Anda di halaman 1dari 22

BIODIESEL

Kelompok 9:
Tatik Gusti W. 2314 030 004
Ade Linda Autika F. 2314 030 030
Handini Dwi R. P. 2314 030 042
Wahyu Hadi W. 2314 030 074
BAB 1
Rumusan Masalah

1. Bagaimana membuat biodiesel dari minyak goreng bekas dengan menggunakan proses
transesterifikasi?
2. Apa saja parameter-parameter yang diuji untuk mengetahui kandungan yang terdapat
dalam biodiesel?

Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui proses pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas dengan menggun
akan proses transesterifikasi.
2. Untuk mengetahui parameter-parameter yang diuji (viscositas, densitas, flash point, dan fire
point).
BAB II
Tinjauan Pustaka

Biodiesel salah satu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak mempunyai efek
terhadap kesehatan yang dapat dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dapat menurun
kan emisi bila dibandingkan dengan minyak diesel.
Biodiesel terbuat dari minyak nabati yang berasal dari sumber daya yang dapat diperbaharui.
Beberapa bahan baku untuk pembuatan biodiesel antara lain kelapa sawit, kedelai, bunga
matahari, jarak pagar, tebu dan beberapa jenis tumbuhan lainnya.
Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi (transesterification)
dimana reaksi antara senyawa ester (CPO/minyak kelapa sawit) dengan senyawa alkohol
(methanol). Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil esters (biodiesel) dan gliserin (pada
umumnya digunakan untuk pembuatan sabun dan lain produk).
Syarat Mutu Biodiesel dalam SNI 7182-2015
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
BAB IV
Tabel IV.1 Hasil Pengujian Minyak Goreng Bekas Penggorengan Tempura
Karakteristik Hasil Analisa
Warna Kuning kecoklatan
Densitas 0,84 gr/mL
Viskositas 36,56 cP
FFA 4,794%

Tabel IV.2 Perbandingan Hasil Pengujian Biodiesel dengan SNI 7182-


2012
Hasil Analisa
Parameter SNI 7182-2012
1:2 1:4
Densitas 0,88 gr/mL 0,88 gr/mL 0,85 0,89 gr/mL
Viskositas 5,6 cP 4,16 cP 2,3 6,0 cP
Angka Asam 0,336 mg-KOH/g 0,728 mg-KOH/g 0,8 mg-KOH/g
Flash Point 45oC 48oC Min 100oC
Fire Point 90oC 105oC -
Grafik Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Terhadap Densitas Biodiesel
1

0.8

Densitas (gr/mL)
0.6

0.4

0.2

0
1:02 1:04
Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Grafik Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Terhadap Viskositas Biodiesel
6
5.5
5
4.5

Viskositas (cP)
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
1:02 1:04
Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Grafik Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Terhadap Angka Asam Biodiesel
1
0.9

Angka Asam (mg-KOH/g)


0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
1:02 1:04
Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Grafik Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
Terhadap Fire Point Biodiesel

110

105

Fire Point (oC)


100

95

90

85

80
1:02 1:04
Perbandingan Antara Sampel dengan Katalis
BAB V
Kesimpulan
1. Biodiesel dengan variabel perbandingan antara sampel dengan methanol 1:2 dan 1:4
memiliki sifat fisik warna kuning cerah dan tidak berbau.
2. Densitas biodiesel yang dihasilkan pada variabel perbandingan antara sampel dengan
methanol 1:2 dan 1:4 yaitu 0,88 gr/mL. Dari hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa
densitas biodiesel pada variabel 1:2 dan 1:4 sesusai dengan standar SNI 71822012.
3. Viskositas biodiesel yang dihasilkan pada variabel perbandingan antara sampel dengan
methanol 1:2 dan 1:4 yaitu 5,6 cP dan 4,16 cP. Viskositas pada variabel 1:2 dan 1:4 sesuai
dengan standar SNI 71822012.
4. Angka asam biodiesel yang dihasilkan pada variabel perbandingan antara sampel dengan
methanol 1:2 dan 1:4 yaitu 0,336 mg-KOH/g dan 0,728 mg-KOH/g. Angka asam pada varia
bel 1:2 dan 1:4 sesuai dengan standar SNI 71822012.
5. Flash point yang dihasilkan pada variabel perbandingan antara sampel dengan methanol
1:2 dan 1:4 yaitu 45oC dan 48oC. Flash point pada variabel 1:2 dan 1:4 tidak sesuai dengan
standar SNI 71822012.
6. Fire point yang dihasilkan pada variabel perbandingan antara sampel dengan methanol 1:2
dan 1:4 yaitu 90oC dan 105oC. Flash point pada variabel 1:2 dan 1:4 sesuai dengan standar
SNI 71822012.
MINYAK ATSIRI
Kelompok 9:
Tatik Gusti W. 2314 030 004
Ade Linda Autika F. 2314 030 030
Handini Dwi R. P. 2314 030 042
Wahyu Hadi W. 2314 030 074
PENDAHULUAN
Tujuan Percobaan

