Anda di halaman 1dari 36

EMBOLI CAIRAN

KETUBAN
Niluh Novita Kurniawati (1602430003)
Fitriyah Umami (1602430006)
Ika Rahmawati (1602430011)
Mila Ulva Rahmawati (1602430013)
Setiamin (1602430018)
Pengertian Emboli Cairan Ketuban

Bahasa Yunani Embolus Sumbatan

Emboli
obstruksi pembuluh darah oleh materi
Istilah yang tidak larut yang dapat disebabkan
oleh gas, bakteri, parasit, dan lemak.

Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah


sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-
tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock.
Waktu terjadinya emboli cairan ketuban
Persalinan spontan
Persalinan dengan SC
Waktu terjadi ruptur uteri
Manifestasi klinis
Tanda-tanda dan gejala :
Tekanan darah turun secara signifikan
Sianosis perifer dan perubahan pada membran mukosa
akibat dari hipoksia.
Janin Bradycardia sebagai respon terhadap hipoksia,
Batuk
Dyspnea
Pulmonary edema.
Cardiac arrest.
Atonia Uteri
Koagulopati (DIC)
Kemungkinan emboli air ketuban jika :

Ketuban sudah pecah


His kuat
Pembuluh darah yang terbuka ( SC,
ruptura uteri)
Faktor predisposisi
Multiparitas
Usia lebih dari 30 tahun
Janin besar intrauteri
Kematian janin intrauteri
Menconium dalam cairan ketuban
Kontraksi uterus yang kuat
Insidensi yang tinggi kelahiran dengan
operasi
Patofisiologi
Persalinan: Tidak
selaput ketuban Cairan amnion
bermasalah
pecah, pembuluh masuk sirkulasi
darah pecah darah ibu
Bermasalah

Menyumbat Kolaps cepat yang


pembuluh darah Respon
= syok anafilaksis
di paru inflamasi
/ syok sepsis

Pasien selamat
Gagal jantung kiri
Menyumbat aliran dan gangguan
darah ke jantung pernafasan Memasuki Fase 2 (fase
(fase 1) perdarahan), ditandai dg
atonia uteri dan DIC
Emboli air ketuban menyebabkan
komplikasi :

Kardiovaskular kolap
Gangguan pembekuan darah
Intravaskulaer koagulasi.
Diagosis :
Diagnosis umumnya dibuat dengan
mengindentifikasi tanda dan gejala secara
klinis.

Diagnosis Diferensial
Edema paru akut
Sindroma aspirasi paru (Mendelson)
Defek koagulasi yang lain
Komplikasi
1. Kardiovaskular kolap
2. Gangguan pembekuan darah
3. Intravaskular koagulasi
Pemeriksaan Diagnostik
Gas darah arteri : pO2 biasanya menurun.
Tekanan vena sentralis dapat meningkat,
normal, atau subnormal tergantung pada
kuantitas hilangnya darah.
Gambaran koagulasi biasanya abnormal,
menunjukkan DIC.
Lanjutan
EKG dapat memperlihatkan regangan jantung
kanan akut.
Keluaran urin dapat menurun, menunjukkan
perfusi ginjal yang tidak adekuat.
Foto toraks dapat menunjukkan infiltrasi. Scan
paru dapat memperlihatkan defek perfusi
yang sesuai dengan proses emboli paru.
Penatalaksanaan
Terapi krusnal , meliputi : resusitasi , ventilasi , bantuan
sirkulasi , koreksi defek yang khusus ( atonia uteri , defek
koagulasi ).
Penggatian cairan intravena & darah diperlukan untuk
mengkoreksi hipovolemia & perdarahan .
Oksitosin yang di tambahkan ke infus intravena membantu
penanganan atonia uteri.
Morfin ( 10 mg ) dapat membantu mengurangi dispnea
dan ancietas .
lanjutan
Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi
intravaskular dengan menghambat proses perbekuan.
Amniofilin ( 250 500 mg ) melalui IV mungkin berguna
bila ada bronkospasme
Isoproternol menyebabkan vasodilatasi perifer, relaksi otot
polos bronkus, dan peningkatan frekuensi dan kekuatan
jantung. Obat ini di berikan perlahan lahan melalui Iv
untuk menyokong tekanan darah sistolik kira kira 100
mmHg.
Kortikosteroid secara IV mungkin bermanfaat .
lanjutan
Heparinatau trasylolmembantu dalam mencegah defibrinasi
intravaskuler dengan menghambat proses pembekuan.
Oksigen diberikan dengan tekanan untuk meningkatkan.
Untuk memperbaiki defek koagulasi dapat digunakan plasma
beku segar dan sedian trombosit.
Defek koagulasi harus dikoreksi dengan menggunakan heparin /
fibrinogen.
Darah segar diberikan untuk memerangi kekurangan darah;
perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan pembebanan
berlebihan dalam sirkulasi darah.
Digitalis berhasiat kalau terdapat kegagalan jantung.
Dengan pemberian tranfusi darah segar, fibrinogen
GAWAT JANIN
DEFINISI
Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima Oksigen
cukup, sehingga mengalami hipoksia (Abdul Bari
Saifuddin dkk.2002 )
Pengertian lainnya dari gawat janin adalah respon kritis
janin terhadap stress yang meliputi hipoksia dan /
asidosis. (Saifuddin, 2002)
ETIOLOGI
Penyebab dari gawat janin yaitu:
a. Insufisiensi uteroplasenter akut
(kurangnya aliran darah uterus-
plasenta dalam waktu singkat)
b. Insufisiensi uteroplasenter kronik
(kurangnya aliran darah uterus-
plasenta dalam waktu lama)
c. Kompresi (penekanan) tali pusat
FAKTOR PRESDIPOSISI

