Anda di halaman 1dari 48

Theory formulation

A scientific theory is a deductive system in which observable consequences


logically follow from the conjunction of observed facts with the set of the
fundamental hypotheses of the system. A study of the nature of a scientific
theory is thus a study of the nature of the deductive system used in the theory.
Theory: the logical flow of argument leading from fundamental assumptions,
statements, the argument connecting the assumptions and statements to
come to conclusions, and the conclusions.
Propositions: statements emanating from a theory that are expressed in
conceptual terms.
Hypotheses: propositions that have been operationalized so that they can be
tested.
Theory formulation
Theory development:
Deductive
Inductive
Theory formulation: borrowing from the practive of natural science
Parts of a theory:
Syntactic relationship: berkaitan dengan aturan bahasa atau logika yang digunakan
Semantic relationship: menghubungkan konsep-konsep dasar dalam suatu teori
dalam dunia nyata.
Pragmatic relationship: bagaimana konsep-konsep akuntansi dan kejadian-kejadian
atau objek-objek di dunia nyata yang diwakili memengaruhi perilaku orang.
Testing a theory
Criteria of truth:
Dogmatic bias: benar karena dinyatakan oleh otoritas
Self-evident bias: the reasonableness, sensibility or obviousness of a
statement based on our general knowledge, experience and observation
Scientific bias
Syntactic rules: logika dalam teori valid
Induction: bukti empiris untuk generalisasi
Generalisasi dapat diterima bila:
Jumlah pernyataan observasi yang membentuk generalisasi harus cukup besar
Observasi-observasi ini harus diulangi dalam berbagai kemungkinan kondisi
Tidak ada pernyataan observasi yang diterima bertentangan dengan aturan universal
yang diturunkan.
Metodologi riset (Abdel-Khalik dan
Ajinkya)
Persoalan metode ilmiah
Kant memandang bahwa
observasi merupakan aktivitas
interpretative: kita
menginterpretasikan
pengalaman kita tentang
dunia dalam kerangka kerja
kultural dan individual
Dalam induction, istilah-istilah
yang digunakan sangat kabur,
seperti sufficiently large
atau a wide variety of
conditions
Karl Poppers Falsification
Upaya ilmiah adalah pengujian trial-and-error atas hipotesis spekulatif
yang tidak pernah dapat dibuktikan benar secara absolut tetapi dapat
ditolak ketika ditunjukkan salah.
Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk pernyataan yang dapat
disanggah atau ditunjukkan kesalahannya.
A good theory is not one that is false, nor is it necessarily one that is
true
Imre Lakatoss research program
Scientific theory consists of negative heuristic and positive heuristic.
The negative heuristic is the hard core of the research program
stipulates the basic assumptions of science. It is not subject to
falsification.
The positive heuristic surrounds the core and forms a protective belt
of auxiliary hypotheses. Methodology within a research program
consists of modifying and expanding the protective belt.
Progressive research program versus degenerating program
Kuhnian paradigms or disciplinary
matrices
Feyerabends approach
No single scientific way of getting ideas: they can arise from many
intellectual pursuits which, in the extreme, could even include
witchcraft and magic.
Anything goes
TEORI AKUNTANSI 2
AKUNTANSI DAN PENALARAN
Teori akuntansi sebagai penalaran logis
Perspektif teori akuntansi
Unsur dan struktur penalaran
Asersi
Argumen
Kecohan (Fallacy)
Aspek manusia dalam penalaran
Penalaran logis dan praktik
akuntansi
Penalaran logis melalui
proses perekayasaan
Dituangkan dalam bentuk

Kerangka konseptual (a
set of broad principles, a
body of doctrine, atau a
Mengevaluasi dan structure of interrelated Memengaruhi dan
membenarkan ideas) mengembangkan

