Anda di halaman 1dari 30

REFRESHING

DERMATOTERAPI

RAY PRADITYA PUTRA SUGRAHA


29.15.1194.2013
Pembimbing oleh : dr. H. Dindin Budhi Rahayu, Sp.KK

RSUD SAYANG CIANJUR


PENDAHULUAN

Penyakit kulit dapat diobati dengan bermacam-macam cara, yaitu :


A. Topikal
B. Sistemik
C. Intralesi
Namun apabila cara pengobatan diatas belum memadai, maka masih dapat
dipergunakan cara-cara lain, yaitu :
Radioterapi
Sinar Ultraviolet
Pengobatan laser
Krioterapi
Bedah listrik
Bedah skalpel
Dengan adanya kemajuan-kemajuan yang pesat dalam bidang farmasi,
maka pengobatan penyakit kulit juga ikut berkembang pesat. Yang menarik
perhatian ialah kemajuan dalam bidang pengobatan topikal yang berupa
perubahan dan cara pengobatan nonspesifik dan empirik menjadi pengobatan
spesifik dengan dasar yang rasional.
PENGOBATAN TOPIKAL

Kegunaan dan khasiat pengobatan topikal didapat dari pengaruh fisik dan
kimiawi obat-obat yang diaplikasi di atas kulit yang sakit.
Pengaruh fisik antara lain ialah
mengeringkan, membasahi (hidrasi),
melembutkan, lubrikasi, mendinginkan, memanaskan, dan melindungi (proteksi)
dari pengaruh buruk dari luar.
Sebagai homoestasis kulit.
Prinsip obat topikal secara umum terdiri atas 2 bagian :

A. Bahan dasar (vehikulum)


B. Bahan aktif
VEHIKULUM

Cairan Bedak kocok Bedak

Pasta Pasta
Krim pendingin berlemak

Salap
CAIRAN
Prinsip pengobatan cairan ialah membersihkan kulit yang sakit dari
debris (pus, krusta, dan sebagainya) dan sisa-sisa obat topikal yang pernah
dipakai. Di samping itu terjadi perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, dan
pustula. Hasil akhir pengobatan ialah keadaan yang membasah dan kering,
permukaan menjadi bersih sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh dan
mulai proses epitelisasi. Pengobatan cairan berguna juga untuk menghilangkan
gejala, misalnya rasa gatal, rasa terbakar, parestesi oleh bermacam-macam
dermatosis.
Cairan terdiri atas :
a. Solusio (larutan dalam air)
b. Tingtura (larutan dalam alkohol)

Solusio dibagi dalam :


1. Kompres
2. Rendam (bath), misalnya rendam kaki, rendam tangan
3. Mandi (full bath)
KOMPRES

Pada kompres terdapat pendinginan dengan adanya penguapan


Bahan aktif yang dipakai dalam kompres biasanya bersifat astringen dan
antimikrobial.
Astringen mengurangi eksudat akibat presipitasi protein.
Dikenal 2 macam kompres yaitu : Kompres terbuka & kompres tertutup
KOMPRES TERBUKA
INDIKASI :
Dermatosis madidans
Infeksi kulit dengan eritema yang mencolok, misalnya erysipelas
Ulkus kotor yang mengandung pus dan krusta
EFEK PADA KULIT :
Kulit yang semula eksudatif menjadi kering
Permukaan kulit menjadi dingin
Vasokontriksi
Eritema berkurang
KOMPRES TERTUTUP

Kompres impermeabel
Vasodilatasi, bukan untuk penguapan
INDIKASI :
Kelainan yang dalam, misalnya limfogranuloma venerium
CARA :
Digunakan pembalut tebal dan ditutup dengan bahan impermeabel, misalnya
selofan atau plastik.
BEDAK
EFEK BEDAK PADA KULIT :
Mendinginkan
Antiinflamasi ringan karena ada sedikit efek vasokontriksi
Anti-pruritus lemah
Mengurangi pergeseran pada kulit yang berlipat (intertrigo)
Proteksi mekanis
INDIKASI :
Dermatosis yang kering dan superfisial
Mempertahankan vesikel/bula agar tidak pecah, misalnya pada varisela dan herpes zoster
KONTRAINDIKASI :
Dermatitis yang basah, terutama bila disertai dengan infeksi sekunder
Bahan dasarnya ialah talkum venetum, biasanya bedak dicampur dengan seng
oksida, sebab zat ini bersifat mengabsorpsi air dan sebum, astrigen, antiseptic
lemah dan antipruritus lemah.
SALAP

