Anda di halaman 1dari 21

BIPOLAR DISORDER

TUTORIAL KLINIK
DEFINISI

Gangguan bipolar merupakan kategori


diagnostik yang menggambarkan gangguan
mood, dimana seseorang mengalami kondisi
atau episode dari depresi dan/atau manik,
hipomanik, dan/atau kondisi campuran.
Gangguan bipolar yang seringkali juga
disebut dengan Gangguan Manik-Depresif,
merupakan gangguan mood dimana seseorang
dapat menampilkan episode manik atau
pergantian mood secara ekstrim antara depresi
dan euphoria dari manik. Pergeseran yang
ekstrim dari mood, motivasi dan energi
tersebut dapat menimbulkan disabilitas.
KLASIFIKASI
Terdapat empat tipe dari gangguan bipolar yaitu
- Ganguan Bipolar I (296.xx)
- Gangguan Bipolar II (296.89)
- Gangguan Siklotimik (301,12)
- Gangguan Bipolar Tidak Terspesifikasi (296.80).
Dibawah Gangguan Bipolar I terdapat 6 set kriteria yang
terpisah, yaitu;
-Episode Manik tunggal (296.0x)
-Episode Sekarang Hipomanik (296.40)
-Episode Sekarang Campuran (296.6x)
-Episode Sekarang Depresi (296.5x)
-Episode Sekarang Tidak Terspesifikasi (296.7).
GEJALA KLINIS
Gejala dari gangguan bipolar biasanya tetap sama dari satu episode ke episode lainnya,
tetapi gejalanya dapat bertambah buruk atau malah membaik.

Gejala dari manik mencakup euphoria, peningkatan kepercayaan diri, bicara


cepat, pikiran yang berlomba-lomba, iratabilitas yang berlebihan,
peningkatan energi dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur.
Gejala dari depresi mencakup kesedihan, hilangnya minat pada aktifitas
sehari-hari, cepat lelah dan adanya pikiran-pikiran tentang kematian.
Gejala psikotik seperti halusinasi dan waham juga dapat muncul.
Untuk hipomanik, gejalanya biasanya lebih tidak destruktif seperti mania dan
orang-orang dengan hipomanik biasanya mengalami lebih sedikit gejala daripada
mereka yang mengalami manik secara komplit. Durasinya juga lebih pendek dari
pada mania. Hal ini seringkali menjadi keadaan yang artistik dari kelainan ini,
karena terdapat flight of ideas, pemikiran yang brilliant dan peningkatan energi.
Sementara siklotimik menyerupai gejala bipolar campuran, hanya saja
destruktifitasnya tidaklah seperti manik atau depresif dan perjalanan penyakitnya
kronis.
Menurut American Psychiatric Association (2000) dalam Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, Edisi ke-empat, Teks Revisi. Washington, DC.
Seseorang dapat dianggap untuk menderita tipe Gangguan Bipolar I (296.xx) jika:

Memiliki Episode Manik tanpa Episode Depresif Mayor. (Manik Tunggal 296.0x)
Saat ini memiliki Episode Hipomanik dan pernah memiliki Episode Manik atau
Campuran di masa lalu. (Episode Sekarang Hipomanik 296.40)
Saat ini memiliki Episode Manik dan telah memiliki setidaknya satu Episode
Depresif Mayor, Episode Manik atau Episode Campuran dimasa lalu. (Episode
Sekarang Manik 294.4x)
Saat ini sedang dalam Episode Campuran dan telah memiliki setidaknya satu
Episode Depresif Mayor, Episode Manik atau Episode Campuran. (Episode
Sekarang Campuran 296.6x)
Sedang memiliki Episode Depresif Mayor dan telah memiliki setidaknya satu
Episode Manik atau Campuran (Episode Sekarang Depresi 296.5x)
Sedang memiliki setidaknya sebuah Episode Manik, Hipomanik, Campuran atau
Episode Depresif Mayor dan telah memiliki setidaknya satu Episode Manik atau
Campuran. (Episode Sekarang Tidak Terspesifikasi 296.7)
Sejalan dengan salah satu dari enam gejala di
atas, episode tersebut harus tidak dapat
dijelaskan dengan gangguan mental, kondisi
mental atau zat lainnya. Juga diagnosis baru dapat
ditegakkan jika gejala di atas menyebabkan
problem dalam kehidupan sosial, kerja dan hal-hal
penting lainnya dari seseorang individu.
Seseorang dapat dianggap menderita Gangguan Bipolar
II (296.xx) jika menampakkan gejala dibawah ini:

