Anda di halaman 1dari 74

PEMERIKSAAN TELINGA

1. ANAMNESA
2. OTOSKOPI
3. TES PENDENGARAN
4. PEM TUBA EUSTACHIUS
ANAMNESIS
Identitas
Riwayat penyakit sekarang:
Keluhan utama, sejak kapan, pencetus, terus menerus atau
kambuh2an, yg memperingan / memperberat, keluhan
penyerta, keluhan komplikasi, keluhan DDx
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat pengobatan
Riwayat keluarga
Riwayat : sosial, ekonomi, kebiasaan

2
1. OTOSKOPI
Cara memakai lampu kepala
Cara duduk
Cara memegang telinga
Otoskopi
Pemeriksaan pendengaran
Pemeriksaan fungsi tuba Eustachius
Lampu Kepala

Lampu Kepala THT

4
Memasang lampu kepala

5
Cara duduk

Benar Salah

6
Posisi Duduk

6/3/17 7
Cara memegang telinga
Telinga dipegang
dengan tangan kiri

Telinga kanan
penderita :
Dipegang dengan ibu jari
dan telunjuk, 3 jari
lainnya pada planum
mastoideum, telinga
ditarik ke
posterosuperior

Telinga kiri
penderita:
8
Dipegang dengan ibujari
Memasang spekulum telinga

9
Memeriksa dengan otoskop

10
Otoskopi
Memb Timpani Normal

1.Processus Brevis
6 8 (paling
1 menonjol)
5
2 2.Manubrium malei
3.Umbo
9 3
7 4.Refleks cahaya
4 5.Plika anterior
6.Plika posterior
7.Margo timpani
8.Pars flaksida
6/3/17
9.Pars tensa 11
Patologi
Retraksi

Bombans

Perforasi sentral

Perforasi atik
RETRAKSI - BOMBANS
Retraksi / tertarik ke
medial :
lebih cekung,
prosesus brevis lebih menonjol,
manubrium mallei lebih horizontal
dan lebih pendek,
plika anterior tidak tampak lagi,
refleks cahaya hilang
Bombans :
Landmark hilang, menonjol, merah
Perforasi Sentral

6/3/17 14
Perforasi Atik

6/3/17 15
Perforasi Atik

6/3/17 16
Perforasi Multipel

6/3/17 17
2. TES PENDENGARAN
Tujuan :
Tuli / tidak
Derajat ketulian
Letak ketulian

Tuli ( Kurang pendengaran , Hearing lost )


Tuli konduksi (conduction hearing lost)
Tuli persepsi ( Sensorineural hearing
lost )
Tuli campuran ( Mixed hearing lost )

19
Tes suara bisik
Kamar periksa
- Minimal 4 m X 5 m , Diagonal 6 m
- Sunyi ( tak ada ekho )
- Dinding tak rata
Penderita
- Mata ditutup
- Telinga yg tidak diperiksa ditutup
- Diminta mengulang dg keras dan
terang

20
Pemeriksa ( dokter )
- Mengucapkan satu/dua suku kata
ssd expirasi
- Kata kata yg dikenal penderita
- Mengandung huruf
lunak :l,k,m,n,g,u
huruf desis : s,f,c
tuli konduksi tak mendengar frek
rendah /huruf lunak "susu" s - s
tuli persepsi tak mendengar frek tinggi
/huruf desis "susu" u u

21
Area Pendengaran ..

Hrf desis
freq >
Hrf lunak
freq <
Pelaksanaan
1m 2m 3m 6m
6m 5m 4m 1m

Pada jarak 1m dibisikkan 5-10 kata, bila


penderita dapat menirukan 80 100 %
mundur 1m sampai penderita dapat
menirukan <80 %
Hasilnya adalah jarak dimana penderita
dapat menirukan 80 %

23
Contoh Hasil

Suara bisik telinga kanan 3 m


artinya : pada jarak 3m penderita dapat
mendengar 80 % kata kata yg
dibisikkan

1m 2m 3m 4m
100% 90% 80 % 60 %

25
KUANTITATIF (DERAJAT KETULIAN)
10m 6m NORMAL
5m 4m PRAKTIS NORMAL
3m 2m TULI RINGAN
1m TULI SEDANG
10cm TULI BERAT
0 cm TULI TOTAL

