Anda di halaman 1dari 23

Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular

kronik yang disebabkan oleh virus golongan P.L.T


(psitacosis lymphanogranuloma trachoma) yang
disebut Chlamydozoa Trachoma (chlamis berarti
matel dan zoa berarti binatang).
Merupakan salah satu penyakit paling tua di dunia, ditemukan sejak
abad ke-27 SM dan mengenai semua bangsa.

Penyakit ini dapat mengenai semua umur tetapi lebih banyak pada
orang muda, anak-anak dan perempuan.

Daerah yang banyak terkena adalah di daerah Afrika, suku


Aborigin, dan sebagian Asia
disebabkan oleh tersebarnya bakteri Chlamydozoa
Trachoma di tempat-tempat yang kualitas
sanitasinya buruk dan kualitas air yang tidak
adekuat.

kontak langsung dengan sekret penderita


trakoma

melalui alat-alat kebutuhan sehari-hari


seperti handuk, alat-alat kecantikan, dan
lain-lain.

Masa inkubasi rata-rata 7 hari (berkisar 5-14


hari)
Kualitas sanitasi dan air
Personal hygiene
Kemiskinan
Kepadatan penduduk
Trakoma mulanya adalah suatu konjungtivitis folikular kronik pada masa
kanak-kanak, yang berkembang hingga terbentuknya parut konjungtiva.

Pada kasus berat, pembalikan bulu mata kedalam terjadi pada masa
dewasa muda sebagai akibat parut konjungtiva yang berat.

Masa inkubasi trakoma rata-rata 7 hari, tetapi bervariasi dari 5 sampai 14


hari, pada orang dewasa timbulnya sering akut atau subakut dan
kompilkasi cepat berkembang.

Keluhan yang muncul sering : mata berair, fotofobia, nyeri, eksudasi,


edema palpebra, pembentukan panus disertai nyeri tekan.
terdapat hipertrofi papil dengan folikel yang kecil-kecil pada
Stadium I konjungtiva tarsus superior, yang memperlhatkan penebalan dan
(Insipien) kongesti pada pembuluh darah konjungtiva.

Terdapat hipertrofi papiler dan folikel yang matang (besar) pada konjungtiva
tarsus superior.
Stadium II Ditemukan pannus trakoma yang jelas.
(Established)
Pannus adalah pembuluh darah yang terletak di daerah limbus atas dengan
infiltrat.

Stadium III terdapat parut pada konjungtiva tarsus superior yang terlihat sebagai
(Parut) garis putih yang halus sejajar dengan margo palpebra.

Stadium IV suatu pembentukan parut yang sempurna pada konjungtiva tarsus


(sembuh) superior hingga menyebabkan entropion dan trikiasis.
Yang penting untuk mendirikan diagnosis trakoma adalah
pemeriksaan :

1. konjungtiva palpebra superior, dimana terlihat


prefolikel, sikatrik.

2. konjungtiva forniks superior, dimana dapat terlihat


folikel, sikatrik.

3. kornea 1/3 bagian atas, dimana dapat terlihat


infiltrat, neovaskularisasi, folikel, Herberts peripheral
pits.
Kerokan
Gejala klinis Tes Serologik
Konjungtiva
Terdapat 2 dari 4 gejala
yang khas: Diagnosa trakoma juga Tes fiksasi komplemen,
bisa ditegakkan untuk menunjukan
Adanya prefolikel di
konjungtiva tarsalis dengan 1 gejala klinis adanya antibodi
superior
khas dengan kerokan terhadap trakoma,
Folikel di konjungtiva
forniks superior dan limbus konjungtiva yang dengan menggunakan
kornea 1/3 bagian atas
menghasilkan badan antigen yang murni.
Panus aktif si 1/3 atas inklusi.
limbus kornea
Tes mikro imuno-
Sikatrik berupa garis-garis fluoresen, untuk
atau bitang di konjungtiva
palpebra atau fornik menetukan
superior, herbets
peripheral pits di 1/3 anticlamidial yang
bagian atas
spesifik.
Konjungtivitis inklusi
konjungtivitis folikuler
konjungtivitis vernalis.
Pemakaian antibiotik tetrasiklin, aureomycin,
achromycin berupa salep mata dengan konsentrasi
1% dipakai 3-4 kali sehari, diulaskan pada konjungtiva
forniks inferior, sedikitnya selama 2 bulan.

Sulfonamide, yang dapat diberikan lokal maupun


sistemik dengan dosis 40-50mg/ kgBB yang diberikan
selama seminggu, yang dihentikan seminggu
kemudian diberikan lagi seminggu sampai 2bulan.
Parut konjungtiva
Kerusakan duktus kelenjar lakrimal
Trikiasis
Entropion
Ulserasi kornea
Bila ditangani dengan cepat dan dapat
menghindarkan komplikasi, maka
prognosisnya akan baik.

Hati-hati penularan
Merupakan kelainan mata akibat kekurangan
vitamin A, terutama pada anak Balita dan sering
ditemukan pada penderita gizi buruk dan gizi kurang.
Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung
cukup Vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka
waktu lama
Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif
Gangguan penyerapan vitamin A
Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis /
diare)
Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah
berlangsung lama. Gejala tersebut akan lebih cepat timbul bila anak menderita penyakit
campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya.

Kelainan kulit pada umumnya tampak pada tungkai bawah bagian depan dan lengan
atas bagian belakang, kulit tampak kering dan bersisik seperti sisik ikan.

Buta senja (Hemeralopia), tak dapat melihat di lingkungan yang kurang cahaya.

xerosis konjungtiva : yaitu konjungtiva yang kering, menebal, berkeriput, dan keruh
karena banyak bercak pigmen (mata tampak warna kecoklatan)

xerosis kornea :Kekeringan pada konjungtiva berlanjut sampai kornea. Kornea tampak
suram dan kering dengan permukaan tampak kasar.

bercak Bitot : bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama di daerah celah mata
sisi luar, merupakan penumpukan keratin dan sel epitel (tanda khas)
Pemberian obat mata jika terdapat infeksi yang
menyertai.

Obat tetes atau salep mata antibiotik tanpa


kortikosteroid (tetrasiklin 1%, gentamicin 0,3% dengan
dosis 4 x 1 tetes/hari dan diberikan tetes mata atropin
1% 3 x 1 tetes/hari (sekurang-kurangnya 7 hari)
- khusus untuk xerosis kornea, ulkus kornea,
keratomalasia

Perbaiki status gizi


Mengenal wilayah yang berisiko mengalami xeroftalmia (faktor social
budaya dan lingkungan dan pelayanan kesehatan, faktor keluarga dan
faktor individu)
Mengenal tanda-tanda kelainan secara dini
Memberikan vitamin A dosis tinggi kepada bayi dan anak secara
periodik, yaitu untuk bayi diberikan setahun sekali pada bulan Februari
atau Agustus (100.000 SI), untuk anak balita diberikan enam bulan sekali
secara serentak pada bulan Februari dan Agustus dengan dosis 200.000
SI.
Mengobati penyakit penyebab atau penyerta
Meningkatkan status gizi, mengobati gizi buruk
Penyuluhan keluarga untuk meningkatkan konsumsi vitamin A /
provitamin A secara terus menerus.
Memberikan ASI Eksklusif
Pemberian vitamin A pada ibu nifas (< 30 hari) 200.000 SI
Melakukan imunisasi dasar pada setiap bayi