Anda di halaman 1dari 74

LAPORAN KASUS OBSTETRI

G2P1A0H1 UK 37-38 minggu dengan Ante Partum Bleeding e.c Placenta Previa Totalis

Tri Anna Fitriani


Pembimbing :dr. Doddy Ario Kumboyo, SpOG(K)

Dalam Rangka Mengikuti Kepanitraan Klinik Madya


Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran
Universitas Mataram
BAB I
PENDAHULUAN
Sesuai dengan Millenium Development Goals
tahun 2015 dengan butir ke empat dan ke lima
yang bertujuan menurunkan angka kematian anak
dan meningkatkan kesehatan ibu, pemerintah
telah mencanangkan target kematian ibu
maksimal 102 per 100 ribu kelahiran dan angka
kematian bayi 23 per 100 ribu kelahiran.
Tetapi berdasarkan survei kedokteran pada tahun 2012,
angka kematian ibu masih di atas 200 setiap 100 ribu
kelahiran.
Sedangkan kematian anak di atas 34 per 100 ribu kelahiran.
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah
perdarahan 40-60%, infeksi 20-30%, pre eklampsia atau
eklampsia 20-30%, dan sisanya sekitar 5% disebabkan
penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan
Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat
darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua
persalinan, penyebabnya antara lain plasenta
previa 32%, solusio plasenta 30%, inpartu biasa
10%, kelainan lokal 4%, vasa previa 0,1%, dan
tidak diketahui sebabnya 23,9%
Berdasarkan hal tersebut maka disini penulis ingin
melaporkan sebuah kasus perdarahan antepartum
yang terjadi di RSUDP NTB pada tanggal 4 April
2017. Oleh karena angka kematian yang cukup
tinggi dan juga kejadian yang cukup sering akibat
perdarahan antepartum khususnya plasenta
previa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Plasenta previa adalah keadaaan dimana
plasenta berimplantasi pada tempat abnormal,
yaitu pada segmen bawah rahim sehingga
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan
jalan lahir .
EPIDEMIOLOGI
Plasenta previa terjadi sekitar 1 dalam 200
kelahiran, tetapi hanya 20% termasuk dalam
plasenta previa totalis.
Frekuensi plasenta previa pada primigravida yang
berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih
sering dibandingkan dengan primigravida berusia
kurang dari 25 tahun.
Pada grande multipara yang berumur lebih dari 35
tahun kira-kira 4 kali lebih sering dibandingkan
dengan grande multipara yang berumur kurang
dari 25 tahun.
KLASIFIKASI
Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada
keadaan anatomi melainkanfisiologi. Plasenta
previa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:3
a. Menurut Cunningham (2010) :
Plasenta previa totalis, yaitu seluruh ostium uteri
internum tertutupi oleh plasenta.
Plasenta previa parsialis, yaitu sebagian ostium
uteri internum tertutupi oleh plasenta.
Plasenta previa marginalis, yaitu bila pinggir
plasenta tepat berada di pinggir ostium uteri
internum.
Low-laying placenta (plasenta letak rendah), yaitu
tepi plasenta terletak pada 3-4 cm dari tepi ostium
uteri internum.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (2014) :
Plasenta previa totalis yaitu palsenta yang menutupi
seluruh osteum uteri internum
Plasenta previa partialis yaitu menutupi sebagian
ostium uteri internum.
Plasenta previa marginalis, apabila tepi plasenta
berada sekitar pinggir ostium uteri internum.
Plasenta letak rendah yaitu plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim
sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih
kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Jarak
yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak
normal.

