Anda di halaman 1dari 62

Baku Hantam Berakhir Maut

Pemicu 4
Etika & Hukum Kedokteran
Maxi
Learning Objectives
1. MM kematian secara medis.
2. MM kematian secara forensik.
3. MM surat keterangan kematian.
4. MM cara kematian, sebab kematian, mekanisme
kematian, perkiraan waktu kematian, proses kematian.
5. MM pemeriksaan luar mayat.
6. MM autopsi.
7. MM penanganan lanjutan.
8. MM kategori kematian pada pasien.
MM kematian secara medis.

LO 1
Kategori Kematian
Mati somatis (mati klinis) : terhentinya fungsi ketiga
sistem penunjang kehidupan (saraf pusat, sistem KV,
sistem pernapasan) yang menetap/irreversible. Secara
klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG datar, nadi
tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada
gerak pernapasan, suara napas tidak terdengar.
Mati suri : terhentinya ketiga sistem kehidupan, yang
ditentukan dengan alat kedokteran sederhana.
Dengan peralatan canggih ketiga sistem masih dapat
berfungsi.
Kategori Kematian
Mati seluler (mati molekular) : kematian organ atau
jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah
kematian somatis.
Mati serebral : kerusakan kedua hemisfer otak yang
ireversible kecuali batang otak dan serebelum, kedua
sistem lainnya masih berfungsi dengan bantuan alat.
Mati batang otak : kerusakan seluruh isi neuronal
intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak
dan serebelum
Tanda Kematian Tidak Pasti
Pernafasan berhenti, dinilai selama >10 menit
Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi
karotis tidak teraba
Kulit pucat
Tonus otot menghilang dan relaksasi
Pembuluh darah retina mengalami segmentasi
beberapa menit setelah kemarian
Pengeringan kornea keruh dalam waktu 10
menit yang masih dapat dihilangkan dengan air
Tanda Kematian Pasti
Lebam mayat (livor mortis)
Kaku mayat (rigor mortis)
Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Adiposera (lilin mayat)
Mummifikasi
MM kematian secara forensik.

LO 2
Cara Kematian
Wajar (natural death) = kematian korban oleh
karena penyakit bukan karena kekerasan atau
rudapaksa.
Tidak wajar (un-natural death) = kecelakaan,
bunuh diri, pembunuh.
Tidak dapat ditentukan (un-determined) =
pada keadaan mayat telah sedemikian rusak
sehingga tidak dapat dinilai lagi.
MM surat keterangan kematian.

LO 3
Surat Keterangan Meninggal
Surat keterangan untuk keperluan penguburan, perlu
dicantumkan identitas jenazah, tempat, dan waktu
meninggalnya.
Hal yang perlu diisi:
Sebab kematian sesuai dengan pengetahuan dokter.
Lamanya menderita sakit hingga meninggal dunia.
Jika jenazah dibawa ke luar daerah atau luar negeri maka adanya
kematian karena penyakit menular harus diperhatikan.
Surat kematian tidak boleh dibuat pada orang yang mati
diduga akibat peristiwa pidana tanpa pemeriksaan
kedokteran forensik terlebih dahulu.
Kematian berkaitan dgn tindak pidana harus sesuai
prosedur hukum mungkin perlu pembedahan jenazah.
MM cara kematian, sebab kematian, mekanisme kematian, perkiraan
waktu kematian, proses kematian.

