Anda di halaman 1dari 33

MENYELAMATKAN RUPIAH

PADA KRISIS KEUANGAN


INDONESIA
TAHUN 1997-1998

- Deri Firmansyah Made Tysen Nainggolan Yoan Fatiana


Sejarah Ekonomi Indonesia
(2) (3)
Pemerintahan Pemerintahan
Orde baru Transisi

(1) (4)
Pemerintahan Pemerintahan
Orde Lama Sejarah
Reformasi
Perekonomia
n Indonesia
(1) PEMERINTAHAN ORLA (1945 1965)

Banyak kondisi politik dan keamanan yang


tidak stabil mempengaruhi kondisi
perekonomian:
Tekanan dari Belanda masih ada
Pemberontakan di daerah-daerah marak

Buruknya kondisi infrastruktur ekonomi,


fisik, dan non fisik sepeninggalan Jepang.
Ilustrasi buruknya perekonomian masa
Orde Lama :
1951 1958 Sempat mengalami pertumbuhan rata-rata 7%

1958 1966 Pertumbuhan turun drastis rata-rata 1,9%

1965 1966 Mengalami stagflansi

1955 1965 -Jumlah pendapatan rata-rata 151 juta rupiah


- Jumlah pengeluaran rata-rata 359 juta rupiah

1955 Defisit anggaran 14%

1965 Defisit anggaran 200%


Dinamika Perekonomian Indonesia
(1945 1965) :

Dari perkembangan Politiknya masa ini


dibagi-
bagi 3 (tiga) periode (Dumairy: 1996)
Periode 1945 1950
Periode 1950 1959 : Demokrasi terpimpin /
liberal
Periode 1959 1965 : Demokraso terpimpin
Periode Demokrasi Demokrasi
1945 - 1950 Parlementer / Terpimpin
Liberal
Struktur ekonomi masih Masa peralihan struktur Perubahan struktur
peninggalan zaman ekonomi: nasionalisasi ekonomi semakin dekat
kolonialisasi perusahan-perusahan dengan pemikiran
Belanda sosialis/ komunis
(2) PEMERINTAHAN ORBA (1966 1996)

Konsentrasi ekonomi pemerintahan ditujukan


pada peningkatan kesejahteraan masyarakat
melalui pembangunan
1966 1970, upaya-upaya pemulihan stabilitas
ekonomi, sosial dan politik terutama rehabilitasi
ekonomi
1969, Repelita I (Rencana Pembangunan lima
tahun pertama) tujuan utama: membuat
Indonesia menjadi swasembada.
Dampak awal cukup mengagumkan, laju pertumbuhan
ekonomi rata-rata 7% an (1969 1990)
1980-an :

Perubahan sistem perekonomian dari sentralisasi


(1970-an) menjadi desentralisasi
Sektor swasta semakin besar
PMA berdatangan
Pada tingkat mikro: Pembangunan tidak
terlalu berhasil
Jumlah kemiskinan absolut masih tinggi
Kesenjangan ekonomi semakin besar
PERBEDAAN ORLA & ORBA:

ORLA (1945 ORBA (1966


1965) 1996)
Orientasi Kebijakan ekonomi tertutup Ekonomi terbuka
Kebijakan orientasi sosialis/ komunis orientasi
Ekonomi kapitalis

Kemauan Politik Kondisi baru merdeka, emosi Kemauan politik kuat


(Political will) nasionalisme sangat tinggi, untuk membangun
keinginan terlihat lebih unggul ekonomi dan membuka
dimata bangsa asing, sehingga ruang yang besar bagi
proyek mercu suar sangat modal asing
marak
Stabilitas Politik & Tingkat inflansi sangat tinggi Menurunkan tingkat
Ekonomi inflansi (1966 = 500%
menjadi 1970 = 5-10%)
ORLA (1945 ORBA (1966
1965) 1996)
Sumber Daya Kualitas SDM yang baik Lebih baik dengan
Manusia sangat meningkatnya
terbatas presentasi masyarakat
yang sekolah

Kondisi Politik Situasi dunia yang baru Kondisi oil boom,


Dunia selesai Perang Dunia II berakhirnya Perang
berpengaruh negatif Vietnam dan Perang
Dingin membawa
dampak positif
(3) PEMERINTAHAN TRANSISI (1997 1998)

