNAI, DIIKUTI
DENGAN PENYIMPANAN/ PENITIPAN
3.PEMBAHARUAN UTANG
4.PERJUMPAAN UTANG/KOMPENSASI
5.PERCAMPURAN UTANG/NOVASI
6.PEMBEBASAN UTANG
7.MUSNAHNYA BARANG YANG TERUTANG
8.KEBATALAN DAN PEMBATALAN
9.BERLAKUNYA SYARAT BATAL
10.LEWATNYA WAKTU
PEMBAYARAN: SETIAP PEMENUHAN PRES-
TASI SECARA SUKA RELA. (TIDAK MELULU
PENYERAHAN UANG).
PIHAK YANG WAJIB MEMENUHI PRESTASI
ADALAH DEBITUR, TAPI PASAL 1382, SELAIN
DEBITUR SENDIRI, ORANG-ORANG LAIN
JUGA DAPAT MEMENUHI PRESTASI ITU:
-MEREKA YANG BERKEPENTINGAN (ORANG
YANG TURUT BERUTANG & PENANGGUNG
UTANG/BORG).
-MEREKA YANG TIDAK BERKEPENTINGAN,
ASAL MEREKA BERTINDAK ATAS NAMA
DEBITUR ATAU ATAS NAMANYA SENDIRI,
ASAL TIDAK MENGGANTIKAN KEDUDUKAN
KREDITUR
TEMPAT PEMBAYARAN DIATUR PASAL 1391
BW: DILAKUKAN DITEMPAT YANG DITE-
TAPKAN DALAM PERJANJIAN, JIKA PEMBA-
YARAN MENGENAI SUATU BARANG TER-
TENTU HARUS DILAKUKAN DI TEMPAT DI-
MANA BARANG ITU BERADA SEWAKTU
PERJANJIAN DIBUAT.
PEMBAYARAN HARUS DILAKUKAN KEPADA
PASAL 1385 BW:
-KREDITUR
-ORANG YANG DIKUASAKAN OLEH KREDITUR
-ORANG YANG DIKUASAKAN OLEH HAKIM
ATAU UU UNTUK MENERIMA PEMBAYARAN
TERSEBUT
SUBROGASI (PASAL 1400-1403 BW).
PASAL 1400: SUBROGASI TERJADI KARENA
ADANYA PEMBAYARAN OLEH PIHAK KE 3.
JADI ADA PENGGANTIAN KREDITUR DALAM
SUATU PERIKATAN SEBAGAI AKIBAT ADA-
NYA PEMBAYARAN. DENGAN SUBROGASI,
MAKA PIUTANG DENGAN HAK ACCESOIR-
NYA BERALIH KEPADA PIHAK KE 3 YANG
MENGGANTIKAN KEDUDUKAN KREDITUR.
PASAL 1403 BW: SUBROGASI TIDAK DAPAT
MENGURANGI HAK KREDITUR, JIKA PIHAK
KE 3 HANYA MEMBAYAR SEBAGIAN DARI
PIUTANGNYA.
SUBROGASI TERJADI BISA KARENA UU
MAUPUN PERJANJIAN (PASAL 1400 BW).
SUBROGASI KARENA PERJANJIAN,
TERJADI ANTARA KREDITUR DENGAN
PIHAK KE 3 ATAU DEBITUR DENGAN
PIHAK KETIGA (PASAL 1401 BW). INI
HARUS DINYATAKAN DENGAN TEGAS
& DILAKUKAN TEPAT PADA WAKTU
PEMBAYARAN.
SUBROGASI KARENA UU (PASAL 1402
BW ADA 4 CARA ), 1106,1202,1840 BW
PENAWARAN PEMBAYARAN TUNAI DIIKUTI PENYIM-
PANAN.
UU MEMBERI KEMUNGKINAN DEBITUR YANG TIDAK
DAPAT MELUNASI HUTANG-NYA KARENA TIDAK
MENDAPAT BANTU-AN DARI KREDITUR, UNTUK
MEMBAYAR HUTANGNYA DENGAN JALAN PENAWA-
RAN PEMBAYARAN DIIKUTI PENITIPAN/ PENYIM-
PANAN.
PENAWARAN PEMBAYARAN DIIKUTI DENGAN PENI-
TIPAN HANYA MUNGKIN PADA PERIKATAN UNTUK
MEMBAYAR SEJUMLAH UANG/ MENYERAHKAN
BARANG BERGERAK (PASAL 1404-1412 BW).
TIDAK BERLAKU BAGI PERIKATAN UNTUK BERBUAT
SESUATU ATAU TIDAK BERBUAT SESUATU & UN-
TUK MEMBERIKAN BARANG TIDAK BERGERAK.