Anda di halaman 1dari 29

Tugas Kelompok

SENGKETA PAJAK dan PENAGIHAN


PAJAK

Anggota :
Putri Efrilna 14043130
Suci Ardiryanti
14043024
Rika Anggraeni
PENGERTIAN BEA
METERAI
Bea Meterai merupakan pajak yang
dikenakan terhadap dokumen yang
menurut Undang-undang Bea Meterai
menjadi objek Bea Meterai. Atas
setiap dokumen yang menjadi objek
Bea Meterai harus sudah dibubuhi
benda meterai atau pelunasan Bea
Meterai dengan menggunakan cara
lain sebelum dokumen itu digunakan.
ISTILAH-ISTILAH
Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang
mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan atau
kenyataan bagi seseorang dan atau pihak-pihak lain yang
berkepentingan.
Benda Meterai adalah Meterai tempel dan Kertas Meterai yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Tanda tangan adalah tanda tangan sebagaimana lazimnya
dipergunakan, termasuk pula paraf, teraan atau cap tanda
tangan atau cap paraf, teraan cap nama atau tanda lainnya
sebagai pengganti tanda tangan.
Pemeteraian kemudian adalah suatu cara pelunasan Bea
Meterai yang dilakukan oleh Pejabat Pos atas permintaan
pemegang dokumen yang Bea Meterainya belum dilunasi
sebagaimana mestinya.
Pejabat pos adalah pejabat PT Pos dan Giro yang diserahi
tugas melayani permintaan pemeteraian kemudian.
DASAR HUKUM
1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai
2. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perubahan
Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga Nominal
Yang Dikenakan Bea Meterai.
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.03/2005 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
15/PMK.03/2005 Tentang Bentuk, Ukuran, Warna, Dan Desain
Meterai Tempel Tahun 2005
4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK.04/2000 tentang
Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Cara Lain.
5. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-122b/PJ./2000 tentang
Tatacara Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan Tanda
Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan.
6. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-122c/PJ./2000 tentang
Tatacara Pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan Tanda
Bea Meterai dengan Teknologi Percetakan.
DASAR HUKUM

7.Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-


122d/PJ./2000 tentang Tatacara Pelunasan Bea
Meterai dengan membubuhkan Tanda Bea
Meterai dengan Sistem Komputerisasi.
8.Keputusan Menteri Keuangan Nomor
476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan Bea
Meterai dengan Cara Pemeteraian Kemudian.
9.Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-02/PJ./2003
tentang Tatacara Pemeteraian Kemudian.
10.Surat Edaran Nomor 29/PJ.5/2000 tentang
Dokumen Perbankan yang dikenakan Bea
Meterai.
OBJEK BEA METERAI
Bea materai dikenakan atas dokumen yang berbentuk antara lain :
a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan
untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan,
kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata.
b. Akta-akta notaris termasuk salinannya.
c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk
rangkap-rangkapnya.
d. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 1.000.000 yaitu:
- yang menyebutkan penerimaan uang;
- yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam
rekening bank;
- yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank
- yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagian
telah dilunasi atau diperhitungkan.
e. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep dan cek yang nominalnya
> Rp. 1.000.000
f. Efek dalam nama dan bentuk apapun yang nominalnya > Rp. 1.000.000
f. Dokumen yang dikenakan Bea Meterai juga terhadap dokumen yang
akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan yaitu
surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan, dan surat-surat
yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika
digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dan
maksud semula.
TIDAK DIKENAKAN BEA METERAI
Pasal 4 UU No. 13 Tahun 1985
PP 13/ 22 Sept 1989, PP 7/ 21 April 1995, PP 24/ 20 April 2000

1. Dokumen yang berupa :


a. Surat Penyimpanan Barang;
b. Konosemen;
c. Surat angkutan penumpang dan barang;
d. Keterangan pemindahan yang dituliskan diatas dokumen
sebagaimana dimaksud dlm huruf a, b & c;
e. Bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
f. Surat Pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;
g. Surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat
sebagaimana dimaksud dalam hurup a sampai hurup
2. Segala bentuk ijasah
3. Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan
pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja
serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran
itu.
TIDAK DIKENAKAN BEA
METERAI
2. Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas
negara, kas pemerintah daerah dan bank.
3. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk
penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu
dari kas negara, kas pemerintah daerah dan bank.
4. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan
intern organisasi.
5. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran
uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi
dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang
tersebut.
6. Surat gadai yang diberikan oleh perusahaan umum
pegadaian.
7. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek,
dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Tarif Bea Materai
Surat perjanjian dan surat-surat lainnya
( a.l. Surat Kuasa, Surat Hibah, Surat Pernyataan)
yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan Rp.6.000,-
sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan,
kenyataan/ keadaan yang bersifat perdata.

