Anda di halaman 1dari 31

RUPTUR TRAKEA

Oleh :
Winda Mulya Nugrahi
1510029046

Pembimbing : dr. Arif Prasetyo Sp.BTKV


IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Usia : 30 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Kubar

KELUHAN UTAMA
Leher terpotong
PRIMARY SURVEY
A : Clear
B : Simetris D=S, RR : 26 x/menit ; SpO2 : 99
%
C : TD : 130/80 mmHg ;
N : 88 x/menit kuat angkat, reguler
D : GCS 15, pupil isokor (3mm/3mm), RC (+/+)
E : Luka terbuka regio colli anterior,
Perdarahan aktif (-)
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dengan keluhan luka pada leher
depan setelah menggores dengan parang dengan
alasan bunuh diri + 1 hari SMRS. Pasien
menghilang dari rumah selama 2 hari, kemudian
datang dan ditemukan dalam keadaan leher
terpotong. Tidak sadar (-), sesak (-), perdarahan
aktif (-).
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat kencing manis (-)

Riwayat sakit jantung (-)

Riwayat alergi (-)

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Riwayat hipertensi (-)
Riwayat kencing manis (-)

Riwayat sakit jantung (-)

Riwayat alergi
RIWAYAT PENGOBATAN
Tidak ada ( -)
PEMERIKSAAN GENERALISATA
TTV
GCS 15
TD : 130/80 N : 88x/mnt RR : 26 x/menit, T : 36,2

Anemis (-|-), Ikterik (-/-)


Kepala/leher
Leher : status lokalis
Besar dan bentuk dada normal
Inspeksi
Pergerakan dada simetris kiri dan kanan
Gerakan dada simetris
Palpasi
Thoraks Fremitus teraba (N)
Perkusi Sonor dalam batas normal

Auskultasi Vesikular (+/+), S1S2 tunggal reguler

Inspeksi Flat (N), distensi (-)


Auskultasi BU (+) Normal,
Abdomen Perkusi Timpani pada seluruh lapang abdomen

Palpasi Soefl (-) nyeri tekan (-), organomegali (-)


PEMERIKSAAN GENERALISATA
Ekstremitas Akral hangat, CRT <2 detik, edema (-/-)

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


Regio colli anterior
L : tampak luka beukuran 4 cm x 3
cm x 1 cm. Tampak trakea
terpotong dengan diameter + 2 cm.
Perdarahan aktif (-)
F : nyeri tekan (+), krepitasi (-)
trake teraba ditengah
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Rongten Regio Colli Ap/Lateral
Pada foto lateral, gambaran trakea menghilang
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan DL
Leukosit 18.570
Hb : 15,1
Hematokrit : 43,7
Trombosit : 380.000
GDS : 163
Ureum : 113,2
Creatinin : 1,4
Na ; 141
K :3,3
Chlo : 97
DIAGNOSIS
Vulnus Scissum Regio Colli Anterior
Ruptur trakea

PENATALAKSANAAN
IVFD Ringer Laktat 20 tpm
Inj. Cefriaxone 2 x 1 gr

Inj. Ranitidin 2 x 50 mg

Inj. Metamizole 3 x 1 gr

Pro Debridemant Eksplorasi

Trakeostomy dan repair crycotiroid


LAPORAN OPERASI
Operator Dr. Arif Prasetyo Sp. BTKV
Anestesi Dr. Mulyono Sp. An
Diagnosis pre operatif Vulnus scissum regio colli +
ruptur membran crycotiroid
Diagnosis post operatif Vulnus scissum regio colli +
ruptur membran crycotiroid
Nama tindakan Repair Membrane crycotiroid
Tracheostomy
1. Informed Consent
2. Antibiotik Profilaksis
3. Dilakukan tracheostomy
4. Pasang kanule No.7
5. Evaluasi Luka :
- tepi luka dikulit, ireguler (+), bridging tissue (+)
-. Ruptur musculus sternohyoid, musculus omohyoid, dan musculus
thyrohyoid
-. Ruptur membran crycotiroid dengan ukuran 1,5 cm X 3 cm.
6. Dilakukan cuci luka, debridemant, dan repair membran crycotiroid
dengan flap dari musculus sternohyoid dan omohyoid
7. Jahit luka interupted dengan nilon
8. Pasang collon braece

