Anda di halaman 1dari 51

T.

Arsono, SE, Ak, MM, LLM (Tax Law)


AMADEA KILLA INDONESIA
Registered Tax Attorney & Consulting Firm
Because Tax is Matter of Justice
arsono_leuven@yahoo.co.id
Cell : + 62 0813 1511 5277
Comparative Income Taxation; Hugh J. Ault & Brian J. Arnold,
Wolters Kluwer, Aspen Publisher
International Tax Premier, Brian J. Arnold & Michael J.
McIntyre, Kluwer Law International
International Tax as International Law, Reuven A Avi Yonah,
Cambridge Tax Law Series
Value Added Taxes, Ben Terra
1. Pengertian Perpajakan Internasional
2. Double taxation
3. OECD Model dan UN Model
4. Struktur P3B
5. Busines profits
6. Passive income
7. Capital gains
8. Other income
IBFD Internasional Tax Glossary 5th ED.2005:
Traditionally refers to treaty provision
relieving internasional double taxation
In broader terms, it includes domestic
legislation covering foreign income of
residents (worlwide income) and domestic
income of non residents.
Brian Arnold, International Tax Primer, 1995:
the international aspects of the income tax
laws of particular countries.
Perpajakan International Indonesia:
Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan dan aturan-aturan
pelaksanannya:
Peraturan Pemerintah,

Peraturan Menteri Keuangan,

Peraturan Dirjen Pajak,

Yang mengatur perlakuan pajak atas:

Penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diperoleh


Subyek Pajak luar negeri, dan
Penghasilan yang diperoleh Subyek Pajak dalam negeri

Termasuk tax treaty antara Indonesia dengan 58 negara mitra


(per 1 Januari 2008).
Perpajakan internasional Indonesia dalam
Undang Undang Pajak Penghasilan:

Menghitung PPh terutang Pasal 16,


Pasal 17, dan
Pasal 26
Kredit Pajak Luar Negeri Pasal 24
Anti Penghindaran Pajak Pasal 18
Tax Treaty Pasal 32A
1) Amin, WNI, bertempat-tinggal di Tomang, mendapatkan penghasilan
sebesar Rp 100 miliar dari usaha dagangnya di Jakarta
2) John Dowse, Australia, bertempat tinggal di Kemang Selatan
mendapatkan penghasilan bunga dari ANZ Bank di Sydney sebesar AUD$
500,000 .-
3) Rani, WNI, bertempat-tinggal di Singapura, memperoleh gaji sebesar SIN$
250,000 dari perusahaan tempatnya bekerja di Singapura
4) Robin van Persie (Belanda), bertempat tinggal di Manchester (UK),
mendapatkan penghasilan bunga dari Bank BNI, Jakarta, sebesar US$ 10
juta
5) ABC Ltd, (Malaysia) mendapatkan penghasilan royalty sebesar US$ 10 juta
dari PT. ABC (Jakarta) untuk pemakaian formula obat selalu bahagia
6) PT. ABC, didirikan di Jakarta, berkantor di Singapore, memperoleh
penghasilan dividen dari XYZ Ltd (USA) sebesar US$ 50 juta
7) XYZ Pte Ltd, (Singapore), memperoleh pembayaran atas penjualan bus
berbahan bakar gas dari PT. Transport Umum sebesar US$ 100 juta
RESIDENCE
PRINCIPLES

2 3
LUAR NEGERI

PERPAJAKAN EXTRA
INTERNATIONAL TERRITORIAL
PENGHASILAN

1 4
DALAM NEGERI

PERPAJAKAN PERPAJAKAN
DOMESTIK INTERNATIONAL
SOURCE
PRINCIPLES

SUBYEK PAJAK
DALAM NEGERI LUAR NEGERI
Latar Belakang:
1. Pengenaan pajak di banyak negara dengan menerapkan
sistem perpajakan yang hampir seragam,
2. Globalisasi dan Liberalisasi ekonomi.