Akta-akta yang
dibuat PPAT termasuk Rp.6.000,-
rangkap-rangkapnya

Akta-akta Notaris
Rp.6.000,-
termasuk salinannya
Tarif Bea Materai
Rp.6.000,-

Surat yg memuat jumlah uang lebih dari Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah)
atau harga nominal yg dinyatakan dalam mata uang asing.

Yang berisi
pengakuan
Yang menyatakan bahwa utang
Yang uang seluruhnya Yang berisi
pembukuan uang
menyebutkan /sebagian telah pemberitahuan
atau penyimpanan
penerimaan dilunasi/ saldo rekening
uang dalan rekening
uang; diperhitungkan. di bank;
di bank;
Tarif Bea Materai
Surat berharga seperti wesel, promes
dan aksep yang harga nominalnya Rp.6.000,-
lebih dari Rp. 1.000.000,-

Efek dengan nama dan dalam bentuk


Rp.6.000,-
apapun sepanjang harga nominalnya
lebih dari Rp.1.000.000,-

Surat surat biasa & surat surat kerumahtanggaan


Surat surat yang semula tidak dikenakan bea
materai berdasarkan tujuannya, jika digunakan
untuk tujuan lain/digunakanoleh orang lain, Rp.6.000,-
& lain dari maksud semula,yang akan digunakan
sebagai alat pembuktian di muka pengadilan.
Tarif Bea Materai
Surat yang memuat jumlah
uang dengan Harga Nominal
Rp.3.000,-
lebih dari Rp. 250.000,- tetapi
tidaklebih dari Rp.1.000.000,-

Surat yang memuat jumlah


uang dengan Nominal
Tdk terutang
Tidak lebih dari Rp. 250.000,-

Cek & Bilyet Giro


Tanpa batas pengenaan Rp.3.000,-
Besarnya harga nominal
Berlaku efektif: Per 01 Mei 2000
SAAT DAN PIHAK YANG TERUTANG BEA
METERAI
Pasal 5 dan 6 UU No. 13 Tahun 1985

Saat terutangnya bea meterai adalah saat sebelum


dokumen yang terutang bea meterai tersebut digunakan.
Dalam Pasal 5 Undang-undang No. 13 Tahun 1985
disebutkan saat terutangnya Bea Meterai adalah:

1. Saat terutang :
Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, pada saat
dokumen diserahkan
Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak, pada
saat selesainya dokumen dibuat.
Dokumen yang dibuat di luar negeri, pada saat digunakan
di Indonesia.

2. Pihak yang terutang :


Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerima atau
pihak yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali
pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain
Cara Pelunasan Materai
CARA PELUNASAN BEA METERAI
Pasal 7 ayat (2) UU No. 13 Tahun 19985

Dgn cara lain


Dengan Benda Meterai
Ditetapkan MENKEU

BIASA ALAT LAIN (SE-11/PJ.3/1986)


Meterai Tempel Pencetakan Tanda Lunas
Bea Meterai oleh PERUM PERURI
Kertas Meterai oleh Wajib BEA
MESIN TERAAN METERAI
PEMETERAIAN BIASA (KMK No. 104/KMK.04/1986)

Sebelum diterbitkan izin penggunaan mesin teraan


Atau pencetakan TANDA LUNAS BEA METERAI,
BEA METERAI Harus disetor dimuka dgn menggunakan
SSP atau GIR-5
PENGGUNAAN dan CARA PELUNASAN BEA
METERAI DENGAN METERAI TEMPEL
Pasal 7 ayat (3) s/d (6) UU No. 13 Tahun 19985

