Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

TB PARU
Identitas
Nama : Ny. S. H
Umur : 37 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : PB 3/1
Pekerjaan : IRT
Keluhan Utama
Batuk sejak 1 bulan SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang BPU dengan keluhan batuk sejak
1 bulan SMRS. Batuk sedikit berdahak. Tidak ada
sesak.badan sering terasa demam namun tidak
tinggi. Malam hari sering keluar keringat. Dan
akhir-akhir ini nafsu makan menurun, badan terasa
lemas. Tidak ada keluhan pilek.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal memiliki keluhan yang sama
sebelumnya.
Riwayat asma (-), riwayat TB sebelumnya (-), riwayat
penyakit jantung (-), riwayat DM (-), riwayat hipertensi
(-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Suami pasien pernah didiagnosa dokter memiliki penyakit
TB paru hamper 1 tahun lalu, namun pengobatan tidak
sampai tuntas hanya berjalan 3 bulan. Riwayat DM (-),
riwayat penyakit jantung (-), riwayat asma (-)
Riwayat Alergi
Pasien menyangkal memiliki alergi makanan atau obat-
obatan.
Riwayat Pengobatan
Minum obat warung tidak ada perbaikan
Riwayat psikososial
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang
sehari hari melakukan pekerjaan rumah tangga.
Lingkungan rumah pasien merupakan lingkungan
padat penduduk
Status Generalis
KU : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit kuat angkat, reguler
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu : 37,00C
BB : 51 kg
TB : 155 cm
Status gizi : 21.23 (normoweight)
Kepala
Normocephal, rambut distribusi merata
Mata
Konjungtiva anemi -/-, Sclera ikterik -/-, Reflex pupil +/+ ,
pupil bulat, isokor
Hidung
Konka dbn/dbn, Deviasi septum -/-, Secret -/-, Epistaksis -/-,
massa -/-
Mulut :
Sianosis (-), Bibir kering(-), Faring hiperemis (-)
Telinga:
Normotia, aurikula dbn/dbn, sekret (-/-)
Leher :
Pembesaran KGB (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-)
JVP tidak meningkat
Thorax : Normochest, jaringan parut (-)

Pulmo : Inspeksi simetris, penggunaan otot bantu


napas (-/-), retraksi dinding dada
(-/-), bagian dada yang tertinggal (-/-)
Palpasi nyeri tekan -/-, massa -/-,krepitasi -/-,
vocal fremitus sama kedua lapang paru
Perkusi sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi vesicular +/+, wheezing -/-, ronki -/-
Cor : Inspeksi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi ictus cordis tidak teraba
Perkusi batas jantung atas pada ICS II linea
parasternalis dextra
batas jantung kiri pada ICS V linea
midclavicularis sinistra
batas kanan pada ICS IV , line
parasternalis dextra
Auskultasi BJ I/II Reguler murni, regular gallop
(-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi Datar , jaringan parut (-), distensi (-)
Palpasi Nyeri tekan epigastrium (-)
Perkusi timpani (+), shifting dullnes (-)
Auskultasi bising usus normal 9 kali/menit

Ekstremitas atas : akral hangat, edema -/- , CRT < 2 detik


Ekstremitas bawah: akral hangat, edema -/-,CRT < 2 detik
Sputum
SPS : 1 (+)

Radiologi 9-1-17
Cor :
dbn, tidak ada pembesaran

Pulmo :
Tampak infiltrat pada apex paru kanan (+).
Trakea ditengah dan sinuses tajam diafragma licin

Kesan : spesifik proses aktif, tidak tampak cardiomegali


Planning :
Ambroxol : 3x1 tablet
Paracetamol 3 x 500 mg
2RHZE : 3 tablet 4 KDT
Menggunakan masker jika bepergian.
Tidak membuang dahak sembarangan.
Patuh dalam mengkonsumsi obat obatan untuk menghindari
terjadinya resistensi obat
TINJAUAN PUSTAKA

TUBERCULOSIS
PARU
Definisi
TB Paru
Tuberkulosis adalah suatu
penyakit akibat infeksi yang
disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, Penyakit ini
bersifat sistemik sehingga
dapat mengenai hampir semua
organ tubuh dengan lokasi
terbanyak di paru yang
biasanya merupakan lokasi
Epidemiologi

1. China
2. India 1.828.000 kasus
1.414.000 kasus
3. Indonesia
591.000 kasus
Klasifikasi
Sputum BTA
TB BTA (+)
TB BTA (-)
Tipe Pasien
Kasus baru
Kasus kambuh (relaps)
Kasus defaulted atau drop out
Kasus gagal
Kasus kronik
Kasus bekas TB
Patologi
TB paru lesi primer
TB paru lesi sekunder
Klasifikasi
Aktifitas radiologi
TB paru aktif

TB inaktif

TB paru aktif mulai menyembuh

Luas lesi
Minimal

Moderat

Advance
Cara
Penularan
Tidak OS
tertular dengan
BTA (+)

