Anda di halaman 1dari 46

I.

DEPOSIT SEDIMEN
Sedimen dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :

1. Deposit alohton (allochthonous deposits) :

a. Diendapkan pada suatu lingkungan pengendapan


sete-lah melalui proses transportasi.
b. Berupa endapan asal daratan, atau piroklastik.
2. Deposit autohton (autochthonous deposits) :
a. Terbentuk di dalam lingkungan di mana ia diendapkan,
bukan berasal dari luar cekungan/daratan.
b. Berupa sedimen asal kimiawi, organik, dan deposit
residu.
Tabel 1 Klasifikasi batuan sedimen

Kelompok Kelas
Deposit terestrial : lempung, silikat, pasir dan
Sedimen alohton
konglomerat
Deposit piroklastik : tuf, lapilituf, aglomerat, breksi
volkanik
Sedimen Presipitat kimiawi : karbonat, evaporit, rijang
autohton (cherts), for-
masi besi berlapis (banded iron formation), batubesi
(iron-
stone), dan fosforit
Deposit organik : batubara, lignit, serpih minyak (oil
shales),
dan pasir ter/aspal

Deposit residu : laterit dan bauksit


1.1 Deposit alohton (allochthonous deposits)

Sedimen-sedimen alohton yang ekonomis terbentuk


melalui akumulasi mekanik, yang disebut deposit
plaser (placer de-posits).
Tersusun oleh konsentrasi suatu mineral berat yang
ter-bentuk melalui proses sedimentasi.
Bersumber dari batuan asal daratan (terigen).
Pada umumnya terbentuk melalui proses pemisahan
secara gravitasi karena air yang bergerak/mengalir,
yang kemudian terkonsentrasi menjadi suatu
endapan mineral berat yang solid/padat dengan
sedikit mengandung gas-gas.
Akibat proses pelapukan pada suatu batuan, mineral
berat terlepas dari batuan asalnya, dan mineral ini
harus ber-densitas tinggi, tahan pelapukan kimiawi,
dan berdaya-tahan mekanik (benturan).
Mineral-mineralnya adalah : kasiterit, khromit,
kolumbit, tembaga, intan, garnet, ilmenit, magnetit,
monasit, platina, rubi, rutil, safir, xenotim, dan zirkon.
Cadangannya sebagian besar, kecil dan sering tidak
kekal, karena deposit ini terbentuk dekat atau di
permukaan bumi, dan tidak terlalu tinggi dari
permukaan laut. Oleh karena itu, mudah tererosi
sebelum sempat tertimbun.
Kalau tertimbun, timbunannya tidak terlalu tebal,
sehingga mudah ditambang.
Berkadar rendah, namun mudah digali karena
sifatnya yang terurai tidak padu, tersusun oleh
material-material yang mudah dikerjakan tanpa perlu
alat penghancur ; cukup menggunakan mesin
pengeruk (misalnya kapal keruk, atau kapal isap).
Pada deposit plaser yang berumur tua, biasanya
telah ter-litifikasi, termiringkan, dan sebagian atau
seluruhnya telah tertimbun oleh formasi batuan lain,
sehingga penambangan-nya perlu biaya tinggi.
Akibatnya deposit harus tersusun oleh
mineral yang bernilai ekonomi tinggi, dan berkadar
tinggi, seperti emas, intan, dll.
Deposit plaser dapat diklasifikasi berdasarkan
genetiknya, seperti di bawah ini :