Bahan dasar biasanya vaselin, tetapi dapat pula lanolin atau minyak
INDIKASI :
Dermatosis yang kering dan kronik
Dermatosis yang dalam dan kronik, Karena daya penetrasi salap paling kuat jika
dibandingkan dengan bahan dasar lainnya.
Dermatitis yang bersisik dan berkrusta.
KONTRAINDIKASI :
Dermatitis Madidans
Kelainan kulit pada bagian yang berambut
BEDAK KOCOK

INDIKASI :
Dermatosis yang kering, superfisial dan agak luas, yang diinginkan ialah sedikit
penetrasi.
Pada keadaan subakut.
KONTRAINDIKASI :
Dermatitis madidans
Daerah badan yang berambut
KRIM

INDIKASI :
Indikasi kosmetik
Dermatosis yang subakut dan luas, yang dikehendaki ialah penetrasi yang lebih
besar daripada bedak kocok.
Krim boleh digunakan di daerah yang berambut
KONTRAINDIKASI :
Dermatitis madidans
PASTA

Pasta bersifat protektf dan mengerigkan


INDIKASI :
Dermatosis yang agak basah
KONTRAINDIKASI :
Dermatosis yang eksudatif dan daerah yang berambut.
Daerah genital eksterna dan lipatan-lipatan badan, Karena pasta terlalu melekat.
LINIMEN

INDIKASI :
Dermatosis yang subakut
KONTRAINDIKASI :
Dermatosis madidans
BAHAN AKTIF

1. Alumunium Asetat
2. Asam Asetat
3. Asam benzoat
4. Asam borat
5. Asam Salisilat
6. Asam Undesilenat
7. Asam vit.A (tretinoim, asam retinoat)
8. Benzokain
9. Benzil benzoate
10. Camphora
11. KORTIKOSTEROID TOPIKAL
7 PENGGOLONGAN KORTIKOSTEROID
TOPIKAL
1. GOLONGAN 1 (SUPER POTEN)
2. GOLONGAN 2 (POTENSI TINGGI)
3. GOLONGAN 3 (POTENSI TINGGI)
4. GOLONGAN 4 (POTENSI SEDANG)
5. GOLONGAN 5 (POTENSI SEDANG)
6. GOLONGAN 6 (POTENSI SEDANG)
7. GOLONGAN 7 (POTENSI LEMAH)
K.T bersifat paliatif dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan
merupakan pengobatan kausal.
Pada umumnya dianjurkan pemakaian salap 2-3x/hari sampai penyakit itu
sembuh.
Perlu dipertimbangkan adanya gejala takifilaksis.
Lama pemakaian steroid topical sebaiknya tidak lebih dari 4-6 minggu untuk
steroid potensi lemah dan tidak lebih dari 2 minggu untuk potensi kuat.
EFEK SAMPING
Penggunaan K.T yang lama dan berlebihan
Penggunaan K.T dengan potensi kuat atau sangat kuat atau penggunaan oklusif.
Makin tinggi potensi K.T makin cepat efek sampingnya
Gejala efek samping :
Atrofi
Strie atrofise
Telangietaksis
Purpura
Dermatosis akneformis
Hipopigmentasi
Menghambat penyembuhan ullkus
Infeksi mudah terjadi dan meluas
Gambaran khas penyakit infeksi menjadi kabur
ANTIBIOTIK

INDIKASI : Infeksi bakteri


PRINSIP :
Efektif sesuai dengan kuman penyebab
Tidak dipakai sebagai obat sistemik
Tidak menimbulkan sensitisasi
ANTIBIOTIK

Basitrasin : (+)(-) Gram


Mupirosin : (+)(-) Gram
Na Fusidat : terutama stafilokokus
Polimiksin : (-) Gram, kecuali proteus,serratia
Neomisin : (+)(-) Gram, dapat sensitisasi
ANTIJAMUR

Nistatin : kandida
Siklopiroksolamin : dermatofita, kandida
Haloprogin : dermatofita, M furfur, kandida
Tolnaftat : dermatofita
Deriavat imidazole : dermatofita, M furfur, kandida
SISTEMIK

Kerja singkat : 8-12 jam


Kerja sedang : 12-36 jam
Kerja lama : 36-72 jam
DAFTAR PUSTAKA

Adhi Djuanda, dkk. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p. 311-328.
Griffiths, W.A.D. and Wilkinson, J.D.Z.: Topical theraphy; in Rook, A.;
Wilkinson, D.S. and Ebling, F.J.G.
TERIMAKASIH