METERAI TEMPEL direkatkan seluruhnya dng utuh dan


tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan BEA METERAI.
METERAI TEMPEL direkatkan di tempat dimana tanda tangan
akan dibubuhkan.
Pembubuhan tanda tangan disertai dgn pencantuman tanggal,
bulan, dan tahun dilakukan dgn tinta atau yang sejenis dgn
itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan
sebagian lagi di atas METERAI TEMPEL.
Jika digunakan lebih dari satu METERAI TEMPEL ,
tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di atas semua
METERAI TEMPEL dan sebagian di atas kertas.
PENGGUNAAN dan CARA PELUNASAN BEA METERAI DENGAN
METERAI TEMPEL
Pasal 7 ayat (3) s/d (6) UU No. 13 Tahun 19985

Kertas meterai yg sudah digunakan tidak boleh


Digunakan lagi (ayat 7)

Jika isi dokumen yang dikenakan BEA METERAI terlalu


Panjang untuk dimuat seluruhnya di atas KERTAS
METERAI yang digunakan (ayat 8),
MAKA:
Untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan
Kertas tidak bermeterai.

Bila ketentuan penggunaan dan cara pelunasan


BEA METERAI tidak dipenuhi, dokumen yang
Bersangkutan dianggap TIDAK BERMETERAI
(ayat 9)
CARA PELUNASAN BEA METERAI
DENGAN MESIN TERAAN METERAI (Cara lain)
SE-11/PJ.3/1986

1. Pengusaha harus mengajukan permohonan tertulis


kepada direktur PPN dan PTLL atau kepala KPP,
untuk memperoleh izin menggunakan MESIN
TERAAN
2. MESIN TERAAN yang digunakan adalah MESIN
TERAAN yang tidak dapat melampui jumlah angka
pembilang sesuai dengan jumlah penyetoran BEA
METERAI.
3. Perusahaan harus menyetor dimuka BEA
METERAI sebesar Rp. 5.000.000,- sebelum
dikeluarkan izin penggunaan MESIN TERAAN
METERAI.
4.
Bea Materai
Sebelum MESIN TERAAN digunakan dilakukan 17
pemasangan segel.
Pelunasan dengan Mesin
Teraan Meterai :
Hanya diperkenankan kepada penerbit dokumen dengan
jumlah rata-rata setiap hari minimal 50 dokumen;
Harus mengajukan permohonan ijin tertulis kepada
Kepala KPP, dengan mencantumkan jenis, merk, dan
tahun pembuatan, serta melampirkan surat pernyataan
jumlah rata-rata dokumen setiap hari;
Menyetor Bea Meterai di muka, minimal
Rp.15.000.000,00;
Ijin berlaku selama 2 tahun sejak tanggal ditetapkannya,
dan dapat diperpanjang;
Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin
teraan kepada Kepala KPP setempat, paling lambat
tanggal 15 setiap bulan, bila lewat diterbitkan surat
teguran I dan II, serta pencabutan izin;
Pelunasan dengan Teknologi
Percetakan :
1. Hanya diperkenankan untuk dokumen berupa cek, bilyet
giro, dan efek;
2. Mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Direktur
Jenderal Pajak dengan menyebutkan :
- jenis dokumen,
- jumlah Bea Meterai terutang dan melampirkan SSP,
Penerbit Dokumen harus membayar Bea Meterai di muka
sebesar jumlah dokumen yang harus dilunasi Bea
Meterai;
- perusahaan yang akan melaksanakan pembubuhan tanda
lunas;
Pembubuhan tanda Bea Meterai Lunas dilaksanakan oleh
Perum Peruri dan atau perusahaan Sekuriti yang mendapat
ijin dari Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu
(Botasupal);
Pelunasan dengan Sistem
Komputerisasi :
Hanya diperkenankan untuk dokumen berupa surat yang memuat
jumlah uang dengan jumlah rata-rata per hari minimal 100 dokumen;
Mengajukan permohonan ijin tertulis kepada Dirjen Pajak dengan
mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan jumlah rata-rata setiap
hari;
Membayar Bea Meterai di muka minimal sebesar perkiran jumlah
dokumen setiap bulan;
Ijin berlaku selama saldo bea meterai yang telah dibayar pada saat
mengajukan ijin masih mencukupi kebutuhan pemeteraian 1 bulan
berikutnya;
Penerbit dokumen yang mempunyai saldo Bea Meterai kurang dari
estimasi kebutuhan satu bulan, harus mengajukan permohonan ijin
baru dengan terlebih dahulu melakukan pembayaran Bea Meterai di
muka minimal sebesar kekurangan yang harus dipenuhi untuk
mencukupi kebutuhan 1 (satu) bulan;
Menyampaikan laporan bulanan paling lambat tanggal 15 setiap bulan.
PEMETERAIAN KEMUDIAN
Suatu cara pelunasan Bea Meterai yang
dilakukan oleh Pejabat Pos atas permintaan
pemegang dokumen yang Bea Meterainya belum
dilunasi sebagaimana mestinya.
1. Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai, namun
akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka
pengadilan;
2. Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi
sebagaimana mestinya;
3. Dokumen yang dibuat di Luar Negeri yang akan digunakan
di Indonesia.