Model kejadian Kelas


Akumulasi di tempatnya (in situ) Plaser residu
selama pelapukan
Terkonsentrasi dalam suatu Plaser eluvial
medium
padat yang bergerak
Terkonsentrasi dalam suatu Plaser aluvial atau arus,
medium plaser
cair yang bergerak/mengalir pesisir, dan plaser lepas-
pantai
Terkonsentrasi dalam suatu Plaser aeolian
Gambar 1.
Pembentukan deposit plaser residu (di sebelah kiri) dan
deposit plaser eluvial atau lereng (di sebelah kanan)
1.1.1 Plaser residu
Terakumulasi langsung di
atas batuan dasar.
Akibat peluruhan kimiawi
dan terlepasnya material-
material ba-tuan yang
ringan, yang berlang-sung
terus ke bawah, menye-
babkan urat-urat melapuk,
dan menyisakan mineral-
mineral berat (berdensitas
tinggi).
Mineral ringan hanyut
terbawa air, sedangkan yang
tahan lapuk, dapat bertahan
Contoh deposit plaser
residu :
Tambang timah (baca :
mineral kasiterit) yang
berada di Kota Pemali, kota
kecil yang kira-kira berjarak
25 km dari Kota Sungai-liat
di Pulau Bangka. Ditambang
dengan metode open pit. Pe-
nambangan yang dikerjakan
pada tahun 1960-an, telah
lama dihentikan karena
cadangan ti-mahnya sudah
habis. Namun saat ini
sedang dieksplorasi kembali.
Terdapat di sepanjang kemi-
ringan lereng.
Tersusun oleh mineral-
mineral yang terlepas dan
berasal dari batuan sumber
di dekatnya.
Mineral-mineral terkumpul di
atas batuan dasar pada
bagian lereng-bawah yang
landai/agak landai.
Mineral ringan hanyut, dan
yang larut akan terbawa oleh
air lim-pasan, atau tersapu
oleh angin.
Akibatnya, sebagian
Proses pengurangan akan
terus berlanjut sejalan
dengan terjadi-nya rayapan
lereng.
Untuk mendapatkan
penghasilan yang layak dan
menguntungkan, deposit
harus terkonsentrasi sangat
kaya. Dalam kasus-kasus
tertentu deposit ini
ditemukan terakumulasi
dalam kantong-kantong pada
batuan dasar ; se-perti
kasiterit dalam pothol dan
sinhol marmer di Malaysia.
1.1.3 Plaser aluvial atau
aliran
Salah satu deposit plaser
yang penting karena mudah
ditam-bang.
Dapat terbentuk di dasar
sungai seperti yang tampak
pada gam-bar di samping.
Mineral berat ter-
onggok/tertahan di bagian
bela-kang tonjolan
batuan/urat di saat aliran air
pembawa mineral berat
melalui tonjolan batuan.
Tempattempat lain
adalah pothol, lubuk-lubuk
Pada pertemuan dua aliran
di dasar sungai, cerukan
sungai, yang satu berarus de-
akibat ge-rusan airterjun
(Gambar atas). ras (sungai utama) dan yang
lain lambat (anak sungai)
endapan longitudinal.
Mineral berat mengendap di kelokan-kelokan sungai
pada su-ngai bermeander yang berarus deras. Dengan
bermigrasinya kelokan sungai, bertumbuhlan onggokan
mineral berat. Perhatikan pergerakan perpindahan
aliran sungai dari No. 1 ke No. 3.
Mineral ekonomis yang dijumpai dalam plaser aluvial
adalah emas (Au), dan kasiterit (SnO2) di Pulau Bangka. Di
pulau ini, kasiterit ditambang di daerah darat/pedalaman,
yang dahulu kala merupakan wilayah aliran sungai purba.
Penambangannya mudah, cukup dengan cara pengerukan
(dengan mesin pengeruk), diisap (dengan kapal isap), atau
disemprot dengan air bertekanan tinggi. Penyemprotan
dila-kukan terhadap batuan yang mengandung kasiterit
biasa-nya batupasir kasar sangat kasar, yang oleh
masyarakat setempat biasa disebut lapisan kaksa.
Dalam eksplorasinya digunakan alat bor Bor Bangka.
1.1.4 Plaser pesisir atau pantai (beach placers)
Mineral penting yang dijumpai pada deposit plaser
pesisir atau pantai adalah : kasiterit, intan, emas,
ilmenit (FeTiO3), magnetit (Fe3O4), monazit
[(Ce,La,Y,Th)PO4, mineral penting yang secara
ekonomis menjadi sumber R.E.E.], rutil (TiO2),
xenotim (YPO4), dan zirkon (ZrSiO4).
Mineral-mineral tsb di atas dapat berasal dari batuan,
urat-urat mineral yang muncul dan tersingkap di
sepanjang pan-tai, atau di dasar laut, sungai, atau
dari deposit tua yang di-kerjakan-ulang oleh laut.