Pada tahun 1997 terjadi krisis nilai tukar Baht terhadap


Dollar di Thailand. Peristiwa ini kemudian menyeret
situasi krisis keuangan Asia termasuk krisis yang
melanda keuangan Indonesia.
Indonesia kemudian meminta bantuan IMF, namun
situasi semakin buruk dengan melemahnya nilai
rupiah.
Krisis di Indonesia kemudian meluas kepada masalah
tidak hanya moneter, tapi juga politik dan keamanan.
Krisis ini berujung dengan berakhirnya rezim Orba
sebagai tuntutan reformasi.
(4) PEMERINTAHAN REFORMASI
(1999 2001)

1999 : Abdurahman Wahid (Gus Dur)


terpilih
sebagai presiden
Diawal kepemimpinannya kepercayaan
investor mulai membaik
2000, kondisi mulai stabil, dilihat dari:
laju pertumbuhan hampir 5 %
Laju inflansi rendah
Suku Bunga Bank Indonesia (SBI) rendah
Gejolak politik dalam negeri
meningkat:

Pertentangan dengan elit politik


Hubungan dengan IMF memburuk
Kabinet tidak menunjukkan kinerja yang optimal
Dituding tidak adanya sense of crisis

2001, indikator ekonomi memburuk:


IHSG : memperlihatkan tren negatif (merosot 300 poin)
Kurs Rupiah Rp 2000 menjadi Rp 7.000, bahkan tahun
2001 mencapai Rp 10.000
Cadangan devisa menurun dari US$ 29 Milyar menjadi
28,87 Milyar US$
2001 = Gusdur Dimisioner
Krisis Keuangan Indonesia Tahun
1998
Penyebab Krisis Keuangan
Eksternal
Internal
Faktor Eksternal

Hongkong

Indonesia

Thailand

Krisis di Asia

Filipina

Korea
Selatan
Eksternal
Krisis finansial di Thailand pada 2 Juli 1997. Perusahaan Thailang gagal
bayar hutang kepada bank-bank Jepang. Bulan Januari 1998, Baht
jatuh ke titik terendahnya: 56 Baht per US$ 2 Juli 1997, sejak 1985
dipatok pada harga 25 Baht per US$.

Pada 3 Juli 1997, bank sentral Filipina menaikkan suku bunga dari 15%
ke 24% pada satu malam saja.

Krisis menjalar ke Hong Kong. Pada 15 Agustus 1997 seperti yang


terjadi di Filipina, suku bunga Hong Kong naik dari 8 persen ke 23
persen dalam waktu yang sangat singkat. Pasar modal Hong Kong
menjadi tak stabil, antara 20 sampai 23 Oktober, Index Hang Seng
jatuh hingga 23%.
Korea Selatan menerima imbas krisis Thailand.
Bursa efek Seoul jatuh sebesar 4% pada 7
November 1997. Sehari kemudian, bursa jatuh
kembali hingga mencapai angka 7%.
Malaysia mengalami defisit anggaran hingga 6
persen. Pada bulan Juli 1997, Ringgit Malaysia
diserang oleh para spekulator. Pada 28 Agustus
1997 bursa efek Kuala Lumpur jatuh 856 poin,
dan menjadi titik terendahnya sejak 1993
Internal
Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan berjangka
pendek.

Banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia.

Tidak jelasnya arah perubahan politik, maka isu tentang


pemerintahan otomatis berkembang menjadi persoalan ekonomi
pula.