Hipertensi
Diabetes mellitus
Penyakit jantung
Postmaturitas
Malnutrisi ibu
Anemia
Isoimunisasi rh
Penyakit ginjal
PATOFISIOLOGI
Dahulu diperkirakan bahwa janin mempunyai
tegangan oksigen yang lebih rendah karena ia
dianggap hidup di lingkungan hipoksia dan
asidosis yang kronik.
Afinitas terhadap oksigen, kadar hemoglobin,
dan kapasitas angkut oksigen pada janin lebih
besar dibandingkan dengan orang dewasa.
Bradikardi janin tidak harus berarti merupakan
indikasi kerusakan jaringan akibat hipoksia,
karena janin mempunyai kemampuan
redistribusi darah bila terjadi hipoksia.
DIAGNOSIS
Gangguan denyut jantung janin yaitu denyut
jantung meningkat di atas normal
Kemudian diikuti dengan denyut jantung
melambat di bawah normal
Ketuban berwarna hijau kuning karena
bercampur dengan mekoneum bayi
KLASIFIKASI GAWAT JANIN
Berdasarkan buku Ilmu Bedah Kebidanan (Hanifa
Wiknjosastro.2005;53-54) :
Gawat janin iatrogenik adalah gawat janin yang
timbul akibat tindakan medik atau kelalaian
penolong.
Kejadian yang dapat menimbulkan gawat janin
iatrogenik adalah:
Posisi tidur ibu
Infus oksitosin
Bila kontraksi uterus menjadi hipertonik
Anestesi Epidural
Menurut buku Kapita Selekta
Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi
GAWAT JANIN SEBELUM PERSALINAN
Gawat janin kronik
Dapat timbul setelah periode yang panjang selama
periode antenatal bila status fisiologi dari ibu-janin-
plasenta yang ideal dan normal terganggu.
Gawat janin akut
Suatu gangguan yang tiba tiba mempengaruhi
oksigenasi janin. Gawat janin akut biasanya
disebabkan oleh gangguan pernafasan janin yang
mengancam jiwa dan merupakan kegawatdaruratan
medis sejati.
PENATALAKSANAAN
Bila sedang dalam infus oksitosin, segera hentikan infus.
Posisikan ibu berbaring miring ke kiri.
Berikan oksigen
Rujuk ibu ke rumah sakit
Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, dsb) mulailah
penanganan yang sesuai.
Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan DJJ tetap abnormal,
lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab
kemungkinan terjadi : solusio plasenta, amnionitis, prolaps
tali pusat.
Jika DJJ tetap abnormal/terdapat tanda lain gawat janin
rencanakan persalinan ekstraksi atau SC.
Siapkan segera resusitasi neonatus.
PROLAPS TALI PUSAT
DEFINISI PROLAPS TALI PUSAT

Prolaps tali pusat terjadi ketika tali pusat keluar


dari uterus sebelum janin (WHO, 2013; 154).

Prolaps tali pusat merupaka komplikasi yang jarang


terjadi, kurang dari satu per 200 kelahiran, tetapi dapat
mengakibatkan tingginya kematian janin. Oleh karena
itu, diperlukan keputusan yang matang dan
pengelolaan segera (Prawirohardjo, 2010; 625).
KLASIFIKASI PROLAPS TALI PUSAT