Bagi deposit Resen, plaser marin dapat dijumpai pada ke-
tinggian topografi yang berbeda-beda, karena dalam
pengendapannya dipengaruhi oleh perubahan ketinggian
muka laut sepanjang Kala Plistosen (Gambar 6).
Di Indonesia, deposit plaser pesisir yang berupa deposit
pasir besi, dijumpai hampir di sepanjang pantai selatan
Pulau Jawa. Deposit yang terutama tersusun oleh mineral
ilmenit (FeTiO3), merupakan mineral penting penghasil lo-
gam titanium.
Selain pasir besi, terdapat juga pasir kasiterit yang
tersebar di sepanjang pantai Pulau Bangka dan Belitung.
Gambar 6. Sketsa penampang yang memperlihatkan beberapa
lokasi tempat ditemukannya deposit plaser pesisir
(titik-titik hitam tebal)
Pembentukan plaser pesisir yang tersebar di
sepanjang garis pantai, dikontrol oleh gelombang
laut dan arus sepanjang pantai.
Gelombang laut membawa/menghanyutkan
hancuran ma-terial-material batuan ke atas pantai,
yang kemudian oleh air surutan, atau sapuan air laut,
hancuran material batuan yang berupa partikel-
partikel mineral berat dan ringan dengan bermacam-
macam ukuran, tersaring dan terpisah-kan.
Butir-butir mineral yang besar dan ringan beserta butir-
butir mineral berat yang halus sangat halus, diangkut
dan dise-bar-hanyutkan di sepanjang pesisir oleh
hanyutan arus se-panjang pantai ; sedangkan partikel-
partikel mineral berat yang berukuran kasar dan
partikel-partikel lain yang ber-ukuran besar, tertinggal.
Dengan melambatnya arus laut sepanjang pantai di
suatu tempat, maka partikel-partikel mineral berat
berbutir halus sangat halus yang terbawa hanyutan,
akan mengendap.
Dengan cara demikianlah mineral berat terakumulasi
dan ter-sebar di sepanjang pantai.
Adanya proses perubahan ketinggian muka laut
sepanjang waktu geologi, menyebabkan mineral
berat dapat teronggok pada tempat-tempat yang
ketinggiannya berbeda, demikian pula dengan luas
penyebarannya.
Karena pengendapan mineral berat berlangsung di
pantai, maka di dalam endapannya dapat dijumpai
bermacam-ma-cam struktur sedimen yang
mencirikan suatu endapan pan-tai, seperti :
perlapisan silang-siur, perlapisan sejajar, perlapisan
bersusun, dan perlapisan bersusun-terbalik.
Dalam perlapisan bersusun-terbalik, pada bagian
bawah lapisan akan dijumpai perlapisan pasir
dan/atau perlapisan kaya-mineral berat yang berbutir
halus, yang semakin ke atas berangsur berubah
menjadi perlapisan pasir dan/atau perlapisan miskin-
mineral berat berbutir kasar.
Laminasi seperti ini berkembang selama gelombang
sapuan-balik (backswash) beraksi.
Pada perlapisan silang-siur, endapan mineral berat
akan ter-dapat pada bagian lengkungan bawah.
1.1.5 Plaser lepas-pantai (offshore placers)
Deposit plaser lepas-pantai terdapat pada daerah
paparan kontinen, yang biasanya tersebar sepanjang
beberapa kilo-meter dari pantai.
Terbentuk karena terendamnya aluvial oleh
permukaan laut yang naik, atau tenggelamnya suatu
plaser pantai.
Sejalan dengan kemajuan teknologi pengerukan, dan
ke-mampuan bekerja dengan aman di kala musim
angin ken-cang, maka pengerukan deposit ini dapat
mencapai keda-laman hingga 50 m. Selain kapal
keruk, digunakan juga kapal isap.
Contoh suatu deposit lepas-pantai yang sangat baik adalah
deposit kasiterit yang terdapat di daerah lepas-pantai
Pulau Singkep (dahulu), Bangka, dan Pulau Belitung.
Di daerah lepas-pantai Pulau Bangka dan Belitung, deposit
ditemukan dalam alur-alur sungai purba yang tenggelam
aki-bat digenangi air laut yang naik karena mencairnya es
pada Kala Plistosen. Sampai saat ini penambangannya
masih ber-langsung, yang diusahakan oleh PT Timah.
Contoh lain ialah suatu deposit fosil yang ditemukan di
daerah Cekungan Witwatersrand. Deposit ini terbentuk di
lingkungan delta khususnya pada bagian kipas delta
(Gam-bar 7).
Mineral yang
menjadi penyusun
utama depo-sit ini
adalah emas dan
uranium [terutama