Praktik akuntansi Praktik akuntansi

berjalan Masa depan


Perspektif teori akuntansi
Aspek sasaran teori
Masalah fakta (menjelaskan): positive, constructive (interpretive dan critical)
Masalah nilai (normative)
Aspek sasaran semiotika (akuntansi sebagai bahasa)
Sintaktika (aspek formal tanda bahasa, seperti kosa kata dan tata bahasa)
Semantika (aspek isi tanda bahasa atau makna)
Pragmatika (aspek keefektifan tanda bahasa)
Penalaran
Deduktif
Induktif
Teori akuntansi semantik
Berkaitan dengan konsep representational faithfulness
Teori ini banyak membahas:
Makna elemen (obyek)
Pengidentifikasian atribut atau karakteristik elemen
Pengukuran (penentuan jumlah rupiah) elemen
Hubungan antar elemen
Contoh aspek yang dibahas
Control versus ownership dalam definisi asset
Definisi laba (income)
Teori akuntansi sintaktik
Bagaimana transaksi bisnis dapat dilaporkan dalam laporan keuangan
Membahas pula hubungan struktural antar elemen laporan keuangan
Manajemen
Entitas pelaporan
Pemakai informasi
Sistem akuntansi
Pedoman penyusunan laporan
Teori akuntansi pragmatik
Teori yang berfokus pada pengaruh informasi terhadap perubahan
perilaku pemakai laporan
Decision usefulness menjadi faktor yang mendasari
Konsep penalaran 1
Nickerson (1986): reasoning encompasses many of the processes we use to
form and evaluate beliefs beliefs about the world, about people, about
the truth or falsify of claims we encounter or make. It involves the
production and evaluation of arguments, the making of inferences and the
drawing of conclusions, the generation and testing of hypotheses. It
requires both deduction and induction, both analysis and synthesis, and
both criticality and creativity.
Unsur dan struktur penalaran:
Asersi (assertion)
Argumen (argument)
Keyakinan (belief)
Kosep penalaran 2
Konsep penalaran 3
Asersi
Asersi (pernyataan) memuat penegasan tentang sesuatu atau realitas
Beberapa asersi mengandung pengkuantifikasi:
Universal: semua (all), tidak ada (no)
Spesifik: beberapa (some)
Pengkuantifikasi diperlukan untuk menentukan ketermasukan
(inclusiveness) atau keuniversalan asersi
Penyajian umum:
Semua A adalah B
Tidak ada satupun A adalah B
Beberapa A adalah B
Penyajian asersi dengan diagram
Penyajian asersi dengan diagram
Penyajian asersi dengan diagram
Interpretasi Asersi
Semua A adalah B
Semua B adalah A
Tidak satupun A adalah B
Tidak satupun B adalah A
Beberapa A adalah B
Tidak semua A adalah B
Jenis dan fungsi asersi
Jenis asersi:
Asumsi: asersi yang diyakini kebenarannya meskipun orang tidak dapat
menunjukkan bukti tentang kebenarannya atau asersi yang orang bersedia
untuk menerima sebagai dasar untuk keperluan diskusi/debat
Hipotesis: asersi yang dapat diuji kebenarannya
Pernyataan fakta: asersi yang bukti tentang kebenarannya diyakini sangat kuat
atau bahkan tidak dapat dibantah
Fungsi asersi:
Premis
Konklusi
Keyakinan
Keyakinan terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima asersi
tersebut benar
Ada tingkat kepercayaan
Properitas (sifat) keyakinan
Keadakebenaran (plausibility) sumber yang otoritatif
Bukan pendapat dibuktikan secara obyektif
Bertingkat
Berbias kepentingan dapat menentukan tingkat keyakinan
Bermuatan nilai
Berkekuatan memunculkan tindakan
Veridikal mudah tidaknya fakta ditemukan
Berketertempaan (malleability) keteguhan keyakinan yang memengaruhi veridikalitas
Argumen
An argument is an effort to convince some to believe or to do
something. An argument is a set of assertions, one of which a
conclusion or key assertions, and the rest of which are intended to
support the conclusion or key assertion (Nickerson, 1986)
Argumen terdiri dari beberapa asersi: premis dan konklusi
Jenis argument:
Argumen deduktif
Argumen induktif
Argumen dengan analogi
Argumen sebab akibat
Penalaran deduktif
Konklusi argument benar dan meyakinkan dengan empat kriteria:
Kelengkapan premis-premis
Kejelasan premis-premis
Kesahihan (validitas)
Keterpercayaan (empirical truth)
Hubungan kebenaran premis dan
kebenaran logis konklusi
Argumen induktif
Argumen induktif lebih bersifat sebagai argument ada benarnya
