Anda di halaman 1dari 22

Oleh : Anugrah Ria Sari (06111281419043)

Individu sebagai bagian dari alam tidak bisa melepaskan


diri dari lingkungan. Bahkan sebagian ahli menyatakan, bahwa
individu tidak berarti apa-apa tanpa adanya lingkungan yang
memengaruhinya. Terkait dengan itu, F. Patty (1982: 58)
memberi definisi lingkungan dimana lingkungan itu sendiri
merupakan sesuatu yang mengelilingi individu dalam hidupnya,
baik dalam bentuk lingkungan fisik seperti orangtua, rumah,
kawan bermain, dan masyarakat sekitar, maupun dalam bentuk
lingkungan psikologis seperti perasaan yang dialami, cita-cita,
persoalan-persoalan yang dihadapi dan sebagainya.
Hubungan antara individu dan lingkungannya ternyata
tidak hanya berjalan sebelah, dalam arti hanya lingkungan saja
yang mempunyai pengaruh terhadap individu. Bahkan
hubungannya terjadi secara timbale balik, yaitu lingkungan
dapat memengaruhi lingkungannya (environment).
Hal yang mempengaruhi perkembangan individu
adalah proses belajar. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistim Pendidikan Nasional, Bab I Ketentuan
Umum Pasal 1 ayat 20 (disebutkan Pembelajaran, bukan
Belajar) pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar (UU Nomor 20 Tahun 2003. Pasal 1 ayat
20).
Berkenaan dengan itu, definisi lingkungan belajar
ialah segala sesuatu yang terdapat di tempat belajar
(Hutabarat : 1986). Dengan kata lain lingkungan belajar
dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
berhubungan dengan tempat proses pembelajaran
dilaksanakan.
Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008),
lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama,
yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik sarana dan prasarana kelas,
pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media
belajar, pajangan serta penataannya. Berdasarkan
fungsinya terbagi menjadi kelas, laboratorium, tata
ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan
sebagainya.
Lingkungan sosial, merupakan pola interaksi yang
terjadi dalam proses pembelajaran..
Syah (2006: 152) mengemukakan bahwa lingkungan
belajar sebagai faktor eksternal siswa yang mempengaruhi
prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua yaitu
sebagai berikut.
Lingkungan Sosial seluruh warga sekolah, baik itu
guru, karyawan maupun teman-teman sekelas, dan semua
dapat mempengaruhi semangat belajar, masyarakat,
tetangga dan juga teman-teman bergaul siswa dirumah
,orang tua dan keluarga.
Lingkungan non sosial gedung sekolah dan letaknya,
ruang tempat tinggal siswa, alat-alat belajar, keadaan
belajar dan waktu belajar siswa, dan media masa (terutama
TV).
Keluarga
meliputi:
1. Cara orang tua mendidik
2. Relasi (hubungan) antara anggota keluarga
3. Suasana rumah
4. Keadaan ekonomi keluarga
5. Perhatian orang tua
Sekolah
Ada 2 faktor penentu tercipta atau tidaknya suasana
belajar yang kondusif di sekolah.
1. Suasana dalam kelas
Guru adalah pengelola kelas. Strategi dan metode
pembelajaran yang digunakan sangat menentukan
kondusif atau tidaknya suasana belajar. Dalam hal ini,
guru perlu tahu bagaimana guru menguasai situasi belajar
siswa. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa
setelah kegiatan belajar mengajar berakhir masih saja ada
siswa yang tidak menguasai materi pelajaran dengan baik
sebagaimana tercermin dalam nilai atau hasil belajar lebih
rendah dari kebanyakan siswa-siswa sekelasnya.
Beberapa perilaku yang tidak sesuai dalam belajar :
Mengobrol saat guru menerangkan
Mencontek saat ujian
Tidak memperhatikan pelajaran dengan baik (misalnya
main hp saat proses pembelajaran berlangsung)
Tidak memperhatikan guru
Tidur di dalam kelas
Tidak mengerjakan PR dirumah
Menyalin tugas teman
Tidak serius saat proses pembelajaran berlangsung
Evertson et al (2003) dalam Slavin (2009)
mengemukakan strategi untuk mengatasi masalah
perilaku buruk tersebut adalah:
1. Pencegahan
2. Usaha non-verbal
3. Memuji perilaku yang bertentangan dengan perilaku
buruk
4. Peringatan lisan
5. Peringatan berulang
6. Menerapkan konsekuensi
Beberapa faktor yang bersumber dari siswa yang
tidak sesuai atau dapat menghambat proses belajar
mengajar sehingga menghambat suasana belajar yang
kondusif, antara lain :
1. Tingkat kecerdasan rendah
2. Kesehatan sering terganggu
3. Alat penglihatan dan pendengaran kurang berfungsi
dengan baik
4. Tidak menguasai cara-cara belajar
Lingkungan di Sekitar Kelas atau Sekolah
1. Lokasi sekolah
2. Penataan ruang kelas
Ada lima gaya penataan kelas, yaitu :
a. Gaya auditorium; siswa duduk menghadap guru.
b. Gaya tatap muka; siswa saling menghadap.
c. Gaya off-set; (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku,
adalah tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama
lain.
d. Gaya seminar; (sepuluh atau lebih anak) duduk disusunan
berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
e. Gaya klaster; (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja
dalam kelompok kecil.
Pengaruh Lingkungan Belajar terhadap Hubungan Sosial
1. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial.
2. Perkembangan aspek keterampilan sosial