Gambar 7. Formasi kipas delta di uraninit (UO2)].


Ce-
kungan Witwatersrand
yang
merupakan contoh deposit
1.1.6 Plaser aeolian (aeolian placers)
Terbentuk dari onggokan plaser pesisir/pantai yang menga-
lami pengerjaan-ulang oleh angin.
Salah satu contohnya adalah yang terdapat di North Island,
New Zealand, berupa deposit pasir titanomagnetik dengan
jumlah cadangan yang sangat besar, lebih dari 1.000 Mt.
Kandungan mineral berat lain yang dapat dijumpai adalah :
ilmenit, zirkon (ZrSiO4), leukosen (leucoxene ; ilmenit ter-
ubah), dan rutil (TiO2).
Contoh lain yaitu yang terdapat di daerah pesisir pantai
Sindangbarang, Kabupaten Cianjur bagian selatan, yang
ter-singkap berupa gumum-gumuk pasir besi.
Gumuk-gumuk tersebut diperkirakan merupakan
suatu endapan aeolian. Sudah ditambang, namun
sekarang tidak lagi karena ternyata merusak
lingkungan.
Sebenarnya gumuk-gumuk tersebut beserta tumbuh-
tum-buhan yang hidup di atasnya, merupakan
pelindung daratan dari terjangan gelombang tsunami
yang sangat berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa.
1.2 Deposit autohton (autochthonous deposits)

Ada 2 hal yang menjadi pokok pembicaraan, yaitu :


1. Deposit formasi besi berlapis [deposit of banded iron
formation (B.I.F.)], dan
2. Deposit mangan sedimen.

1.2.1 Formasi besi berlapis (B.I.F.)


.Dicirikan oleh perlapisan bijih besi yang halus,
dengan kete-balan berkisar dari 0,5 3 cm, yang
tersusun oleh laminasi-laminasi berketebalan dalam
mm.
Perlapisan bijih besi tsb berselang-seling dengan
lapisan-lapisan silika dalam bentuk rijang, atau
kristal.
Mineral bijih besinya adalah hematit (Fe2O3).
B.I.F. dapat juga mengandung alumina, namun
dengan ka-dar yang < 1% ; berbeda dengan yang
terdapat dalam batu-besi Fanerozoik, yang kadarnya
dapat mencapai beberapa persen.

Dalam B.I.F. dapat dikenal 4 macam fasies, yaitu : 1.