Terapi post operasi :


Cefuroxime 3 x 750 mg
Metamizole 3 x 1 ampul
Diet cair lewat NGT 1 hari lanjut diet halus
IVFD D5 : RL : Aminofluid = 500 cc : 500 cc : 500 cc dalam 24 jam
ANATOMI
Pembagian zona pada trauma leher
Zona I disebut juga dasar leher (base of neck)

pada zona ini terdapat apeks paru, trakea, esofagus,


a. karotis komunis, v. jugularis interna, a. subklavia,
a. Innominata, a. vertebralis, fleksus brakhialis, tiroid
dan medula spinalis
Zona II (midneck/ leher bagian tengah

Pada zona ini terdapat laring, trakea, esofagus, a.


karotis, v. kugularis interna, a. vertebralis, medula
spinalis, n.laringeus rekuren dan saraf kranial.
Zona III (leher atas
Struktur penting yang terdapat pada zona ini adalah
a. Karotis interna bagian distal, v. Jugularis interna,
a. vertebralis, cabang-cabang a. karotis eksterna,
faring, kelenjar parotis, medula spinalis dan saraf
kranial IX XII
Ruptur Trakea
A. Definisi

Ruptur Trakea adalah robeknya tenggorokan (trakea),


saluran udara utama yang mengarah ke paru-paru.
Robekan juga bisa terjadi pada jaringan yang
melapisi tenggorokan.
B. Gejala klinis

Dyspnea (mengalami kesulitan bernapas)


Emfisema subkutis pada trauma tumpul

Sumbatan jalan nafas

Hemoptisis
C. Etiologi

Trauma tumpul
Trauma tumpul pada trakea paling sering disebabkan
oleh hantaman langsung, trauma akibat
fleksi/ekstensi hebat, atau trauma benturan pada
dada
Trauma Tajam
Ruptur Trachea sering juga disebabkan karena
trauma tajam (5-15%) yang paling banyak akibat
perkelahian di tempat rawan kejahatan. Senjata yang
dipakai adalah belati, pisau clurit, pisau lipat, golok
maupun senjata berpeluru
D. Patofisologi
Ruptur Perdarahan
trakea (hemtoma)

udara Jaringan lunak

Tersumba
t jalan
nafas

Emfisema Edema
subkutis
subkutis

Obstruksi jalan
nafas
E. Diagnosa

Anamnesa
Berdasarkan tanda dan gejala seperti

emfisema subkutis,

perubahan suara (seperti stridor inspirasi /


hoarseness),
distress pernapasan dan hemoptisis.

Sianosis
Pada Ruptur Trachea akibat trauma tajam kebocoran
tersebut dapat dilihat langsung di tempat luka,
pada trauma tumpul kadang dapat terlihat kulit leher
yang mengembang pada saat batuk
Pemeriksaan fisik
dapat ditemukan jejas (hematom/abrasi) akibat
hantaman benda tumpul, jejas berupa garis yang
menunjukkan bekas jeratan, luka dan penonjolan
tulang, hilangnya tonjolan kartilago tiroid,
krepitasi/diskontinuitas/nyeri tekan pada daerah
trakea, emfisema subkutis maupun emfisema
mediastinum jika cedera lebih ke distal.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto thoraks/ servikal/ trakea

Bronkoskopi

Ct-scan atau MRI


F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan awal pasien Ruptur Trachea yang
termasuk trauma tembus leher sesuai dengan prinsip
Advanced Trauma Life Support (ATLS), yaitu evaluasi
terhadap jalan nafas, pernafasan, sirkulasi dan status
neurologis.
G. Komplikasi
Komplikasi utama setelah operasi untuk kondisi ini
adalah :
Infeksi

Kebutuhan jangka panjang ventilator

Penyempitan saluran udara

Jaringan parut
H. Prognosis
Untuk pasien Ruptur, prognosis tergantung pada
tingkat keparahan Ruptur. Operasi untuk
memperbaiki cedera ini sering memiliki hasil yang
baik.
Pada beberapa bulan atau tahun setelah cedera,
jaringan parut pada bagian yang mengalami cedera
dapat menyebabkan masalah yang memerlukan
tindakan yang lain
TERIMA KASIH