Anda di halaman 1dari 46

Pemeriksaan Telinga

Gede Vernanda Satria Dita


Agustina Vonny Moa
Pemeriksaan telinga meliputi :
Aurikulum
Meatus Akustikus Eksternus
Membrana Timpani
ANATOMI
Aurikulum
Bagian yang bertulang rawan :
Heliks dan Anti Heliks
Tragus dan Anti Targus
Konka
Sulkus Retroaurikuler
Bagian yang tidak bertulang rawan :
Lobulus
ANATOMI
ANATOMI
Meatus Akustikus Eksternus (MAE)
MAE berbentuk tabung yang terdiri dari 2
bagian :
a. Bagian lateral adalah pars kartilagenus
- merupakan lanjutan dari aurikulum
- mempunyai rambut, kelenjar sebasea dan
kelenjar serumenalis
- kulit melekat erat dengan perikondrium
ANATOMI
b. Bagian medial adalah pars osseus
- merupakan bagian dari os temporale
- tidak berambut
- ada penyempitan yaitu ismus MAE
- tidak mobile terhadap sekitarnya
ANATOMI
ANATOMI
Membran Timpani
a. Posisi :
- membentuk sudut 45o dengan bidang
horisontal dan sagital
- tepi bawah terletak 6mm lebih medial dari
tepi atas
- pada bayi <1 tahun letaknya lebih horisontal
dan frontal
b. Warna : putih mengkilat seperti mutiara
c. Ukuran : tinggi 9-10mm, lebar 8-9mm
d. Bentuk : oval yang condong ke anterior
ANATOMI
a. Pars Tensa :
- manubrium mallei - refleks cahaya
- umbo - plika anterior
- prosesus brevis - plika posterior
b. Pars flaksida = Membrana Schrapnelli
ANATOMI
HISTOLOGI
a. Pars Tensa, terdiri dari 3 lapisan :
- lapisan luar : kulit tipis, lanjutan kulit MAE
- lapisan medial : mukosa, lanjutan dari mukosa
yang melapisi kavum timpani
- lapisan tengah : membrana propiana, terdiri
dari 2 lapisan yaitu :
* lateral : serat-serat yang radier
* medial : serat-serat sirkuler yang
menyebabkan pars tensa tegang
b. Pars flaksida, tidak mempunyai membrana propia.
PATOLOGI
Aurikulum
Kongenital : - Fistula preaurikularis kongenital
- Mikrotia
Infeksi : - Erisipelas
- Dermatitis aurikularis
- Perikondritis
- Herpes Zoster oticus
Trauma : - Othematoma, Pseudothematoma
Tumor : - Ateroma
PATOLOGI
MAE
Kongenital : - Atresia kongenital
- Stenosis kongenital
Infeksi : - Furunkel, Otitis eksterna difusa
- Granulasi
Tumor : - Polip, piloma, karsinoma
Korpus alienum
Serumen
PATOLOGI
Membran Timpani
a. Perubahan warna :
- merah : hiperemi akibat
radang
- hitam : fungi
- kuning : fungi
- putih : fungi atau asidum
borikum pulveratum
PATOLOGI
b. Perubahan posisi
Retraksi : - manubrium mallei memendek
karena tertarik ke medial dan lebih
horizontal
- refleks cahaya berubah
bentuk/hilang
- prosesus brevis menonjol keluar
- plika posterior lebih jelas
- plika anterior tak tampak karena
tertutup oleh prosesus brevis yang
menonjol
PATOLOGI
Bombans : - membrana timpani terdesak ke
lateral, cembung, warna merah
c. Perubahan struktur
Perforasi : - letak : sentral, marginal, atik
- bentuk : bulat, oval, ginjal,
jantung, total, subtotal
Ruptura : - akibat trauma (berbentuk bintang
dan ada bekuan darah)
Sikatriks : - bekas perforasi yang sudah menutup
Granulasi
OTOSKOPIA
Alat :
1. Lampu Kepala Van
Hasselt
2. Otoskop
3. Spekulum Telinga
4. Alat Penghisap
5. Hak Tajam
6. Pemilin Kapas
7. Forsep Telinga
8. Balon Politzer
9. Semprit Telinga
PELAKSANAAN
a. Cara memakai lampu kepala :
- pasang lampu kepala, sehingga tabung
lampu berada diantara kedua mata
- letakkan telapak tangan kanan pada jarak
30cm di depan mata kanan
- mata kiri ditutup
- proyeksi tabung harus tampak terletak
medial dari proyeksi cahaya saling
bersinggungan
- diameter proyeksi cahaya kurang lebih 1cm
PELAKSANAAN
b. Cara duduk :
- penderita duduk di depan pemeriksa
- lutut kiri pemeriksa berdempetan dengan
lutut kiri penderita
- kepala dipegang dengan ujung jari
- waktu memeriksa telinga yang kontra lateral,
hanya posisi kepala penderita yang diubah
- kaki, lutut penderita dan pemeriksa tetap
pada keadaan semula
PELAKSANAAN
PELAKSANAAN
c. Cara memegang telinga :
- Kanan : Aurikulum dipegang dengan jari I dan
II, sedangakan jari III, IV, V pada planum
mastoid. Aurikulum ditarik ke arah
posterosuperior untuk meluruskan MAE
- Kiri : Aurikulum dipegang dengan jari I dan II.
Jari III, IV dan V di depan aurikulum.
Aurikulum ditarik ke arah posterosuperior
PELAKSANAAN
PELAKSANAAN
d. Cara memegang otoskop
- Pilih spekulum telinga
yang sesuai dengan
besar lumen MAE,
nyalakan lampu otoskop
- Masukkan spekulum
telinga pada MAE
PELAKSANAAN
e. Cara memilin kapas
- Ambil kapas sedikit, letakkan
pada pemilin kapas dengan
ujung pemilin berada di dalam
tepi kapas
- Pilin perlahan-lahan searah
dengan jarum jam
- Untuk melepasnya, ambil
sedikit kapas, putar
berlawanan arah dengan
jarum jam
TES PENDENGARAN
TES BISIK
Syarat:
Tempat :
- ruangan sunyi dan tidak ada echo (dindiong dibuat
tidak rata atau dilapisi soft board/korden), serta
ada jarak sepanjang 6 m
Penderita
- mata ditutup/dihalangi agar tidak membaca gerak
