Anda di halaman 1dari 55

Ca.

Nasofaring
stadium 4
Rihan Basyiruddin Ahmad, S.Farm.
Ilustrasi
1508020074
Program profesi apoteker
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Dibawah bimbingan:
Dra. Harlina Gushka, M.Si., Apt.
RS. Dr. Dradjat Prawiranegara Serang-
Banten
Pokok Diskusi:
1.Definisi
2.Etiologi
3.Patofisiologi
4.Tanda Gejala
5.Faktor
Resiko
6.Studi Kasus
1. definisi
KNF keganasan yg
muncul pada daerah
nasofaring (area diatas
tenggorok dan dibelakang
hidung. Karsinoma ini
terbanyak mrp
kegananasan tipe sel
squamosa (KPKN, 2015).
Perbandingan penderita

pria dan wanita 2,18:1 dan


60% usia 25-60th.
Angka kejadian
Angka tertinggi di dunia Provinsi Cina
Tenggara 40-50 kasus/100.000 penduduk
(KPKN, 2015).
Amerika 3200 kasus (American cancer

society, 2015).
Indonesia ->urutan ke 4 setelah ca. Leher

rahim, ca. Payudara, dan ca. Paru (KPKN,


2015)
2. Etiologi
Etiologi belum diketahui scr pasti
Hasil study menunjukan NPC terkait dg:
Diet tertentu ikan asin
Infeksi EBV
Genetik keturunan pembawa gen cancer
Epstein Bar Virus (EBV) Infection
DNA EBV EBV dapat memerintah Infeksi tunggal
Sel normal
bercampur dg sel NP u/ replikasi dan jarang timbul
terinfeksi
DNA hospes tumbuh normal NPC

EBV Dengan faktor lain


mengandung spt. Diet tinggi
DNA garam, ikan asin
dan daging

Merubah sel
Makanan yg
normal tumbuh Meningkatkan
DNA rusak diawetkan dg
dan replikasi tak EBV NPC
bahan kimia
terkontrol
Patofisiologi
Tumbuhnya tumor dimulai dari salah satu
dinding nasofaring yg kemudian akan
menginfkesi kelenjar dan jaringan sekitarnya.
Lokasi paling sering mjd awal terbentuk yaitu

fossa rossenmuller (daerah epitel kuboid


berubah mjd squamosa).
Penyebaran ke jaringan dan kelenjar limfa

sekitar scr perlahan layaknya metastasis lesi


karsinoma lainnya.
keatas tumor
meluas ke
intrakranial
sepanjang
fossa medialis

Penyebaran

Kebelakangscr
ekstra kranial
menembus fascia
pharyngobasilaris
Tidak dapat dirubah

Faktor
Dapat dirubah
resiko

Faktor lainnya
penatalaksanaan
Radioterapidiberikan kepada seluruh
stadium (1,2,3,4 lokal) tanpa metastasis jauh
(M1)
Kemoterapi sbg radiosensitizer diberikan

preparat platinum based 30-40mg/m2 6


siklus, setiap minggu seklai 2,5-3jam
sebelum dilakukan radiasi.
Obat-obat simtomatik.
Life cycle of a cell
Klasifikasi stadium
Klasifikasi TNM (AJCC/UICC 2002)
Tumor primer (T)
Tx: tumor primer tidak dapat dinilai
T0: tidak terdapat tumor primer
Tis: karsinoma in situ
T1: tumor terbatas pada nasofaring
T2: tumor meluas ke jaringan lunak nasofaring dan atau nasal fossa
T3: tumor masuk ke struktur tulang dan atau sinus paranassal/osofaring
T4: tumor dengan perluasan intrakranial dan atau keterlibatan saraf kranial, intratemporal fossa, hipofaring atau
orbita.