LO 4
Menentukan Sebab Kematian
Pemeriksaan luar
Pemeriksaan dalam pembedahan mayat
(autopsi)
Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan toksikologis
Pemeriksaan bakteriologis
Cara Kematian
Wajar (natural death) = kematian korban oleh
karena penyakit bukan karena kekerasan atau
rudapaksa
Tidak wajar (un-natural death) = kecelakaan,
bunuh diri, pembunuh
Tidak dapat ditentukan (un-determined) =
pada keadaan mayat telah sedemikian rusak
sehingga tidak dapat dinilai lagi
Asfiksia
Keadaan yang ditandai dengan terjadinya
gangguan pertukaran udara pernapasan,
mengakibatkan O2 darah berkurang (hipoksia)
disertai dengan peningkatan CO2
(hiperkapnea).
Penyebab asfiksia :
Alami
Trauma mekanik
Keracunan
Asfiksia Mekanik
Mati lemas yang terjadi saat udara pernapasan terhalang
memasuki saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan,
misalnya:
Penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas
Pembekapan (smothering)
Penyumbatan (gagging dan choking)
Penekanan dinding saluran pernapasan
Penjeratan (strangulation)
Pencekikan ( manual strangulation, throttling)
Gantung (hanging)
Penekanan dinding dada dari luar (asfiksia traumatik)
Saluran pernapasan terisi air (tenggelam, drowning)
Asfiksia Mekanik
Gejala asfiksia dibedakan dalam 4 fase :
Fase dispnea
Fase konvulsi
Fase apnea
Fase akhir
Asfiksia Mekanik
Pemeriksaan bedah jenazah
Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer.
Busa halus dalam saluran pernapasan.
Perbendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh
organ menjadi berat, gelap, dan banyak darah saat diiris.
Petekie pada mukosa usus halus, epikardium bagian belakang
jantung, subpleura viseralis paru, kulit kepala sebelah dalam
terutama otot temporal, mukosa epiglotis, daerah subglotis.
Edema paru.
Kelainan-kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan.
Perkiraan Waktu Kematian
Perubahan mata
Kekeruhan kornea terjadi sejak 6 jam pasca mati, menjadi
keruh pada 10-12 jam.
Perubahan pada retina menunjukkan saat kematian hingga
15 jam pasca mati.
Tampak kekeruhan makula dan diskus optikus memucat
hingga 30 menit pasca mati.
Makula lebih pucat dan tepi tidak tajam pada 1 jam pasca
mati.
Retina pucat dan daerah sekitar diskus menjadi kuning pada
2 jam pertama pasca mati.
Perkiraan Waktu Kematian
Perubahan mata
Pola vaskuler koroid menjadi kabur 3 jam pasca mati, setelah
5 jam menjadi homogen dan lebih pucat.
6 jam pasca mati : diskus kabur, hanya pembuluh besar
mengalami segmentasi dengan latar belakang kuning-kelabu.
7-10 jam pasca mati : tepi retina dan batas diskus akan
sangat kabur .
12 jam pasca mati : diskus hanya dapat dikenali melalui
konvergensi bebera pembuluh darah yang tersisa.
15 jam pasca mati : tidak ditemukan gambaran pembuluh
darah retina dan diskus, makula berwarna coklat gelap.
Perkiraan Waktu Kematian
Perubahan dalam lambung
Tidak dapat menunjukkan waktu pasti antara makan terakhir dengan
saat kematian.
Dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum
meninggal telah makan makanan tertentu.
Perubahan rambut
Menggunakan kecepatan tumbuh rambut kumis dan jenggot (0,4
mm/hari). Hanya pada keadaan tertentu.
Perubahan kuku
Menggunakan kecepatan tumbuh kuku (0,1 mm/hari). Hanya pada
keadaan tertentu.
Kadar kalium dalam cairan vitreus
Akurat dalam memperkirakan saat kematian antara 24-100 jam pasca
mati.
Perkiraan Waktu Kematian
Perubahan dalam cairan serebrospinal
< 10 jam : kadar nitrogen asam amino < 14mg%
< 24 jam : kadar nitrogen non-protein < 80mg%
< 10 jam : kadar kreatin < 5mg%
< 30 jam : kadar kreatin < 10mg%
Reaksi supravital : reaksi jaringan tubuh pasca mati klinis
yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada
seseorang yang hidup
Rangsang listrik : menyebabkan kontraksi otot mayat hingga 90-
120 menit pasca mati dan menyebabkan sekresi keringat hingga
60-90 menit pasca mati.
Trauma : timbul perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca
mati.
Proses Kematian
Lebam mayat (livor mortis)
Eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat
gaya gravitasi, mengisi vena dan venula bercak
ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh kecuali
pada bagian tubuh yang tertekan alat keras.
Mulai tampak 20-30 menit pasca mati, menetap
setelah 8-12 jam.
Lebam mayat yang hilang saat penekanan dan belum
menetap kematian < 8-12 jam.
Bila diiris dan disiram air warna merah akan hilang
atau memudar.
Proses Kematian
Kaku mayat (rigor mortis)
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan
kerena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa
pemecahan cadang glikogen menjadi energi.
Dibuktikan dengan memeriksa persendian.
Mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis dimulai
dari bagian luar tubuh ke arah dalam, lengkap pada 12 jam,
dipertahankan selama 12 jam menghilang.
Faktor mempercepat : aktivitas sebelum mati, suhu tubuh
yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot otot kecil dan
suhu lingkungan tinggi.
Kekakuan pd mayat yg menyerupai kaku mayat : cadaveric
spasm, heat stiffening, cold stiffening.
Proses Kematian
Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Faktor : suhu keliling, aliran dan kelembaban
udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian
Cara pengukuran : 4-5 kali penentuan suhu rektal
dengan interval waktu yang sama (minimal 15
menit)
Proses Kematian
Pembusukan (decomposition)
Tampak pada kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan
pada perut kanan bawah menyebar ke seluruh perut dan dada,
PD bawah kulit tampak melebar dan berwarna hijau kehitaman.
Pembentukan gas di dalam tubuh bagian tubuh
membengkak/mengembung.
Telur lalat beberapa jam pasca mati menetas dalam 24 jam
pertama. Larva lalat : kira kira 36-48 jam setelah mati
identifikasi spesies lalat, panjang larva usia larva usia mati.
Faktor mempercepat : suhu keliling optimal, kelembaban dan
udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau
menderita penyakit sepsis.
Proses Kematian
Adiposera
Terbentuknya bahan yang berwarna keputihan,
lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi
di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati.
Faktor mempercepat : kelembaban dan lemak
tubuh yang cukup .
Faktor memperlambat : air yang mengalir yang
membuang elektrolit.
Proses Kematian
Mummifikasi
Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan
yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan
jaringan yang selajutnya dapat menghentikan
pembusukan.
Jaringan berubah menjadi keras dan kering
berwarna gelap, berkeript dan tidak membusuk.
Faktor : suhu hangat, kelembaban rendah, aliran
udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu
yang lama (12-14 minggu).
MM pemeriksaan luar mayat.

