Anda di halaman 1dari 45

Dipresentasikan oleh:

dr. TITTA GUSNI SALIM


PUSKESMAS KECAMATAN CILANDAK
2012
Masalah Global
200 juta orang di seluruh dunia mengunakan
NAPZA (UNODC)
ODHA yang juga pengguna NAPZA suntik 5%
-2,1 juta orang
Kriteria Adiksi
Merupakan penyakit primer tanpa sebab
yang jelas
Mempunyai manifestasi yang multiple
Seringkali bersifat progresif/semakin
memburuk
Potensial berakibat fatal
Ketidakmampuan untuk mengontrol
penggunaan zat
Individu selalu mencari dukungan untuk
memenuhi kebutuhan akan zat
Terdapat toleransi dan gejala putus zat
FISIK : - berat badan menurun, muka pucat
- mata merah, cekung, mata/hidung
berair
- needle track, bekas luka sayatan
- sembelit/sakit perut, sering sakit
kepala
- jantung berdebar, keringat berlebihan

EMOSI : - sensitif, cepat bosan, emosi naik turun


- malas, sering lupa pd tanggung jawab

PERILAKU : - sikap membangkang, kasar,


memukul
- sering mengantuk, kurang
perhatian
- sering bertemu orang asing, pulang
telat
- meninggalkan aktivitas yang biasa
Tingkatan
Pemakaian coba-coba
Pemakaian
rasa ingin tahu, coba-coba
Narkoba
Pemakaian sosial
untuk bersenang-senang, saat rekreasi / santai
Pemakaian situasional
saat stres, tegang, sedih, kecewa
Penyalahgunaan
penggunaan yang terus-menerus, tidak untuk
pengobatan, mengganggu badan dan jiwa
Ketergantungan
telah terjadi toleransi dan gejala putus zat
APA ITU NAPZA
NARKOTIKA

PSIKOTROPIKA

ZAT ADIKTIF LAIN


UU Narkotika No 22/97
Narkotika gol I
hanya utk ilmu pengetahuan, tidak untuk terapi
potensi sangat tinggi untuk ketergantungan
(heroin, kokain, ganja)

Narkotika gol II
untuk terapi dan iptek
potensi tinggi untuk ketergantungan (morfin,
petidin)

Narkotika gol III


untuk terapi dan iptek,
potensi ringan untuk ketergantungan (kodein)
Penggolongan Narkotika berdasarkan
Efek terhadap Susunan Syaraf Pusat

Stimulan : dapat merangsang fungsi tubuh dan


dapat meningkatkan kegairahan kerja sehiungga aktif,
segar dan bersemangat , contoh Kokain,
Metamphetamin , MDMA/ekstasi
Depresan: mengurangi aktifitas fungsional tubuh
merasa tenang, pendiam bahkan membuat tertidur
dan tidak sadarkan diri, contohnya Ganja, Opiat
( Heroin/Putaw),
Halusinogen: menimbulkan efek halusinasi yang
bersifat merubah pikiran dan perasaan, contoh LSD,
Ganja dalam jumlah banyak
ECSTACY
Ekstasi dapat membuat tubuh
si pemakai memiliki energi
yang lebih dan juga bisa
mengalami dehidrasi yang
tinggi. Sehingga akibatnya
dapat membuat tubuh kita
untuk terus bergerak.
Ekstasi akan mendorong tubuh
untuk melakukan aktivitas
yang melampaui batas
maksimum dari kekuatan
tubuh itu sendiri. Kekeringan
cairan tubuh dapat terjadi
sebagai akibat dari
pengerahan tenaga yang tinggi
dan lama.
Ekstasi dikenal dengan
sebutan inex, I, kancing.
SHABU-SHABU
Nama aslinya metamphetamine.
Berbentuk kristal seperti gula
atau bumbu penyedap masakan.
Jenisnya antara lain yaitu gold
river, coconut dan kristal.
Obat ini dapat di temukan dalam
bentuk kristal dan obat ini tidak
mempunyai warna maupun bau,
maka disebut pula dengan Ice.
SHABU-SHABU ( 2 )
Obat ini juga mempunyai pengaruh yang kuat
terhadap syaraf.
Shabu-shabu juga di kenal dengan julukan lain
seperti Glass, Quartz, Hirropon, Ice Cream.
Dikonsumsi dengan cara membakarnya di atas
aluminium foil sehingga mengalir dari ujung satu ke
arah ujung yang lain. Kemudian asap yang
ditimbulkannya dihirup dengan sebuah Bong
(sejenis pipa yang di dalamnya berisi air). Air bong
tersebut berfungsi sebagai filter karena asap
tersaring pada waktu melewati air tersebut.
Amphetamine-Based Drugs (Shabu, Ekstasi)
Gejala pemakaian berlebihan (dalam waktu 1 jam
setelah pemakaian) :
rasa gembira (euphoria), rasa harga diri meningkat,
banyak bicara, kewaspadaan meningkat, denyut
jantung cepat, pupil mata melebar, tekanan darah
meningkat, berkeringat/rasa dingin, mual/muntah.

