Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN KASUS

PNEUMOPERITONEUM
PUTRI SHOLIH DEWI IRDIANTI
Pendahuluan
Pneumoperitoneum merupakan keadaan
adanya udara bebas dalam cavum peritoneum.

Pencitraan radiologi yang digunakan untuk


mendeteksi pneumoperitoneum meliputi foto
polos abdomen dan thorax, USG, CT scan dan
MRI yang dapat juga dilakukan dengan kontras.

Pemeriksaan CT Scan merupakan gold standar


pencitraan pneumoperitoneum.
KASUS
Identitas
4

Nama : Ny. S
Umur : 65 th

Nomor ID/Reg : 30.00.65

Jenis kelamin : Perempuan


Agama : Islam

Pekerjaan : IRT
Suku : Jawa

Pendidikan terakhir : -
Status Kawin : Menikah
Alamat : Karang Tawar RT 03 RW 01 Lamongan
Tanggal Masuk : 21 Juli 2016
ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Nyeri perut

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang dengan keluhan nyeri seluruh lapang
abdomen, sebelumnya nyeri perut di ulu hati
sampai menembus belakang sejak 3 hari. Pasien
juga mengeluh belum BAB sejak 2 hari, tidak bisa
kentut sejak 1 hari perut terasa sebah, nafsu makan
menurun sejak 2 hari yang lalu.
CONT RPS...
panas ?
Mual ?
Muntah ?
Perut kaku?
Pasca trauma?
Pasca oprasi?
Riwayat gastritis terakhir kambuh?
Riwayat minum jamu?
Riwayat Penyakit
RPD:
Pasien tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
Batuk disangkal.
Gastritis sejak 2 tahun terakhir.
Hipertensi disangkal.
Diabetes Mellitus disangkal.
RPS: (-)
RPK: (-)
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah
70/55 mmHg
Nadi
190x/min, kuat, reguler
Suhu
38.5 0
C
RR
40 x/min
Primery Survey
9

PRIMARY SURVEY
A : Clear, Gargling(-), snoring(-), speak fluently(-),
potensial obstruksi (-)
B : Spontan, RR 40x/menit ves/ves, Rh +/+, Wh -/-,
SaO2 70% tanpa O2 support
C : Akral dingin basah pucat, CRT >2 Nadi
190x/menit, TD 70/55 mmHg
D : GCS 222 lateralisasi -, PBI 2mm/2mm
E : Temp 38,5 0C
SECONDARY SURVEY Cor :
Inspeksi : -
Palpasi : -
GCS 456
Perkusi : -
Kepala/Leher :
anemis-/ikterik-
Auskultasi : S1 S2 tunggal,
/cyanosis-/dyspneu- ES - / Gallop - / Murmur -
Abdomen :
Thorax :ret+/+ Inspeksi : perut rata,
P: ves/ves, rh +/+, wh -/- distensi(+), pelebaran vena
c:S1S2 tunggal, murmur-, colateral (-) massa (-),
gallop- caput meduse (-)
Auskultasi : Bising usus :
RT: tonus sfingter ani turun, turun-menghilang
tonus otot rectum (+), mukosa Palpasi : defans muskular
licin (+), darah (-), massa (-), (+), hepar lien tak teraba
lendir (-), Feses (+), nyeri perbesaran, ginjal tidak
tekan diseluruh arah. teraba, nyeri tekan seluruh
lapang abdomen (+) , nyeri
Extrimitas : anemis ikterik tekan lepas (+) opturatore
edema -, akral dingin basah sign (-) psoas sign (-)
pucat
Perkusi : hipertimpani (+)
Primery Survey
11

PRIMARY SURVEY
A : Clear, Gargling(-), snoring(+), speak fluently(+),
potensial obstruksi (-)
B : Spontan, RR 30x/menit ves/ves, Rh +/+, Wh -/-,
SaO2 70% tanpa O2 support
C : Akral dingin basah, CRT <2 Nadi 190x/menit, TD
70/55 mmHg
D : GCS 456 lateralisasi -, PBI 2mm/2mm
E : Temp 38,5 0C
INITIAL ASSESSMENT DAN PLANNING
DIAGNOSIS
INITIAL ASSESSMENT
Colik Abdomen
Septic Shock
Planning Diagnose

Darah lengkap
Serum elektrolit
Foto BOF dan LLD
Renal Function Test
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium
Kalium serum : 5,5 [3,6-5,5]
Natrium serum : 137,3 [135-155]
Clorida serum : 95,6 [70-108]
Urea : 47 [10-50]
Serum Kreatinin : 1,3 [0,8-1,5]
Lekosit : 13 [4,0-11,0]
Neutropil : 71 [49,0-67,0]
Limposit : 9,3 [25,0-33,0]
Monosit : 16 [3,0-7,0]
Eosinofil : 0,4 [1,0-2,0]
Basofil : 7,8 [0,0-1,0]
Eritrosit : 4,47 [3,80-5,30]
Hemoglobin : 11,7 [14,0-18,0]
Hematokrit : 35 [40-54]
MCV : 88,30 [87,00-100]
MCH : 28,20 [28,00-36,00]
MCHC : 33,40 [31,00-37,00]
RDW : 14 [10-16,5]
Trombosit : 272 [150-450]
MPV : 5[5-10]
Planning Diagnosis foto
15
BOf

Hasil pemeriksaan : Bayangan gas


usus terdist
Sampai cavum pelvis.
Kedua kontur ginjal normal
Hepar dan lien tak membesar
Tak nampak bayangan radio
opaque,
sepanjang traktus urinarius
Tampak scoliosis
LLD