Fa-sies oksida, 2. Fasies karbonat, 3. Fasies silikat, dan
4. Fasies sulfida.
1. Fasies oksida
Fasies ini adalah fasies yang terpenting, dan dapat
dibagi menjadi subfasies hematit dan magnetit (Fe 3O4),
tergantung kepada jumlah oksida besi yang dominan,
serta secara ber-angsur berubah dari satu subfasies ke
subfasies yang lain.
Pada B.I.F. yang sedikit lapuk, hematit terlihat abu-abu
ber-butir halus, atau berwarna spekularit kebiruan.
Terkadang dijumpai tekstur oolitik yang memberi
petunjuk bahwa hematit terbentuk dalam lingkungan air
dangkal, tetapi di tempat lain berderai tanpa struktur.
Lapisan rijang bervariasi dari material-material
kriptokristalan berbutir-halus sampai mosaik yang
saling-tumbuh dengan butir kuarsa.
Pada subfasies magnetit, perselingan terjadi antara
perla-pisan besi silikat, atau karbonat dan lapisan
rijangan.
Pada umumnya fasies oksida mengandung besi antara
30 35%, yang memungkinkan untuk ditambang
secara menguntungkan.
2. Fasies karbonat
Tersusun oleh perselingan antara lapisan rijang dan
siderit (FeCO3) dalam jumlah yang seimbang.
Dengan melalui batuan kuarsa-siderit-magnetit, subfasies
ini berubah menjadi fasies oksida, atau dengan kehadiran
pirit berubah menjadi subfasies sulfida.
Siderit muncul sebagai akumulasi lumpur halus, dan tidak
memperlihatkan tekstur oolitik, atau granular.
3. Fasies silikat
Tersusun oleh mineral-mineral silikat besi yang umumnya
berasosiasi dengan magnetit, siderit, dan rijang,
membentuk perlapisan yang saling bergantian.
Kandungan Fe pada subfasies karbonat dan silikat
biasanya berkisar antara 25 30%, sehingga tidak
ekonomis.
Keberadaannya menjadikan masalah benefesiasi.
4. Fasies sulfida
Tersusun oleh lempung piritik karbonatan, lajur batuan
tipis yang mengandung material organik dan karbon
hingga 7 8%.
Sulfida utamanya adalah pirit berbutir halus yang
tampak sa-ngat jelas pada sampel poles.

Prakambrium B.I.F. dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :


1. Tipe algoma.
Dicirikan oleh jalur batuhijau Arckhean, yang
tersusun oleh asosiasi volkanik-grewek yang
menunjukkan ling-kungan palung.
Terdapat juga fasies oksida, karbonat, dan sulfida, serta
silikat besi yang sering terlihat dalam fasies karbonat.
Ketebalannya berkisar dari beberapa cm ratusan m,
de-ngan panjang penyebaran hanya beberapa km.
2. Tipe superior.
Dicirikan oleh batuan beralur tipis yang merupakan ba-
gian dari fasies oksida, karbonat, dan silikat.
Umumnya tidak mengandung material-material klastik.
Alur-alurnya berirama, tersusun oleh alur kaya-besi dan
lapisan rijangan miskin-besi, dengan ketebalan berkisar
dari beberapa cm sampai beberapa m, merupakan ciri
yang menonjol dan khusus, sehingga memungkinkan
untuk mengadakan korelasi antar B.I.F. dalam jarak
yang jauh.
Stratigrafinya berasosiasi rapat dengan kuarsit dan
serpih hitam karbonan, dan sering juga bersama
konglomerat, dolomit, rijang masif, breksi rijang, dan
argilit.
Penyebaran B.I.F. superior dapat mncapai beberapa
ratus km dengan ketebalan lapisan berkisar dari
beberapa puluh m hingga ratusan m.
Pada umumnya lapisan B.I.F. terhampar tidak-selaras di
atas batuan dasar yang termetamorf-kuat. Di beberapa
tempat, lapisan B.I.F. terpisah dari batuan dasarnya
oleh adanya lapisan kuarsit, pasir, dan serpih.
Berdasarkan urutan asosiasi batuan dan struktur sedi-
mennya, menunjukkan bahwa B.I.F. superior terbentuk
dalam air yang cukup dangkal di paparan kontinen.

1.2.2 Batubesi Fanerozoik (phanerozoic ironstones)


Deposit ini terdiri dari 2 tipe, yaitu : Clinton dan Minette.
Nilai ekonomi keduanya berkurang karena kadar Fe-nya
yang rendah. Berikut ciri-ciri kedua tipe tsb. :
1. Tipe Clinton.
Berupa lapisan batuan siderit-khamosit-hematit yang
masif.
Kadar Fe berkisar dari 40 50% dan mengandung Al
dan P yang tinggi dibandingkan dengan yang ada pada
B.I.F.
Tidak dijumpai lapisan rijang, dan silika hadir dalam
mi-neral silikat besi pada sejumlah kecil butiran
kuarsa.
Deposit ini umum dijumpai pada batuan berumur Kam-
brium sampai Devon di daerah Amerika Utara barat.
2. Tipe Minette.
Tipe paling umum dan luas, dengan mineral utama
ada-lah siderit dan oolitik khamosit, yaitu khlorit kaya-
Fe [(Mg,Fe,Al)6(Al,Si)4O10(OH)8], khlorit-besi yang lain.
Kadar Fe-nya sekitar 30%, sementara kapur (CaO) 5
20%, dan silika pada umumnya > 20%.
Tersebar dan menjadi penting pada batuan berumur
Me-sozoik di Eropa.
Tidak memperlihatkan fasies oksida, karbonat, dan
silikat.