Sedang memiliki atau pernah memiliki setidakknya satu


Episode Depresif Mayor.
Sedang memiliki atau pernah memiliki setidaknya
Episode Hipomanik.
Individu tersebut tidak pernah memiliki Episode Manik
atau Campuran.
Gejala-gejalanya tidak dapat dijelaskan dengan gangguan
mental lainnya.
Gejalanya menyebabkan stress pada kehidupan social,
kerja dan area penting lainnya dari seseorang individu.
Seorang individu dapat dianggap untuk memiliki Gangguan
Siklotimik (301.13) jika gejala berikut terlihat:

Untuk setidaknya dua tahun atau satu tahun pada anak terdapat banyak periode
dari hipomanik dan gejala depresif yang tidak sesuai dengan criteria dari Episode
Depresif Mayor.
Selama periode dua tahun atau satu tahun dari masa kanak, orang tersebut dapat
menjalaninya tanpa gejala yang telah disebutkan dalam criteria 1 untuk lebih dari
dua bulan.
Tidak terdapat Episode Depresif Mayor, Manik atau Campuran yang nampak
selama 2 tahun pertama dari diagnosis atau 1 tahun dari diagnosis untuk seorang
anak. JIka ada maka Gangguan Bipolar I dan II juga dapat didiagnosa.
Gejala-gejala pada no 1 tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental, kondisi
medis atau zat lainnya.
Gejala-gejalanya menyebabkan stress yang nyata pada aspek social, kerja dan
aspek penting lainnya dalam hidup.
Seseorang dapat dianggap memiliki Gangguan Bipolar
Tidak Terspesifikasi (296.8) jika gejala-gejala tersebut
terlihat:
Individu tersebut tidak dapat memenuhi kriteria untuk
Gangguan Bipolar spesifik manapun, tetapi memiliki gejala
serupa. Seperti perubahan yang sangat cepat yang dapat
diklasifikasikan sebagai gejala manik dan depresi jika
mereka memenuhi durasi waktu yang diperlukan untuk
diagnosis Gangguan Bipolar.
EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini mengenai sekitar 1% hingga 1,5% dari
total populasi dan mungkin sekitar 2% jika gejala-
gejala bipolar II diikutsertakan.
Prevalensi penyakit ini cenderung untuk meningkat
dari tahun ke tahun. Wanita dan laki-laki memiliki
peluang yang sama, tetapi faktor hormonal dapat
berpengaruh pada perbedaan jenis kelamin dalam
perjalanan klinis penyakit (seperti angka yang lebih
tinggi untuk cycling secara sangat cepat pada wanita).
Kelainannya seringkali muncul pada saat masa remaja
atau dewasa awal (dengan rata-rata usia 25 hingga 35
tahun) dan berpengaruh terhadap penderita sepanjang
sisa hidupnya. Semakin awal onsetnya, semakin besar
pula kemungkinan dari timbulnya gejala psikotik dan
semakin jelas terlihat pula hubungan genetiknya.
MEKANISME
Penyebab dan faktor resiko dari gangguan bipolar belum
dimengerti secara keseluruhan. Tetapi kondisi ini
berhubungan erat dengan genetik, karena penyakit ini dapat
turun dalam keluarga. Ketidak-seimbangan dari unsur
neurotransmitter otak juga memegang peranan penting.
Menurut hasil penelitian NIMH (National Institute of
Mental Health), tidak ada penyebab tunggal dari gangguan
bipolar, sebaliknya, banyak faktor yang bekerja secara
bersama-sama untuk menghasilkan gangguan tersebut.
TEORI PROVOKASI

