Anda di halaman 1dari 9

Bandung Lautan Api

Nama : M.AUJI QHAMARULARIFIN


Kelas : XI MIA 8
Matapelajaran : Sejarah Indonesia
Apa Itu Bandung Lautan Api?
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran
besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat,
Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam,
sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah
mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah
selatan Bandung. Bandung Lautan Api merupakan adalah
sebuah sebutan untuk perisiwa terbakarnya kota Bandung,
Provinsi Jawa Barat, Indonesia dalam upaya mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Pembakaran ini dilakukan oleh
penduduk Bandung sebagai bentuk tanggapan atas ultimatum
oleh sekutu yang memerintahkan untuk mengosongkan
Bandung.
Di Mana Bandung Lautan Api Terjadi?
Terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia
Kapan Peristiwa Bandung Lautan Api
Terjadi?
Pada tanggal 23 dan 24 Maret 1946 mereka meninggalkan
kota Bandung yang telah menjadi lautan api.
Siapa Saja yang Terlibat Pada Peristiwa
Bandung Lautan Api
Sementara itu, benteng NICA yang terletak di Dayeuh Kolot,
Bandung Selatan dikepung oleh para pejuang Bandung sebagai
taktik menghancurkan daerah itu. Dalam pertempuran itu,
seorang pemuda yang bernama Toha siap berjibaku untuk
menghancurkan gudang mesiu dengan membawa alat peledak.
Toha menyelundup dan meledakkan diri sehingga hancurlah
gudang mesiu milik NICA. Toha gugur dalam menjalankan
tugasnya untuk bangsa dan Negara. Peristiwa tersebut difilmkan
dengan judul Toha Pahlawan Bandung Selatan. Sebagai peringatan
kejadian ini juga telah dibangun tugu Bandung lautan api. Nama
Mohamad Ramdan dan Mohamad Toha diabadikan menjadi nama
jalan di Pusat Kota Bandung. Monumen Bandung Lautan Api
dibangun di Tegalega.
Istilah di bumi hanguskannya Bandung kala itu yang kemudian
menjadi populer, dan diciptakannya lagu untuk mengenang
peristiwa tersebut.
Mengapa Bandung Lautan Api Bisa
Terjadi?
Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi karena pasukan
Inggris mulai memasuki kota Bandung sejak pertengahan bulan
Oktober 1945. Di Bandung, pasukan Inggris dan NICA
melakukan teror terhadap rakyat sehingga mengakibatkan
terjadinya pertempuran. Menjelang bulan November 1945,
pasukan NICA semakin merajalela di Bandung. Setelah masuknya
tentara Inggris yang berasal dari satuan NICA memanfaatkannya
untuk mengembalikan kekuasaannya atas kota Bandung. Hal ini
menyebabkan semangat juang rakyat dan para pemuda yang
tergabung dalam TKR dan badan-badan perjuangan lainnya
semakin berkobar.
Pertempuran besar dan kecil terus berlangsung di Bandung.
Malapetaka lain juga terjadi di Bandung, yaitu dengan
jebolnya bendungan Sungai Cikapundung yang menimbulkan
bencana banjir besar di kota Bandung. Peristiwa itu terjadi
pada malam hari tanggal 25 November 1945. Pada saat itu
kota Bandung dibagi menjadi dua, yaitu pasukan Sekutu
menduduki daerah Bandung Utara dan Bandung Selatan
menjadi daerah Republik Indonesia. Jebolnya tanggul sungai
itu dikaitkan dengan aksi teror yang dilakukan oleh NICA
sehingga menimbulkan amarah rakyat dan mereka melakukan
aksi pembalasan.
Bagaimana Awal Mula Istilah Bandung
Lautan Api?
Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah
peristiwa pembumihangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution
adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang
Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan
Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan
terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris
tersebut.
"Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu.
Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu,
berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana,
Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, Mari kita
bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.Yang dia sebut lautan api,
tetapi sebenarnya lautan air."-A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara
Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda
saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan
pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar
Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat
Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan
bersemangat segera menulis berita dan memberi judul
"Bandoeng Djadi Laoetan Api". Namun karena kurangnya ruang
untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek
menjadi "Bandoeng Laoetan Api".