LO 5
Identifikasi Forensik
Upaya untuk membantu penyidik menentukan
identitas seseorang.
Identifikasi personal suatu masalah dalam
kasus pidana / perdata.
Menentukan identitas personal dengan tepat
penting dalam penyidikan karena adanya
kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses
peradilan.
Identifikasi Forensik
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi:
Pada jenazah tidak dikenal
Jenazah yang rusak
Membusuk
Hangus terbakar
Kecelakaan masal
Bencana alam
Huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal
Potongan tubuh manusia atau kerangka
Penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtua nya
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit 2 metode yang
digunakan memberikan hasil + (tidak meragukan).
Pemeriksaan Sidik Jari
Metode ini membandingkan sidik jari jenazah
dengan data sidik jari antemortem.
Merupakan pemeriksaan yang diakui paling
tinggi ketepatannya u/ menentukan identitas
seseorang.
Penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari
tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari
pembungkusan kedua tangan jenazah dengan
kantong plastik.
Metode Visual
Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan
jenazah pada orang yang merasa kehilangan anggota
keluarga / temannya.
Hanya efektif pada jenazah yang belum membusuk,
sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk
tubuhnya oleh > dari 1 org.
Hal ini perlu diperhatikan karena kemungkinan ada
faktor emosi yang turut berperan untuk
membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas
jenazah tsb.
Pemeriksaan Dokumen
Dokumen kartu identitas (KTP, SIM, Paspor)
dan sejenisnya yang kebetulan ditemukan
dalam dalam saku pakaian yang dikenakan
akan sangat membantu mengenali jenazah tsb.
Perlu diingat pada kecelakaan masal, dokumen
yang terdapat dalam tas / dompet yang berada
dekat jenazah belum tentu milik jenazah yang
bersangkutan.
Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan

Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan


jenazah, dapat diketahui merek atau nama
pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge
yang semuanya dapat membantu proses
identifikasi walaupun telah terjadi
pembusukan pada jenazah.
Khusus anggota ABRI, identifikasi dipermudah
oleh adanya nama serta NRP yg tertera pada
kalung logam yang dipakainya.
Identifikasi Medik
Metode ini menggunakan :
Data umum : TB, BB, rambut, mata, hidung, gigi
Data khusus : tatto, tahi lalat, jar parut, cacat kongenital, patah
tulang
Metode ini punya nilai tinggi karena dilakukan oleh seorang
ahli dengan berbagai cara/modifikasi (termasuk
pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga ketepatannya cukup
tinggi.
Pada tengkorak/kerangka masih dapat dilakukan metode ini.
Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin,
ras, perkiraan umur dan TB, kelainan pada tulang.
Pemeriksaan Gigi
Meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan
rahang yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan
manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang.
Odontogram memuat data tentabg jumlah,
bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dsb.
Setiap individu memiliki susunan gigi yang khas
dapat dilakukan indentifikasi dengan cara
membandingkan data temuan dengan data
pembanding antemortem.
Pemeriksaan Serologik
Untuk menentukan golongan darah jenazah.
Penentuan golongan darah pada jenazah yang
telah membusuk dilakukan dengan memeriksa
rambut, kuku dan tulang.
Metode Eksklusi
Digunakan pada kecelakaan masal yang
melibatkan sejumlah orang yg dapat diketahui
identitasnya.
Bila sebagian besar korban telah dapat dipastikan
identitasnya dengan menggunakan metode
indentifikasi yang lain, sedangkan identitas sisa
korban tidak dapat ditentukan dengan metode-
metode tersebut diatas, maka sisa korban
diindentifikasi menurut daftar penumpang.
Identifikasi Potongan Tubuh Manusia (Kasus
Mutilasi)
Untuk menentukan apakah potongan jaringan berasal dari
manusia / hewan.
Menggunakan pemeriksaan pengamatan jaringan secara
makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik berupa
reaksi Ag-Ab(reaksi presipitin), kemudian tentukan apakah
potongan tersebut dari 1 tubuh.
Penentuan juga meliputi jenis kelamin, ras, umur, TB, cacat
tubuh, penyakit yang pernah diderita, serta cara pemotongan
tubuh yang mengalami mutilasi.
Penentuan jenis kelamin ditentukan dengan pemeriksaan
makroskopik dan harus diperkuat dengan pem mikroskopik yang
bertujuan menemukan kromatin seks wanita, seperti Drumstick
pada leukosit dan badan Barr pada sel epitel serta jaringan otot.
Identifikasi Kerangka
Untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah
kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur dan
TB, ciri khusus dan deformitas dan bila memungkinkan
dilakukan rekonstruksi wajah. Juga dicari tanda kekerasan
pada tulang dan memperkirakan sebab kematian.
Perkiraan saat kematian memperhatikan kekeringan
tulang.
Metode superimposisi menumpukkan foto Rontgen
tulang tengkorak diatas foto wajah orang tersebut yang
dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut
pengambilan yang sama dicari adanya titik-titik
persamaan.
Identifikasi Kerangka
Pemeriksaan Anatomik u/ memastikan bahwa kerangka
adalah kerangka manusia.
Kesalahan penafsiran dapat timbul jika hanya terdapat sepotong
tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik/
reaksi presipitin dan histologi (jumlah dan diameter kanal-kanal
Havers).
Penentuan ras pemeriksaan antropologik pada tengkorak,
gigi geligi, tulang panggul atau lainnya.
Arkus zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama yang berbentuk
seperti sekop memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid.
Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang
panggul, tulang tengkorak, sternum, tulang panjang serta
skapula dan metakarpal.
Identifikasi Kerangka
Tulang yang diukur dalam keadaan kering lebih pendek 2mm
dari tulang yang segar, sehingga dalam menghitung TB perlu
diperhatikan.
Rata-rata TB laki-laki > wanita.
Ukuran pada tengkorak, tulang dada, dan telapak kaki juga
dapat digunakan u/ menilai TB.
Bila tidak ada individu yang dicurigai sebagai korban, maka
dapat diupayakan rekonstruksi wajah pada tengkorak
menambal tulang tengkorak tersebut dengan menggunakan
data ketebalan jaringan lunak pada berbagai titik di wajah,
yang kemudian diberitakan kepada masyarakat u/ memperoleh
masukan mengenai kemungkinan identitas kerangka tersebut.
MM autopsi.

