Anda di halaman 1dari 18

Kesehatan Lingkungan

Kerja
(Occupational Health)

Farid Alfalaki Hamid


STEM Akamigas
GAMBAR ERGONOMIC STRESSES:
PHYSICAL AND MENTAL

GAMBAR
Sejarah Perkembangan K3
Revolusi industri penemuan mesin uap.
Akibat penemuan mesin uap:
1. Butuh banyak bahan baku.
2. Butuh banyak tenaga kerja.

Akibat revolusi industri (1761)


1. 50% penduduk UK meninggal pada usia 20 tahun.
2. Rata-rata usia buruh 22 tahun
3. Crude death rate (CDR) buruh 36/1.000, CDR kelas
tinggi 22/1.000
Perkembangan Peraturan K3
1349-1351: undang-undang pertama yang membatasi
jam kerja dari 79 menjadi 40 jam/minggu.
1788: Chimney Sweep Act membatasi usia pekerja dari 10
tahun menjadi 14 tahun. Pada tahun 1840, dinaikan
menjadi 21 tahun.
1891: Factory Act tentang batas usia pekerja mulai 11
tahun dan perlunya tangga darurat.
1890-1900: terbentuknya International of Labor Legislation
agar dapat membuat aturan seragam dan mencari solusi
berbagai masalah serta meneliti penyebab dan
pencegahan penyakit jabatan, dan lain sebagainya.
Perkembangan K3 di Indonesia
UU Kecelakaan (1947-1951) yang mengatur tentang kompensasi.
UU Gangguan (Hinder Ordonantie) tahun 1927 yang mengatur
gangguan.
UU Keselamatan Kerja (1970) yang mengatur tentang hak dan
kewajiban pengusahan dan pekerja.
Standar Lingkungan Kerja (1997).
Jamsostek tentang asuransi tenaga kerja.
Permen Tenaga Kerja No. 5 tentang SMK3 beserta auditnya.
PP No. 74 tahun 2001 tentang K3 untuk B3
????
Higiene Industri
Mempelajari, mengevaluasi dan mengontrol
pengaruh-pengaruh dari lingkungan kerja yang
menyebabkan timbulnya penyakit, gangguan
pada kesehatan, kenyamanan bekerja dari
pekerja tersebut. Dilakukan dengan penilaian
terhadap faktor-faktor penyebab penyakit dalam
lingkungan kerja melalui pengukuran yang
hasilnya untuk dipergunakan sebagai dasar
tindakan korektif terhadap lingkungan kerja.
Kesehatan Kerja:
Bertujuan agar pekerja memperoleh derajat
kesehatan setinggi-tingginya, dengan usaha-
usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit
dan gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh
faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja
Tujuan Utama:
Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan
tenaga kerja yang setinggi-tingginya.
Sebagai alat untuk meningkatkan produksi
dengan memperhatikan lingkungan kerja yang
memenuhi syarat.
Gangguan Kesehatan dan Daya Kerja
Agar pekerja berada dalam keserasian yang sebaik-baiknya maka perlu
adanya keseimbangan di antara:
Beban kerja (fisik, mental, sosial)
Beban tambahan akibat dari lingkungan kerja fisik, kimia, biologi,
fisiologis, mental psikologis
Kapasitas kerja (tergantung keterampilan, keserasian-fitness, keadaan
gizi, jenis kelamin, usia ukuran tubuh).

Faktor-faktor pengganggu
Penerangan yang kurang, menyebabkan kelelahan mata
Kegaduhan yang berlebihan, menyebabkan kelelahan psikologis
Gas, debu, uap yang mengganggu pernafasan.
Bentuk alat yang tidak sesuai dengan pekerja, dapat melelahkan
pekerja dan tidak efisien.
Pencegahan
Substitusi bahan yang berbahaya
Ventilasi umum, setempat
Isolasi alat
Isolasi tubuh (pakaian pelindung)
Pemeriksaan sebelum kerja, pemeriksaan secara
berkala
Pendidikan tentang keselamatan kerja secara
menerus
Penyakit akibat kerja
Penyebabnya dapat dikelompokkan dalam:
Golongan fisik:
Suara (pekak, tuli)
Radiasi sinar radioaktif (kulit, susunan darah)
Radiasi infra merah (katarak pada lensa)
Suhu (heat stroke, frost bite)
Sinar (penerangan lemah, kelainan pada mata dan kelelahan, penerangan
karena silau, mudah kecelakaan).