KGB (kelenjar getah bening) regional (N)


NX : KGB regional tidak dapat dinilai
N0 : tidak terdapat metastasis ke KGB regional
N1 : metastasis bilateral di KGB, 6cm atau kurang diatas fosa suprakavikula
N2 : metastasis bilateral di KGB, 6cm atau kurang dalam dimensi tersebar diatas fosa suprakavikula
N3 : metastasis di KGB, ukuran >6cm
N3a : ukuran >6cm
N3b : perluasan ke fosa supraklavikula

Metastasis jauh
MX : metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 : tidak terdapat metastasis jauh
M1 : terdapat metastasis jauh
Lanjut gan, ...
Algoritma
KASUS
kasus
Tn Ade Imam Mahdi 36 th diantar keluarganya ke IGD RSDP
dengan kondisi lemah, kemudian pada hari yang sama dibawa ke
ruang Arafah pada tgl 11/2/16, pasien mengatakan terdapat
benjolan di leher katanya sudah lebih kurang 2 bulan yang lalu,
tidak nafsu makan, badan susah digerakkan dan harus dibantu,
nyeri bagian anus, sulit makan/menelan, batuk berdahak. Pasien
mengatakan sebelumnya belum pernah dirawat. Psikologis pasien
tenang, status mental pasien dalam keadaan sadar dan orientasi
baik, aktivitas dan mobilitas pasien ketergantungan total.
Menurut pemaparan keluarga pasien, sebelum MRS sempat di
bawa ke pengobatan alternatif (dukun), namun kondisi
memburuk dan setelah dilakukan pemeriksaan terdapat luka
sayatan pada leher pasien. Dokter mendiagnosa pasien dengan
Cancer Nasofaring St. 4.
Subjektif
Nama : Tn Ade Imam Mahdi
Usia : 36 th
Keluhan : pasien mengatakan terdapat

benjolan di leher katanya sudah lebih kurang


2 bulan yang lalu, tidak nafsu makan, badan
susah digerakkan dan harus dibantu, nyeri
bagian anus, sulit makan/menelan, batuk
berdahak. Pasien mengatakan sebelumnya
belum pernah dirawat.
Objektif
Tb: 170cm
BB: 50kg
Pemeriksaan fisik
Data klinik Nilai Waktu Pemeriksaan
normal

11/2/16 12/2/16 13/2/16 14/2/16 15/2/16 16/2/16

Suhu 36,5-37,2 37,8 - - - - -

Nadi 70-80 96 - - - - -

Tek. Darah 120/80 80/70 90/70 90/60 90/60 80/60 90/60

pernafasan 16-20 22 24 20 21 24 24
Hasil pemeriksaan Lab
parameter Nilai Normal satuan Hasil /tanggal

15/02-16 18/02-16 interpretasi

Hb 13,00-17,00 g/dl 8,20 10,40 Rendah

Leukosit 4,4ribu- /ul 57,2 ribu 62,63 ribu Tinggi


11,3ribu

Hematokrit 40-52 % 21,02 25,57 Rendah

Trombosit 150 ribu- /ul 187 ribu 133 ribu Normal


440 ribu

Netrofil 3-5 % 0 - Rendah


batang

Netrofil 50-70 % 92 - Tinggi


segmen

Limposit 25-40 % 4 - Rendah

Monosit 2-8 % 4 - Normal

Eusinofil 2-4 % 0 - Rendah

Basofil 0-2 % 0 - Rendah

LED 0-15 Mm/jam 35 - Tinggi

Albumin 3,2-4,8 g/dl 1,1 1,3 Rendah

SGOT 15-48 U/L 24 - Normal

SGPT 20-60 U/L 27 - Normal

Asam urat 4-7,8 Mg/dl 3,7 - Rendah


Penilaian hasil lab
HB: rendah, implementasi klinis: anemia, penggunaan sitostatika, penurunan
eritropoetin. Tatalaksana: transfusi darah, asupan Fe, Vit B12/Asam folat.
Leukosit: meningkat. Implementasi klinis: gangguan pada sumsum tulang (>50k),
pasien Ca. Post operasi, penggunaan epinefrin.
Netrofil batang dan segmen: implementasi klinis: infeksi bakteri, gangguan
metabolit, perdarahan, anemia.
Eosinofil: implementasi klinis: eosinofilia, tubuh merespon stress, respon tubuh
terhadap neoplasma, waspada terhadap pasien pengguna steroid dan epinefrin.
Basofil: implementasi klinis: infeksi akut,reaksi stress.
Hematokrit: implementasi klinis: anemia
Limposit: implementasi klinis: indikasi infeksi
LED: implementasi klinis: kondisi infeksi akut, kronis dan kanker,
Albumin: implementasi klinis: malnutrisi, sindrom absorpsi, infeksi kronis, edema.
Kalium dan natrium: implementasi klinis: kekurangan cairan tubuh, dehidrasi.
Waktu//tgl pemberian
Nama obat rute Bulan Februari