Pengertian Pajak Berganda:


o Konsep ekonomi vs. Konsep juridis
o Geografi: domestik vs. international
1. Economic double taxation:
pengenaan pajak oleh negara/jurisdiksi lebih dari
sekali atas suatu pengasilan.
Contoh:
a. Double taxation pada penghasilan seorang karyawan
Ingat rumus ekonomi: Yd(penghasilan) = C (kosumen) + S (tabungan)
1) Pajak dikenakan saat penghasilan diperoleh
(Yd = Y Tax ) Pajak Penghasilan, dan
2) Pajak dikenakan lagi saat penghasilan di
konsumsi
Pajak konsumsi (dengan nama PPN/VAT/GST)
b. Double taxation atas laba perseroan terbatas
1) Pajak dikenakan di tingkat perseroan PPh
atas laba perseroan, dan
2) Pajak dikenakan lagi pada tingkat pemegang
saham PPh atas dividen.
2. Juridical double taxation:
Pengenaan pajak oleh dua negara/juridiksi atas penghasilan
yang secara juridis sama jenisnya. Menurut konsep juridis,
contoh 1.a dan 1.b tidak terjadi pengenaan pajak berganda.
3. Domestic double taxation:
Pengenaan pajak oleh dua jurisdiksi di dalam negara yang
sama atas suatu penghasilan (ekonomi atau juridis) yang
sama.
4. International double taxation:
Pengenaan pajak oleh dua negara atas suatu penghasilan
(ekonomi atau juridis) yang sama.
Juridical & Internasional: Juridical & Domestik:
Fakta:
PT. ABC di Indonesia membayar dan membiayakan royalti Rp. 1
Miliar kepada perusahaan afiliasi Waseda Corp.
Waseda Corp. mencatat royalti sebagai penghasilan dan terutang
pajak di Jepang.
Pemeriksaan Pajak Indonesia:
Memperoleh bukti bahwa PT, ABC terlalu besar membebankan
royalti yang seharusnya hanya Rp 400 juta (transfer pricing).
Laba fiskal PT. ABC dikoreksi Rp. 600 juta dan dipajaki.
Terjadi Double Taxation, karena:
Laba usaha PT. ABC dipajaki menjadi lebih besar Rp. 600 juta.
Penghasilan royalti Waseda Corp dipajaki terlalu besar Rp. 600
juta.
Konflik penyebab Double Taxation
Penerapan undang-undang perpajakan atas penghasilan
yang timbul dari transaksi internasional menyebabkan
terjadinya pengenaan pajak berganda.
1. Konflik penerapan azaz pemajakan:
Azas Residensi Vs. Azas Sumber
Azas Residensi Vs. Azas Residensi
Azas Sumber Vs. Azas Sumber
2. Perbedaan karakteristik penghasilan menurut undang-
undang.
Residence-Source Conflict
Pajak berganda terjadi karena UU suatu negara
mengenakan pajak berdasarkan azas sumber dan UU
negara yang lain menerapkan azas Resindensi.
Residence-Residence Conflict
Pajak berganda terjadi karena UU mengenakan pajak
kepada residen yang diklaim oleh kedua negara sebagai
subjek pajak dalam negeri. UU kedua negara menerapkan
azas residensi.
Source-Source Conflict
Pajak berganda terjadi akibat dua UU mengenakan pajak
atas penghasilan yang diklaim oleh kedua negara
bersumber di negaranya. Kedua jurisdiksi menerapkan
source principle.
To eliminate double taxation:
1. Ketentuan pajak domestik (Unilateral),
2. Tax Treaty (Bilateral)
3. Prosedur Perjanjian Bersama (Mutual
Agreement Procedures/MAP)
4. Arbitrase
Dengan cara:
1. Mengecualikan orang/badan dari Subjek Pajak,
2. Mengecualikan penghasilan dari Objek Pajak,
3. Menerapkan tarif preferensial untuk
subjek/objek pajak tertentu,
4. Menerapkan metode penghilangan pajak
berganda (deduction, exemption, credit), dll.

Tidak Sempurna, karena:


1. Metode penghilangan pajak berganda hanya
tersedia bagi WP dalam negeri, dan
2. UU tidak dapat menyelesaikan kasus dual
residence.
1. Penyelesaian kasus Dual Residence dengan
menyediakan Tie Breaker Rule,
2. Membagi hak pemajakan (Distributive Rules),
3. Penyelesaian pajak berganda akibat koreksi
karena transfer pricing dengan Corresponding
Adjustment,
4. Penentuan metode penghilangan pajak
berganda (metode kredit atau deduksi),
5. Mewajibkan Competent Authority menyelesaikan
6. Penerapan P3B yang tidak sebagaimana
mestinya melalui MAP, bila diminta oleh WP.
Deduction Method:
pajak yang dikenakan di luar negeri mengurangi
penghasilan yang diperoleh dari luar negeri
sebelum digabung dengan penghasilan dari
dalam negeri.
Exemption Method:
penghasilan dari luar negeri tidak diperhitungkan
saat menghitung pajak terutang di dalam negeri.
Credit Method:
pajak yang dikenakan di luar negeri
diperhitungkan dengan pajak atas seluruh
penghasilan.
Ali memperoleh penghasilan neto dari dalam negeri
Rp 50 miliar dan dari luar negeri Rp 30 miliar
(dikenakan pajak di luar negeri 40%, yaitu Rp 12
miliar)
Hitunglah:
1. Total beban pajak Ali secara keseluruhan
2. Tarif pajak efektif yang ditanggung Ali
Apabila:
Di dalam negeri pengenaan pajak menerapkan
prinsip worldwide income dan tarif tunggal 30% dan
(i) tidak ada penghilangan pajak berganda, (ii)
deduction method, (iii) exemption method, dan (iv)
full credit method
No Relief Deduction Exemption Full Credit
Method Method Method

Penghasilan Neto DN 50 M 50 M 50 M 50 M
Penghasilan Neto LN 30 M 18 M --- 30 M
Total Penghasilan 80 M 68 M 50 M 80 M
Neto

PPh (30%) 24 M 20.4 M 15 M 24 M


(-) Kredit Pajak LN --- --- --- (12) M
Pajak di dalam Negeri 24 M 20.4 M 15 M 12 M
Total Pajak (DN & LN) 36 M 32.4 M 27 M 24 M
Tarif Pajak Efektif 45% 40.5% 33.75% 30%
Model-model P3B:
1. OECD Model
2. UN Model
Negara-negara memiliki model P3B yang
digunakan sebagai acuan untuk melakukan
perundingan pembentukan/renegosiasi P3B
dengan negara lain.
OECD/UN Model digunakan sebagai acuan oleh
negara-negara agar tersedia landasan yang
seragam dalam menyusun perjanjian.
Meskipun Indonesia adalah negara berkembang,
Indonesia dapat menggunakan OECD Model dan
tidak selalu harus menggunakan UN Model.
Pasal 5 Bentuk Usaha Tetap

UN Model OECD Model


Time test untuk proyek
12 bulan
konstruksi atau instalasi ? 6
bulan Tidak menjadi BUT
Time test untuk pemberian jasa
>6 bulan Tidak Ada BUT Asuransi
Ada BUT Asuransi
Pasal 7 Business Profits

UN Model OECD Model


Untuk menghitung laba usaha yang
dapat dipajaki di negara sumber NO FORCE ATTRACTION
ada ketentuan
Force of attraction
Dalam pasal 7 ayat (1) huruf b dan
c
Pasal 8 Shipping, Inland Waterways and Air Transport