Menurut teori provokasi, periode dari depresi, mania atau keadaan


campuran dari manik (euphoria) dan gejala depresif seringkali berulang
dan dapat menjadi lebih sering, dan seringkali mengganggu kerja, sekolah,
keluarga dan kehidupan sosial. Tapi mungkin pula terjadi pemunculan
tunggal dari depresi dan mania yang tidak berulang kembali.
Teori provokasi mengemukakan bahwa orang yang secara genetik rentan
terhadap kelainan bipolar mengalami serentetan kejadian dalam hidup yang
mencetuskan stres, yang masing-masing akan menurunkan batas ambang
dimana perubahan mood terjadi. Kemudian, pada beberapa titik tertentu,
perubahan mood ini terjadi secara spontan. Orang tersebut kemudian akan
menjadi bipolar. Hal ini dapat menjelaskan mengapa penyebab dari
gangguan bipolar sulit untuk ditelusuri, tetapi lebih terkait kepada penyebab
genetik dan/atau genetik serta lingkungan.
Seseorang dapat juga menjadi rentan terhadap gangguan bipolar setelah
riwayat penggunaan zat terlarang, atau karena kondisi neurologis atau
kerusakan otak.
Adderal dan zat lain dan amfetamin (termasuk metamfetamin) telah diketahui
menghasilkan mania, meskipun jika obat tersebut tidaklah berada dalam
peredaran darah. Untuk pasien seperti ini, euphoria dari Adderal dapat tidak
melemah secepat zat lainnya. Mereka dapat memperlihatkan gejala manik
ketika dalam pengaruh obat.
American Psychiatric Association dalam Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders mengemukakan bahwa kerabat tingkat pertama yang terikat
secara biologis dari seseorang individu dengan Gangguan Bipolar apapun
memiliki angka kecenderungan yang tinggi untuk menderita Gangguan
Bipolar.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa beberapa orang mewarisi
kecenderungan untuk mengembangkan penyakit tersebut yang dapat
kemudian dipicu oleh faktor lingkungan (kejadian hidup yang mencetuskan
stress, gangguan pada ritme sirkadian musiman).
A. Faktor Biokimia
Karena perubahan dari depresi menjadi mania (dan sebaliknya) dapat terjadi dalam menit, usaha telah
dibuat untuk mengidentifikasi perubahan biokimia yang mungkin berhubungan dengan perubahan
tersebut.

Perubahanspesifik pada metabolisme neurotransmiter monoamin di otak dan fungsi reseptor tampak
menjadi mekanisme yang paling mungkin. hipotesis katekolamin mengemukakan bahwa defisiensi
katekolamin (terutama norepinefrin) berhubungan dengan retardasi motor dan depresi, dimana kelebihan
katekolamin dapat menghasilkan kegairahan dan euphoria.

Karena semua sistem dari neurotransmitter utama terkait secara fungsional, tidak mengherankan bahwa
perubahan dalam system neurotransmitter utama lain juga dapat ditemukan. Perubahan pada fungsi
dopaminergik, regulasi GABA dan ketidak-seimbangan sistem adrenergik-kolinergik telah ditemukan
ketika episode manik berlangsung. Perubahan pada uptake serotonin trombosit, metabolit serotonin pada
cairan likuor serebro-spinal dan respon endokrin terhadap agonis serotonergik yang terkait gen juga telah
ditemukan pada pasien-pasien dengan gangguan bipolar.