Respon Batu
tubuh
k

Terhisap Mengelua
oleh orang rkan
yang droplet
sehat nuclei

Bertaha
n di
udara
Gejala Klinis Pemeriksaan Fisik

Demam
keadaan umum: konjungtiva mata
Batuk/batuk darah atau kulit yang pucat, suhu demam
Sesak napas (subfebris), badan kurus atau berat
badan menurun.
Nyeri dada Perkusi : jika terdapa cavitas yg
Malaise besar hipersonor
Jika infiltrat luas redup
Berkeringat Malam
Auskultasi : Rhonki basah kasar
Nafsu makan berkurang (Apeks)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologik
Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru
Bercak-bercak seperti awan dan dengan batas-batas yang tidak tegas
Kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding
tipissklerotik dan terlihat menebal
Kalsifikasi bercak-bercak padat dengan densitas tinggi
Pemeriksaan darah : LED
Akut : leukosit , Hitung jenis pergeseran ke kiri, Limfosit masih.
Laju endap darah mulai

Pemeriksaan sputum : diagnosis pasti BTA (+)


Sputum Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya
ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan
Pemeriksaan uji Tuberkulin (mantoux tes)
Apabila diameter indurasi 10-15mm uji tuberculin positif kuat
Apabila diameter indurasi 5-9 mm uji tuberculin positif meragukan
Apabila diameter indurasi 0-4mm uji tuberculin negative
Alur Diagnosis
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
Kategori -2
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:
Pasien kambuh
Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat
Dosis paduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/ 5(HR)3E3
Tahap Lanjutan
Tahap Intensif tiap hari
3 kali seminggu
Berat Badan RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(400)

Selama 56 hari Selama 28 hari selama 20 minggu


30-37 kg 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT

+ 500 mg Streptomisin inj. + 2 tab Etambutol

38-54 kg 3 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT

+ 750 mg Streptomisin inj. + 3 tab Etambutol

55-70 kg 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT

+ 1000 mg Streptomisin + 4 tab Etambutol

inj.
71 kg 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT
Penatalaksanaan
OAT Sisipan (HRZE)
Paduan OAT ini diberikan kepada pasien BTA positif yang pada akhir pengobatan
intensif masih tetap BTA positif.
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1
yang diberikan selama sebulan (28 hari)
Dosis KDT Sisipan : (HRZE)

Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari


Berat Badan RHZE (150/75/400/275)
30 37 kg 2 tablet 4KDT
38 54 kg 3 tablet 4KDT
55 70 kg 4 tablet 4KDT
71 kg 5 tablet 4KDT
Efek samping
ringan OAT Penyeba
Efek Samping Penatalaksanaan
b
Tidak ada nafsu
Rifampisi Semua OAT diminum
makan, mual, sakit
n malam sebelum tidur
perut
Pirasina
Nyeri Sendi Beri Aspirin
mid
Beri vitamin B6
Kesemutan s/d rasa
INH (piridoxin) 100mg per
terbakar di kaki
hari
Tidak perlu diberi apa-
Efek samping
berat OAT
Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan
Semua jenis Diberikan anti histamin sambil
Gatal dan kemerahan kulit
OAT meneruskan OAT
Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan.
Streptomisin dihentikan, ganti
Gangguan keseimbangan Streptomisin
Etambutol.

Ikterus tanpa penyebab Hampir semua Hentikan semua OAT sampai


lain OAT ikterus menghilang.
Bingung dan muntah-
muntah Hampir semua Hentikan semua OAT, segera
(permulaan ikterus karena OAT lakukan tes fungsi hati.
obat)
Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan Etambutol.
Tata laksana TB
Non-medikamentosa
1. Directly Observed Treatments (DOTs) :
Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk
dukungan dana.
Diagnosis TB dengan pemeriksaan sputum secara
mikroskopis.
Pengobatan dengan paduan OAT jangka pendek dan
pengawasan langsung oleh pengawas minum obat
(PMO).
Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dan mutu
terjamin.
Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan
pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB
Tata laksana TB
Non-medikamentosa
2. Lacak sumber penularan
3. Aspek edukasi sosial ekonomi
4. Pencegahan :
a. Imunisasi BCG
b. Kemoprofilaksis
1) Primer : cegah infeksi TB
2) Sekunder : cegah sakit TB (uji tuberkulin
(+) namun tidak ada gejala klinis)
PENCEGAHAN
PRIMER
Promosi kesehatan
Vaksinasi BCG

SEKUNDER
Berobat teratur
Kontrol kontak dengan imunisasi TBC negatif dan
Chemoprophylaxis pada TBC positif

TERSIER
Rehabilitasi
KOMPLIKASI

Komplikas Atelektasis, hemoptisis,fibrosis,


bronkiektasis, pneumotoraks,gagal
i paru napas.

TBC ekstra paru ringan: TBC kelenjar


Limphe,Pleuritis dengan eksudativa
Komplikas unilateral, efusipleura, tulang ( kecuali
tulang belakang ),sendi , dan kelenjar
i ekstra adrenal
paru TBC ekstra paru berat : meningtis ,
millier,perikarditis, peritionitis, TBC
tulang belakang
TERIMA KASIH