bibir
- telinga yang diperiksa dihadapkan ke arah
pemeriksa
TES PENDENGARAN
Penderita
- mata ditutup/dihalangi agar tidak membaca gerak
bibir
- telinga yang diperiksa dihadapkan ke arah
pemeriksa
- telinga yang tak diperiksa, ditutup atau di-masking
dengan menekan-nekan tragus ke arah MAE oleh
pembantu, telinga ditutup kapas yang dibasahi
gliserin
- mengulang dengan keras dan jelas kata-kata yang
dibisikkan
TES PENDENGARAN
Pemeriksa :
- kata-kata dibisikkan dengan udara cadangan
paru-paru, sesudah ekspirasi biasa
- kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 1 atau 2
suku kata yang dikenal penderita, biasanya
kata-kata benda yang ada di sekeliling kita.
Kata harus mengandung huruf lunak
(frekuensi rendah) dan huruf desis (frekuensi
tinggi)
TES GARPU TALA
Ada 4 jenis tes garpu tala yang sering
dilakukan :
1. Tes Batas Atas dan Batas Bawah
2. Tes Rinne
3. Tes Weber
4. Tes Schwabach
TES GARPU TALA
1. Tes Batas Atas dan Batas Bawah
Tujuan : menentukan frekuensi garpu tala yang dapat
didengar penderita melewati hantaran udara bila
dibunyikan pada intensitas ambang normal
Cara: - Semua garpu tala dibunyikan satu persatu,
dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua
ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik
dengan ujung jari/kuku, didengarkan terlebih dulu
oleh pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk
mencapai intensitas bunyi yang terendah bagi orang
normal/nilai ambang normal)
TES GARPU TALA
Kemudian diperdengarkan pada penderita dengan
meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2
cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang
menghubungkan MAE kanan dan kiri
Interpretasi :
Normal : mendengar garpu tala pada semua fekuensi
Tuli konduksi : batas bawah naik (frekuensi terendah
tak terdengar)
Tuli sensorik : batas atas turun (frekuensi tertinggi
tak terdengar)
TES GARPU TALA
2. Tes Rinne
Tujuan : membandingkan hantaran udara dan
hantaran tulang pada satu telinga penderita.
Cara : - Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz,
letakkan tangkainya tegak lurus pada planum
mastoid penderita (posterior dari MAE)
sampai penderita tak mendengar, kemudian
cepat pindahkan ke depan MAE penderita.
TES GARPU TALA
- Apabila penderita masih mendengar garpu
tala di depan MAE disebur Rinne positif, bila
tidak mendengar disebut Rinne negatif
- Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz,
kemudian dipancangkan pada planum
mastoid, kemudian segera dipindahkan di
depan MAE, penderita ditanya mana yang
lebih keras. Bila lebih keras di depan disebut
Rinne positif, bila lebih keras di belakang
Rinne negatif.
TES GARPU TALA
Interpretasi Tes Rinne:
- Normal : Rinne positif
- Tuli konduksi : Rinne negatif
- Tuli sensori neural : Rinne positif
TES GARPU TALA
3. Tes Weber
Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua
telinga penderita
Cara : - garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan, kemudian
tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median, biasanya di
dahi (dapat pula pada vertex, dagu atau gigi insisivus) dengan
kedua kaki pada garis horisontal
- Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang
mendengar atau mendengar lebih keras. Bila mendengar pada
satu telinga disebut lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Bila
kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar
berarti tak ada lateralisasi
Interpretasi Tes Weber:
Normal : tidak ada lateralisasi
Tuli konduksi : mendengar lebih keras di
telinga yang sakit
Tuli sensori neural : mendengar lebih keras
pada telinga yang sehat
TES GARPU TALA
4. Tes Schwabach
Tujuan : membanding hantaran lewat tulang antara
penderita dengan pemeriksa
Cara : - garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan
kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada
planum mastoid pemeriksa, bila pemeriksa sudah
tidak mendengar, secepatnya garpu tala dipindahkan
ke mastoid penderita. Bila penderita masih
mendengar maka Schwabach memanjang, tetapi bila
penderita tidak mendengar, terdapat 2 kemungkinan
yaitu Schwabach memendek atau normal
TES GARPU TALA
- Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka
tes dibalik, yaitu tes pada penderita dulu baru ke
pemeriksa
- Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian diletakkan
tegak lurus pada mastoid penderita, bila penderita
sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala
dipindahkan pada mastoid pemeriksa, bila pemeriksa
tidak mendengar berarti sama-sama normal, bila
pemeriksa masih mendengar berarti Schwabach
penderita memendek.
TES GARPU TALA
Interpretasi :
Normal : Schwabach normal
Tuli konduksi : Schwabach memanjang
Tuli sensori neural : Schwabach memendek