Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN SIROSIS HEPATIS

OLEH
KELOMPOK I
Latar Belakang
Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh
manusia. Didalam hati terjadi proses-proses
penting bagi kehidupan kita, yaitu
penyimpanan energi, pengaturan metabolism
kolesterol dan penetralan racun / obat yang
masuk dalam tubuh kita. Sehingga kita dapat
bayangkan akibat yang bisa timbul apabila
terjadi kerusakan pada hati kita.
RUMUSAN MASALAH

Apa definisi sirosis hepatis ?


Apa saja etioogi sirosis hepatis ?
Bagaimana Manifestasi klinik sirosis hepatis ?
Bagaimana patofisiologi sirosis hepatis ?
Bagaimana Pemeriksaan penunjang pada sirosis
hepatis ?
Bagaimana Pentalaksanaan pada sirosis hepatis ?
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien
dengan sirosis hepatis ?
TUJUAN

Tujuan secara umum :


mengerti tentang sirosis hepatis dan memahami
apa yang harus di lakukan seorang perawat untuk
menangani sirosis hepatis .
Tujuan secara khusus :
mengetahui definisi, etiologi, manifestasi klinis,
patofisiologi, kompikasi, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan sirosis hepatis, dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan sirosis hepatis.
MANFAAT

Mengetahui tentang definisi sirosis hepatis.


Mengetahui etiologi dari penyakit sirosis
hepatis.
Untuk mengetahui pemberian asuhan
keperawatan pada kasus sirosis hepatis yang
dimulai dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi dan
evaluasi
A. Pengertian
Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya
peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan
proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel
hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan
parenkim hati (Mansjoer, FKUI, 2001).
B. Anatomi dan Fisiologi
Hati merupakan organ terbesar didalam tubuh,
beratnya sekitar 1500 gram. Letaknya dikuadaran
kanan atas abdomen, dibawah diafragma dan
terlindungi oleh tulang rusuk (costae). Hati dibagi
menjadi 4 lobus dan setiap lobus hati terbungkus
oleh lapisan tipis jaringan ikat yang membentang
kedalam lobus itu sendiri dan membagi massa
hati menjadi unit-unit kecil, yang disebut lobulus
Fungsi metabolik hati:

Metabolisme glukosa
Konversi amonia
Metabolisme protein
Metabolisme lemak
Penyimpanan vitamin dan zat besi
Metabolisme obat
Pembentukan empedu
Ekskresi bilirubin
C. Etiologi
Menurut FKUI (2001), penyebab sirosis hepatis
antara lain
Malnutrisi
Alkoholisme
Virus hepatitis
Kegagalan jantung yang menyebabkan
bendungan vena hepatika
Penyakit Wilson (penumpukan tembaga yang
berlebihan bawaan)
Hemokromatosis (kelebihan zat besi)
Zat toksik
D. Patofisiologi
Meskipun ada beberapa faktor yang terlibat dalam
etiologi sirosis, konsumsi minuman beralkohol
dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Sirosis
terjadi dengan frekuensi paling tinggi pada peminum
minuman keras
Faktor lainnya dapat memainkan peranan, termasuk
pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida,
naftalen terklorinasi, asen atau fosfor) atau infeksi
skistosomiasis yang menular. Jumlah laki-laki penderita
sirosis adalah dua kali lebih banyak daripada wanita,
dan mayoritas pasien sirosis berusia 40-60 tahun
(Smeltzer & Bare, 2001).
Sirosis alkoholik atau secara historis disebut sirosis
Laennec ditandai oleh pembentukan jaringan parut
yang difus, kehilangan sel-sel hati yang uniform, dan
sedikit nodul regeneratif. Sehingga kadang-kadang
disebut sirosis mikronodular
E. Manifestasi Klinis

Pembesaran Hati
Obstruksi Portal dan Asites
Varises Gastrointestinal
Edema
Defisiensi Vitamin dan Anemia
Kemunduran Mental
D. Penatalaksanaan

Pasien dalam keadaan kompensasi hati yang baik


cukup dilakukan kontrol yang teratur
Pasien sirosis dengan penyebab yang diketahui seperti
Alkohol dan obat-obatan dianjurkan menghentikan
penggunaannya
Hemokromatis
Dihentikan pemakaian preparat yang mengandung
besi/ terapi kelasi (desferioxamine). Dilakukan vena
seksi 2x seminggu sebanyak 500cc selama setahun.
Pada hepatitis kronik autoimun diberikan kortikosteroid.
Komplikasi
Hipertensi portal
Coma/ ensefalopaty hepatikum
Hepatoma
Asites
Peritonitis bakterial spontan
Kegagalan hati (hepatoselular)
Sindrom hepatorenal
Pengkajian

