Anda di halaman 1dari 18

NAPZA

(NARKOTIKA, PSKOTROPIKA DAN


ZAT ADIKTIF LAINNYA)
Nama Kelompok :
Muhliseh
Ellina Rosiyanti
Bian Dwi Cahyo
Kasus 1

1. Disuatu gudang farmasi kabupaten (GFK) terdapat obat psikotropika


yang kadaluarsa dan rusak serta pernah terjadi pencurian obat jenis
narkotika yaitu codein.
Pertanyaan :
Seandainya Anda sebagai kepala gudang farmasi di kabupaten tersebut,
langkah-langkah apa saja yang Saudara lakukan? Jelaskan!
NARKOTIKA

Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan yg dibedakan ke dlm golongan - golongan
sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang tentang Narkotika
(PERMENKES RI No 3 tahun 2015)
PENGGOLONGAN
Narkotika Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat
tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Narkotika Golongan II
Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Narkotika Golongan III
Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan ketergantungan.
(UU RI No. 35 Tahun 2009)
PSIKOTROPIKA
Zat/bahan baku atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku (PERMENKES RI No 3 tahun 2015)
1. Penanganan psikotropika yang kadaluarsa dan rusak
Menurut Permenkes no. 3 tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan,
Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi pasal
37, pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi hanya dilakukan
dalam hal:

a. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau


tidak dapat diolah kembali
b. Telah kadaluarsa
c. Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau
untuk pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sisa penggunaan
d. Dibatalkan izin edarnya; atau
e. Berhubungan dengan tidak pidana
Menurut pasal 39, pemusnahan harus dilakukan dengan tidak
mencemari lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan
masyarakat.
Berdasarkan pasal 40, pemusnahan narkotika, psikotropika dan
prekursor farmasi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
Penanggung
jawab faskes DINKES dan
mengajukan BPOM Dilakukan Pemastian
Pemusnahan
surat Menetapkan sampling kebenaran
disaksikan
pemberithuan petugas untuk secara
oleh petugas
dan menjadi saksi pengujian organoleptis
permohonan pemusnahan
saksi

Menurut pasal 41 selain di saksikan oleh saksi, pemusnahan juga


wajib disaksikan oleh pemilik Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor
Farmasi.
Tata cara pemusnahan
Dibakar Abu Dicetak
Abu diolah
menggunakan pembakaran menggunakan
dengan semen
incinerator disimpan batu bata

Hari, tanggal, bulan, dan tahun


pemusnahan
Tempat pemusnahan
Nama penanggung jawab fasilitas
produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
Penanggung jawab fasilitas
pelayanan kefarmasian/pimpinan
lembaga/dokter praktik perorangan pasal 42 ayat 2, produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
Nama petugas kesehatan yang berita acara pelayanan kefarmasian/pimpinan
menjadi saksi dan saksi lain harus lembaga/dokter praktik perorangan
badan/sarana tersebut
Nama dan jumlah Narkotika, memuat.... harus membuat berita acara
Psikotropika, dan Prekursor Farmasu pemusnahan.
yang dimusnahkan
Cara pemusnahan
Tanda tangan penanggung jawab Berita acara dibuat rangkap
fasilitas produksi/fasilitas 3 dan tembusannya
distribusi/fasilitas pelayanan disampaikan kepada
kefarmasian/pimpinan Direktur Jendral dan Kepala
lembaga/dokter praktik perorangan Badan/Kepala Balai
dan saksi
2. Penanganan terjadinya pencurian obat narkotika
Peraturan Kepala Badan Pengawasan
setiap kasus
Obat dan
kehilangan Narkotika
Makanan No. 7 Tahun 2016 tentang
wajib melaporkan ke
Pedoman Pengelolaan Obat-obat
BPOM
Tertentu yang Sering Disalahgunakan

a. Pelaporan kehilangan pada BPOM harus dilaporkan dengan melampirkan


laporan hasil investigasi kasus kehilangan yang dilakukan pihak kepolisian. Laporan
kehilangan Narkotika disampaikan kepada Kepala Badan Direktur Pengawasan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif dengan tembusan Kepala Balai Besar/Balai
POM setempat paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah terjadinya kehilangan
sedangkan laporan hasil investigasi paling lambat 1 (satu) bulan sejak kejadian
(PKBPOM No. 7 Tahun 2016 Bab I)
b. Dilakukan pengkajian ulang apakah gedung pada kabupaten
tersebut memenuhi persyaratan dalam Permenkes No.3 tahun 2015
tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan
Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi.
Permenkes No.3 tahun 2015 pasal 26