Hasil pencitraan telah mendokumentasikan sejumlah abnormalitas, termasuk perubahan pada amigydala,
thalamus, hipokampus dan volume korteks prefrontal dan peningkatan lesi subtansia alba pada area
subkortikal. Secara keseluruhan, bagaimanapun juga, hany terdapat sedikit penelitian biologis dari mania,
karena perjalanan penyakit dari sindrom tersebut membuat kepatuhan dari prosedur penelitian menjadi
sulit. Penelitian dari mekanisme aksi dari lithium telah menunjukkan fungsi regulator penting dari sistem
second messenger, terutama siklus phospatidil-inositol, dan juga modulasi dari aktifitas glutamat.

Gangguan elektrolit juga telah ditemukan pada pasien dengan


gangguan bipolar dan dapat melambangkan sebuah defek dari
fungsi membran seluler. Secara umum, retensi natrium dan kalium
dan ekskresi H2O meningkat ketika depresi dan berkurang ketika
interval manik. Homeostasis abnormal dari kalsium juga telah
ditemukan. Variasi dari perubahan neuro-endokrin juga telah
ditemukan untuk pasien dengan gangguan bipolar yang berada
dalam fase depresi. Sekitar setengah dari kedua pasien bipolar dan
unipolar yang depresi memperlihatkan bukti bahwa terdapat satu
atau semua dari hal dibawah ini ketika episode depresi berat
sedang berlangsung: peningkatan dari fungsi glukokortikoid
adrenal, penurunan respon TSH terhadap TRH, penerunan level
basal prolaktin dan penurunan respon growth hormone terhadap
insulin.

Karena kepararelan dari epilepsi lobus temporal dan respon yang


benefisial terhadap beberapa agen antikonvulsan, beberapa
peneliti telah menghipotesa bahwa episode mood bipolar yang
berulang besumber dari provokasi endogen dari bangkitan listrik
pada area limbik di otak. Peneliti lain menekankan kepada pola
perubahan dari ritme sirkadian. Sejauh ini hasil studi dalam
Ilustrasi pelepasan
molekuler genetik belum dapat memberikan suatu kesimpulan. neuro- transmiter pada
Bagian pada kromosom 18p dan 18q dan pada kromosom 4 dan 21 akhir synaps
telah menerima dukungan terbanyak, meskipun tidak ada gen
spesifik yang telah diisolasi lebih jauh untuk menyakinkan teori
akan adanya kelainan multigen kompleks.
B. Faktor Psikososial

Tidak terdapat bukti yang benar-benar kuat bahwa faktor


psikososial menyebabkan ganguan bipolar, meskipun stress dalam
hidup dapat mempresipitasi kondisi bipolar manik atau depresi dan
mungkin memang diperlukan untuk dapat menghasilkan gejala-
gejala yang ada pada sindroma bipolar yang ringan.

Bukti bagi teori ini datang dari penelitian kognitif yang telah
menunjukkan bahwa pasien bipolar dalam episode manik secara
eksplisit melaporkan adanya rasa percaya diri yang lebih tinggi
dibanding dengan individu yang berada dalam episode depresif,
setara dengan individu tanpa gangguan mood. Tetapi, dalam
pengukuran implisit, pasien bipolar sesungguhnya menampilkan
rasa percaya diri yang lebih rendah baik pada episode manik
maupun depresif dibandingkan dengan kontrol yang normal.
FAKTOR RESIKO

Terdapat bukti yang kuat untuk faktor predisposisi yang diwariskan secara genetik
pada gangguan bipolar pada kebanyakan pasien. Hampir dua pertiga dari pasien
memiliki riwayat keluarga yang positif untuk penyakit gangguan afek
Jika 1 orang tua memiliki penyakit gangguan afek mayor, resiko bagi keturunannya
adalah sekitar 25% hingga 30%.
Jika dua orang tua memiliki penyakit gangguan afek dan satunya adalah bipolar resiko
penyakit gangguan afek pada keturunannya dapat menjadi sebesar 50% hingga 75%.
Resiko ini malah semakin besar jika terdapat riwayat multigenerasi ekstensif dari
penyakit bipolar. Kerabat dari seseorang yang menderita penyakit bipolar seringkali
memiliki penyakit unipolar dan riwayat penggunaan zat terlarang.
Hubungan biologis antara episode depresif dan episode manik campuran dalam
gangguan bipolar adalah frekuensi yang tinggi dari peningkatan level kortisol, contrast
dengan level yang normal pada mood yang mengalami elasi atau manik murni.