Pengkajian pada pasien sirosis hepatis


menurut Doenges (2000) sebagai berikut:
Demografi
Usia : diatas 30 tahun
Laki-laki beresiko lebih besar daripada perempuan
Pekerjaan : riwayat terpapar toksin
Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang : kaji keluhan klien, kapan
mulai tanda dan gejala, faktor yang mempengaruhi,
apakah berhubungan dengan stres atau keluhan fisik,
apakah ada upaya-upaya yang dilakukan.
Riwayat kesehatan masa lalu : berupa penyakit dahulu
yang pernah diderita, dan hubungannya dengan keluhan
sekarang :Riwayat hepatitis kronis , Penyakit gangguan
metabolisme : DM, Obstruksi kronis ductus coleducus ,
Gagal jantung kongestif berat dan kronis , Penyakit
autoimun , Riwayat malnutrisi kronis terutama KEP
Riwayat alergi : apakah ada reaksi alergi terhadap suatu
zat-zat terutama seperti obat atau makanan.
Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
yang sama dengan klien.
Pola Fungsional
Aktivitas/ istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan.
Tanda : Letargi, penurunan massa otot/ tonus.
Sirkulasi
Gejala : Riwayat Gagal Jantung Kongestif (GJK)
kronis, perikarditis, penyakit jantung rematik,
kanker (malfungsi hati menimbulkan gagal
hati), disritmia, bunyi jantung ekstra, DVJ;
vena abdomen distensi.
Cont..
Eliminasi Gejala : Flatus.
Tanda : Distensi abdomen (hepatomegali, splenomegali,
asites), penurunan/ tak adanya bising usus, feses warna
tanah liat, melena, urine gelap, pekat.

