Anda di halaman 1dari 48

CASE REPORT

Tumor Cavum Nasi

Dokter Pembimbing : dr. Magdalena Kabiu Sp. THT-KL


Nama : Kevin Giovani Mandua
NIM : 1361050264
BAB 1
Pendahuluan
Tumor Cavum Nasi

Tumor cavum nasi adalah tumor yang


terdapat pada rongga hidung. Cavum nasi
atau rongga hidung dimulai dari
vestibulum nasi, melewati rongga
sepanjang atap mulut ( palatum durum
dan palatum mole ) dan kemudian
berakhir di nasofaring.
Di departemen THT FKUI RS Cipto Mangunkusumo,
keganasan tumor cavum nasi ditemukan 10 15% dari
seluruh tumor ganas THT.

Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarang


ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Di Indonesia dan
di luar negeri, kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1 % dari
keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan di
kepala dan leher.
BAB 2
Tinjauan Pustaka
Anatomi Hidung Luar
Radiks Nasi
Dorsum nasi
Apeks nasi
Ala nasi
Kerangka hidung
Rongga hidung = kavum nasi - dibagi dua oleh septum nasi di
garis median
Batas-batas :
- atas : lamina kribosa
- anterior : nares
- posterior : koana
- lateral : konka nasi dan meatus nasi
Dinding medial cavum nasi
Lamina prependikularis
Os vomer
Lamina kuadrangularis
Kolumela
Pembuluh darah Hidung
Sinus Paranasal
DEFINISI

Tumor yang terdapat pada rongga hidung. Cavum nasi


atau rongga hidung dimulai dari vestibulum nasi,
melewati rongga sepanjang atap mulut ( palatum
durum dan palatum mole ) dan kemudian berakhir di
nasofaring.
Etiologi & Faktor Resiko
Penggunaan tembakau

Inhalan spesifik
Menghirup substansi
tertentu, terutama
pada lingkungan kerja,.
Etiologi dan faktor resik

Usia

gender
Klasifikasi Tumor
Tumor Jinak :
Papiloma squamosa: Secara makroskopis mirip dengan polip,
tetapi lebih vaskuler, padat dan tidak mengkilap. Etiologinya
mungkin disebabkan oleh virus, namun perubahan epitel pada
papiloma .
Papiloma inversi : seringkali berasal dari dinding lateral hidung
dan secara makroskopis terlihat hanya seperti gambaran polip.
Tumor ini bersifat sangat invasif, dapat merusak jaringan
sekitarnya.
Displasia fibrosa : Displasa fibrosa sering mengacu pada tumor
fibro-oseus tak berkapsul yang melibatkan tulang-tulang wajah
dan sering mengenai sinus paranasalis.
Angiofibroma nasofaring juvenil : Tumor jinak angiofibroma
nasofaring sering bermanifestasi sebagai massa yang mengisi
rongga hidung bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus
paranasal.
Tumor Ganas :
Karsinoma sel skuamosa :Kebanyakan
karsinoma sel skuamosa sinonasal
yang timbul dalam hidung atau sinus
maksila, tapi ketika pertama kali dilihat
tumor biasanya sudah melibatkan
hidung, sel ethmoidal dan
antrum/maksila
Patofisiologi

Sel terkontak oleh karsinogen

Fase Induksi : belum timbul keganasan namun telah


terdapat perubahan pada sel seperti displasia

Fase in situ : fase ini keganasan mulai timbul namun


pertumbuhannya masih terbatas jaringan tempat asalnya tumbuh
dan belum menembus membran basalis.
Patofisiologi
Fase infasif : akan menembus membrane
basalis dan masuk ke jaringan atau organ
sekitarnya yang berdekatan

Pada fase diseminasi (penyebaran) sel-sel


kanker menyebar ke organ lain seperti
kelenjar limfe regional dan atau ke organ-
organ jauh
Gejala
Gejala nasal Gejala Orbital