Gambar 2 1. Macam-macam Letak


Plasenta Previa
ETIOLOGI
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada
keadaan-keadaan yang endometriumnya kurang
baik, misalnya karena atrofi endometrium atau
kurang baiknya vaskularisasi desidua. Keadaan ini
bisa ditemukan pada :4
Multipara, terutama jika jarak antara
kehamilannya pendek
Usia 35 tahun
Mioma uteri
Kuretase yang berulang
Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada
wanita perokok atau pemakai kokain. Hipoksemi
yang terjadi akibat karbon monoksida akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini
terjadi terutama pada perokok berat (lebih dari 20
batang sehari)
PATOFISIOLOGI
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada
trisemester ketiga mulai terbentuknya segmen
bawah rahim, tapak plasenta akan mengalami
pelepasan.
Tapak plasenta terbentuk dari jaringan maternal
yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh
menjadi bagian dari uri.
Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi
segmen bawah rahim,plasenta yang berimplantasi
akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada
Plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum
perdarahan terjadi lebih awal segmen
bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian
terbawah yaitu ostium uteri internum.
Plasenta previa parsialis atau letak rendah
perdarahan baru akan terjadi pada waktu mendekati
atau mulai persalinan.
Perdarahan yang pertama sudah bisa terjadi pada
kehamilan dibawah 30 minggu, tetapi lebih
separuh kejadiannya pada kehamilan 34 minggu
ke atas.
Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh
mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot
perdarahan pasca persalinan pada plasenta
previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta
sukar melepas dengan sempurna (retensio plasenta)
atau setelah uri lepas karena segmen bawah rahim
tidak mampu berkontraksi dengan baik .
GEJALA KLINIK

Perdarahan tanpa nyeri


Warna darah merah segar
Bagian terendah janin masih tinggi / tidak masuk PAP
Belainan letak janin
Keadaan umum sesuai dengan banyaknya perdarahan
Perdarahan berulang
DIAGNOSIS
Anamnesis

Sesuai dengan gajala klinis,:


perdarahan spontan dan berulang melalui jalan
lahir tanpa ada rasa nyeri, usia kehamilan 28
minggu
Pemeriksaan Fisik

Inspeksi : Terlihat perdarahan pervaginam


berwarna merah segar.
Palpasi abdomen : Janin sering belum cukup bulan,
jadi fundus uteri masih rendah, sering disertai
kelainan letak janin, bagian bawah janin belum
masuk PAP
Inspekulo : Dengan pemeriksaan inspekulo dengan hati-
hati dapat diketahui asal perdarahan, apakah dari dalam
uterus, vagina, varises yang pecah atau lain-lain. Apabila
perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya
plasenta previa harus dicurigai.
(PDMO / Pemeriksaan Dalam di Meja Operasi) karena
dengan pemeriksaan dalam, akan menyebabkan
perdarahan pervaginam yang lebih banyak .
Pemeriksaan penunjang
Plasenta previa hampir selalu dapat didiagnosis
dengan menggunakan USG abdomen, yang 95%
dapat dilakukan tiap saat.
Diagnosa Banding

Solusio plasenta
Ruptur uteri
Gangguan pembekuan darah
PENATALAKSANAAN

Penanganan Konservatif
Syarat
Preterm ( TBJ <2.500 gr atau UK 37 minggu)
DJJ baik
Perdarahan sedikit atau sudah stop
Cara perawatan
Jika perdarahan berhenti, tirah baring selama
Observasi ketat di ruang bersalin 2 hari (mobilisasi)
(VK) selama 24 Observasi perdarahan, DJJ,tekanan darah tiap
KU ibu diperbaiki jika anemia: 6 jam
Tranfusi Bila perdarahan berualang, dilakukan
Kortikosteroid penanganan aktif
Bila UK <35 minggu atau TBJ Boleh pulang bila tidak terjadi perdarahan
<2000 gr, injeksi Deksametason
ulang dengan nasehat:
12 mg/12 jam (IM) selama 1
hari Istrahat
Dilarang koitus selama 1 minggu
Segera masuk rumah sakit bila terjadi
perdarahan lagi
Periksa ulang 1 minggu lagi
Penanganan Aktif
Pada pasien degan kehamilan aterm, segera
terminasi kehamilan tanpa memandang usia
keamilan bila perdrahan aktif ( perdarahan > 500
cc dalam 30 menit), perdarahan berulang dan
diagnosis sudah ditegakkan segera lakukan seksio
sesarea dengan sebelumnya memperbaiki
keadaan umum ibu.
KOMPLIKASI
1. Perdarahan antepartum 6. Prolaps plasenta
2. Perdarahan postpartum 7. Robekan jalan lahir
3. Hipovolemik 8. Bayi premature atau lahir
4. Infeksi mati