Makanan/ cairan
Gejala : Anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/ tak
dapat mencerna, mual/ muntah.
Tanda : Penurunan berat badan/ peningkatan (cairan), kulit
kering, turgor buruk, ikterik : angioma spider, napas
berbau/ fetor hepatikus, perdarahan gusi.
Neurosensori
Gejala : Orang terdekat dapat melaporkan perubahan
kepribadian, penurunan mental.
Tanda : Perubahan mental, bingung halusinasi, koma, bicara
lambat/ tak jelas.
Cont
Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan abdomen/ nyeri kuadran kanan
atas. Tanda : Perilaku berhati-hati/ distraksi, fokus pada
diri sendiri.
Pernapasan Gejala : Dispnea.
Tanda : Takipnea, pernapasan dangkal, bunyi napas
tambahan, ekspansi paru terbatas (asites), hipoksia.
Keamanan Gejala : Pruritus.
Tanda : Demam (lebih umum pada sirosis alkohlik),
ikterik, ekimosis, petekie.
Seksualitas
Gejala : Gangguan menstruasi, impoten.
Tanda : Atrofi testis, ginekomastia, kehilangan rambut
(dada, bawah lengan, pubis)
Pemeriksaan Fisik
Tampak lemah
Peningkatan suhu, peningkatan tekanan darah
(bila ada kelebihan cairan)
Sclera ikterik, konjungtiva anemis
Distensi vena jugularis dileher
Dada : Ginekomastia (pembesaran payudara pada laki-
laki)
Penurunan ekspansi paru
Penggunaan otot-otot asesoris pernapasan
Disritmia, gallop
Suara abnormal paru (rales)
Cont..
Abdomen :
Perut membuncit, peningkatan lingkar
abdomen
Penurunan bunyi usus
Ascites/ tegang pada perut kanan atas, hati
teraba keras
Nyeri tekan ulu hati
Urogenital :Atropi testis, Hemoroid
Integumen : Ikterus, palmar eritema, spider naevi,
alopesia, ekimosis
Ekstremitas : Edema, penurunan kekuatan otot
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Darah lengkap : Hb/ Ht dan SDM mungkin menurun
karena perdarahan
Kenaikan kadar SGOT, SGPT
Albumin serum menurun
Pemeriksaan kadar elektrolit : hipokalemia
Pemanjangan masa protombin
Glukosa serum : hipoglikemi
Fibrinogen menurun
BUN meningkat
Pemeriksaan diagnostik
Radiologi : Dapat dilihat adanya varises esofagus
untuk konfirmasi hipertensi portal.
Esofagoskopi : Dapat menunjukkan adanya varises
esofagus.
USG
Angiografi :Untuk mengukur tekanan vena porta.
Skan/ biopsi hati : Mendeteksi infiltrat lemak,
fibrosis, kerusakan jaringan hati.
Partografi transhepatik perkutaneus
Memperlihatkan sirkulasi sistem vena portal.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan
ekspansi paru, asites.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake inadekuat.
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ascites,
edema.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
5. Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi
garam empedu pada kulit.
6. Resiko perdarahan berhubungan dengan gangguan
metabolisme protein.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan
pertahanan tubuh.
8. Resiko perubahan proses pikir berhubungan dengan
peningkatan amonia dalam darah.
C. Intervensi dan Rasional
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, asites.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pola nafas
menjadi efektif.
Kriteria hasil :
Melaporkan pengurangan gejala sesak nafas.
Memperlihatkan frekuensi respirasi yang normal (12-18 x/ menit) tanpa
terdengarnya suara pernapasan tambahan.
Memperlihatkan pengembangan toraks yang penuh tanpa gejala pernapasan
dangkal.
Tidak mengalami gejala sianosis.
Intervensi :
Awasi frekuensi, kedalaman dan upaya pernapasan.
Rasional : Pernapasan dangkal cepat/ dispnea mungkin ada hubungan dengan
akumulasi cairan dalam abdomen.
Pertahankan kepala tempat tidur tinggi, posisi miring.
Rasional : Memudahkan pernapasan dengan menurunkan tekanan pada
diafragma.
Ubah posisi dengan sering, dorong latihan nafas dalam, dan batuk.
Rasional : Membantu ekspansi paru dan memobilisasi sekret.
Berikan tambahan oksigen sesuai indikasi. Rasional : Untuk mencegah
hipoksia.
Cont .
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kebutuhan
nutrisi tubuh terpenuhi.
Kriteria hasil :
Menunjukkan peningkatan berat badan secara progresif.
Tidak mengalami tanda malnutrisi lebih lanjut. Intervensi :
Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori.
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan.
Berikan makan sedikit tapi sering.
Rasional : Buruknya toleransi terhadap makanan banyak mungkin berhubungan
dengan peningkatan tekanan intraabdomen/ asites.
Berikan perawatan mulut sering dan sebelum makan.
Rasional : Klien cenderung mengalami luka dan perdarahan
gusi dan rasa tidak enak pada mulut dimana
menambah anoreksia.
Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional : Mungkin sulit untuk menggunakan berat badan sebagai indikator
langsung status nutrisi karena ada gambaran edema/ asites.
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh glukosa serum, albumin, total protein dan amonia.
Rasional : Glukosa menurun karena gangguan glukogenesis, penurunan simpanan
glikogen, atau masukan tidak adekuat.
Cont.
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ascites, edema. Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam terjadi balance cairan.
Kriteria hasil :
Menunjukkan volume cairan stabil dengan keseimbangan pemasukan dan
pengeluaran.
Berat badan stabil.
Tanda vital dalam rentang normal dan tidak ada edema.
Intervensi :
Ukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif. Rasional : Menunjukkan