Pengaruh Lingkungan Belajar terhadap Hubungan Belajar


Memanfaatkan lingkungan pada dasarnya adalah
menjelaskan konsep-konsep tertentu secara alami

Pengaruh Lingkungan Belajar terhadap Hubungan


Psikologis
Lingkungan pada umumnya memberikan tantangan
untuk anak-anak. Pemanfaatannya akan memungkinkan
anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang positif.
Cara menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
a. Di lingkungan keluarga
Ruangan belajar
Penerangan
Ventilasi dan suhu udara
Kebisingan
Perabotan belajar
Kursi dan meja belajar
Almari dan rak buku
Perlengkapan belajar
Tanaman dan pohon pelindung
b. Di lingkungan kelas
Pengaturan ruang kelas
Menjaga kebersihan kelas.
Pengaturan dinding kelas.
Atur meja dan kursi siswa
Buatlah sudut baca/perpustakaan
Menghindari kebisingan
Sediakan tempat besosialisasi
Menurut Everston et al. (2003) dalam Santrock
(2008), terdapat empat prinsip yang dapat dipakai
dalam menata kelas, yaitu:
1. Kurangi kepadatan lalu-lalang
2. Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat
semua anak.
3. Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus
mudah diakses.
4. Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua
presentasi kelas.
Menurut Feldhusen dan Treffinger (1980), suatu
lingkungan kreatif dapat tercipta dengan:
1. Memberikan pemanasan
2. Pengaturan fisik
3. Kesibukan di dalam kelas
4. Guru sebagai fasilitator
Clara : Di daerah pelosok tidak seideal lingkungan
belajar yang ada di teori, bagaiamana cara guru
mengatasinya?
Lingkungan belajar dapat didefinisikan sebagai segala
sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses
pembelajaran dilaksanakan. Macam-macam lingkungan
belajar dapat dibagi menjadi lingkungan fisik dan
lingkungan sosial serta non-sosial. Hal-hal yang
mempengaruhi lingkungan belajar adalah keluarga dan
sekolah. Dari faktor keluarga juga berhubungan dengan
masyarakat (cara didik orang tua dalam pergaulan anaknya
serta media massa). Lingkungan belajar mempengaruhi
aspek hubungan sosial (termasuk di dalamnya aspek
keterampilan sosial), belajar, dan psikologi. Cara
menciptakan lingkungan yang kondusif lebih menekankan
pada aspek penataan ruang kelas (lingkungan fisik),
sedangkan cara menciptakan lingkungan yang efektif lebih
menekankan pada manajemen peserta didik.