Gejala pemakaian berlebihan (dalam waktu 24 jam) :


delirium/kesadaran berubah, perasaan dikejar-kejar,
perasaan dibicarakan orang, agresif dan timbul rasa
bermusuhan, rasa gelisah, tidak bisa diam.

Gejala putus Obat:


depresi, rasa lelah berlebihan, gangguan tidur, mimpi
bertambah.
Stimulants
HEROIN ( PUTAW )
Heroin adalah obat bius yang sangat
mudah membuat seseorang kecanduan
karena efeknya sangat kuat.
Heroin rasanya pahit, berbentuk
tepung halus berwarna putih atau
dalam bentuk cairan berwarna.
Pemakaiannya dengan cara dihisap dan
disuntikkan.
Heroin memberikan efek yang sangat
cepat terhadap pengguna, dan itu bisa
secara fisik maupun mental. Dan jika
orang itu berhenti mengkonsumsi obat
bius itu, dia akan mengalami rasa sakit
yang luar biasa.
Putaw, putih, bedak, PT, etep, si putih.
Opiat (putaw, heroin, morfin)
Gejala pemakaian:
Pupil mata mengecil atau melebar akibat
kekurangan oksigen (anoksia), gembira
berlebihan(euphoria) / sedih (disforia), cuek,
badan lemas, malas bergerak, mengantuk,
bicara cadel.
Gejala Putus Obat:
Keluar air mata, pupil mata membesar, keluar
ingus, kelebihan keringat, diare, merinding,
menguap terus-menerus, tekanan darah naik,
jantung deg-degan, demam, panas-dingin,
gangguan tidur, otot dan tulang nyeri, sakit
kepala, gelisah dan suka marah-marah.
Heroin
GANJA
Ganja dapat mempengaruhi
konsentrasi dan ingatan. Dan
seringkali, para pengguna
ganja akan mencari obat-
obatan yang lebih keras dan
lebih mematikan. Ganja
dianggap sebagai 'gerbang
narkoba' karena seseorang
yang memakai ganja memiliki
resiko yang lebih besar untuk
memakai zat-zat adiktif yang
lebih keras.
Ganja dikenal juga dengan
nama : marijuana, grass, pot,
weed, tea, Mary Jane,hemp,
chasra, bhang, dagga,
dinsemilla, ganja, cimenk,
Gele, bakong, gendol, daun,
dan sebagainya...
GEJALA PEMAKAIAN
GANJA
Gejala pemakaian:
Jantung berdebar, euforia (rasa gembira
tanpa sebab), halusinasi dan delusi, waktu
berjalan sangat lambat, apatis (cuek
terhadap diri dan lingkungan), tidak ada
kemauan, mata merah, nafsu makan
bertambah, mulut kering, ketakutan
berlebihan.
Gejala putus Obat:
Banyak berkeringat, gelisah, gemetaran,
tidak ada selera makan, mual/muntah, diare
terus menerus, tidak bisa tidur (insomnia),
tingkah laku aneh, melamun, tertawa sendiri.
Cannabis Depressant, sometimes
hallucinogenic in large doses, & cannabinoid
Lysergic Acid Diethylamide (LSD) -
Hallucinogen
ZAT ADIKTIF LAIN
Zat adiktif adalah zat-zat yang membuat
ketagihan.
Alkohol, Nikotin
Komplikasi Penggunaan
NAPZA
HIV
Hepatitis B & C
TB Paru
Pnemonia Pneumocystis carinii (PCP) *
Pneumonia berulang *
Kriptokokosis
Toksoplasmosis *
Kandidasis esofagus *
Mycobacterium Avium Complex (MAC)
Cytomegalovirus (CMV)

June 4, 2017 33
Wasting
H: Human
Immunodeficiency
I :
Virus
V:

A : Acquired
I : Immune
D : Deficiency
S : Syndrome
HIV terdapat pada cairan
tubuh Cairan cerebrospinal
Darah
Cairan seksual
ASI
Urine
Air liur
Cairan lambung
DLL
Cara penularan
Suntikan
Hubungan seksual
Kelahiran
Luka terbuka yang terkontaminasi
Efektifitas penularan HIV
Melalui tranfusi darah (90%)
Jarum suntik terkontaminasi (0,3%)
Hubungan seksual (0,03 5,6%)
Ibu hamil ke bayi yang dikandungnya (15-30%)
ASI (10-15%)
HIV tidak menular melalui
Gigitan nyamuk
Berciuman pipi
Hidup satu rumah dengan Odha
Pemakaian kamar mandi bersama
Kolam renang
Alat makan, dll
PERJALANAN INFEKSI HIV
1000
900 Sel T CD4+
Jumlah sel CD4+

800
700
Sindrom TB
600 Infeksi Asimtomatik
500 Akut HIV
HZV
400 Periode OHL
jendela
Level relatif
300 Plasma HIV-RNA OC
200 PPE
PCP
100 CM
Antibodi
0 CMV, MAC
0 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Bulan.. Tahun sesudah terinfeksi HIV
Masa tanpa gejala pada HIV lamanya 3-10
tahun
Masa tanpa gejala akan memendek bila viral
load pada titik keseimbangan (set point) tinggi
Setelah masa tanpa gejala akan timbul gejala
pendahuluan yang kemudian diikuti oleh
infeksi oportunistik
Dengan adanya IO maka perjalanan penyakit
telah memasuki stadium AIDS
Window period (masa
jendela)
Bila seseorang tertular HIV, selama kurang
lebih 4-12 minggu pasca pajanan HIV. Orang
tsb bila diperiksa anti HIV hasilnya akan
negatif, karena pada masa tersebut antibodi
HIV belum terbentuk, tetapi sebenarnya
sudah terinfeksi HIV dan pada masa inilah HIV
sangat efektif ditularkan kepada orang lain.
Stadium klinis HIV
(Stadium 1-4)
Diagnosis pada Dewasa

Sebaiknya berdasarkan hasil lab dan klinik


Tidak semua tempat memiliki sarana lab
Diagnosis berdasarkan gejala dapat mengikuti
pedoman Nasional
Stadium klinis HIV dewasa (WHO)

Stadium Klinis 1

Asimptomatis
Limfadenopati Meluas Persistent (PGL)
Stadium Klinis 2

Berat badan menurun <10% dari BB semula


Kelainan kulit dan mukosa ringan seperti
dermatitis seboroik, papular pruritic eruption (PPE),
infeksi jamur kuku, ulkus oral yang rekuren,
cheilitis angularis,
Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
Infeksi saluran napas bagian atas seperti
sinusitis bakterial
Stadium Klinis 3

Berat badan menurun >10% dari BB semula


Diare kronis yang tidak diketahui penyebabnya
berlangsung > 1 bulan
Demam tanpa sebab yang jelas yang (intermiten atau
konstan) > 1 bulan
Kandidiasis Oral (thrush)
Oral Hairy leukoplakia
TB paru, dalam 1 tahun terakhir
Infeksi bakteri berat (pnemonia, pyomiositis)
Angiomatosis basiler
Herpes zoster yang berkomplikasi
Stadium Klinis 4

HIV wasting syndrome (BB turun 10% + diare kronik


> 1 bln atau demam >1 bln yg tdk disebabkan peny lain)
Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Toksoplasmosis pada otak
Kriptosporidosis, Isosporiasis, Microsporidiosis dgn
diare >1 bulan
Kriptokokosis, ekstra paru
Cytomegalovirus (CMV) pada 1 organ selain hati, limpa,
kelenjar getah bening (mis: retinitis)
Herpes simplex virus (HSV) mukokutaneus > 1 bulan,
Progressive multifocal leucoenphalopathy (PML)
Mikosis disseminata (histoplasmosis, koksidioidomikosis,
penisiliosis)
Stadium Klinis 4 (lanjutan)

Kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru


Mikobakteriosis atipik disseminata atau di paru
Septikemi Salmonella non-tifoid
TB ekstra paru
Limfoma
Sarkoma Kaposi
Ensefalopati HIV (Gangguan dan/atau disfungsi motorik yg
mengganggu aktivitas hidup sehari hari dan berlangsung
beberapa minggu/bulan yg tidak disertai penyakit lain
TERIMA KASIH