5. Abortus
PROGNOSIS
Dengan penanggulangan yang baik seharusnya
kematian ibu karena plasenta previa rendah sekali
atau tak adasama sekali. Persalinan prematur
adalah kausa utama kematian perinatal walaupun
sudah dilakukan penatalaksanaan konservatif
pada plasenta previa
BAB III
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Identitas pasien Identitas suami
Nama : Ny. S
Nama : Tn.M
Usia : 29 tahun
Pendidikan terakhir : SMP
Usia : 32 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : Tamat SMP
Agama : Islam Pekerjaan : Buruh
Alamat : Dasan Tereng,Narmada
Agama : Islam
Suku: Sasak
No. RM : 59.03.78
Alamat : Dasan Tereng,Narmada
Tanggal masuk RS : 4 April 2017 Suku : Sasak
ANAMNESIS
Keluhan utama:
Perdarahan melalui jalan lahir sejak 30 menit sebelum masuk
rumah sakit.

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke VK IGD RSUD Provonsi NTB dengan keluhan
keluar darah dari jalan lahir sejak jam 22.00 (4 April 2017).
Pasien mengaku hamil 8 bulan.
Perdarahan yang keluar berwarna merah segar sebanyak
300cc (darah ditampung dengan sarung) tanpa disertai
dengan keluhan nyeri perut sebelumnya. Keluhan ini
dirasakan ketika pasien sedang beristirahat. Keluarnya
darah yang bergumpal dan kehitaman disangkal oleh
pasien. keluarnya air dari jalan lahir dsangkal oleh pasien,
pergerakan janin masih dapat dirasakan. Riwayat trauma
yang mendahului sebelum terjadinya perdarahan disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien pernah mengalami keluhan yang serupa
pada usia kehamilan 35-36 minggu,dan dirawat di
RSUD Provinsi NTB pada tanggal 23 Maret 2016
dengan diagnosis APB e.c placenta previa
marginalis . Riwayat HT (-), asma (-), DM (-)

Riwayat Penyakit Keluarga:


Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang
mengalami keluhan serupa dengan pasien, HT (-),
Riwayat Menstruasi:
Pasien menarche saat berusia 12 tahun. Lama
haid 7 hari, siklus haid 28 hari, ganti pembalut 2
kali/ hari penuh, dan tidak terdapat keluhan saat
haid. HPHT ( 14/07/2016), Hari taksiran persalinan
(21/04/17)

Riwayat Pernikahan:
Pasien menikah 1 kali saat berusia 19 tahun,
suami usia 22 tahun.
Riwayat Obstetri
G2P1A0H1 :
I. Laki-laki, usia 8 tahun, berat lahir 2900 gram,
lahir normal di Polindes dibantu oleh Bidan.
II. Hamil ini

Riwayat ANC:
9 kali ( 8 kali di puskesmas narmada dan 1 kali di
poli hamil RSUD Provinsi NTB), ANC terakhir
(03/04/2017) TD: 110/70, BB: 52 kg, UK:36-37
minggu, TFU: 30 cm, letkep,DJJ +.
Riwayat USG:
USG II (24 /03/2017)
Pasien mengaku sudah
pernah di USG sebanyak 2 Janin tunggal hidup
kali. intra uterin presentasi
kepala
USG I (30/01/2017)
Plasenta di corpus
Janin tunggal hidup intra posterior mencapai tepi
uterin presentasi kepala, UK
28-29 minggu OUI
TBJ: 1340gram TBJ: 2588 gram
Kesan : Placenta Previa Totalis Kesan : Placenta Previa
Marginalis
Riwayat Kontrasepsi:
Setelah kelahiran anak pertama pasien tidak
pernah menggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi
yang direncanakan setelah kelahiran anak ke 2
yaitu KB suntik.