1. Mempelajari cara membuat minyak atsiri dari rimpang temulawak dengan


menggunakan proses ekstraksi maserasi selama 2 dan 5 hari dan proses destilasi.
2. Membandingkan hasil percobaan minyak atsiri dari rimpang temulawak sesuai
variabel maserasi selama 2 dan 5 hari dengan SNI atau jurnal penelitian.
TINJAUAN PUSTAKA
Minyak Atsiri

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak essensial, minyak
terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan
kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas.
Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah.

Kandungan dalam temulawak berisi senyawa-senyawa kimia yang memiliki kandungan aktif
secara fisiologi, yaitu kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan kurkuminoid dalam
temulawak berkisar 1-2% dan kandungan minyak atsiri dalam temulawak berkisar 3-12%
(Dermawaty, 2015).
No. Sifat Fisik-Kimia Persyaratan

1. Indeks bias 1,498

2. Bilangan asam 2,0196

3. Rendemen (%) 2,2045

4. Berat jenis (gr/ml) 0,9085

5. Bilangan ester 35,062

(Drastinawati & Herawati, 2013)


PEMBAHASAN
Hasil Analisa
Parameter8 Temulawak n-heksan Temulawak n-heksan
(Maserasi 2 hari) (Maserasi 5 hari)
Warna Kuning kecoklatan Kuning kecoklatan
Temulawak (khas wangi Temulawak (khas wangi
Aroma
aromatis) aromatis)
Densitas (gr/ml) 0,9 0,95
Viskositas (cP) 1,07 1,46
Indeks Bias 1,515 1,52
Grafik Perbandingan Densitas Minyak Temulawak
0.96

0.95

0.94

0.93
Densitas (gr/ml)

0.92 Maserasi 2 hari


Maserasi 5 hari
0.91 Standar dari Jurnal

0.9

0.89

0.88

0.87
Grafik Perbandingan Viskositas Minyak Temulawak
1.6

1.4

1.2

1
Viskositas (cP)

Maserasi 2 hari
0.8
Maserasi 5 hari

0.6

0.4

0.2

0
Grafik Perbandingan Indeks Bias Minyak Temulawak
1.52

1.515

1.51
Indeks Bias

1.505
Maserasi 2 hari
Maserasi 5 hari
1.5 Standar dari Jurnal

1.495

1.49

1.485
Grafik Perbandingan Rendemen Minyak Temulawak
2.5

1.5
Rendemen (%)

Maserasi 2 hari
Maserasi 5 hari
Standar dari Jurnal
1

0.5

0
KESIMPULAN
1. Dengan menggunakan temulawak sebanyak 100 gram kering dengan volume pelarut
500 ml n-heksan dengan maserasi 2 dan 5 hari, dapat menghasilkan minyak atsiri
masing-masing sebesar 2 ml dan 2,2 ml dengan rendemen masing-masing sebesar
1,8% dan 2,1%.
2. Minyak atsiri temulawak dengan perlakuan dicacah berwarna kuning kecoklatan.
3. Berat jenis (densitas) yang diperoleh dari hasil percobaan minyak atsiri temulawak
dengan perlakuan dengan maserasi 2 dan 5 hari sebesar 0,9 gr/ml dan 0,95 gr/ml.
4. Viskositas yang diperoleh dari hasil percobaan minyak atsiri temulawak dengan
maserasi 2 dan 5 hari sebesar 1,07 cP dan 1,46 cP.
5. Indeks bias yang diperoleh dari hasil percobaan minyak atsiri temulawak dengan
maserasi 2 dan 5 hari sebesar 1,505 dan 1,515.