Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL

DENGAN MOLA HIDATIDOSA

Disusun Oleh :
1. Rizki Alfarikaini (P1337420615001)
2. Gyshela Anggita C. D (P1337420615002)
3. Rizka Eka Putri P. (P1337420615003)
4. Iffah Hanifah (P1337420615004)
5. Vindy Adestya P. (P1337420615005)
Pengertian

Mola berasal dari bahasa latin yang berarti massa dan


hidatidosa berasal dari kata Hydats yang berarti tetesan
air. Mola hidatidosa adalah kehamilan yang berkembang
tidak wajar (konsepsi yang patologis) dimana tidak
ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis
mengalami perubahan hidropik. Dalam hal demikian
disebut Mola Hidatidosa atau Complete mole sedangkan
bila disertai janin atau bagian janin disebut sebagai Mola
Parsialis atau Partial mole.
Secara makroskopik, mola hidatidosa mudah dikenal
yaitu berupa gelembung- gelembung putih, tembus
pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari
beberapa milimeter sampai 1 atau 2 cm. ( Sarwono
Prawirohardjo, 2010).

Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi


korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur
yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola
tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan
menghasilkan sejumlah besar human chorionic
gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104).
Etiologi

1. Faktor ovum
2. Imunoselektif dari trofoblas
3. Usia
4. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
5. Paritas/partus tinggi
6. Defisiensi protein
7. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
8. Riwayat kehamilan mola sebelumnya
Patofisiologi

Setelah ovum dibuahi, terjadi pembagian dari sel


tersebut. Tidak lama kemudian terbentuk biastokista yang
mempunyai lumen dan dinding luar. Dinding ini terjadi
atas sel-sel ekstoderm yang kemudian menjadi tropoblash.
Sebagian vili berubah menjadi gelembung berisi cairan
jernih, biasa tidak ada janin. Gelembung-gelambung atau
tesikel ukurannya bervariasi mulai dari yang mudah
dilihat, sampai beberapa sentimeter, bergantung dalam
beberapa kelompok dari tangkai yang tipis
Ada beberapa kasus pertumbuhan dan perkembangan villi
korealis berjalan normal sehingga janin dapat tumbuh dan
berkembang. Keadaan ini disebut mola parsial.
1. Teori Missed Abortion Mudigan, mati pada kehamilan
tiga sampai lima minggu.
2. Teori Neoplasma dari park, Bahwa yang normal adalah
sel trofoblast yang mempunyai fungsi abnormal pula,
dimana terjadi cairan yang berlebihan dalam villi
sehingga timbul gelembung, hal ini menyebabkan
peredaran gangguan peredaran darah dan kematian
mudigan.
Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi :

1. Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan


janin.
Histologinya memiliki karakteristik yaitu :
Tidak ada pembuluh pada vili yang membengkak
Prolifersi dari epitel trofoblas dengan bermacam-macam
ukuran
Tidak adanya janin atau amnion
Secara kasat mata jaringan mola hidatidosa komplit
tampak seperti seonggok buah anggur.
2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin
atau bagian janin. Masih tampak gelembung yang
disertai janin atau bagian dari janin. Walaupun ada
janin, umumnya mengalami kematian pada trimester
pertama. Koriokarsinoma lebih jarang terjadi pasca mola
parsialis dibandingkan dengan pasca mola komplit.
Tanda Dan Gejala

Tanda dan Gejala yang biasanya timbul pada klien dengan mola
hidatidosa adalah :
1. Amenore dan tanda-tanda kehamilan
2. Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna
coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
3. Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
4. Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak
terdengarnya DJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi
pusat atau lebih.
5. Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24
minggu.
6. Hiperemesis lebih sering terjadi, lebih keras dan lebih lama.
7. Kadar gonadotropin tinggi dalam darah serum pada hari ke 100
atau lebih sesudah periode menstruasi terakhir.
Gejala Klinik
1. Perdarahan vaginal
2. Hiperemesis gravidarum
3. Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan
4. Tidak ditemukan aktivitas janin
5. Pre-eklamsia
6. Hipertiroid
7. Kista teka lutein
8. Embolisasi
Penatalaksanaan

Perawatan Medis
a. Menstabilkan kondisi pasien
b. Transfusi jika anemia.
c. Mengkoreksi koagulopati.
d. Menangani hipertensi

Penanganan Operasi
a.Evakuasi uterus dengan dilasi dan kuretasi selalu
penting dilakukan.
b.Induksi Prostaglandin atau oxytocin tidak direkomendasikan
karena peningkatan resiko perdarahan dan sequele malignan.
c. Oxytocin intravena sebaiknya dimulai bersamaan dengan pelebaran
serviks dan dilanjutkan setelah operasi untuk mengurangi
kemungkinan perdarahan.
d. Distress pernapasan biasanya diamati pada saat operasi.