Riwayat Sosial Ekonomi dan Kebiasaan:


Pasien merupakan ibu rumah tangga, suami
pasien bekerja sebagai buruh. Pasien mengaku
tidak merokok tapi merupakan perokok pasif, tidak
minum alkohol, tidak minum jamu-jamuan, tidak
mengkonsumsi narkoba atau obat lainnya.
Status Lokalis
Kepala : Normochepali, deformitas (-)
Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-
Leher : Kelenjar getah bening tidak
teraba membesar,
PEMERIKSAAN FISIK Tiroid tidak teraba membesar
Status Generalis Thoraks
Keadaan Umum : Sedang Cor : S1S2 tunggal reguler,
Kesadaran : Compos mentis murmur (-), gallop (-)
BB / TB : 50 kg / 149 cm Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+,
Tanda vital rhonki -/-, wheezing -/-
Tekanan Darah :110/80 Abdomen
mmHg
Inspkesi : linea nigra (+), stria (+)
Nadi : 88 x/menit scar (-) Auskultasi : BU (+)
Suhu : 36.5C
Palpasi :kontraksi uterus (-), nyeri
Pernapasan : 20 x/menit tekan (-), massa (-)
Ekstremitas : Akral hangat +/+, edema -/-
Status Obstetri
Leopold
I : bulat, tidak melenting (bokong)
II : keras seperti papan di sebelah kanan ibu (punggung
kanan), bagian-bagian kecil di sebelah kiri
III : bulat, melenting (kepala)
IV : belum masuk PAP 5/5

TFU = 30 cm
TBJ = (30-12) x 155 = 2790
DJJ: + (12-12-12): 144x/ menit
Genitalia
Inspeksi : perdarahan dari jalan lahir(+), perdarahan aktif
(-)
Inspekulo : OUE O (-), stolsel (+), perdarahan aktif (-),
portio licin, livide (+), fluxus (+) minimal pada vulvovagina,
tidak tampak adanya laserasi dan varises yang pecah.
VT : tidak dilakukan
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium (04/04/2017)
Hematologi
USG ( 3 April 2017)
HGB : 10,4 g/dL
Janin tunggal hidup intra
WBC : 6,20 10^3/uL uterin presentasi kepala
PLT : 225 10^3/uL Plasenta di corpus posterior
mencapai tepi OUI
GDS : 74 mgl/dl
TBJ: 2574 gram
HbSAg : Non reakttif
Kesan: Placenta Previa
PPT : 12,9 detik Marginalis
APTT : 31,3 detik
RESUME
G2P1A0H1 usia kehamilan 37-38 minggu datang ke VK IGD RSUD Provinsi NTB mengaku
keluar darah dari jalan lahir sejak 30 menit SMRS, warna merah terang, darah ditampung
dengan satu sarung, nyeri perut disangkal, keluar darah yang bergumpal dan kehitaman
disangkal, keluar lendir dan air dari kemaluan disangkal, gerak janin aktif, keputihan (-),
Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD : 110/80 mmHg, N : 88 x/menit, t : 36.5C, RR : 20
x/menit. Status generalis berada dalam batas normal. Status obstetrik didapatkan leopold
I: bulat, tidak melenting (bokong), II: punggung kanan, III: bulat, melenting (kepala), IV:
bagian bawah janin belum masuk PAP 5/5. TFU 30 cm, DJJ 144 dpm. TBJ 2790 gram.
Genitalia tenang, perdarahan aktif (-). Inspekulo: OUE O (-), stolsel (+), perdarahan aktif
(-), portio licin, livide (+), fluxus (+) minimal pada vulvovagina, tidak tampak adanya
laserasi dan varises yang pecah, VT tidak dilakukan. Pada pemeriksaan penunjang
(laboratorium) masih dalam batas normal. Pada pemeriksaan USG didapatkan janin
presentasi kepala tunggal hidup intra uterin, plasenta korpus posterior mencapai tepi OUI.
DIAGNOSIS KERJA
G2P1A0H1 usia kehamilan 37-38 minggu, janin tunggal
hidup intrauterin, presentasi kepala dengan ante partum
bleeding et causa plasenta previa marginalis
DIAGNOSA AKHIR
G2P1A0H1 usia kehamilan 37-38 minggu, janin tunggal
hidup intrauterin, presentasi kepala dengan ante partum
bleeding et causa plasenta previa totalis
PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad fungsionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
TATALAKSANA
Rencana Diagnosis :
Observasi tanda vital, kontraksi, perdarahan dan DJJ
CTG
Persediaan darah