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Omeprazole IV

Ceftriaxone IV

Ketorolac IV

Ambroxol tab Oral

Dobutamin IV

Paracetamol tab oral

Ondansentron IV

Norepinerin/drip IV

pumpitor

albuminar

Bisolvon inj.

Asam traneksamat

Phytomenadion inj

Sanmol tab

Levofloxacin inj

Efineprin inj Riwayat


pengobatan pasien
Pembahasan

tgl Objek Assesment Plan

11/02 Pemeriksaan fisik: -Px. Mengalami hipotensi, febris, dan sesak. -omeprazole sudah tepat untuk
Suhu 37,8; nadi 96; TD mengatasi stress ulcer
90/70; pernafasan 22 -Tjd DRP pada pemberian pct tab. Karena px (Guillamondegui, et al, 2008)
mengeluhkan sulit/ sakit saat menelan.
RO: -sebaiknya untuk mengatasi demam
omeprazole inj., ceftriaxone -pain killer untuk cancer st. 4 belum diberikan. berikan pct. Infus.
inj., ketorolac inj.,
dobutamin inj., pct tab. -ceftriaxone dapat menghambat pertumbuhan -rekomendasi untuk skala nyeri 10
sel tumor (xiang li, et al, 2012). diberi gol. Opioid (NIH Publication,
2014).
-penggunaan ketorolac tunggal dalam
management nyeri scale 10 kurang tepat, -penggunaan ceftriaxone perlu di
direkomendasikan kombinasi dengan opioid monitoring.
(Literature)
-hentikan ketorolac dan adanya
-dobutamin sesuai untuk kondisi pasien pergantian dg pain killer gol. Opioid
hipotensi (Ibrahim, 2008/sicari rosa, et al, 2008) (see opioid used).

-terdapat interaksi antara dobutamine dengan -penggunaan dobutamine dilanjutkan


ketorolac (medscape) sampai menunjukan tek darah
120/80.
-DRP : ada indikasi yang tidak diobati, yaitu
cancer yg tidak dilakukan kemoterapi -kemoterapi dengan 5Fu + Cisplatin
(Zhigou Lou MD, et al, 2010)
tgl Objek Assesment Plan

12/02 Pemeriksaan fisik: -Ambroxol tab tidak sesuai diberikan pada -monitoring penggunaan
Tek. Darah 90/70; RR 24 pasien dg keluhan sulit menelan. ondancentron sampai jadwal
pemberian kemoterapi dilaksanakan.
RO: -ondancentron sesuai untuk mual muntah pada
Omeprazole inj., ceftriaxone px cancer (NHS, 2012) -menyarankan kepada pasien dan
inj., ketorolac inj., keluarga pasien agar segera dirujuk
ambroxole tab., kepada RS yg memfasilitasi
Dobutamine inj., Pct tab., kemoterapi.
ondancentron inj.
tgl Objek Assesment Plan

15/02 Pemeriksaan fisik: -pasien mengalami hipotensi. -pemberian NE sudah sesuai


Tek darah 80/60; RR 24 (literature)
-px mengalami hipoalbumin, butuh terapi
Hasil lab. albumin. -monitoring pos transfusi darah
-HB rendah; leukosit tinggi; ad10 untuk tindakan kemoterapii
HT rendah; netrofil batang -px membutuhkan kemoterapi segera (Watkins, et al, 2015)
rendah; netrofil segmen
tinggi; limposit rendah; -transfusi darah sudah tepat (literature) -kemoterapi dengan Cisplatin dan
eusinofil rendah; basofil 5FU
rendah; LED tinggi; -tjd DRP dosis ceftriaxone rendah
hipoalbumin; Na dan K -pemberian agen antiemetik sebelum
rendah. dan sesudah kemoterapi

RO: -peningkatan dosisi ceftriaxone


Omepreazole inj., menjadi 1 gr tiap 8 jam (literature)
ceftriaxone inj., ketorolac
inj., ondancentron inj.,
norepinefrin inj.