Tak tampak step ledder


patologis
Tampak udara bebas di
luar usus

Kesimpulan:
Pneumoperitonium
Planning Therapy

O2 nasal saturasi 80 ganti NRM 12 lpm sat


100%
Inf PZ
Inj. Ondancetron 8mg kp muntah
Inj. Ranitidin 2x50 mg
Ceftriakson 2x1 mg
Re-Assesment
Pneumoperitoneum et causa perforasi
gaster
TINJAUAN
PUSTAKA
ANATOMI
FOTO BOF
Definisi BOF
Pemeriksaan foto abdomen tanpa kontras yang
juga dikenal dengan plain foto abdomen
disebut juga BOF (Biuch over sich) atau BNO
(Blader Neir Over Sich) merupakan salah satu
pemeriksaan radiologis yang digunakan untuk
menunjang dalam menegakkan diagnosa suatu
penyakit. Daerah pemeriksaannya meliputi:
Bagian atas : diafragma
Bagian bawah : symphisis pubis
Bagian lateral : tepi lateral abdomen
Organ Target
Organ-organ dalam abdomen yang
masih dalam daerah diafragma sampai
symphisis pubis, yang masih masuk
dalam daerah pemeriksaan yaitu:
1. Hepar

2. Lien

3. Ginjal

4. Pankreas

5. Intestine
indikasi
Foto abdomen digunakan untuk
pemeriksaan tambahan pada pasien
dengan gejala klinis:
Obstruksi usus
Perforasi ulcus duodeni/ gaster dan
perforasi usus
Nyeri renal
Benda asing baik yang tertelan atau
akibat trauma dan IUD yang terdislokasi
Kontra indikasi
pemeriksaan radiologi pada wanita
usia 12 sampai 50 tahun pada 10
hari setelah menstruasi hari pertama
perlu hati-hati
Posisi
AP ( anteroposterior ) telentang
Foto ini diperlukan untuk melihat secara
maksimal dan detail dari organ-organ abdomen
secara anatomis.
AP ( anteroposterior ) berdiri/ duduk/ setengah
duduk/ diafragma, untuk melihat:
Air fluid level

Gambaran lebih jelas didinding usus

Membedakan masing-masing usus dan ketebalan

dinding usus
Mobilitas dari udara dalam abdomen termasuk

udara bebas di bawah diafragma


LLD (left Lateral Decubitus)
Untuk mendapatkan gambaran udara bebas

pada obtruksi ileus


ANATOMI
Pneumoperitoneum
DEFINISI
Pneumoperitoneum merupakan keadaan
dimana terdapat udara bebas
terperangkap di rongga peritoneum.
etiologi

Gangguan dinding viskus


berongga
( perforasi ulcus peptikum dll)
Faktor iatrogenik (trauma dll)
Diagnosis

1. Foto BOF dan LLD


2. USG
3. CT SCAN
Football sign. Tampak udara masif
mengisi ruang abdomen hingga tampak
seperti bola rugby
Riglers sign. Tampak rambaran
raqioopaque pada permukaan luminal
dinding usus (panah hijau) dan
permukaan peritonealnya (panah putih)
Foto Abdomen Left Lateral Decubitus -
Pneumoperitoneum
USG
Tampak artefak berbentuk komet karena udara bebas di
ruang subphrenic anterior dan menyebabkan muncul
bayangan (Tanda panah, gambar kiri). Tampak dilatasi usus
halus dengan adanya sedikit cairan antar usus.
CT SCAN

Tampak udara bebas diatas hepar dan


usus
Prinsip terapi
Peritonitis adalah suatu kondisi yang mengancam
jiwa, yang memerlukan pengobatan medis
sesegera mungkin. Prinsip utama terapi pada
infeksi intra abdomen adalah:
1. mengkontrol sumber infeksi
2. mengeliminasi bakteri dan toksin
3. mempertahankan fungsi sistem organ
4. mengontrol proses inflamasi

Terapi primer : Operasi


Komplikasi

Sepsis intraperitoneal
Demam tinggi persisiten
Peningkatan distensi abdomen
Prognosis
Tergantung dari umur penderita, penyebab,
ketepatan dan keefektifan terapi. Prognosa baik
pada peritonitis lokal dan ringan. Prognosa buruk
pada peritonitis general.
PEMBAHASAN DAN
KESIMPULAN
Pembahasan
pasien di diagnosis pneumoperitoneum karena dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik ditemukan:
Nyeri seluruh lapang abdomen (+), BAB (-), flatus (-), mual
(+), riwayat gastritis (+), riwayat di pijat (+)

abdominal distens (+), defans muskular (+), bising usus


turun-menghilang, nyeri tekan seluruh lapang abdomen (+)
nyeri tekan lepas (+)
Perkusi : hipertimpani (+) pekak hepar menghilang
Auskultasi : Bising usus turun hingga hilang

Pada pemeriksaan LLD


Tampak udara bebas diluar usus
KESIMPULAN

Pneumoperitoneum merupakan keadaan dimana


terdapat udara bebas terperangkap di rongga
peritoneum, yang sebagian besar disebabkan
oleh perforasi organ berongga (terutama viscus)
akibar tauma.
Pneumoperitoneum dapat dideteksi
menggunakan pemeriksaan radiologis seperti
foto polos abdomen, CT scan dan Ultrasonografi.
Terapi primer dari pneumoperitoneum adalah
operasi
Daftar pustaka
1.Leschka S, Alkadhi H, Wildermuth S,
Marincek B. Multi-detector computed
tomography of acute abdomen.Eur
Radiol.2015;15:24352447.
2. silvia A. Price. 2006. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta.
EGC
3. Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu
Bedah. Jakarta. ECG