Rencana Terapi :
Pro cito SC ( 5 April 2017), inform consent
IVFD RL 20 tpm
Pasang folley catheter
Injeksi ampicilin 1gr/6jam
Persiapkan WB 2 kolf
KIE
Makan dan minum
Laporan operasi SC (5 April 2017 pukul 08.15 WITA)

Nama Ahli Bedah: dr. Edi Prasetyo Wibowo, Sp.OG


Diagnosa Pre Operasi: G2P1A0H1 usia kehamilan 37- 38
minggu dengan APB e.c Placenta Previa Marginalis
Diagnosa Post Operasi: P2A0H2 dengan APB e.c Placenta
Previa Totalis
Penemuan Intra Operasi:
Placenta mengenai seluruh OUI.
Instruksi Post Op
Observasi TTV, kontraksi, dan perdarahan
Medikamentosa
IVFD D5:RL 2:1
Inj Ceftriaxone 1gr/8 jam
Inj ketorolac 1 A/8 jam
Misoprostol 4 tab

Follow Up
Tanggal Subjektif Objektif Assement Planning
04/04/2017 KU : baik, CM
Keluar darah segar TD : 110/80 mmHg G2P1A0H1 usia -IVFD RL 20 tpm
dari jalan lahir (+), N : 84 x/menit kehamilan 37- 38 -Inj. Ampicilin 1g/6 jam
nyeri perut (-), RR : 20 x/menit minggu dengan -Persiapkan WB 2 kolf
pusing (-) keluhan Tax : 36,6 0 C APB e.c Placenta -Pro SC Cito (05/04/2017) jam
BAK dan BAB (-) K/L : anemis (-)/(-) Previa Marginalis 08.00 pagi.
Tho : ves (+)/(+), rho (-)/(-), whe (-)/(-) KIE:
S1S2 tunggal, M (-), G (-) - Makan dan minum yang
Abd : cukup
inspeksi: linea nigra(+). Stria (+),luka bekas -Istirahat yang cukup
SC (-)
palpasi: kontraksi uterus : (-)
auskultasi: DJJ (12-11-12)
Vagina : perdrahan (+)
Eks : akral hangat ++/++, edema --/--
VT: tidak dilakukan
Inspekulo: OUE O (-), stolsel (+),
perdarahan aktif (-), portio licin, livide
(+), fluxus (+).
Lab:
HGB : 10,4 g/dL
WBC : 6,20 10^3/uL
PLT : 225 10^3/uL
GDS : 74 mgl/dl
HbSAg : Non reakttif
PPT : 12,9 detik
05/04/ Post SC, Nyeri KU : baik, CM P2A0H2 post IVFD D5:RL
2017 luka operasi TD : 110/60 mmHg SC dengan APB 2:1
(+). N : 90 x/menit e.c placenta Inj Ceftriaxone
RR : 20 x/menit previa totalis 1gr/8 jam
Tax : 36,70 C Inj ketorolac 1
K/L : anemis (-)/(-) A/8 jam
Tho : ves (+)/(+), rho Misoprostol 4
(-)/(-), whe (-)/(-) tab
S1S2 tunggal, M (-),
G (-)
Abd :
Inspeksi: linea
nigra(+). Stria (+),
luka bekas SC (+),
perdarahan (-)
Palpasi: kontraksi
uterus (+) baik, TFU
1 jari dibawah pusat.
Vagina : lochia rubra
Perdarahan KU : baik, CM P2A0H2 post SC -Rawat Luka
06/04/2016 (-), pusing (-), TD : 110/60 mmHg H+2 dengan APB - IVFD RL
nyeri perut N : 88 x/menit e.c placenta -Asam Mefenamat 3x
(-), mual RR : 20 x/menit previa totalis 500 mg/ 8 jam
muntah (-) Tax : 36,70 C
K/L : anemis (-)/(-)
Tho : ves (+)/(+), rho (-)/
(-), whe (-)/(-)
S1S2 tunggal, M (-), G (-)
Abd :
Inspeksi: linea nigra(+).
Stria (+), luka bekas SC
(+), perdarahan (-)
Palpasi: kontraksi uterus
(+) baik, TFU 1 jari
dibawah pusat.
Vagina : lochia rubra (+)
Eks : akral hangat ++/+
+, edema --/--
ASI: +
KU : baik, CM
07/04/20 Perdarahan TD : 120/70 mmHg P2A0H2 post BPL
16 (-), pusing N : 88 x/menit SC H+3 - Kontrol 3 hari
(-), nyeri RR : 20 x/menit dengan APB - Rawat luka
perut (-), Tax : 36,70 C e.c placenta
mual K/L : anemis (-)/(-) previa totalis
