Anda di halaman 1dari 26

IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Kehamilan adl @
hal/peristiwa yang sangat
dinantikan olh sebagian
besar wanita. Hal ini
dikarenakan mereka akan
mendapatkan peran baru
sebagai seorang ibu.

Tingkat kebutuhan
gizi seorang wanita
akan meningkat bila
dalam keadaan hamil.
PerubahaN GizI IbU HamiL
Seorang ibu hamil memiliki kebutuhan gizi
khusus. Beberapa kebutuhan gizi ibu hamil
dapat ditutupi oleh makanan sehat yang
seimbang. Selain pilihan makanan sehat,
pada saat kehamilan dibutuhkan vitamin.
Idealnya adalah tiga bulan sebelum
kehamilan. Hal ini dapat membantu
mendapatkan gizi yang dibutuhkan. Namun,
terkadang diperlukan tambahan makanan,
bahkan suplemen sesuai kebutuhan.
Berikut adalah beberapa
syarat makanan sehat bagi ibu
hamil:
Menyediakan energi yang cukup (kalori)
untuk kebutuhan kesehatan tubuh anda
dan pertumbuhan bayi
Menyediakan semua kebutuhan ibu dan
bayi (meliputi protein, lemak, vitamin,
mineral)
Dapat menghindarkan pengaruh negatif
bagi bayi
Mendukung metabolisme tubuh ibu dalam
memelihara berat badan sehat, kadar gula
darah, dan tekanan darah.
KALORI
Seorang wanita selama
kehamilan memiliki
kebutuhan energi yang
meningkat. Energi ini
digunakan untuk
pertumbuhan janin,
pembentukan plasenta,
pembuluh darah, dan
jaringan yang baru.
Selain itu, tambahan
kalori dibutuhkan
sebagai tenaga untuk
Anda membutuhkan
P protein lebih banyak
R selama kehamilan
dibandingkan waktu-waktu
O lain di seluruh hidup anda.
Hal ini dikarenakan protein
T diperlukan untuk
pertumbuhan jaringan
E pada janin. Ibu hamil
I membutuhkan sekitar 75
gram protein setiap
N harinya, lebih banyak 25
gram dibandingkan yang
lain.
FOLAT

Folat merupakan vitamin B berperan


dalam perkembangan embrio. Folat
juga membantu mencegah neural tube
defect (cacat pada otak dan tulang
belakang). Kekurangan folat juga dapat
meningkatkan kehamilan prematur,
BBLR, dan pertumbuhan janin yang
kurang. ibu hamil disarankan untuk
mengkonsumsi 600 mg folat.
ZAT BESI
Zat besi dibutuhkan u/
memproduksi hemoglobin, yang
berperan membawa oksigen ke
jaringan tubuh. Kebutuhan zat besi
ber+ sekitar 2 x lipat pd saat
kehamilan. Jika kebutuhan zat besi
tdk tercukupi, bumil akan mudah
lelah dan rentan infeksi. Risiko
melahirkan bayi prematur & bayi
dg BBLR juga lebih tinggi.
Kebutuhan zat besi bagi bumil
yaitu sekitar 27 mg/hr.
Ibu hamil
membutuhkan kalsium
untuk menguatkan
tulang & gigi. Juga
digunakan u/
membantu pembuluh
darah berkontraksi &
berdilatasi. Selain itu
KA diperlukan u/
M L SIU mengantarkan sinyal
saraf, kontraksi otot &
sekresi hormon.
Kebutuhan kalsium ibu
hamil adalah sekitar
1000 mg per hari.
VIT.C
Vitamin C merupakan antioksidan
yg melindungi jaringan dari
kerusakan & dibutuhkan untuk
membentuk kolagen dan
menghantarkan sinyal kimia di
otak. Bumil setiap harinya
disarankan mengkonsumsi 85 mg
vitamin C per hari. Makanan
yang kaya vitamin C juga
membantu penyerapan zat besi
VIT.A
Vitamin A memegang peranan
penting dalam fungsi tubuh,
termasuk fungsi penglihatan,
imunitas, serta pertumbuhan dan
perkembangan embrio.
Kekurangan vitamin A dapat
mengakibatkan kelahiran
prematur dan BBLR.
CONTOH MENU IBU HAMIL

