Anda di halaman 1dari 20

Oleh

Otonomi daerah berasal dari kata


autonomy dimana auto artinya sedia dan
nomy artinya aturan atau undang-undang.
Jadi, autonomy berarti hak untuk mengatur
dan memerintah daerah sendiri atas inisiatif
sendiri dan kemampuan sendiri dimana hak
tersebut diperoleh dari pemerintah pusat.
Otonomi daerah adalah
kewenangan Daerah Otonom untuk
mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat
sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
Runtuhnya pemerintahan orde baru pada tahun
1998, mencuat sejumlah permasalahan terkait
dengan sistem ketatanegaraan dan tuntutan-
tuntutan daerah-daerah yang selama ini telah
memberikan kontribusi yang besar dengan
kekayaan alam yang dimilikinya. Wacana otonomi
daerah kemudian diangkat sebagai konsepsi
alternatif untuk menjawab permasalahan sosial dan
ketatanegaraan indonesia yang dianggap telah
usang dan perlu diganti. Inilah yang melatar
belakangi otonomi daerah di Indonesia.
A. Tujuan

Menumbuh kembangkan daerah dalam


berbagai bidang, meningkatkan layanan
kepada masyarakat, menumbuhkan
kemandirian daerah dan meningkatkan
daya saing daerah dalam proses
pertumbuhan.
1. Prinsip Pertama
mengandung konsekuensi bahwa Pemerintah Pusat masih tetap
harus mempunyai peranan dalam penyelenggaraan pemerintah
di daerah.

2. Prinsip Kedua
Prinsip kedua menyatakan bahwa pemberian otonomi kepada
daerah harus merupakan otonomi yang nyata dan
bertanggungjawab. Makna dari otonomi yang nyata dan
bertanggungjawab itu garis besarnya telah dijelaskan dalam
penjelasan umum UU No. 5/ 1974.

3. Prinsip Ketiga
Oleh karena prinsip ketiga itu berupa penagasan bahwa azas
desentralisasi dilasanakan bersama-sama dengan azas
dekonsentrasi, dengan memberikan kemungkinan pula bagi
pelaksanaan azas tugas pembantuan
4. Prinsip Keempat
Prinsip keempat menegaskan bahwa pemberian
otonomi kepada Daerah mengutamakan aspek
keserasian dengan tujuan disamping aspek
pendemokrasian.

5. Prinsip Kelima
Prinsip terakhir ini menyatakan sebagai
penegasan bahwa tujuan pemberian otonomi
kepada Daerah adalah untuk meningkatkan
dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan
pemerintahan di daerah.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945 Yang Membahas
Tentang Dibentuknya Komite Nasional Daerah;
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 Yang
Membahas Tentang Pemerintahan Daerah;
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 Tentang Pokok-
pokok Pemerintahan Daerah;
Penetapan Presiden No. 6 Tahun 1959
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 Tentang Pokok-
pokok Pemerintahan Daerah;
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
desentralisasi merupakan penyerahan
wewenang pemerintahan oleh pemerintah
kepada daerah otonom dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desentralisasi memiliki dua jenis, yakni:
1. desentralisasi teritorial
adalah penyerahan kekuasaan untuk mengatur
dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan
batas pengaturannya adalah daerah.

2. desentralisasi fungsional merupakan penyerahan


kekuasaan untuk mengatur dan mengurus fungsi
tertentu dengan batas pengaturannya adalah jenis
fungsi itu sendiri, misalnya soal pendidikan, social,
dan lain-lain.
Pemerintah daerah dan daerahnya
merupakan sub sistem dari pemerintahan
pusat yang memiliki tujuan tertentu.
Pelaksanaan pemberian otonomi kepada daerah harus
menunjang aspirasi perjuangan rakyat, yakni
memperkokoh negara kesatuan dan mempertinggi tingkat
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia;

Pemberian otonomi kepada daerah harus merupakan


otonomi yang nyata dan bertanggung jawab;
Azas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan
azas dekonsentrasi dengan memberikan kemungkinan
pula bagi pelaksanaan tugas pembantuan;