muntah (-) Tho : ves (+)/(+), rho
(-)/(-), whe (-)/(-)
S1S2 tunggal, M (-),
G (-)
Abd :
Inspeksi: linea
nigra(+). Stria (+),
luka bekas SC (+),
perdarahan (-)
Palpasi: kontraksi
uterus (+) baik, TFU
1 jari dibawah pusat.
Vagina : lochia rubra
BAB IV
PEMBAHASAN
Menurut Cunningham (2001) insiden plasenta previa
meningkat dengan meningkatnya paritas dan umur, serta
riwayat partus perabdominal. Hal ini berhubungan
dengan vaskularisasi corpus endometrium yang
berkurang, plasenta yang besar, bentuk abnormal dari
plasenta (plasenta diffusa).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan
plasenta harus tumbuh menjadi luas untuk mecukupi
kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas akan
mendekati atau menutupi ostium internum
Diagnosis dari plasenta previa didapatkan berdasarkan
atas anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama keluarnya
perdarahan yang berulang dari jalan lahir yang terjadi
secara spontan. Perdarahan tersebut berwarna merah
segar, tanpa disertai rasa nyeri perut. Pada anamnesis
pasien memang tidak dapat dipastikan seberapa banyak
pastinya darah yang keluar. Namun, dari keterangan
pasien yang mengatakan darah yang keluar hampir
mengenai satu sarung
Dari pemeriksaan fisik, bisa ditemukan saat inspeksi
yaitu perdarahan pervaginam berwarna merah segar ,
pada inspekulo tampak fluksus minimal, stolsel, tidak
ditemukan laserasi maupun varises yang pecah dan portio
tertutup licin, livide. Pada pasien ini tidak dilakukan
pemeriksaan dalam (vaginal touch).
Untuk memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan penunjang seperti USG
untuk memastikan penyebab terjadinya perdarahan pasien ini dan darah lengkap.
Dari USG didapatkan plasenta korpus posterior mencapai tepi OUI. Dari hasil
pemeriksaan darah lengkap didapatkan kadar Hb masih dalam batas normal.
Dari tanda-tanda yang ditemukan pada pasien yaitu adanya perdarahan tanpa
rasa nyeri setelah usia kehamilan lebih dari 7 bulan, dari pemeriksaan fisik dari
isnpekulo tampak fluksus minimal pada vulvovagina, tidak ditemukan laserasi
maupun varises yang pecah. Dan pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan
dalam. Dari anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dapat
disimpulkan perdarahan yang terjadi pada kehamilan ini disebabkan oleh letak
dari plasenta.
Penatalaksanaan pada kasus ini umunya dapat ditangani
dengan konservatif dan aktif, pada pasien ini dilakukan
terminasi (SC) dengan pertimbangan usia kehamilan
cukup bulan, dan terjadi perdarahan yang berulang pada
pasien, sehingga sehingga dipikirkan bahwa plasenta
sudah menutupi seluruh OU
Beberapa indikasi seksio caesarea pada plasenta previa adalah :
1. Plasenta previa totalis.
2. Plasenta previa pada primigravida.
3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang.
4. fetal distress.
5. 6. Profuse bleeding, perdarahan sangat banyak danmengalir
dengan cepat (perdarahan profuse > 500 cc dalam 30 menit).
REFLEKSI KASUS

