Anda di halaman 1dari 9

PEMBANGUNAN PERIKANAN

BERKELANJUTAN
(SUSTAINABLE DEVELOPMENT)
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Pembangunan Yang Dapat Memenuhi Kebutuhan


Generasi Sekarang Maupun Generasi Yang akan
Datang Dengan Tidak Membahayakan Sistem Alam
Yang Mendukung Semua Kehidupan
(Costanza, 1991)
Sustainable Development

SOSIAL

EKOLOGI EKONOMI

KEARIFAN LOKAL
KEARIFAN LOKAL
(indigeneous knowledge)

1. Hak-hak kepemilikan (property right)

2. Hak ulayat (territorial user right)

3. Hak-hak perolehan rakyat (entitlement)

4. Kelembagaan lokal (local institution)


Perubahan Paradigma Pembangunan
Wilayah Pesisir dan Lautan.
PARADIGMA LAMA PARADIGMA BARU

EKSKLUSI SOSIAL INKLUSI SOSIAL

ORIENTASI : ORIENTASI : PEMERATAAN DAN


PERTUMBUHAN EKONOMI KESEJAHTERAAN

FUNGSI PEMERINTAH: FUNGSI PEMERINTAH:


PROVIDER ENABLER/FASILITATOR

TATA PEMERINTAHAN: TATA PEMERINTAHAN:


SENTRALISASI DESENTRALISASI
PELAYANAN BIROKRASI: PELAYANAN BIROKRASI:
NORMATIF RESPONSIF FLEKSIBEL

PENGAMBILAN KEPUTUSAN: PENGAMBILAN KEPUTUSAN:


TOP DOWN BOTTOM UP & TOP DOWN
PARAMETER ATAU PERSYARATAN
PENGEMBANGAN KEBIJAKAN KELAUTAN
LESTARI

a). Kebijakan tersebut harus memiliki instrumen yang efektif untuk


menjalankannya (policy tools). Instrumen tersebut hendaknya
dapat diaplikasikan secara leluasa dan dan universal, serta
dapat ditegakkan secara hukum, memiliki kewenangan
administratif yang mencakup aspek insentif dan regulatif;

b). Kebijakan tersebut dapat memberikan dampak terhadap


perekonomian domestik maupun global. Artinya, kebijakan itu
mendapatkan dukungan secara nasional (khususnya level
pemerintah dan legislatif) maupun internasional;

c). Kebijakan tersebut harus efisien dan efektif secara ekonomi


dan adil (fairness), sehingga mampu mendorong pertumbuhan
dan pemerataan kesejahteraa rakyat;

d). Kebijakan itu harus mampu mendorong kemandirian rakyat


dan berlandaskan nilai-nilai luhur agama dan moralitas.
AGAR PERSYARATAN TERSEBUT
TERPENUHI, MAKA DIPERLUKAN :
a). Pendekatan pasar, yang didukung oleh instrument kebijakan yang diterapkan,
misalnya pajak, pungutan, sanksi, dan insentif serta disinsentif.
b). Pendekatan kelembagaan. Kebijakan kelautan tersebut mampu memberikan
perlindungan dan pembatasan akses terhadap sumberdaya, adanya peraturan
peundangan yang mendukungnya. Aturan yang diterapkan dalam pendekatan ini
harus dikenal dan diikuti secara baik oleh seluruh pemangku kepentingan
(stakeholder) dan memberi naungan serta konstrain terhadap mereka. Aturan ini
ditulis secara formal dan ditegakkan oleh aparat pemerintah, atau tidak ditulis
formal sampai aturan adat dan norma masyarakat serta kearifan lokal (local
wisdom). Aspek penting lainnya dari aturan tersebut adalah dapat diprediksi,
essentially stable, dan dapat diaplikasikan pada situasi berulang.
c). Pendekatan percampuran pasar dan bukan pasar, serta pendekatan
kelembagaan yang efektif dan efisien. Dengan demikian sumberdaya kelautan
akan dinilai secara wajar dan tidak undervalue, sehingga pembangunan kelautan
melakukan penilaian secara benar agar dicapai kesejahteraan yang hakiki bagi
masyarakat Indonesia serta pembangunan yang bersifat lestari.
KEBIJAKAN UMUM PEMBANGUNAN KELAUTAN
DAN PERIKANAN

1. Berorientasi pada kepentingan nasional;


2. Constraint-based development. Setiap kegiatan
pembangunan di wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan lautan
harus memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan
(sustainable development);
3. Pendekatan pembangunan berdasarkan pendekatan wilayah
terpadu (integrated regional approach);
4. Berorientasi pada pemberdayaan kelembagaan dan masyarakat
(seluruh stake holder kelautan dan perikanan);
5. Semaksimal mungkin meminimkan beban anggaran negara.
TERIMA KASIH