1.2.3 Deposit mangan sedimen


Logam mangan sangat banyak manfaatnya, antara lain
un-tuk pakan ternak, makanan, campuran pupuk,
fungisida dll.
Secara khusus, logam ini dipakai dalam pembuatan
baterai sel kering.
Geokimia mangan dan besi memperlihatkan suatu kesa-
maan, yang mana kedua elemen ini berkemungkinan
untuk bergerak dan diendapkan bersamaan. Kasus ini
dapat di-amati di Distrik Cuyuna, di mana deposit
mangan yang kaya berumur Prekambrium, dijumpai
dalam formasi besi dengan kandungan bijih > 20%.
Di tempat lain, antara mangan dan besi telah
mengalami pe-misahan yang lengkap yang berlangsung
selama pelapukan, pengangkutan, dan pengendapan.
Hasilnya adalah bijih besi yang hampir bebas dari
mangan dan banyak bijih mangan yang kadar besinya
sedikit.
Diyakini oleh para ahli bahwa pemisahan terjadi
karena aksi anoxia, yang kemudian menghasilkan
suatu deposit raksasa yang diendapkan dalam
cekungan intrakraton pada ling-kungan laut dangkal.
Mineral yang dominan dalam zona oksida pada
deposit ini adalah pirolusit (MnO2), psilomelan
[(Ba,H2O)2Mn5O10], dan beberapa mineral karbonat,
seperti : manganokalsit dan rodokhrosit (MnCO 3).
Kadar Mn dalam deposit ini berkisar dari 15 25%.
Pada Gambar 8 tampak penampang diagramatik
deposit ma-ngan di daerah Nikopol, Pelataran Ukraina.
Berikut penje-lasannya.
Awalnya batuan dasar yang berumur Prakambrium merupakan
suatu da-ratan, yang di sana berlangsung proses pelapukan,
dan erosi, mengha-silkan endapan daratan berupa lapukan
batuan dasar (weathering crust on basement), yang
terletak/terhampar di atas batuan dasar.
Selanjutnya, daerah ini mengalami genang laut, yang kemudian
mengen-dapkan pasir dengan lensa-lensa batubara pada
bagian tengah ce-kungan, pasir dan lempung di dalam sub-
cekungan dangkal di sebelah utara, dan juga pasir dan lempung
pada bagian yang agak dalam di se-belah selatan.
Sesudah itu, di atas unit pasir dan lempung, berlangsung
pengendapan unit lempung, napal, dan batulanau pada bagian
tengah cekungan sam-pai di kedalaman.
Kemudian, di atas unit lempung, napal, dan batulanau,
mengendaplah bijih oksida mangan pada bagian dangkal di
sebelah utara hingga ke ba-gian tengah, berubah perlahan
menjadi bijih karbonat-oksida mangan ke arah yang sedikit
dalam, dan semakin ke selatan ke arah yang lebih da-lam,
berubah menjadi bijih karbonat mangan. Pada bagian ini,
Pada bagian ini, lapisan-lapisan bijih mangan yang dijumpai,
berselang-seling dengan lapisan pasir, lanau, dan lempung.
Tebal lapisan ini berki-sar dari 0 4,5 m, rata-rata 2 3,5 m,
dan tersebar sepanjang lebih dari 250 km.
Episode pengendapan yang terakhir adalah pengendapan pasir
di ke-dangkalan sebelah utara, yang berangsur berubah
menjadi lempung, napal, dan batulanau ke arah yang semakin
dalam di bagian tengah ce-kungan, dan selanjutnya secara
perlahan berubah menjadi lempung dan napal di bagian
cekungan yang lebih dalam di sebelah selatan.