Terapi lain:
Pasien mendapat transfusi
darah (PCR)
tgl Objek Assesment Plan

18/02 Pemeriksaan fisik: - -bisolvon sebagai terapi simtomatik untuk Monitoring penggunaan asam
meredakan batuk berdahak. traneksamat dan phytomenadion.
Hasil lab.
-asam traneksamat dan phytomenadion sesuai
RO: untuk kondisi pendarahan pada pasien cancer.
Albuminar, ceftriaone,
ketorolac, ondansentron, -pemberian albumin sudah sesuai untuk pasien
pumpitor, bisolvon inj, asam hipoalbumin
traneksamat,
phytomenadion
Planning kemoterapi
Pemberian antiemetik sebelum kemoterapi dengan
5HT3 (Aprepitan)
cisplatin pd hari 1-3 scr infus iv berulang
Hidrasi dg NS
Kemoterapi dengan 5fu pada hari 1-5 scr infus iv
berulang
Post kemo diberi aprepitant, dexamethasone,
Domperidone
Kemo diulang setiap 21 hari sekali selama 6 siklus
Perhitungan kemoterapi
Cisplatin
Dosis 25mg/m2 25mg x (

25mg x ( 25mg x 1,5 = 37,5mg selama 3 hari

5FU

750mg/m2 750mg x 1,5 = 1125mg


Dosis

selama 5 hari
(source: Zhiguo lou, et al, 2010)
Pelarut 5FU
Dilarutkan dalam NS 500 ml
Sediaan 5Fu 50ml diberikan selama 15 menit
Perhitungan pelarut:
Dosis yg dibutuhkan pasien = 1125 mg
1,125 g
Inject. Soluble (vial) = 2,5 g/50 ml
Yang diambil = 22,5 ml
Sisa = 50ml 22,5ml = 27,5ml
Dilarutkan dalam NS 500ml = 22,5ml/522,5ml
Pelarut Cisplatin
Pelarut = NS 500ml
Dosis cisplatin untuk pasien =37,5mg
Sediaan multiple dose vial = 200 mg/200 ml
Yg diambil = 37,5mg x 200ml/200mg =

37,5ml
Sisa = 200ml 37,5ml = 162,5ml
5FU
Store at room temperature 15 to 30C (59 to 86F) [see USP
Controlled Room Temperature]. Protect from light. Retain in
carton until time of use.

Cisplatin
Store at 15 to 25C (59 to 77F). Do not refrigerate. Protect

unopened container from light.

The cisplatin remaining in the amber vial following initial


entry is stable for 28 days protected from light or for 7 days
under fluorescent room light.
monitoring
Metastasis cancer ke organ lain
Tekanan darah
Udem
Pernafasan
Pantau leukosit (H2TL)
Jika tjd trombositopenia diberi

leukogen/leukokin.
Non-farmakologi
Family supportif
Religion supportif
konseling
Jika rambut rontok disebabkan karena agen
kemoterapi, sifat reversibel
Mual muntah akan terjadi pos kemo, maka anti

emetik harus tetap diminum walau rasa mual tidak


muncul
Selalu memperhatikan siklus kemoterapi, jangan

sampai lupa jadwal kemo


Kemoterapi 6 siklus, diberikan setiap 21 hari sekali
Asupan gizi harus selalu diperhatikan
Jangan terlalu kontak dengan kondisi luar, karena

kondisi pasien masih lemah


Kesimpulan
Pasien meninggal tanpa mendapatkan
kemoterapi pada tgl 27 Feb. 2016
Pasien dan keluarga pasien menolak untuk di

kemo, walaupun sudah disarankan.


Reference
s
omeprazole
back
Pain killer
for cancer
Berdasarkan catatan
keperawatan, rasa
nyeri yang diderita
pasien menunjukkan
skala 10 (Worst
possible pain).
back
Ketorolac in here
Dobutamine
Target HB 10
for chemo
Pilihan kemoterapi
Anti emetik
pustaka