(plausible argument)
Probabilitas kejadian kebenaran konklusi cukup tinggi
Konklusi tidak selalu benar walaupun premis-premisnya benar
Argumen dengan analogi
Penalaran dengan analogi adalah penalaran yang menurunkan
konklusi atas dasar kesamaan atau kemiripan karakteristik, pola,
fungsi, atau hubungan unsur (system) suatu objek yang disebutkan
dalam suatu asersi.
Argumen ini banyak mempunyai kelemahan yang seringkali
disembunyikan
Argumen sebab akibat
Kaidah pengujian, dikemukakan oleh John Stuart Mill:
Kaidah kecocokan (method of agreement): jika dua kasus atau lebih dalam suatu fenomena
mempunyai satu atau hanya satu kondisi atau faktor yang sama (C), maka kondisi tersebut
dapat menjadi penyebab timbulnya gejala (Z)
Kaidah kecocokan negative (negative canon of agreement): jika tiadanya faktor (C) berkaitan
dengan tiadanya gejala (Z), maka ada bukti bahwa hubungan faktor dan gejala bersifat kausal
Kaidah perbedaan (method of difference): jika terdapat dua kasus atau lebih dlam suatu
fenomena, dan dalam salah satu kasus suatu gejala (Z) muncul sementara dalam kasus
lainnya gejala tersebut (Z) tidak muncul, dan jika faktor tertentu (C) terjadi ketika gejala
tersebut (Z) muncul dan faktor tertentu (C) tidak terjadi ketika gejala tersebut (Z) tidak
muncul, maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan kausal antara faktor (C) dan gejala
(Z) tersebut
Argumen sebab akibat: kriteria
penyebaban
Suatu faktor atau variabel (C) menyebabkan suatu gejala atau variabel
(Z), tiga kriteria berikut harus dipenuhi:
C dan Z bervariasi bersama. Bila C berubah, Z juga berubah
Perubahan C terjadi sebelum atau mendahului perubahan Z terjadi
Tidak ada faktor lain selain C yang mempengaruhi perubahan Z
Contoh penalaran induktif dalam
akuntansi
Kecohan (Fallacy)
Why are bad arguments sometimes convincing? (Cederblom dan
Paulsen, 1986)
A Fallacy is a kind of argument or appeal that tends to persuade us,
even though it is faulty Fallacies are arguments that tend to
persuade but should not be persuaded.
Kecohan karena akal bulus atau taktik (stratagem)
Kecohan karena salah logika atau nalar dalam argument (reasoning fallacy)
Jenis-jenis stratagem
Persuasi tidak langsung iklan
Membidik orangnya (argumentum ad hominem)
Menyampingkan masalah, menghindari persoalan yang dibahas atau red herring
Misrepresentasi
Imbauan cacah semua orang melakukannya
Imbauan otoritas
Imbauan tradisi
Dilema semu
Imbauan emosi: imbauan belas kasih (appeal to pity) dan imbauan
tekanan/kekuasaan (appeal to force)
Reasoning fallacy
Menegaskan konsekuensi
Menyangkal anteseden
Pentaksaan (equivocation)
Terlalu mengeneralisasi (overgeneralization)
Parsialitas
Pembuktian dengan analogi
Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban
Menarik simpulan pasangan
Menegaskan konsekuen
Menyangkal anteseden
Pentaksaan (equivocation)
Pembuktian dengan analogi
Pembuktian dalam penelitian ilmiah
Penyanggahan ilmiah (scientific refutation) adalah pendekatan dalam menguji suatu teori
Penelitian ilmiah tidak dapat dibuktikan benar, tetapi harus dapat disanggah (dibuktikan salah)
Principle of falsifiability: bila ilmuwan tidak dapat menunjukkan dengan meyakinkan bahwa teori
barunya lebih valid, maka ia terpaksa menerima teori yang disanggahnya
Ada risiko bahwa teori yang diterimanya salah (error of inference)
Dalam penelitian:
Hipotesis nol menyatakan teori saat ini
Hipotesis alternatif menyatakan teori baru atau teori yang akan diuji
Jika bukti empiris gagal mendukung hipotesis nol, maka bukti empiris gagal menolak hipotesis nol
Secara statistic, kesalahan hasil penelitian dapat dinyatakan:
Kesalahan tipe I (): menyimpulkan hipotesis alternatif (menolak hipotesis nol) padahal kenyataannya hipotesis
alternatif yang salah
Kesalahan tipe II (): menyimpulkan hipotesis nol (tidak menolak hipotesis nol) padahal kenyataannya hipotesis nol
yang salah
Aspek manusia dalam penalaran
Penjelasan sederhana
Kepentingan mengalahkan nalar
Sindroma tes klinis
Mentalitas Djoko Tingkir
Merasionalkan daripada menalar
Persistensi