UN Model OECD Model


Punya dua model: Hak pemajakan ada pada
Model A: seperti OECD Model negara dimana tempat
kedudukan manajemen dari
perusahaan berada.
Model B:
Negara sumber dapat
mengenakan pajak
Ketentuan-ketentuan di dalam P3B dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Ruang Lingkup (Scope)
2. Definisi
3. Substansi (pembagian hak pemajakan atas
penghasilan)
4. Anti penghindaran pajak
5. Metode menghilangkan pajak berganda
6. Lain-lain
PASAL JUDUL JENIS
1 Personal Scope Scope
2 Taxes Covered Scope
3 General Definitions Definisi
4 Resident Definisi
5 Permanent Establishment Definisi
6 Immovable Property Substansi
7 Business Profits Substansi
8 Shipping Substansi
9 Associated Enterprise Anti-Avoidance
10 Dividend Substansi
11 Interest Substansi
12 Royalties Substansi
13 Capital Gain Substansi
14 (Indepentedent Personal Services) Substansi
15 Dependent Personal Services Substansi
16 Directors Substansi
PASAL JUDUL JENIS
17 Artistes & Sportsmen Substansi
18 Pensions Substansi
19 Government Services Substansi
20 Students Substansi
21 Other Income Substansi
22 Capital Substansi
23 Elimination of Double Taxation Metode menghilangkan pajak
berganda
24 Non Discrimination Lain-lain
25 Mutual Agreement Procedure Metode menghilangkan pajak
berganda
26 Exchange of Information Anti-Avoidance
27 Diplomatis Lain-lain
28 Territorial Extension Lain-lain
29 Entry into Force Scope
30 Termination Scope
Business Profit:
Penghasilan dari menjalankan usaha (business) atau kegiatan
(activities),
Active Income: untuk memperolehnya dikeluarkan biaya,
usaha, atau pengorbanan,
Usaha dapat dilaksanakan oleh individu atau badan,
Tidak termasuk penghasilan dari hubungan pekerjaan
(employment income),
Tidak termasuk penghasilan dari modal/harta (passive
income), kecuali jika modal/harta tersebut mempunyai
hubungan efektif dengan tempat usaha.
Article 7 Business Profits OECD Model:
(1) The profits of an enterprise of a Contracting
State shall be taxable only in that State unless
the enterprise carries on business in the other
Contracting State through a permanent
establishment situated therein. If the enterprise
carries on business as aforesaid, the profits of
the enterprise may be taxed in the other State
but only so much of them as is attributable to
that permanent establishment.
Apa maksud ayat (1) tersebut?
Article 7 para.l OECD
Model The profits of an 1. Laba suatu
enterprise of a perusahaan
Contracting State shall be dikenakan pajak
taxable only in that hanya di
State unless the negaranya. (Hak
enterprise carries on eksklusif Negara
business in the other Domisili)
Contracting State 2. Tidak eksklusif
through a permanent lagi, bila
establishment situated perusahaan
therein.... menjalankan
usaha melalui BUT
di negara lain.
3. Apakah ada BUT?
Article 10 Dividend OECD Model
Para.l: Hak pemajakan negara domisili tidak
dibatasi
Para.2: Hak pemajakan negara sumber dibatasi.
Para.3: Definisi dividend
Para.4: Ketentuan para.l dan 2 tidak berlaku bila
bila penerima dividen mempunyai BUTyang
mempunyai hubungan efektif dengan penyertaan.
Para 5: Melarang suatu negara mengenakan pajak
atas dividen yang dibayarkan oleh perusahaan
negara lain yang memperoleh laba dari suatu
negara itu dan melarang mengenakan pajak atas
laba yang belum dibagi.
Article 10 Dividend OECD Model:
1. Dividends paid by a company which is a resident of a Contracting State to a
resident of the other Contracting State may be taxed in that other State.
2. However, such dividends may also be taxed in the Contracting State of which the
company paying the dividends is a resident and according to the laws of that State,
but if the beneficial owner of the dividends is a resident of the other Contracting
State, the tax so charged shall not exceed:
a) 5 per cent of the gross amount of the dividends if the beneficial owner is a
company (other than a partnership) which holds directly at least 25 per cent of
the capital of the company paying the dividends;
b) 15 per cent of the gross amount of the dividends in all other cases.
The competent authorities of the Contracting States shall by mutual agreement
settle the mode of application of these limitations.
This paragraph shall not affect the taxation of the company in respect of the
profits out of which the dividends are paid.
3. The term "dividends" as used in this Article means income from shares,
"jouissance" shares or "jouissance" rights, mining shares, founders' shares or other
rights, not being debt-claims, participating in profits, as well as income from other
corporate rights which is subjected to the same taxation treatment as income from
shares by the laws of the State of which the company making the distribution is a
resident.
4. ...
Article 11 Interest OECD Model
Para.l, 2, 3 dan 4 sama dengan Article 10 OECD Model
Para.5: Sumber Penghasilan Interest yaitu:
negara tempat pihak yang melakukan pembayaran,
Negara tempat BUT berada, apabila bunga terjadi atas
hutang pada BUT dan bunga ditanggung oleh BUT.
Para.6: untuk pembayaran bunga yang melampaui kewajaran
karena hubungan istimewa, maka perlakuan atasjumlah
yang melebihi kewajaran sesuai ketentuan domestik di
negara sumber.
Article 11 Interest OECD Model:
1. Interest arising in a Contracting State and paid to a resident of the other
Contracting State may be taxed in that other State.
2. However, such interest may also be taxed in the Contracting State in which it