Makan Pagi (520 kalori)


Nasi Goreng (nasi, ayam,
telur, kacang polong,
ketimun, slada)
Juice Buah (Melon)

Snack (126 kalori)


- Koktail Buah (pepaya, apel,
melon, gula pasir, sari jeruk
manis)
Makan Siang (694
kalori)
Nasi Putih
Daging Bumbu Bali
(daging sapi, minyak)
Tahu Isi (tahu, telur)
Tumis Bayam (Bayam,
minyak)
Sup Sayur (wortel,
buncis, kol, ayam)
Buah Potong (pepaya)
Snack (145 kalori)
Kolak Pisang (pisang kepok, santan, gula
pasir)
Makan Malam (558 kalori)
Makaroni Schotel (makaroni, telur, daging
cincang, keju, susu)
Salad Sayur (slada, ketimun, wortel,
minyak)
Buah (jeruk manis)
Pengobatan pada masa hamil dan
menyusui
Obat dapat menyebabkan efek yang tidak
dikehendaki pada janin selama masa kehamilan.
Selama kehamilan dan menyusui, seorang ibu
dapat mengalami berbagai keluhan atau
gangguan kesehatan yang membutuhkan obat.
Banyak ibu hamil menggunakan obat dan
suplemen pada periode organogenesis sedang
berlangsung sehingga risiko terjadi cacat janin
lebih besar. Di sisi lain, banyak ibu yang sedang
menyusui menggunakan obat-obatan yang dapat
memberikan efek yang tidak dikehendaki pada
bayi yang disusui.
Karena banyak obat yang dapat melintasi
plasenta, maka penggunaan obat pada wanita
hamil perlu berhati-hati. Dalam plasenta obat
mengalami proses biotransformasi, mungkin
sebagai upaya perlindungan dan dapat
terbentuk senyawa antara yang reaktif, yang
bersifat teratogenik/dismorfogenik. Obatobat
teratogenik atau obat-obat yang dapat
menyebabkan terbentuknya senyawa
teratogenik dapat merusak janin dalam
pertumbuhan.
Pada proses menyusui, pemberian
beberapa obat (misalnya ergotamin)
untuk perawatan si ibu dapat
membahayakan bayi yang baru lahir,
sedangkan pemberian digoxin sedikit
pengaruhnya. Beberapa obat yang
dapat menghalangi proses
pengeluaran ASI antara lain misalnya
estrogen.
Keracunan pada bayi yang baru lahir dapat terjadi
jika obat bercampur dengan ASI secara
farmakologi dalam jumlah yang signifikan.
Konsentransi obat pada ASI (misalnya iodida)
dapat melebihi yang ada di plasenta sehingga
dosis terapeutik pada ibu dapat menyebabkan
bayi keracunan. Beberapa jenis obat menghambat
proses menyusui bayi (misalnya phenobarbital).
Obat pada ASI secara teoritis dapat menyebabkan
hipersensitifitas pada bayi walaupun dalam
konsentrasi yang sangat kecil pada efek
farmakologi.
Pada umumnya kadar puncak obat di ASI
adalah sekitar 1- 3 jam sesudah ibu meminum
obat. Hal ini mungkin dapat membantu
mempertimbangkan untuk tidak memberikan
ASI pada kadar puncak. Bila ibu menyusui tetap
harus meminum obat yang potensial toksik
terhadap bayinya maka untuk sementara ASI
tidak diberikan tetapi tetap harus di pompa.
ASI dapat diberikan kembali setelah dapat
dikatakan tubuh bersih dari obat dan ini dapat
diperhitungkan setelah 5 kali waktu paruh obat.
Rasio benefit dan risiko penggunaan
obat pada ibu menyusui dapat dinilai
dengan mempertimbangkan : 1.
Farmakologi obat: reaksi yang tidak
dikehendaki 2. Adanya metabolit
aktif 3. Multi obat : adisi efek
samping 4. Dosis dan lamanya terapi
5. Umur bayi. 6. Pengalaman/bukti
klinik 7. Farmakoepidemiologi data.