KUALITATIF (JENIS KETULIAN)


TULI KONDUKSI SU-SU S -- S
TULI PERSEPSI SU-SU U -- U
TES GARPU SUARA
1. BATAS ATAS BATAS BAWAH (GARIS PENDENGARAN)
FREKUENSI : 64-128-256-512-1024-2048-4096
2. RINNE
3. WEBER
4. SCHWABACH
5. Tes Bing
6. Tes Stenger
Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan
saling melengkapi
1. Batas atas batas bawah
Garpu tala digetarkan mulai freq
rendah
sampai tinggi
Setelah bunyi , didengar oleh
pemeriksa
sampai hampir tidak mendengar G
T
dipindah ke telinga penderita
Bila mendengar (+)
Tidak mendengar (-) 28
Setelah pemeriksa hampir tidak mendengar dipindah ke yg diperiksa
Kanan Kiri
+ 4096 -
+ 2048 -
+ 1024 -
+ 512 -
- 256 +
- 128 +
- 64 +
Kanan : Batas bwh naik (freq rendah -) Tuli
konduksi
Kiri : Batas atas turun Tuli Sensori neural

30
2. Tes Rinne

Tujuan:
membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara pada
satu telinga penderita
G T freq 512 digetarkan , ujung GT ditempelkan pd planum
mastoid penderita . Ssdh tidak mendengar GT dipindahke
telinga penderita.
Bila masih mendengar Rinne +
Bila tidak mendengar Rinne -
R (+) AC > BC Normal / Tuli SN
R (-) BC> AC Tuli konduksi
Fals negatif : sebetulnya tidak mendengar,
didengar oleh telinga satunya
beritahu kalau sudah tak
mendengar !
masih
mendengar ?

BONE CONDUCTION AIR CONDUCTION


Bila masih mendengar
Rinne +
Bila tidak mendengar
Rinne -
3. Tes Weber
Tujuan:
membandingkan hantaran tulang antara kedua telingapenderita
Prinsip tes Weber:
Untuk mengetahui arah lateralisasi bunyi terdengar dimana
GT freq 512 digetarkan keras
Ujung GT diletakkan pd GARIS MEDIAN (kening) penderita
Pend diminta membandingkan keras yg ka / ki
Bila sama keras Tidak ada lateralisasi W
Keras ka Lateralisasi ke ka, W
Keras ki Lateralisasi ke ki W
Lat ke ka : Tuli kond ka
Tuli Kond ka + ki , ka >
Tuli SN ki
Tuli SN ka+ki , ki >
Tuli kond ka + tuli SN ki
33
4. Tes Schwabach
Tujuan:
Membandingkan hantaran tulang antara
penderita dengan pemeriksa
Cara : GT 512 digetarkan, Ujung GT diletakkan pd
planum mastoid pemeriksa. Bila sudah tidak
mendengar GT dipindah ke planum mastoid
penderita,
Hasil : Bila mendengar Schwabach memanjang
( S>)
Bila tidak mendengar N / memendek
GT digetarkan diletakkan pd planum mastoid
penderita , bila sudah tidak mendengar GT
dipindah ke planum mastoid pemeriksa.
Bila mendengar Schwabach memendek ( S < )
Tidak mendengar N
Pemeriksa

Diperiksa
Setelah pemeriksa tak mendengar dipindah ke yg diperiksa
Suara bisik ka : 3 m , ki : 1m
Tes GT : Batas atas batas bawah
ka ki
+ 4096 -
+ 2048 -
+ 1024 -
+ 512 +
- 256 +
- 128 +
- 64 +

37
- Rinne +
Weber
> Schwabach <

Kesimpulan :
- Tuli konduksi ka ringan
- Tuli Sensorineural kiri sedang

38
TULI KONDUKSI TULI PERSEPSI
- HURUF LUNAK SUARA HURUF LUNAK +
+ HURUF DESIS BISIK HURUF DESIS -

Normal Batas atas Turun

Naik Batas bawah Normal

Memanjang Schwabach Memendek

Lateralisasi ke sakit Weber Lateralisasi ke sehat

- RINNE +

Pseudonegatif
AUDIOMETRI
Pengantar Audiometri
Tes audiometri
digunakan untuk AUDIOMETER
mengetahui jenis
dan derajat
gangguan
pendengaran.
Tes ini
menggunakan alat
audiometer yang
dapat
memunculkan nada
dalam frekuensi
Nada dari audimeter yg FREKWENSI (Hz)
terukur distimulasikan 125 8000 Hz
lewat hantaran udara (air
conduction) dan hantaran
tulang (bone conduction)
Intensitas terendah yg
masih terdengar (dsb
ambang pendengaran)
dicatat berbentuk grafis
yg dsb Audiogram