1. Tali Pusat Terkemuka


adalah tali pusat tampak atau teraba
pada jalan lahir lebih rendah dari bagian 3. Occult prolapse
terendah janin saat ketuban masih utuh Occult prolapse adalah tali pusat
(WHO, 2013; 155). berada di samping bagian terendah
janin turun ke vagina. Tali pusat
dapat teraba atau tidak, ketuban
dapat pecah atau tidak
2. Tali pusat menumbung
(Prawirohardjo, 2010; 625).
adalah tali pusat tampak pada vagina
setelah ketuban pecah
(WHO,2013;155).
Tali pusat menumbung, bila tali pusat
keluar melalui ketuban yang sudah
pecah, ke serviks dan turun ke vagina
(Prawiroharjo, 2010; 625).
PREVALENSI PROLAPS TALI PUSAT
Faktor-faktor etiologi prolapse tali pusat meliputi
beberapa factor yang sering berhubungan dengan ibu,
janin, plasenta, tali pusat, dan iatrogenik :
1. Presentasi yang abnormal
7. Tumor di panggul yang
seperti letak lintang atau
mengganggu masuknya
letak sungsang.
bagian terendah janin
2. Prematuritas
8. Tali pusat abnormal
3. Kehamilan ganda
panjang (> 75 cm)
4. Polihidramnion sering
9. Plasenta letak rendah
dihubungkan dengan bagian
10.Solusio plasenta
terendah janin yang tidak
11.Ketuban pecah dini
engage.
12.Amniotomi
5. Multiparitas predisposisi
terjadinya malpresentasi
6. Disproporsi janin-panggul
PATOFISIOLOGI PROLAPS TALI PUSAT

Menurut Prawirohardjo, tekanan pada tali pusat oleh bagian


terendah janin dan jalan lahir akan mengurangi atau menghilangkan
sirkulasi plasenta. Bila tidak dikoreksi, komplikasi ini dapat
mengakibatkan kematian janin.
Obstruksi yang lengkap dari tali pusat menyebabkan dengan
segera berkurangnya detak jantung janin (deselerasi variable). Bila
obstruksinya hilang dengan cepat, detak jantung janin akan kembali
normal. Akan tetapi, bila obstruksinya menetap terjadilah deselerasi
yang dilanjutkan hipoksia langsung terhadap miokard sehingga
mengakibatkan deselerasi yang lama. Bila dibiarkan terjadi kematian
janin.
DIAGNOSIS
Menurut Prawirohardjo, diagnosis prolaps tali
pusat dapat melibatkan beberapa cara :
Melihat tali pusat keluar dari introitus vagina.

Teraba tali pusat pada waktu pemeriksaan dalam.

Auskultasi terdengar jantung janin yang irregular, sering dengan bradikardi yang
jelas, terutama berhubungan dengan kontraksi uterus.

Monitoring denyut jantung janin yang berkesinambungan memperlihatkan adanya


deselerasi variabel.

Tekanan pada bagian terendah janin oleh manipulasi eksterna terhadap pintu atas
panggul menyebabkan menurunnya detak jantung secara tiba-tiba yang
menandakan kompresi tali pusat
PROGNOSIS

Angka kematian untuk bayi prematur degan prolaps tali pusat hampr 4 kali lebih
tinggi daripada bayi aterm.
Bila gawat janin dibuktikan oleh detak jantung yang abnormal, adanya cairan
amnio yang terwarnai oleh meconium, atau tali pusat pulsasinya lemah, maka
prognosis janin buruk.
Jarak antara terjadinya prolaps dan persalinan merupakan faktor yang paling
kritis untuk janin hidup.
Dikenalnya segera prolaps memperbaik kemungkinan janin hidup.
Angka kematian janin pada prolaps tali pusat yang letaknya sungsang atau
lintang sama tingginya dengan presentasi kepala.
PENATALAKSANAAN PROLAPS TALI
PUSAT
Ditemukannya prolaps tali pusat diperlukan
tindakan yang cepat. Terapi definitive adalah
melahirkan janin dengan segera. Persalinan
pervaginam segera hanya mungkin bila
pembukaan lengkap, bagian terendah janin
telah masuk panggul, dan tidak ada CPD.
Menurut Sambil menunggu persiapan seksio sesarea,
Prawirohardjo tekanan pada tali pusat oleh bagian terendah
janin dapat diminimalisasi dengan posisi knee
cest, Trendelenburg, atau posisi Sim. Sebaiknya
dari apapun jenis prolaps tali pusat, bila syarat-
syarat untuk melakukan persalinan pervaginam
belum terpenuhi, sebaiknya dilakukan seksio
sesarea untuk menyelamatkan janin.
menurut
WHO

Tali pusat terkemuka

Tekanan tali pusat oleh bagian terendah janin dapat diminimalisasi dengan posisi
knee chest atau Tendelenburg. Segera rujuk ibu ke fasilitas yang menyediakan
layanan seksio sesarea.
Tali pusat menumbung
Perhatikan tali pusat masih berdenyut atau tidak. Jika sudah
tidak berdenyut artinya janin telah mati dan sebisa mungkin
pervaginam

Bila tali pusat masih berdenyut :


Berikan oksigen
Hindari manipulasi tai pusat. Jangan memegan atau memindahkan
tali pusatyang tampak pada vagina secara manual.
Posisikan ibu knee chest atau Tendelenburg.
Dorong bagian erendah janin ke atas secara manual untuk
mengurangi kompresi pada tali pusat
Segera rujuk ibu ke fasilitas yang menyediakan layanan seksio
sesarea. Pada saat proses transfer dengan ambulans, posisi knee
chest kurang aman, sehingga posisikan ibu berbaring ke kiri.
Menurut
WHO