LO 6
Autopsi
Pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi
pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan
tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya
cedera, melakukan interpretasi atau penemuan-penemuan
tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari
hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang
ditemukan dengan penyebab kematian.
Tujuan :
Menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera
Melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut
Menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab
akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan
penyebab kematian
Jenis Autopsi
Autopsi Klinik
Dilakukan terhadap mayat seseorang yang menderita
penyakit, dirawat di RS tetapi kemudian meninggal
Tujuan :
Menentukan sebab kematian yang pasti
Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama
perawatan sesuai dengan diagnosis postmodern
Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan
diagnosis klinis dan gejala-gejala klinik
Menentukan efektivitas pengobatan
Mempelajari lazim suatu proses penyakit
Pendidikan para mmahasiswa kedokteran dan para dokter
Jenis Autopsi
Autopsi Klinik
Mutlak diperlukan izin dari keluarga terdekat mayat yang
bersangkutan
Autopsi klinik lengkap
Pembukaan rongga tengkorak, dada dan perut/ panggul,
melakukan pemeriksaan terhadap seluruh alat-alat dalam/organ
Autopsi klinik parsial
Terbatas pada satu/dua organ tertentu
Needle necroscopy terhadap organ tubuh tertentu
pemeriksaan histopatologik
Jenis Autopsi
Autopsi forensik/ Autopsi medikolegal
Terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan UU
Tujuan :
Membantu penentuan identitas mayat
Menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta
memperkirakan saat kematian
Mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan
identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan
Membuat laporan tertulis yang objektif dan berdasarkan fakta dalam
bentuk visum et repertum
Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam
penentuan identitas serta penuntutan terhadap orang yang bersalah
Perlu surat Permintaan/ Pembuatan visum et repertum dari pihak
penyidik, izin keluarga tidak diperlukan
Mutlak perlu pemeriksaan lengkap
Autopsi Forensi / Autopsi Medikolegal
Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan autopsi
forensik/medikolegal adalah:
Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan
dilakukan, termasuk surat izin keluarga, surat permintaan
pemeriksaan/pembuatan visum et repertum.
Memastikan mayat yang akan diotopsi adalah mayat yang dimaksud
dalam surat tersebut.
Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya
kematian selengkap mungkin untuk membantu memberi petunjuk
pemeriksaan dan jenis pemeriksaan penunjang yang harus
dilakukan.
Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia.
Mempersiapkan format otopsi, hal ini penting untuk memudahkan
dalam pembuatan laporan otopsi.
Teknik Autopsi
Teknik Virchow
Teknik tertua
Setelah pembukaan rongga tubuh, organ-organ
dikeluarkan satu persatu dan langsung diperiksa
Kelainan masing-masing organ bisa segera dilihat, tapi
hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong
dalam satu sistm hilang
Kurang baik digunakan dalam teknik autopsi forensik,
terutama kasus penembakan dengan senjata api dan
penusukkan dengan senjata tajam (perlu penentuan
saluran luka, arah, serta dalamnya penetrasi yang terjadi)
Teknik Autopsi
Teknik Rokitansky
Setelah organ tubuh dibuka, dilihat dan diperiksa dengan melakukan
beberapa irisan in situ
Setelah itu seluruh organ dikeluarkan dalam kumpulan-kumpulan
organ (en bloc)
Jarang dipakai , tidak baik untuk autopsi forensik
Teknik Letulle
Setelah dibuka, organ leher, dada, diafragma dan perut dikeluarkan
sekaligus (en masse)
Hubungan antar organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ
dikeluarkan dari tubuh
Kerugian : sukar dilakukan tanpa pembantu, serta sukar dalam
penanganannya karena panjangnya kumpulan organ-organ yang
dikeluarkan sekaligus
Teknik Autopsi
Teknik Ghon
Setelah dibuka, organ leher dan dada, organ
pencernaan bersama hati dan limpa, organ
urogenital diangkat keluar sebagai 3 kumpulan
organ (bloc)
MM penanganan lanjutan & kategori kematian pada pasien.