Audiogram adl grafik yang


menggambarkan derajat INTENSITAS
dan jenis gangguan 0 120 db
pendengaran untuk
masing-masing telinga.
Pelaksanaan Pemeriksaan audiogram
1. Air Conduction / AC / Hantaran Udara,
Suara udara liang telinga
membran tympani tulang-tulang
pendengaran cochlea N.VIII
pusat pendengaran.
. Cara pemeriksaan : menggunakan
Headphone yang dipasang di
telinga.
2. Bone Conduction / BC / Hantaran tulang
Getaran suara kulit tulang tengkorak
getaran langsung ke cochlea N.VIII
Pusat pendengaran.
Cara pemeriksaaan : Menggunakan
bone vibrator yang dipasang di
tulang mastoid
Interpretasi Audiogram
Pendengaran
normal
AC : normal (0-20
dB)
BC : normal (0-20
dB)
Audiogram pada tuli
konduksi
Tuli konduksi:
BC : normal (0-
20dB)
AC : tidak normal
>20dB
(air-bone gap 20
db)
kelainan pada
telinga bagian luar
sampai tengah.
Audiogram pada tuli saraf

Sensorineural
Hearing Loss
/SNHL.
AC dan BC tidak
normal pada
ambang yang
sama / (tidak
ada air-bone gap)
gangguan
pada telinga
dalam.
Audiogram tuli campuran
Mixed Hearing
Loss:
AC tidak normal
BC tidak
normal dan
ada AB-gap,
kelainan
pada telinga
luar/ tengah dan
dalam.
Audiogram pada tuli saraf

Presbiakusis
pend
menurun
kanan & kiri
pd level yg
sama
Audiogram pada tuli saraf

Meniere
Disease tuli
persepsi pada
frekwensi
rendah (frek
tinggi lebih
mendengar)
Gangguan pendengaran..
Ambang Dengar Tingkat Gangguan Pendengaran

0 25 NORMAL
26 40 Kurang dengar ringan
41 55 Kurang dengar sedang
56 70 Kurang dengar sedang-berat
71 - 90 Kurang dengar berat

> 90 Kurang dengar sangat-berat


Area Pendengaran ..

0-25
normal
26-40 ringan

sedang 41-55 sedang

56-70 sedang-
berat
71-90-berat

>90 sangat berat


TEKNOLOGI SKRINING PENDENGARAN BAYI
Baku emas yang direkomendasikan oleh JCIH (2000)

1. OAE

2. Automated ABR (AABR)


Ideal sebagai metoda skrining pendengaran pada bayi
karena mencakup fungsi pendengaran telinga luar
sampai telinga dalam
Cepat,mudah,otomatis, non invasif, sangat
sensitif,menggunakan kriteria PASS (lulus) dan REFER
(tidak lulus)

PERKEMBANGAN:
SUDAH DILAKUKAN PD SETIAP BAYI LAHIR DI R S YG MAMPU
DI PUSKESMAS?
OTOACOUSTIC EMISSION (OAE)
Pem. OAE : memeriksa fungsi koklea, terutama fungsi sel
rambut luar. Koklea yang normal mampu menghasilkan
suara berintensitas rendah yang disebut OAE

[i]. Campbell KCM, Mullin-Derrick G. Otoacoustic emissions. (cited 09 Des 2006) Didapat
dari: URL:http://www.emedicine.com/specialties.htm.
Otoacoustic Emission
Emisi Otoacoustic adl sinyal akustik yang
dihasilkan oleh kokhlea normal, tanpa stimulasi
akustik (emisi spontan) atau sebagai respon
terhadap stimulasi akustik atau stimuli listrik.
Opersional mudah dan non invasive, tinggal
memasukkan probe di liang telinga
Alur Skrining Pendengaran Bayi
Di Indonesia tahun 2006
Bayi baru lahir
(usia >24 jam & sblm keluar RS)
Pass REFER
OAE
3 bulan
Evaluasi otoskopi
Timpanometri
FAKTOR DPOAE
- RISIKO + Pass
AABR
REFER