Gudang Ruangan

Dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang


Dinding dibuat dari tembok dan hanya mempunyai
kuat;
pintu yang dilengkapi dengan pintu jeruji besi
Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi
dengan 2 (dua) buah kunci yang berbeda
dengan jeruji besi
Langit-langit dapat terbuat dari tembok beton atau
Mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci
jeruji besi
yang berbeda
Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi
Kunci ruang khusus dikuasai oleh Apoteker
dengan jeruji besi
penanggung jawab/Apoteker yang ditunjuk dan
Gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa
pegawai lain yang dikuasakan
izin Apoteker penanggung jawab
Tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin
Kunci gudang dikuasai oleh Apoteker penanggung
Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang
jawab dan pegawai lain yang dikuasakan
ditunjuk.
c. Gudang penyimpanan khusus harus dalam penguasaan apoteker
penanggung jawab, gudang tersebut dan tidak boleh dimasuki orang
lain tanpa izin dari penanggung jawab gudang narkotik dan psikotropik.
Hal ini dapat mencegah terjadinya pencurian kembali. Pencatatan
setiap pemasukan dan pengeluaran obat juga penting untuk dilakukan,
sehingga jika jumlah obat tidak sesuai karena hilang ataupun dicuri
akan lebih mudah dalam dilakukan penulusuran. Selain itu, dapat diberi
fasilitas tambahan pada pintu masuk gedung khusus narkotika dan
psikotropika yaitu CCTV untuk meningkatkan pengawasan.
Kasus 2
Hasil temuan Balai Besar POM Surabaya terhadap Apotek X pada
bulanJanuari 2017 sebgai berikut:

No Nama Obat Satuan Stok Awal Masuk Keluar Stok akhir Fisik obat

1. Analsik Tablet 300 1500 550 1250 1250

2. Apisate Tablet 75 150 32 193 175

3. Danalgin Tablet 125 1000 450 675 523


Apa komentar Anda terhadap hasil di atas?
4. Braxidin Tablet 60 0 10 50 52
Permenkes no 3 tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan,
Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika pada Bab V pasal 45 (Ayat 6):

Apotek wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan


pemasukan dan penyerahan/penggunaan Narkotika dan Psikotropika,
setiap bulan kepada Kepala Dinkes Kab/Kota dengan tembusan Kepala
Balai setempat
Pasal 45 (Ayat 7) Pelaporan paling sedikit memuat:
Nama, bentuk sediaan, kekuatan obat
Jumlah persediaan awal dan akhir bulan
Jumlah yang diterima
Jumlah yang diserahkan
Pelaporan dapat melalui online di website sipnap.kemkes.go.id setiap
tanggal 10 di bulan berikutnya
Seluruh dokumen (pencatatan, penerimaan, penyerahan, pemesanan)
wajib disimpan secara terpisah paling singkat 3 tahun
Jika terjadi ketidakcocokan antara stok akhir dan jumlah fisik obat,
diperiksa terlebih dahulu kartu stok yang memuat pencatatan obat.
Ditelusuri penyebab ketidakcocokan. Apakah karena kesalahan
pencatatan atau telah terjadi kehilangan atau pencuria.
Jika terjadi kehilangan dan pencurian, harus segera melakukan pelaporan
kepada pimpinan dan pihak yang berwajib untuk ditindak lanjuti lebih
jauh.
Jika Apotek X terbukti melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan
Narkotika-Psikotropika, maka harus diproses sesuai dengan perundang-
undangan yang berlaku
Sanksi
Tindakan administratif:
1. Teguran lisan
2. Teguran tertulis
3. Penghentian sementara kegiatan
4. Denda administratif
5. Pencabutan izin praktek
Jika tindak pidana dilakukan secara terorganisir dipidaa mati atau penjara seumur hidup,
atau pidana 20 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 750.000.000 (UU No. 5/1997)

Apotek yang mengedarkan Narkotika bukan untuk kepentingan pelayanan masyarakat


dapat dipidana paling singkat 1 tahun, paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp.
100.000.000 dan paling banyak Rp. 1.000.000.000 (UU No. 35/2009)