Alasan saya memilih plasenta previa sebagai refleksi


kasus yang ingin saya bahas karena kasus ini sering saya
temukan di kepaniteraan klinik di RSUD Provinsi NTB.
Hal menarik dari kasus ini adalah saya dapat mempelajari
tentang perdarahan selama kehamilan dan mencari faktor
risiko dan penyebab perdarahan
Pada kasus ini tidak ditemukan faktor resiko yang begitu
signifikan sehingga dari hal ini menunjukan bahwa ibu
hamil baik dengan resiko tinggi maupun tidak sama-sama
berpeluang untuk terjadinya perdarahan
Banyak hal yang dapat saya pelajari dari kasus ini, salah
satunya adalah setiap ibu hamil baik risiko tinggi maupun
tidak harus mendapatkan perhatian yang lebih mulai dari
masa hamil hingga masa nifas karena perdarahan pada
saat kehamilan dan pasca persalinan dapat terjadi pada
siapapun
Sehingga pada pasien ini harus lebih dijelaskan
pentingnya ANC dan USG sebagai screening untuk
mengetahui kondsi ibu dan janin.
Pelajaran lain yang dapat saya ambil adalah dengan
penegakan diagnosis yang cepat dan tepat serta terapi
yang cepat dan sesuai maka kita dapat meningkatkan
harapan hidup dari seorang pasien.
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Diagnosa yang tepat pada pasien ini adalah G2P1A0H1 usia
kehamilan 37- 38 minggu dengan APB e.c Placenta Previa Totalis
Tanda-tanda yang ditemukan pada pasien ini yaitu adanya
perdarahan tanpa rasa nyeri setelah usia kehamilan lebih dari 7
bulan. Dari pemeriksaan inspekulo tampak fluxus minimal pada
vulvovagina dan tidak ditemukan laserasi maupun varises yang
pecah.

Saran
Sebaiknya petugas medis di daerah lebih berhati-hati
dalam menghadapi pasien dengan perdarahan pada akhir
kehamilan, tetrutama pada kehamilan diatas 7 bulan,
termasuk diantaranya kasus plasenta previa totalis,
karena sifat perdarahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu
yang dapat membahayakan keselamatan ibi dan janin.
Kontrol ANC secara berkala dan penanganan yang tepat
pada kasus plasenta previa diharapkan dapat mengurangi
angka kematian ibu dan janin.
Home Visite 28/04/2017
Ibu dan bayi dalam kondisi sehat. Perdarahan (-), TFU
tidak teraba, kontraksi uterus baik,luka operasi kering
dan baik.
TERIMA KASIH