Obstruksi hidung diplopia

rinorea proptosis

Sekret bercampur darah Oftalmoplegia


epistaksis
Gangguan visus

Epifora
Gejala
Gejala oral Gejala Fasial Gejala Intrakranial

Ulkus di pallatum Pembengkakan dipipi Nyeri kepala

Ulkus di proceccus alveolaris Oftalmoplegia

Gangguan visus
Pemeriksaan fisik
periksa dengan seksama kavum nasi dan nasofaring melalui
rinoskopi anterior dan posterior.
Untuk memeriksa rongga oral, di samping inspeksi lakukanlah
palpasi gusi rahang atas dan palatum, apakah ada nyeri tekan,
penonjolan, atau gigi goyah
Pemeriskaan naso-endoskopi dan sinuskopi dapat membantu
menemukan tumor dini
Permukaan yang licin merupakan pertanda tumor jinak
sedangkan permukaan yang berbenjol-benjol, rapuh dan
mudah berdarah merupakan pertanda tumor ganas.
Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medial
kemungkinan tumor berada di sinus maksila
Pemeriksaan Penunjang
Biopsi
Biopsi adalah pengangkatan sejumlah kecil jaringan
untuk pemeriksaan dibawah mikroskop. Hasil
pemeriksaan patologi anatomi (PA) dengan cara
seperti inilah yang dijadikan gold standart atau
diagnosis pasti suatu tumor.
CT scan
CT Scan merupakan sarana terbaik karena lebih
jelas memperlihatkan perluasan tumor dan
destruksi tulang
Pemeriksaan penunjang

MRI
Membedakan daerah sekitar tumor
dengan jaringan lunak, memedakan sekret
didalam nasal yang tersumbat yang
menempati rongga nasal

Foto polos paru


mengetahui apakah tumor sudah
metastase tumor di paru.
Staging
Subkategori untuk melukiskan keadaan masing masing pada
T, N, dan M dengan memberi indeks angka dan huruf, yaitu:
1. T = Tumor primer
a. Indeks angka : Tx, Tis, T0, T1, T2, T3, dan T4.
b. Indeks huruf : T1a, T1b, T1c, T2a, T2b, T3b, dst.
2. N = Nodus regional, metastase kelenjar limfe regional
a. Indeks angka : N0, N1, N2, dan N3.
b. Indeks huruf : N1a, N1b, N2a, N2b, dst.
3. M = Metastase jauh
a. Indeks angka : M0, M1
Staging menurut American Joint Committee
on Cancer (AJCC)

Tata Laksana
Pembedahan
Pembedahan dikontraindikasikan pada kasus kasus
yang telah bermetastasis jauh, sudah meluas ke
sinus cavernosus bilateral atau tumor sudah
mengenai kedua orbita

Radiotherapy
radioterapi kadang-kadang digunakan sendiri pada
stadium I dan II, atau dalam kombinasi dengan
operasi dalam setiap tahap penyakit sebagai
adjuvant radioterapi
Kemoterapi
bermanfaat pada tumor
ganas dengan metastasis atau
residif atau jenis yang sangat
baik dengan kemoterapi
misalnya limfoma malignum
Prognosis
Pada umumnya prognosis kurang baik. Banyak sekali faktor
yang mempengaruhi prognosis keganasan hidung dan sinus
paranasal. Faktor faktor tersebut seperti, perbedaan
diagnosis histologi, asal tumor primer, perluasan tumor,
pengobatan yang diberikan sebelumnya, status batas sayatan,
terapi adjuvan yang diberikan, status imunologis, lamanya
follow up, dan banyak lagi faktor lain yang dapat berpengaruh
terhadap agresifitas penyakit dan hasil pengobatan yang
tentunya berpengaruh juga terhadap prognosis penyakit ini.
BAB III
Status Pasien
Identitas Pasien
No. MR : 28-39-51
Nama : An. R
Usia : 13 th
Tanggal Masuk : 24 Mei 2017
Anamnesis
Keluhan Utama : Benjolan di hidung kanan.

Keluhan Tambahan : Hidung kanan tersumbat dan terkadang epistaksis

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang RSUD Tarakan dengan keluhan benjolan dihidung kanan sejak 1
bulan yang lalu. Pasien juga mengatakan bahwa benjolan dihidungngya makin
lama maki membesar. Pasien mengatakan bahwa benjolannya sering kali
berdarah akibat digaruk. Akibat dari benjolan tersebut pasien mengatakan
bahwa hidungnya tersumbat dan pasien mengalami gejala pilek. Pasien juga
menyangkal adanya riwayat alergi dan juga mengatakan tidak pernah mengorek-
ngorek hidungya sebelum keluhan muncul.

Riwayat Penyakit Dahulu


Keluhan seperti belum pernah dialami oleh pasien sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Disangkal oleh pasien.

Riwayat Alergi
Disangkal oleh pasien.
Pemeriksaan Tanda Tanda
Vital (TTV)
Kesadaran : Compos mentis
TD : 119/80 mmhg
RR : 24 x / menit
Nadi : 80 x / menit
Suhu : 36,6 C
Pemeriksaan Hidung
Bentuk Hidung Luar
Biasa, edem (-), hematom (-), trauma (-), tumor (+), radang (-), deviasi
(+), patensi lubang hidung (-/+), dan nyeri tekan (-).

