Anda di halaman 1dari 5

DURABILITAS DAN

MIKROSTRUKTUR
BETON GEOPOLIMER
ABU SEKAM DAN OPC
DI LINGKUNGAN
GAMBUT
Yogie Pranata
1307114567
LATAR BELAKANG

Beton merupakan bahan bangunan yang sangat populer dalam dunia jasa
konstruksi. Pembuatan beton dengan menggunakan semen portland masih menjadi
pilihan, namun produksi semen portland memberikan kontribusi volume gas CO 2 yang
besar ke atmosfer, karena setiap produksi satu ton semen portland akan memancarkan
sekitar 1 ton gas CO2 ke atmosfer (Rajini & Rao, 2014). Emisi karbon yang tinggi sangat
berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim (Olivia & Nikraz, 2011).
Diketahui secara umum bahwa kekuatan beton banyak dipengaruhi oleh bahan
pembentuknya (air, semen, dan agregat) disamping itu secara khusus beton juga
dipengaruhi kondisi lingkungan (Kurniawandy, Darmayanti, & Pulungan, 2012), salah
satunya adalah lingkungan gambut. Lahan gambut merupakan lingkungan tanah organik
dengan kadar air tinggi, daya dukung rendah dan derajat keasaman tinggi. Struktur
beton di lingkungan asam rentan mengalami kerusakan jangka panjang akibat asam-
asam organik dan non-organik.
Untuk mengatasi masalah tersebut, caranya adalah dengan membuat beton
ramah lingkungan, salah satunya adalah beton geopolimer. Perkembangan beton
geopolimer merupakan langkah penting terhadap produksi beton ramah lingkungan.
Perumusan Masalah

Ketahanan konstruksi di lingkungan asam, seperti tanah gambut, merupakan permasalahan


infrastruktur dengan dampak signifikan. Untuk meningkatkan ketahanan beton dilingkungan
gambut (asam), maka strategi yang dapat diterapkan adalah dengan meningkatkan ketahanan
semen sebagai binder dengan menambahkan bahan pozzolanik berupa abu sekam padi (RHA).
Penggunaan abu sekam padi pada komposit semen dapat memberikan beberapa keuntungan
seperti meningkatkan kekuatan dan ketahanan, mengurangi biaya bahan, mengurangi dampak
lingkungan limbah bahan, dan mengurangi emisi karbon dioksida (Bakri, 2008)
Penelitian menggunakan abu sekam padi dalam campuran beton di lingkungan agresif seperti
air gambut belum banyak diteliti. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa pengujian untuk
mengetahui durabilitas dari mortar geopolimer abu sekam padi dan OPC

Tujuan Penelitian

Merencanakan komposisi campuran mortar geopolimer dengan bahan campuran abu sekam padi (RHA)
dengan memperhatikan faktor rasio dari Natrium Hidroksida (NaOH) dan Natrium Silikat (Na2SiO3), rasio
alkali dan abu sekam padi, serta persentasi semen portland (OPC) dalam campuran.
Menganalisa kuat tekan, sorptivity, dan porositas mortar yang menggunakan campuran abu sekam padi
pada umur 7 dan 28 hari.
Menganalisa perubahan berat dan perubahan visual yang terjadi pada mortar geoplimer abu sekam padi.
Tinjauan Pustaka

Beton geopolimer merupakan beton yang terbentuk melalui proses polimerisasi yang
material utamanya mengandung banyak silika dan alumina tinggi yang direaksikan dengan
alkali aktifator. Salah satu material yang banyak mengandung silika dan alumina yang tinggi
adalah abu sekam padi (RHA). Abu sekam padi (RHA) adalah abu yang dihasilkan dari
pembakaran sekam padi yang diperoleh dari pabrik penggilingan padi (Singh et al, 2015).
Abu sekam padi mengandung silika yang sangat reaktif sekitar 80%-85% tergantung pada
temperatur pembakaran (Kishore et al, 2011). Abu sekam padi yang dihasilkan dari
pembakaran sekam padi pada suhu 400o 500o C akan menjadi silika amarphous dan pada
suhu lebih besar dari 1000o C akan menjadi silika kristalin. Abu sekam padi memiliki
aktivitas pozzolanic yang sangat tinggi sehingga lebih unggul dari material lainnya seperti
fly ash, slag, dan silica fume. Penggunaan bahan pengganti sebagian semen (SCM) melalui
komposisi campuran yang inovatif akan mengurangi jumlah semen yang digunakan
sehingga secara ekologis dapat mengurangi emisi gas-gas rumah kaca dan penggunaan
konsumsi energi fosil bumi pada industri semen. Penggantian sebagian semen oleh abu
sekam padi sebesar 40 % dalam pembuatan mortar dapat menghasilkan kekuatan yang
baik dan ketahanan terhadap sulfat sehingga akan mengurangi semen yang digunakan,
mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan masa pakai mortar (Bakri, 2008).
Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Bahan Fakultas Teknik


Universitas Riau. Pengujian awal berupa pengujian karakteristik bahan dasar
material campuran mortar yang digunakan dalam perencanaan campuran (mix
design) benda uji. Pengujian dilanjutkan dengan pembuatan benda uji dengan
memberikan perlakuan semen yang berbeda pada benda uji, yaitu benda uji
dengan menggunakan Ordinary Portland Cement (OPC) Tipe 1, dan benda uji
yang menggunakan campuran OPC dan abu sekam padi atau RHA (Rice Husk Ask)
sebagai bahan tambah ataupun binder pada benda uji. Setelah pembuatan
benda uji, dilanjutkan dengan perawatan benda uji pada rendaman air gambut
selama 90 hari. Kemudian melakukan pengujian benda uji berupa kuat tekan,
kuat tarik, soptivity, dan porositas dengan umur benda uji 7, 28 dan 90 hari.