status volume sirkulasi.
Auskultasi paru, catat penurunan/ tidak adanya bunyi napas dan terjadinya bunyi
tambahan.
Rasional : Peningkatan kongesti pulmonal dapat mengakibatkan konsolidasi,
gangguan pertukaran gas, dan komplikasi.
Dorong untuk tirah baring bila ada asites.
Rasional : Dapat meningkatkan posisi rekumben untuk diuresis.
Awasi TD dan CVP.
Rasional : Peningkatan TD biasanya berhubungan dengan kelebihan volume cairan.
Awasi albumin serum dan elektrolit.
Rasional : Penurunan albumin serum mempengaruhi tekanan osmotik koloid
plasma, mengakibatkan edema.
Cont
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan selama 1x24 jam klien toleran terhadap
aktivitas.
Kriteria hasil :
Melaporkan peningkatan kekuatan dan kesehatan klien.
Merencanakan aktivitas untuk memberikan kesempatan istirahat yang cukup.
Meningkatkan aktivitas dan latihan bersamaan dengan
bertambahnya kekuatan.
Intervensi :
Tawarkan diet tinggi kalori, tinggi protein (TKTP).
Rasional : Memberikan kalori bagi tenaga dan protein bagi proses
penyembuhan.
Berikan suplemen vitamin (A, B kompleks, C dan K) Rasional : Memberikan
nutrien tambahan.
Motivasi klien untuk melakukan latihan yang diselingi istirahat. Rasional :
Menghemat tenaga klien sambil mendorong klien untuk melakukan latihan
dalam batas toleransi klien.
Motivasi dan bantu klien untuk melakukan latihan dengan periode waktu yang
ditingkatkan secara bertahap.
Rasional : Memperbaiki perasaan sehat secara umum dan percaya diri.
Cont..
5. Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu pada
kulit.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam integritas kulit
terjaga.
Kriteria hasil :
Memperlihatkan turgor kulit yang normal pada ekstremitas dan batang tubuh.
Tidak memperlihatkan luka pada tubuh.
Memperlihatkan jaringan yang normal tanpa gejala eritema, perubahan warna atau
peningkatan suhu didaerah tonjolan tulang.
Intervensi :
Batasi natrium seperti yang diresepkan. Rasional : Meminimalkan pembentukan
edema.
Berikan perhatian dan perawatan yang cermat pada kulit. Rasional : Jaringan dan
kulit yang edematous mengganggu
suplai nutrien dan sangat rentan terhadap tekanan serta trauma.
Balik dan ubah posisi klien dengan sering.
Rasional : Meminimalkan tekanan yang lama dan meningkatkan mobilisasi edema.
Lakukan latihan gerak secara pasif, tinggikan ekstremitas edematous.
Rasional : Meningkatkan mobilisasi edema.
Letakkan bantalan busa yang kecil dibawah tumit, dan tonjolan tulang lain.
Rasional : Melindungi tonjolan tulang dan meminimalkan trauma jika dilakukan
dengan benar.
Cont
6. Resiko perdarahan berhubungan dengan gangguan metabolisme protein.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam tidak terjadi
perdarahan.
Kriteria hasil :
Mempertahankan homeostasis dengan tanpa perdarahan.
Menunjukkan perilaku penurunan resiko perdarahan.
Intervensi :
Kaji adanya tanda-tanda dan gejala perdarahan gastrointestinal. Rasional : Traktus GI
paling bisa untuk sumber perdarahan sehubungan dengan mukosa yang mudah rusak
dan gangguan dalam homeostasis karena sirosis.
Observasi adanya ptekie, ekimosis, perdarahan dari satu atau lebih sumber.
Rasional : Adanya gangguan faktor pembekuan.
Awasi nadi, TD, dan CVP bila ada.
Rasional : Peningkatan nadi dengan penurunan TD dan CVP dapat menunjukkan
kehilangan volume darah sirkulasi, memerlukan evaluasi lanjut.
Awasi Hb/ Ht dan faktor pembekuan. Rasional : Indikator anemia, perdarahan aktif.
Catat perubahan mental/ tingkat kesadaran.
Rasional : Perubahan dapat menunjukkan penurunan perfusi jaringan serebral sekunder
terhadap hipovolemia, hipoksemia.
Cont
7. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan tubuh.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil :
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Menunjukkan teknik melakukan perubahan pola hidup untuk
menghindari infeksi ulang.
Intervensi :
Kaji tanda vital dengan sering. Rasional : Tanda adanya syok septik.
Lakukan teknik isolasi untuk infeksi, terutama cuci tangan efektif.
Rasional : Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.
Awasi/ batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional : Klien terpajan terhadap proses infeksi potensial resiko
komplikasi sekunder.
Berikan obat sesuai indikasi : antibiotik.
Rasional : Pengobatan untuk mencegah/ membatasi infeksi
sekunder.
Cont
8. Resiko perubahan proses pikir berhubungan dengan peningkatan amonia dalam
darah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam tidak terjadi
perubahan proses pikir.
Kriteria hasil :
Mempertahankan tingkat mental/ orientasi kenyataan.
Menunjukkan perilaku/ pola hidup untuk mencegah/ meminimalkan perubahan
mental.
Intervensi :
Observasi perubahan perilaku dan mental.
Rasional : Karena merupakan fluktuasi alami dari koma hepatik.
Konsul pada orang terdekat tentang perilaku umum dan mental klien.
Rasional : Memberikan dasar untuk perbandingan dengan status saat ini.
Pertahankan tirah baring, bantu aktivitas perawatan diri. Rasional : Mencegah
kelelahan, meningkatkan penyembuhan,
menurunkan kebutuhan metabolik hati.
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : amonia, elektrolit, pH, BUN, glukosa
dan darah lengkap.
Rasional : Peningkatan kadar amonia, hipokalemia, alkalosis metabolik,
hipoglikemia, anemia, dan infeksi dapat mencetuskan terjadinya koma hepatik.