Rinoskopi Anterior
Hidung Kanan
Vestibulum nasi : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Epidermis : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Cavum nasi : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Mukosa : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Konka Media : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Konka Inferior : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Meatus Media : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Meatus Inferior : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Deviasi Septum : Tidak terlihat tertutup oleh benjolan
Sekret : (+)
Massa : (+)
Pemeriksaan Hidung
Hidung Kiri :
Vestibulum nasi : Furunkel (-)
Epidermis : Merah muda
Cavum nasi : Lapang
Mukosa : Merah muda
Konka Media : Eutrofi, berwarna merah muda, permukaan
licin, dan edem (-).
Konka Inferior : Eutrofi, berwarna merah muda, permukaan
licin, dan edem (-).
Meatus Media : Sekret (-)
Meatus Inferior : Sekret (-)
Deviasi Septum : (-)
Sekret : (-)
Massa : (-)
Kelainan : Tidak ada
Pemeriksaan Mulut dan leher
Pemeriksaan Mulut
Gigi : Karies dentis (-), maloklusi (-), perubahan warna (-),
gigi berlubang (-), gigi tanggal (+)
Gusi : Perdarahan (-), radang (-), perubahan warna
(-),hipertrofi(-)
Lidah : Lidah kotor (-)
Kelenjar liur (Saliva)
Sub Lingual : Radang (-)
Sub Mandibula : Radang (-), massa (-)
Parotis : Radang (-), massa (-)
Kelainan Lain : Tidak ada

Pemeriksaan Leher
Kelenjar leher : Pembesaran kelenjar limfoid leher (-)
Kelainan lain : Tidak ada
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan telinga dan tenggorok tak nampak
kelainan.
Foto CT scan kepala ( Prone) :.
Tak tampak lesi hyperdensi di daerah intra sinus maxillaris
dextra dan sinistra, Ethmoidalis, sphenoidalis.
Tak tampak destruksi tulang
Septum nasi tak tampak deviasi
Tak tampak asimetri dinding nasopahryng
Kesan : Septum nasi tak deviasi
Tak tampak gambaran sinusitis
Tak tampak asimetri dinding nasopharynx
Foto Thorax
Foto Thorax PA :
COR : CTR < 50 %
Corakan bronkovaskular dalam batas normal
Trachea tak deviasi
Tak tampak kesuraman di peri hiller dan para kardial kanan
dan kiri
Diafragma kanan setinggi costa x xi
Sinus costophrenicus dextra dan sinistra lancip
Kesan : Tak tampak kelainan pada foto thorax
Resume
Dari hasil anamnesis didapatkan pasien datang dengan
keluhan benjolan dihidung kanan (tumor) sejak 1 bulan yang
lalu, benjolan makin lama makin membesar benjolan juga
sering kali berdarah alibat sering digaruk oleh pasien. Tidak
terdapat deviasi septum. Pasien mengalami gejala hidung
tersumbat akibat obstruksi nasi, dan pasien mengalami gejala
rinorhea dan terkadang terjadi epistaksis.
Diagnosa
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis pasien
mengalami tumor cavum nasi. Jenis tumor belum dapat
dipastikan karena menunggu hasil pemeriksaan patologi
anatomi.
Penatalaksanaan
PENATALAKSANAAN

Non-medikamentosa
Ekstirpasi tumor.

Medikamentosa
Amoxicilin 3x1
Ketorolac
Prognosis

Ad Vitam : Ad Bonam
Ad Functionam : dubia Ad bonam
Ad Sanationam : dubia Ad Bonam
Daftar Pustaka
Roezin A, Armiyanto. Tumor hidung dan Sinonasal. In: Soepardi EA, Iskandar
N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. Edisi 7. Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
2015. :154-7

American Cancer Society. Nasal Cavity and Paranasal Sinus Cancers.


Bethesda : ACS 2015. Available from :
http://www.cancer.org/cancer/nasalcavityandparanasalsinuscancer/

National Cancer Institute. Nasal Cavity and Paranasal Sinus Cancers. Geneva
: WHO 2011. Available from : http://www.cancer.gov/types/head-and-
neck/patient/paranasal-sinus-treatment-pdq

Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala


Leher Indonesia. Tumor Sinonasal. Jakarta : PERHATI-KL 2015. Available from
: http://www.rscm.quality-journey.com/wp-
content/uploads/2016/02/Tumor-Sinonasal.pdf