Golongan kimia:
Debu: pneumoconiosis (silicosis, asbestosis)
Uap: metal fume fever, penyakit kulit, keracunan
Gas CO: kurang O2 terbentuk carboxy haemoglobine
Larutan: penyakit kulit
Penyakit akibat kerja (2)
Golongan infeksi: penyakit kulit yang disebabkan oleh bibit penyakit
anthrax & brucella pada pekerja penyamakan kulit.

Golongan fisiologis: yang diakibatkan oleh peralatan yang tidak


anatomis, akan melelahkan dan merubah fisik pekerja.

Golongan mental, psikologis: yang diakibatkan oleh hubungan kerja


yang tidak baik, membosankan (monoton).
Diagnosa

Diagnosa penyakit yang diakibatkan oleh


lingkungan kerja berbeda dengan penyakit umum,
pemeriksaan klinis tidak cukup, harus diteliti
tempat kerja dan cara kerja, wawancara dan
kuesioner untuk mengetahui keadaan sebelum
kerja, kebiasaan hidup (merokok dan hal lain yang
mendukung).
Langkah-langkah penelitian
Riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan, diteliti sejak timbul gejala
sejak dini dan perkembangan penyakit selanjutnya yang dikaitkan
dengan pekerjaan (sejak awal, sebab ada kemungkinan dapat
diakibatkan oleh pekerjaan terdahulu, sebelumnya).
Pemeriksaan klinis, untuk menentukan tanda dan gejala yang sesuai
suatu sindrom, contoh: Pneumoconiosis, keracunan Pb (noda timah
hitam pada gusi).
Pemeriksaan lab untuk memastikan dugaan yang diperoleh dari
pemeriksaan klinis, dengan memeriksa darah, air seni, faeces dll,
Rontgen, untuk menentukan penyakit paru-paru pneumo-coniosis).
Pemeriksaan ruang kerja yang ada kaitannya dengan penyebab
penyakit dari lingkungan kerja, contoh pneumoconiosis harus diteliti
kadar debu yang terkandung dalam udara di daerah pernafasan pekerja
(breathing zone) diameter 5-10 micron.
Metoda Pengontrolan

Sumber Lingkungan Kerja Penerima


Substitusi bahan - pemeliharaan lingk..bersih - training, penyuluhan
Perubahan proses - ventilasi umum - rotasi pekerja
Menutup proses - perlebar jarak S&P - ruangan khusus (AC)
Isolasi proses - pemantauan menerus - alat pemantauan film
Metoda basah - program maintenance badge
Ventilasi lokal LEV yang menerus - perlindungan individu
(respirator)
- pemeliharaan kesehatan
Keahlian yang dituntut
Mampu mengenal faktor-faktor lingkungan kerja
yang memberikan pengaruh kepada: kesehatan
pekerja, kenyamanan bekerja.
Mampu mengevaluasi lingkungan kerja tersebut
yaitu dengan melalui pengukuran-pengukuran.
Menyimpulkan apa yang diperlukan untuk
mengurangi/mengontrol pengaruh-pengaruh
tersebut.
Bidang pekerjaan
1. Pengenalan lingkungan kerja dan pengaruhnya, yang dapat
dikelompokkan dalam 4 kategori.
Kimia: cair, debu, asap, uap, gas
Fisika: elektromagnet, radiasi, ionisasi, bising, vibrasi, panas, tekanan
Biologi: insekta, fungi, bakteri, virus
Ergonomi: hubungan antara alat yang digunakan pekerja, disesuaikan
dengan organ tubuh (bentuk), kerja monoton.
2. Evaluasi dari hasil penelitian lingkungan kerja dan memberikan
pendapat usulan perbaikan yang disesuaikan dengan standar
yang berlaku.
3. Kontrol/pengawasan terhadap bahaya yang timbul pada
lingkungan kerja.
Pelaksanaan pekerjaan
Pengumpulan data primer dan sekunder dari
industri yang bersangkutan
Analisis data dan rekomendasi dari hasil data
yang diperoleh
Penentuan hal-hal yang perlu dilakukan melalui
pengontrolan dan pengukuran
Tindakan yang perlu diambil sehubungan
dengan hasil pengukuran yang dilakukan.

Beri Nilai