Pemberian otonomi kepada daerah mengutamakan


aspek keserasian dengan tujuan di samping aspek
pendemokrasian;

Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah


untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintahan di daerah, terutama
dalam pelaksanaan pembangunan dan pelayanan
terhadap masyarakat serta untuk meningkatkan
pembinaan kestabilan politik dan kesatuan bangsa.
Demokratisasi adalah proses perubahan dari
struktur dan tatanan pemerintahan yang otoriter
kearah struktur dan tatanan yang demokratis.
Demokratisisasi merupakan proses dilakukannya
diversifikasi kekuasaan untuk meniadakan
kesenjangan hak-hak politik warga negara serta
memperluas hak warga Negara untuk bersuara
dan berpendapat. Dengan demikian prinsip setiap
keputusan harus dibicarakan bersama dan
pelaksanaan atas keputusan itu di
disentralisasikan menjadi elemen penting dalam
proses demokratisisasi.
Sebenarnya belum terlalu banyak hal yang bias diangkat
dalam konteks implementasi otonomi daerah, mengingat
waktu pelaksanaannya secara komprehensif baru berlaku
januari 2001. Namun secara umum bisa dicatat bahwa untuk
bidang-bidang tertentu seperti pemilihan kepala daerah
dengan kewenangan penuh pada DPRD dan pengesahan
peraturan daerah oleh DPRD, sudah berlaku sejak januari
2000. Dalam tahun 2001 juga telah berlaku kebijakan
kesentralisasi fiscal melalui alokasi DAU dan aplikasi
pembagian keuntungan dari sumber-sumber pendapatan
yang ditetapkan dalam UU No. 25 tahun 1999,relokasi
pegawai pusat yang jumlahnya mencapai sekitar 2 juta,
relokasi asset pemerintah pusat yang ada di daerah, serta
kewenangan daerah dibidang kelembagaan dan promosi
karir pegawai.
Otonomi daerah diberlakukan di tengah-tengah
krisis ekonomi yang amat parah. Daerah otonom
memerlukan sumber dana yang besar karena
harus membiayai berbaga keperluan sendiri,
padahal pertumbuhan ekonomi sangat kecil,
investasi amat sulit diperoleh, dan sumber-
sumber yang bisa menghasilkan uang sangat
terbatas. Oleh karena itu, banyak kabupaten dan
kota yang menggunakan berbagai cara untuk
meningkatkan penghasilan asli daerah (PAD).
1. Otonomi daerah dilakukan
sebagai perwujudan demokrasi di
Indonesia guna membantu
pemerintah pusat dalam mengatur
daerah-daerah di Indonesia dan
untuk menumbuhkan kemandirian
daerah dan meningkatkan daya
saing daerah dalam proses
pertumbuhan.
2. Otonomi daerah sangat kondusif bagi
terjadinya konflik. Kebebasan yang menyertai
otonomi seringkali ditafsirkan sebagai
kesempatan untuk mengembangkan diri
dengan megelola sumber daya alam dan
sumber daya manusia menurut kepentingan
sendiri yang merupakan sumber konflik yang
amat potensiil di masa-masa mendatang.
Otonomi daerah hanya dapat berjalan dengan
baik bila ada pemahaman yang baik terhadap
kebebasan dan kewenangan daerah, di
samping adanya kemampuan mengendalikan
diri dalam menjalankan kebebasan.
Haris, Syamsuddin. 2007. Desentralisasi dan Otonomi Daerah. LIPI Press. Jakarta

Sujamto.1991. Cakrawala Otonomi Daerah. Sinar Grafika. Jakarta

Sujamto.1993. Perspektif Otonomi Daerah. PT Rineka Cipta. Jakarta

Sutoyo.2001. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Graha Ilmu. Jakarta

Syafiie, Inu Kencana. 2002. Sistem Pemerintahan Indonesia. PT Rineka Cipta. Jakarta

Widjaja, HAW. 2002. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta

Widjaja. A.W. 1998. Titik Berat Otonomi pada Daerah Tingkat II. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta

Yudoyono, Bambang. 2001. Otonomi Daerah. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta


THANK YOU