Anda di halaman 1dari 32

Junedi antonius

Kemampuan makhluk hidup


untuk menghasilkan
keturunan yang baru.

Sistem
Reproduksi

Mempertahankan jenisnya
dan melestarikan jenis
agar tidak punah.
Sistem Reproduksi
Vertebrata
Fertilisasi eksternal

Fertilisasi
Fertilisasi internal

Perkembangan Ovipar
embrio dan Vivipar
kelahiran
keturunannya Ovovivipar

Berbagai proses fertilisasi.


SISTEM REPRODUKSI

PISCES

AMPHIBI

REPTIL

AVES

MAMALIA
Reproduksi ikan (Pisces)

Alat reproduksi ikan (a) betina dan (b) jantan.


1. Ovipar
Proses pembuahan sel telur (oosit) oleh sel sperma
berlangsung diluar tubuh ikan dimana sperma memasuki sel
telur melalui sebuah lubang yang disebut dengan mikrofil.

2. Ovovivipar
Pembuahan terjadi di dalam tubuh ikan betina. Embrio
berkembang di dalam tubuh induk betina, kemudian
melahirkan anak yang sudah berwujud mirip dengan induknya.
Pada pembuahan eksternal biasanya dibentuk ovum
dalam jumlah besar, karena kemungkinan terjadinya
fertilisasi lebih kecil dari pada pembuahan
secara internal.
Pada katak betina menghasilkan ovum yang banyak,
kalau kita membedah katak betina yang sedang
bertelur, kita akan menjumpai bentukan berwarna hitam
yang hampir memenuhi rongga perutnya, itu merupakan
ovarium yang penuh berisi sel telur, jumlahnya
mencapai ribuan.
Fertilisasi akan berlangsung di daerah
ujung oviduk pada saat sperma masuk ke
dalam oviduk.
Ovum yang telah dibuahi akan bergerak
mendekati kloaka. Saat perjalanan
menuju kloaka di daerah oviduk, ovum
yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi
oleh materi cangkang berupa zat kapur
Reproduksi reptil (Reptilia)

Alat reproduksi reptil (a) betina dan (b) jantan.


Pembuahan pada reptil terjadi di dalam
tubuh induk betina (fertilisasi internal).
Pada umumnya, reptile bersifat ovipar
(bertelur), tetapi pada beberapa jenis ular
dan kadal ada yang bersifat ovovivipar
(bertelur beranak).
Pada hewan ovovivipar, telur menetas dalam
saluran telur (oviduk), sehingga kelihatannya
seperti beranak.
Reproduksi mamalia (Mammalia)

Alat reproduksi mamalia (a) betina dan (b) jantan.


Fertilisasi intemal, karena telah memiliki
organ reproduksi sempurna. Kecuali golongan
hewan berparuh bebek (Platypus), semua
hewan menyusui selalu melahirkan (vivipar).
Telur mamalia kecil dan mengandung sedikit
cadangan makanan.
Embrio mendapat makan dari rahim induknya
melalui plasenta.
Diawali dengan persetubuhan (koitus)
atau perkawinan (kopulasi)
Yaitu peristiwa masuknya penis ke vagina
Yang akan diikuti fertilisasi internal
Sperma dibentuk dari proses
spermatogenesis di testis
Ovum dibentuk dari proses Oogenesis di
ovarium
Organ reproduksi dalam Organ reproduksi luar
Testis Penis
Skrotum
Saluran pengeluaran
Epididimis
Vas deferens
Saluran ejakulasi
Uretra SISTEM
REPRODUKSI
Kelenjar asesoris
PRIA
Vesikula seminalis
Kelenjar prostat
Kelenjar Cowper
Organ reproduksi dalam

Organ reproduksi pria tampak dari (a) samping


dan (b) depan.
Organ reproduksi luar

Potongan melintang penis pada organ reproduksi


luar pria.
Spermatogenesis

Spermatogenesis pada tubulus seminiferus.


Hormon-hormon pada Pria

Testosteron
LH (Luteinizing Hormon)
FSH (Follicle Stimulating Hormon)
Estrogen
Hormon pertumbuhan
Organ reproduksi dalam
Sistem Reproduksi
Oviduk Wanita
Uterus
Vagina

Organ reproduksi luar


Vulva
Mons pubis
Labium mayor
Labium minor
Klitoris
Organ reproduksi dalam

Organ reproduksi wanita tampak dari (a) depan dan (b) samping.
Oogenesis

Tahapan oogenesis.
Oogenesis

Oogenesis pada ovarium.


Fertilisasi

Proses terjadinya fertilisasi di dalam oviduk pada organ


reproduksi wanita.
Hormon-hormon pada wanita
Estrogen
Progesteron
FSH
LH
Gonadotropin
METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik.


Penelitian menggunakan 9 ekor mencit spesies mus musculus,
jantan,
berumur 3-4 bulan dengan berat rata-rata 25 gram, yang dibagi
menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok A yang diberi makan pelet
standar selama 35 hari, kelompok B diberi asap rokok dan makan
pelet standar selama
35 hari, dan kelompok C diberi asap rokok dan makan pelet
kedelai secara bersamaan selama 35 hari. Ketiga kelompok
diterminasi hari ke-36. Rokok yang digunakan yaitu rokok kretek
merek DJI SAM SOE dengan kandungan 39 mg tar dan 2,3 mg
nikotin/batang. Dosis rokok
yang digunakan sebanyak 2 batang rokok dibakar dan asapnya
dipaparkan pada 2 kelompok mencit perlakuan selama 35 hari.
HASIL PENELITIAN

Gambaran makroskopik testis kelompok perlakuan

Memperlihatkan warna yang lebih pucat dibandingkan dengan kelompok


kontrol. Konsistensi testis, semuanya sama yaitu kenyal sedangkan berat dan ukuran
bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya namun relatif sama
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa pemaparan dengan asap rokok
yang berasal dari 2 batang rokok/hari
menyebabkan penurunan susunan sel-sel
spermatogenik tubulus seminiferus testis mencit.
Pemberian kedelai dengan dosis 5 gr/hari
menambah jumlah sel-sel spermatogenik pada
tubulus seminiferus testis mencit yang terpapar
dengan asap