Defisit neraca berjalan yang semakin membesar. Sebab utama


adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued, yang membuat
harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan
dengan produk dalam negeri.
Sistem devisa yang terlalu bebas tanpa adanya
pengawasan yang memadai sehingga arus
modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk
secara bebas berapapun jumlahnya.
Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah,
berkisar antara 2,4%(1993) hingga 5,8% (1991),
yang berada di bawah nilai tukar nyatanya,
menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif
sangat overvalued.
DAMPAK (1)
Nilai Rupiah mengalami depresiasi terhadap
Dollar AS
Nilai Rupiah mengalami
penurunan yang tajam.
Juli1997, Rp2.450 per USD
Januari 1998: Rp17. 000 per
USD
Dampak(2)
Laju inflasi yang tinggi hingga hyper inflation
Inflasi terus meningkat
Juli1997: kisaran 125
Januari 1998: kisaran 160
Maret1998: kisaran 195
Dampak(3)
Indeks Harga Saham Gabungan jatuh.
Pada tahun 1998, BEI
diperkirakan mengalami
kerugian sebesar 84%.
Dampak(4)
Meningkatnya risiko suku bunga dan nilai tukar.
Pemerintah harus membayar subsidi yang tinggi
untuk mengendalikan harga barang seperti
minyak, bahan pokok, dsb.
Pemerintah melikuidasi 16 bank bermasalah pada
akhir tahun 1997
Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
mengawasi 40 bank bermasalah mengeluarkan
Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI).
Dampak(5)

Kesulitan menutup APBN


Kepercayaan internasional menurun,
perusahaan milik Negara dan swasta banyak
yang tidak dapat membayar utang luar negeri
yang akan dan telah jatuh tempo.
Angka pemutusan hubungan kerja meningkat
karena banyak perusahaan yang melakukan
efisiensi atau menghentikan kegiatannya,
Rencana Penyelamatan oleh
IMF
IMF kemudian berusaha untuk menyelamatkan
perekonomian di Indonesia melalui paket penyelamatan
sebesar $ 43 miliar.
Paket kebijakan tersebut mengisyaratkan Indonesia untuk
menerapkan kebijakan moneter yang ketat, memotong
subsidi listrik, bahan bakar, dan makanan.
Pada bulan Oktober 1997, Indonesia menyetujui paket
kebijakan tersebut dengan menandatangani Letter of
Intent antara IMF dengan Indonesia.
IMF juga merekomendasikan Indonesia untuk
merestruktur perbankan di Indonesia
Penutupan 16 Bank
Bursa saham merugi sampai dengan 84%.
Kebijakan Suharto yang Kontradiktif dengan
Janji pada IMF

Memberikan kompensasi bagi deposan pada 16


bank yang ditutup.
Mencetak Rupiah sampai dengan lebih dari
Rp100 triliun.
Kebijakan yang paling kontroversial:
mengembangkan Currency Board System untuk
menstabilkan nilai Rupiah pada Rp5.500 per USD.
Diskusi & Analisis
Diskusi & Analisis

Floating
rate?
Currency
Board
System? Menyelamatkan
Rupiah????
Tentang Currency Board System

Currency Board System adalah suatu sistem


dengan membentuk suatu badan untuk
mengatur sistem nilai tukar, suatu mata uang
terhadap mata uang lainnya. Sistem ini berbasis
pada jumlah cadangan devisa yang dimiliki suatu
negara.
Keunggulan dan Kelemahan
CBS..(1)
Keunggulan Nilai Rupiah terhadap Dolar tetap, stabilitas nilai
tukar (kurs) dapat permanen dipertahankan.
Tetapnya nilai Rupiah memberikan kepastian
untuk menjalankan roda ekonomi
Menyelamatkan perusahaan-perusahaan di
Indonesia diterpa badai kebangkrutan, karena
itu perlu nilai Rupiah 5.000,00 s/d 6.000,00 per
Dolarnya.
Keunggulan dan Kelemahan
CBS..(2)
Ada keharusan memiliki cadangan devisa yang tangguh.
Kelemahan
Sampai akhir tahun1997, Indonesia memiliki cadangan devisa
sebesar US$ 18,2 milyar. Jumlah tersebut dinilai begitu rapuh
dengan perhitungan:
Dengan peredaran mata uang sebesar Rp 46 triliun dan
penetapan kurs Rp5.000 per USD, maka cadangan devisa
yang tersisa:
US$18,2 milyar (Rp46 triliun/Rp5.000 per USD) =
US$ 9 milyar
Tidak mencerminkan nilai Rupiah yang sebenarnya.
Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter menjadi tidak
relevan.
Yang diuntungkan dari sistem CBS adalah pihak Presiden Suharto
dan kroni-kroninya korupsi, kolusi, dan nepotisme akan terus
berjalan.