LO 7 & 8
Kategori Mati Kasus Pemicu
Mati somatis (mati klinis).
UU No.36 tahun 2009
Bagian Kedelapan Belas
Bedah Mayat

Pasal 117: Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem


jantung sirkulasi dan sistem pernafasan terbukti telah
berhenti secara permanen, atau apabila kematian batang otak
telah dapat dibuktikan.
Pasal 118
(1) Mayat yang tidak dikenal harus dilakukan upaya
identifikasi.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
bertanggung jawab atas upaya identifikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya identifikasi mayat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Menteri.
UU No.36 tahun 2009
Bagian Kedelapan Belas
Bedah Mayat
Pasal 119
(1) Untuk kepentingan penelitian dan pengembangan pelayanan
kesehatan dapat dilakukan bedah mayat klinis di rumah sakit.
(2) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditujukan untuk menegakkan diagnosis dan/atau menyimpulkan
penyebab kematian.
(3) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan atas persetujuan tertulis pasien semasa hidupnya atau
persetujuan tertulis keluarga terdekat pasien.
(4) Dalam hal pasien diduga meninggal akibat penyakit yang
membahayakan masyarakat dan bedah mayat klinis mutlak
diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan/atau penyebab
kematiannya, tidak diperlukan persetujuan.
UU No.36 tahun 2009
Bagian Kedelapan Belas
Bedah Mayat
Pasal 120
(1) Untuk kepentingan pendidikan di bidang ilmu kedokteran dan biomedik
dapat dilakukan bedah mayat anatomis di rumah sakit pendidikan atau di
institusi pendidikan kedokteran.
(2) Bedah mayat anatomis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan terhadap mayat yang tidak dikenal atau mayat yang tidak diurus
oleh keluarganya, atas persetujuan tertulis orang tersebut semasa hidupnya
atau persetujuan tertulis keluarganya.
(3) Mayat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus telah diawetkan,
dipublikasikan untuk dicarikan keluarganya, dan disimpan sekurang-
kurangnya 1 (satu) bulan sejak kematiannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai bedah mayat anatomis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Menteri.
UU No.36 tahun 2009
Bagian Kedelapan Belas
Bedah Mayat
Pasal 121
(1) Bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis hanya dapat dilakukan
oleh dokter sesuai dengan keahlian dan kewenangannya.
(2) Dalam hal pada saat melakukan bedah mayat klinis dan bedah mayat
anatomis ditemukan adanya dugaan tindak pidana, tenaga kesehatan
wajib melaporkan kepada penyidik sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 122
(1) Untuk kepentingan penegakan hukum dapat dilakukan bedah mayat
forensik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Bedah mayat forensik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh dokter ahli forensik, atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter
ahli forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter ahli forensiknya
tidak dimungkinkan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas
tersedianya pelayanan bedah mayat forensik di wilayahnya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan bedah mayat forensik
diatur dengan Peraturan Menteri.
UU No.36 tahun 2009
Bagian Kedelapan Belas
Bedah Mayat
Pasal 123
(1) Pada tubuh yang telah terbukti mati batang otak dapat dilakukan
tindakan pemanfaatan organ sebagai donor untuk kepentingan
transplantasi organ.
(2) Tindakan pemanfaatan organ donor sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penentuan kematian dan
pemanfaatan organ donor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 124
Tindakan bedah mayat oleh tenaga kesehatan harus dilakukan sesuai
dengan norma agama, norma kesusilaan, dan etika profesi.
Pasal 125
Biaya pemeriksaan kesehatan terhadap korban tindak pidana dan/atau
pemeriksaan mayat untuk kepentingan hokum ditanggung oleh
pemerintah melalui APBN dan APBD.
Daftar Pustaka
Ilmu Kedokteran Forensik FKUI 1997.
Sampurna B, Samsu Z, Siswaja TD. Peranan
Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum.
Jakarta; 2008.
Terima Kasih