Audiologic assessment
ABR click + tone burst 500 Hz
dan atau ASSR

TIDAK PERLU Pemantauan speech development Habilitasi


TINDAK LANJUT Pemantauan audiologi usia < 6 bulan
tiap 6 bulan selama 3 tahun
3. TES FUNGSI TUBA EUSTACHIUS
TES FUNGSI TUBA EUSTACHIUS
Tujuan :
menilai patensi dan fungsi tuba Eustachius
Jenis Pemeriksaan :
1.Tes Toynbee 6.Otoskopi Pnematik
2.Tes Valsava 7.Nasofaringoskopi
3.Timpanometri 8.Tes Politzer
4.Kateterisasi
5.Tes Sakarin dan
metilen biru
60
Fisiologi Tuba
Eustachius
Fungsi TE Pars
Ventilasi Fibrokartilago
Drainase membuka :
Proteksi: menelan
infeksi menguap
tekanan bersin
suara ditiup paksa
1. Tes Toynbee

Cara : tutup hidung


lalu menelan.
Pada otoskopi
membran timpani
tertarik ke medial
(retraksi)

62
2. Tes Valsava

Cara : meniup kuat


dengan kedua
lubang hidung dan
mulut tertutup
Pada otoskopi
membran timpani
terdorong ke
lateral

63
3. TIMPANOMETRI
Dg memberi tekanan pd memb timpani,
mobilitas membran timpani (komplians)
direkam dlm bentuk grafik (timpanogram)
Dapat dievaluasi keadaan telinga
tengah:
1. adanya Cairan di telinga tengah,
2. Ruptura membrana timpani
3. Keadaan persendian tulang
pendengaran,
- perlekatan (mis otosklerosis)
- terputus (mis trauma) 64
4. Tekanan negatif di telinga tengah.
Gambar : Prinsip audiometri impedans. (A) Oscilator
(B) Pompa udara (C) Mikrofon
66
Tipe A: Tekanan
udara di telinga
tengah normal.
(ada 3 variasi A, AD,
AS)
A: bentuk grafik
normal
AD : Puncak lebih
tinggi
diskontinuitas
rangkai an tulang
Tipe C : ada puncaknya namun pendengran
bergeser ke kiri menunjukkan AS : Puncak lebih
adanya tekanan negatif pendek kekakuan
disfungsi tuba Eustachius rangkaian tulang
pendengaran
4. Tes Politzer.
Cara : udara dimasukkan
ke dalam hidung melalui
pompa Politzer
sementara nasofaring
tertutup oleh gerakan
palatum mole ke atas
(mengucapkan huruf k)
Pada otoskopi : membran
timpani terdorong ke
lateral
auskultasi suara
hembusan angin pada
telinga (kanalis akustikus 68
5. Kateterisasi
Cara : kateter dimasukkan ke kavum
nasi sampai menyentuh dinding
nasofaring
Kateter diputar 90 ke medial ditarik
sampai posterior septum nasi
Setelah itu diputar 180 ke lateral
ujungnya mencapai TE
Penderita diminta menelan
konfirmasi ujung kateter mencapai
mulut TE 69
Kemudian kateter pompa karet lalu
dialirkan udara ke dalam pompa
Pemeriksa mendengarkan suara aliran
udara di dalam TE auskultasi pada
sisi yang sama

70
6. Tes sakarin atau
metilen biru

Cairan sakarin Rasa manis


atau metilen sakarin terasa
biru ke telinga dilidah
tengah melalui Warna biru
perforasi metilen tampak
membran dilidah
timpani

71
7. Otoskopi pneumatik

72
Otoskopi
pneumatik ...........
Bila dilakukan peniupan:
1.Tampak pergerakan memb timpani
2.Membedakan perforasi lebar dg
cicatrix (mt bekas perforasi sdh
menutup tp transparant)

73
8. Nasofaringoskopi
alat : endoskopi serat optik

Gambar Kondisi normal tuba eustachii saat


istirahat (kiri) dan saat menelan (kanan)
74