21
TARIF PEMATERAIAN
KEMUDIAN
a. Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea
Meterai namun akan digunakan sebagai alat
pembuktian di muka pengadilan sebesar Bea
Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan
yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian
dilakukan.
b. Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi
sebagaimana mestinya sebesar Bea Meterai
yang terutang;
c. Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan
digunakan di Indonesia sebesar Bea Meterai
yang terutang sesuai dengan peraturan yang
berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan
DENDA PEMETERAIAN
KEMUDIAN
1. Dokumen yang tidak atau kurang
dilunasi wajib membayar denda
sebesar 200%;
2. Dokumen yang dibuat di luar negeri
dan pemeteraian kemudian
dilakukan setelah digunakan, wajib
membayar denda sebesar 200%;
TATACARA PEMETERAIAN
KEMUDIAN
1.Pemegang dokumen mendatangi Pejabat Pos
pada Kantor Pos terdekat;
2.Melunasi Bea Meterai terutang dengan
menggunakan meterai tempel atau Surat
Setoran Pajak;
3.Lembar ke 1 dan ke 3 SSP harus dilampiri
dengan Daftar Dokumen, yang menjadi satu
kesatuan tak terpisahkan;
4.Disahkan oleh Pejabat Pos dengan cap TELAH
DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI DENGAN UU
NO.13/1985.
DALUWARSA BEA METERAI
(Pasal 12 UU BM)

Kewajiban pemenuhan Bea Meterai dan


denda administrasi yang terhutang menurut
Undang-undang ini daluwarsa setelah lampau
waktu lima tahun, terhitung sejak tanggal
dokumen dibuat.
SANKSI PIDANA
Pasal 13 UU Bea Meterai :
Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam KUHP :
a. barangsiapa meniru atau memalsukan meterai tempel dan
kertas meterai atau meniru dan memalsukan tanda tangan
yang perlu untuk mensahkan meterai;
b. barangsiapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud
untuk diedarkan atau memasukan ke Negara Indonesia meterai
palsu, yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak;
c. barangsiapa dengan sengaja menggunakan, menjual,
menawarkan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau
dimasukan ke Negara Indonesia meterai yang mereknya,
capnya, tanda-tangannya, tanda sahnya atau tanda waktunya
mempergunakan telah dihilangkan seolah-olah meterai itu
belum dipakai dan atau menyuruh orang lain menggunakan
dengan melawan hak;
d. barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas
yang diketahuinya digunakan untuk melakukan salah satu
kejahatan untuk meniru dan memalsukan benda meterai.
SANKSI PIDANA
Pasal 14 UU Bea Meterai :
Barang siapa dengan sengaja
menggunakan cara lain untuk
melakukan pelunasan bea meterai
atas dokumen (sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
huruf b UU Bea Meterai) tanpa izin
Menteri Keuangan, dipidana dengan
pidana penjara selama-lamanya 7
(tujuh) tahun.
KETENTUAN KHUSUS
Pejabat Pemerintah, hakim, panitera, jurusita, notaris, dan pejabat
umum lainnya, masing-masing dalam tugas atau jabatannya, tidak
dibenarkan :
a. menerima, mempertimbangkan atau menyimpan dokumen
yang Bea Meterai-nya tidak atau kurang dibayar;
b. meletakan dokumen yang Bea Meterai-nya tidak atau
kurang dibayar sesuai dengan tarifnya pada dokumen lain
yang berkaitan;
c. membuat salinan, tembusan, rangkapan atau petikan dari
dokumen yang Bea Meterai-nya tidak atau kurang dibayar;
d. memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang
tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarif Bea Meterai-
nya
Sanksi Administratif sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 11 UU BM
TERIMA
KASIH :D