Obat Yang Digunakan Pada Masa
Kehamilan
Pertimbangkan perawatan pada masa kehamilan
Obat hanya diresepkan pada wanita hamil bila manfaat yang
diperolah ibu diharapkan lebih besar dibandingkan risiko pada janin
Sedapat mungkin segala jenis obat dihindari pemakaiannya selama
trimester pertama kehamilan
Apabila diperlukan, lebih baik obat-obatan yang telah dipakai
secara luas pada kehamilan dan biasanya tampak aman diberikan
daripada obat baru atau obat yang belum pernah dicoba secara
klinis
Obat harus digunakan pada dosis efektif terkecil dalam jangka
waktu sesingkat mungkin
Hindari polifarmasi
Pertimbangkan perlunya penyesuaian dosis dan pemantauan
pengobatan pada beberapa obat (misalnya fenitoin, litium)
Penggunaan obat yang tidak diperlukan harus dihindari. Jika
pengobatan memang diperlukan, perbandingan manfaat/risiko harus
dipertimbangkan pada ibu maupun bayinya.
Obat yang diberi ijin untuk digunakan pada bayi umumnya tidak
membahayakan
Neonatus (dan khususnya bayi yang lahir prematur) mempunyai
risiko lebih besar terhadap paparan obat melalui ASI. Hal ini
disebabkan oleh fungsi ginjal dan hati yang belum berkembang,
sehingga berisiko terjadi penimbunan obat
Harus dipilih rute pemberian dan pembagian obat yang
menghasilkan jumlah kadar obat terkecil yang sampai pada bayi
Hindari atau hentikan sementara menyusui
Jika suatu obat digunakan selama menyusui, maka bayi harus
dipantau secara cermat terhadap efek samping yang mungkin terjadi
Sebaiknya dihindari obat baru, yang hanya memiliki sedikit data
Informasi perlu diberikan kepada
semua wanita yang merencanakan
kehamilan, peran farmasis selain
memberikan informasi tentang obat,
juga memberikan penyuluhan
tentang kesuburan dan perencanaan
kehamilan. Informasi yang diberikan
secara umum adalah untuk
menghindari segala jenis obat,
alkohol, rokok, dan obat penenang.
Yang harus ditekankan dalam pemberian penyuluhan
tentang penggunaan obat pada wanita hamil adalah
manfat pengobatan pada wanita hamil harus lebih besar
daripada risiko jika tidak diberikan pengobatan. Contohnya
adalah pada wanita hamil yang menderita epilepsi, lebih
berbahaya apabila tidak diberikan pengobatan karena
risiko terjadi kejang pada ibu dan janin lebih berbahaya
dibandingkan dengan potensi kelainan janin sebagai akibat
pemberian obat. Oleh karena itu, nasehat tentang
pengobatan secara berkesinambungan pada wanita hamil
yang menderita penyakit kronis sangat diperlukan. Apabila
pemberian obat tidak dapat dihentikan selama kehamilan,
maka pengobatan harus berada dalam pengawasan dan
pemantauan dokter.
Selain itu, juga harus diberikan informasi mengenai
bahaya penggunaan beberapa obat selama
menyusui. Beberapa obat dapat tepenetrasi ke
dalam ASI melalui proses difusi pasif, dosis yang
masuk biasanya 1-2 % dosis yang digunakan ibu.
Dengan ini maka bayi akan terpengaruhi, sehingga
penyuluhan penting dilakukan. Metode penyuluhan
dapat diberikan dengan penyuluhan langsung (tatap
muka) ataupun dengan penyebaran pamflet ke
masyarakat (melalui RS ataupun puskesmas) agar
informasi tersebar dengan luas dan menghindari
efek-efek yang merusak janin ataupun bayi.
TERIMA KASIH