Diet
Tidak ada diet khusus yang diperlukan
Aktivitas
a. Pasien dapat melanjutkan aktivitas yang dapat ditoleransi.
b.Mengistirahatkan Pelvis direkomendasikan selama 4-6
minggu setelah evakuasi uterus dan pasien diminta untuk
tidak hamil dalam jangka waktu 12 bulan.
Pengobatan

1. Kemoterapi profilaksis untuk mola hidatidosa masih


kontroversial. Kebanyakan wanita disembuhkan dengan
pengangkatan mola,
2. Terapi
3. Follow-up
Komplikasi

1.Perforasi uterus selama kuretase suction biasanya terjadi karena


uterus besar dan tipis.
2.Perdarahan
3.Penyakit trophoblastik malignan terjadi pada 20% kehamilan
mola
4.Faktor pertumbuhan yang dilepaskan oleh jaringan molar
memiliki aktifitas fibrinolytik.
5. Emboli trophoblastic dipercaya merupakan penyebab dari
insufisiensi pernapasan akut.
Prognosis

1. Karena diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat, kematian


dari mola hidatiformis pada saat ini belum dilaporkan
2. Faktor kinis yang dikaitkan dengan resiko malignansi yaitu umur
tua pada saat kehamilan, kadar HCG yang meningkat (>100,000
mIU/mL), eklampsia, hiperthyroidisme, dan kista teka lutein
bilateral.
Kebanyakan dari faktor ini mengindikasikan adanya
proliferasi trophoblastik. Memprediksi siapa yang akan
mendapatkan penyakit trofoblastik gestasional masih sulit
dilakukan, dan penatalaksanaan sebaiknya tidak hanya
berdasarkan dari adanya faktor resiko tersebut.
3.Resiko kematian/ kesakitan pada penderita mola hidatidosa
meningkat karena perdarahan, perforasi uterus, preklamsi berat,
tirotoksitosis atau infeksi. Akan tetapi , sekarang kematian karena
mola hidatidosa sudah jarang sekali.
4.Segera setelah jaringan mola dikeluarkan, uterus akan mengecil,
kadar hcg menurun dan akanmmencapai kadar normal sekitar 10-
12 minggu paska evakuasi.
5.Sebagian besar penderita mola hodatidosa akan baik kembali setelah
kuretasi.
6.Keganasan ini biasanya terjadi pada satu tahun pertama pasca
evakuasi yang terbanyak dalam 6 bulan pertama.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL
DENGAN MOLA HIDATIDOSA
1. Biodata
2. Keluhan utama
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
b. Riwayat kesehatan masa lalu
c. Riwayat pembedahan
d. Riwayat penyakit yang perna dialami
e. Riwayat kesehatan keluarga
f. Riwayat kesehatan reproduksi
g. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
h. Riwayat seksual
i. Riwayat pemakaian obat
j. Pola aktivitas sehari-hari
Pemeriksaan laboratorium
darah dan urine
serta pemeriksaan penunjang :
rontgen,
USG,
biopsi,
pap smear
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus mola
hidatidosa adalah:

1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan


2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri
4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi
5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan
6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah
7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase
8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
adanya perdarahan
Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

TUJUAN INTERVENSI
Klien mengatakan nyeri Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan
berkurang/hilang klien
Ekspresi wajah tenang Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam
TTV dalam batas normal Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi
Beri posisi yang nyaman
Kolaborasi pemberian analgetik
Intoleran aktivitas berhubungan dengan
kelemahan
TUJUAN INTERVENSI
Kebutuhan personal Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri
hygiene terpenuhi Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
Klien nampak rapi dan Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai
bersih kemampuannya
Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat
klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien
Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri
Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

TUJUAN INTERVENSI
Klien dapat tidur 7-8 Kaji pola tidur
jam per hari Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Konjungtiva tidak Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur
anemis Batasi jumlah penjaga klien
Memberlakukan jam besuk
Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur
Diazepam
Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

TUJUAN INTERVENSI
Tanda-tanda vital dalam Pantau suhu klien, perhatikan menggigil/diaforesis
batas normal Pantau suhu lingkungan
Klien tidak mengalami Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang
komplikasi banyak
Berikan kompres hangat
Kolaborasi pemberian obat antipiretik
Risik o nutr isi kur ang dar i k ebutuhan berhubung an dengan mual muntah

TUJUAN INTERVENSI
Nafsu makan meningkat Kaji status nutrisi klien
Porsi makan dihabiskan Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering
Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat
dan bervariasi
Timbang berat badan sesuai indikasi
Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi
saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa
makanan yang disukai klien
TUJUAN INTERVENSI
Ekspresi wajah tenang Kaji tingkat kecemasan klien
Klien tidak sering Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
bertanya tentang perasaannya
penyakitnya Mendengarkan keluhan klien dengan empati
Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi
yang diberikan
Beri dorongan spiritual/support
Risik o t erj adi inf ek si ber hubung an deng an t indakan k ur et ase

TUJUAN INTERVENSI
Tidak tampak tanda- Kaji adanya tanda-tanda infeksi
tanda infeksi Observasi vital sign
Vital sign dalam batas Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka,
normal garis jahitan), daerah yang terpasang alat invasif (infus,
kateter)
Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat
antibiotik
Ri siko ter jad inya g ang gu an p erf usi jar ing an berh ub ung an de ng an a da nya pe rda rah an

TUJUAN INTERVENSI
Hb dalam batas normal Awasi tanda-tanda vital, kaji warna kulit/membran
(12-14 g%) mukosa, dasar kuku
Turgor kulit baik, vital Selidiki perubahan tingkat kesadaran, keluhan pusing
sign dalam batas dan sakit kepala
normal Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat, pegisian
Tidak ada mual kapiler lambat dan nadi perifer lemah
muntah Berikan cairan intravena, produk darah
Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid
500 mg 31 tablet
TERIMA KASIH