arises and according to the laws of that State, but if the beneficial owner of the
interest is a resident of the other Contracting State, the tax so charged shall not
exceed 10 per cent of the gross amount of the interest. The competent
authorities of the Contracting States shall by mutual agreement settle the mode
of application of this limitation.
3. The term "interest" as used in this Article means income from debt-claims of
every kind, whether or not secured by mortgage and whether or not carrying a
right to participate in the debtor's profits, and in particular, income from
government securities and income from bonds or debentures, including
premiums and prizes attaching to such securities, bonds or debentures. Penalty
charges for late payment shall not be regarded as interest for the purpose of this
Article.
4. ...
Article 12 Royalties OECD Model
Para.l: Hak pemajakan eksklusif negara domisili.
Para.2: Definisi royalties.
Para.3: Ketentuan para.l tidak berlaku bila bila
penerima dividen mempunyai BUT yang mempunyai
hubungan efektif dengan penyertaan.
Para.4: untuk pembayaran royalti yang melampaui
kewajaran karena hubungan istimewa, maka
perlakuan atas jumlah yang melebihi kewajaran sesuai
ketentuan domestik di negara sumber.
1. Royalties arising in a Contracting State and beneficially
owned by a resident of the other Contracting State shall be
taxable only in that other State.
2. The term "royalties" as used in this Article means
payments of any kind received as a consideration for the use
of, or the right to use, any copyright of literary, artistic or
scientific work including cinematograph films, any patent,
trade mark, design or model, plan, secret formula or
process, or for information concerning industrial,
commercial or scientific experience.
Prinsip:
Negara sumber mempunyai hak prioritas mengenakan
pajak atas capital gain.
P3B dapat membatasi pengenaan pajak di negara sumber.
Ruang lingkup Article 13 adalah pembagian hak pemajakan
atas capital gain yang dapat timbul dari pengalihan:
Harta tidak bergerak (immovable properties)
Harta bergerak yang menjadi bagian dari harta BUT,
Kapal atau pesawat udara yang dioperasikan di jalur
internasional,
Saham perusahaan,
Harta lainnya
Struktur Article 13 OECD Model: Ayat 1:
Pajak atas capital gain dari pengalihan harta tidak bergerak (Negara sumber
mempunyai hak prioritas).
Ayat 2:
Pajak atas capital gain dari harta suatu BUT (Negara sumber mempunyai hak
utama).
Ayat 3:
Pajak atas capital gain dari kapal dan pesawat udara dalam transportasi di jalur
internaslonal, termasuk harta yang terkait dengan pengoperasiannya: negara
tempat efektif manajemen mempunyai hak pemajakan eksklusif)
Ayat 4 (sejak tahun 2003):
Keuntungan dari pengalihan saham yang lebih dari 50% nilai perusahaannya terdiri
dari harta tak bergerak, dapat dikenakan pajak di negara dimana harta tak bergerak
tersebut berada.
Ayat 5:
Keuntungan lainnya dikenakan pajak di negara pihak yang mengalihkan merupakan
SPDN
Article 13 Capital Gains OECD Model:
1. Gains derived by a resident of a Contracting State from the alienation of
immovable property referred to in Article 6 and situated in the other
Contracting State may be taxed in that other State.
2. Gains from the alienation of movable property forming part of the
business property of a permanent establishment which a n enterprise of a
Contracting State has in the other Contracting State, including such gains
from the alienation of such a permanent establishment (alone or with the
whole enterprise), may be taxed in that other State.
3. Gains from the alienation of ships or aircraft operated in international
traffic, boats engaged in inland waterways transport or movable property
pertaining to the operation of such ships, aircraft or boats, shall be
taxable only in the Contracting State in which the place of effective
management of the enterprise is situated.
4. Gains derived by a resident of a Contracting State from the alienation of
shares deriving more than 50 per cent of their value directly or indirectly
from immovable property situated in the other Contracting State may be
taxed in that other State.
5. Gains from the alienation of any property, other than that referred to in
paragraphs 1,2,3 and 4, shall be taxable only in the Contracting State of
which the alienator is a resident.
1. Penghasilan lain yang tidak diatur dalam pasal-pasal
sebelumnya, dipajaki di negara domisili.
2. Penghasilan dapat dipajaki di negara sumber apabila:
a.penerima penghasilan menjalankan usaha melalui
suatu BUT di negara sumber, dan
b. harta yang menimbulkan penghasilan
mempunyai hubungan efektif dengan BUT.
Article 21 Other Income OECD Model:
1. Items of income of a resident of a Contracting State,
wherever arising, not dealt with in the foregoing Articles
of this Convention shall be taxable only in that State.
2. The provisions of paragraph 1 shall not apply to income,
other than income from immovable property as defined
in paragraph 2 of Article 6, if the recipient of such
income, being a resident of a Contracting State, carries on
business in the other Contracting State through a
permanent establishment situated therein and the right or
property in respect of which the income is paid is
effectively connected with such permanent establishment.
In such case the provisions of Article 7 shall apply.
SELESAI