TERAPI
Terapi dari gangguan bipolar terkait secara langsung dengan fase dari episode
dan keparahan dari fase tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami
depresi berat dan memperlihatkan tingkah laku yang cenderung untuk bunuh
diri memerlukan rawat inap, sedangkan individu dengan depresi ringan yang
masih dapat bekerja, dapat diberlakukan sebagai pasien rawat jalan.
Farmakoterapi
Mood stabiliers dan anti konvulsan.
Psikoterapi
-Selama terapi, pasien dapat membahas mengenai perasaan, pikiran dan tingkah
laku yang membuat masalah.
-Psikoterapi dapat membantu pasien untuk mengerti dan menguasai problem-
problem apa yang dapat berdampak kepada kemampuan mereka untuk
berfungsi secara baik dalam kehidupan.
-Terapi tersebut juga membantu dalam hal kepatuhan obat dan membantu
pasien untuk tahan menghadapi efek dari gangguan bipolar dalam kehidupan
sosial dan kerjanya. Juga membantu untuk mempertahankan gambar diri yang
positif.
Tipe psikoterapi yang digunakan untuk menterapi gangguan bipolar,
termasuk diantaranya:

Terapi prilaku. Terapi ini mengfokuskan diri pada tingkah laku yang dapat
mengurangi stress.
Terapi kognitif. Tipe pendekatan ini melibatkan pembelajaran untuk
mengidentifikasi dan memodifikasi pola berpikir yang menyertai perubahan
mood.
Terapi Interpersonal. Terapi ini mencakup hubungan dengan sesama dan
bertujuan untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh penyakit
tersebut.
Terapi ritme sosial. Terapi ini membantu pasien untuk mengembangkan
dan mempertahankan rutinitas sehari-hari.
Support Group jugalah membantu bagi orang dengan kelainan bipolar.
Pasien akan menerima penguatan dan belajar cara untuk beradaptasi dan
membagi pemikiran.
Beberapa langkah dibawah ini dapat membantu:
Mengembangkan rutinitas. Pola tidur, makan dan aktifitas yang rutin tampak
membantu bagi pasien dengan gangguan bipolar untuk mengontrol mood mereka.
Mengenali gejala. Meskipun tanda awal dari episode pendekatan dapat bervariasi
dari satu orang ke orang lainnya, bersama-sama dengan bantuan psikiater pasien
dapat mencoba untuk mengenali tingkah laku apa yang memberi tanda dari onset
sebuah episode untuk pasien tersebut. Hal itu dapat berupa insomnia, belanja secara
berlebihan atau tiba-tiba terlibat dalam kegiatan keagamaan.
Adaptasi. Hal ini dapat membatu untuk menghindari prilaku yang memalukan
ketika episode manik dan menetapkan gol yang realistik bagi terapi. Bagian penting
dari adaptasi adalah untuk mengerti tipe dari stress yang dapat menyebabkan episode
dan perubahan gaya hidup yang dapat menguranginya.
Mempertahankan pola tidur yang regular. Pergi tidur dan bangun sekitar jam-jam
yang sama setiap harinya. Perubahan dalam tidur dapat menyebabkan perubahan
kimia pada otak yang potensial untuk memicu episode mood.
Jangan menggunakan alkohol atau obat-obat terlarang. Zat-Zat ini dapat
memicu episode mood. Juga dapat berinteferensi dengan efektivitas dari pengobatan.
Sekitar 40% dari penderita gangguan bipolar yang tidak mendapat terapi memiliki
riwayat penggunaan zat pada akhirnya.