Anda di halaman 1dari 39

OLEH:

Rara Merinda Puspitasari, M. Farm,. Apt


PERMENKES RI NOMOR 56 TAHUN 2014
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah
pelayanan kesehatan yang meliputi promotif ,
preventif , kuratif, dan rehabilitatif
Rumah Sakit mempunyai fungsi:
Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan
kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;
Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan
melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua
dan ketiga sesuai kebutuhan medis;
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya
manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam
pemberian pelayanan kesehatan; dan
Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta
penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka
peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan
etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan
Berdasarkan:
Pelayanan: RS Umum dan RS Khusus

Pengelolaannya : RS Publik dan RS Privat

Rumah Sakit pendidikan merupakan Rumah


Sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan
penelitian secara terpadu dalam bidang
pendidikan profesi kedokteran, pendidikan
kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan
tenaga kesehatan lainnya
Jenis Pelayanan:
RSU : Kelas A, B, C, dan D (kelas D dan D pratama)
RSK : Kelas A, B, dan C
Penetapan Klasifikasi berdasarkan: Pelayanan, SDM,
Peralatan dan Bangunan dan Prasarana.

Pendirian dan Penyelenggaraan:


RS Pemerintah, RS Daerah, RS Swasta
Rumah Sakit yang didirikan dan diselenggarakan oleh
Pemerintah merupakan Unit Pelaksana Teknis dan
diselenggarakan berdasarkan pengelolaan BLU.
Rumah Sakit yang didirikan dan diselenggarakan oleh
swasta harus berbentuk badan hukum yang kegiatan
usahanya brgerak dibidang perumahsakitan.
1. Rumah Sakit Menetap
- sifatnya permanen untuk jangka waktu lama
2. Rumah Sakit Bergerak
- sifatnya sementara
- bentuknya bus, kapal laut, karavan, gerbong
atau kontainer.
3. Rumah Sakit Lapangan

- untuk kondisi darurat, bencana alam


pelayanan medik;
pelayanan kefarmasian;
pelayanan keperawatan dan kebidanan;
pelayanan penunjang klinik;
pelayanan penunjang nonklinik; dan
pelayanan rawat inap.
a. tenaga medis;
b. tenaga kefarmasian;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kesehatan lain;
e. tenaga nonkesehatan.
Apoteker KEPALA IFRS;
Apoteker yang bertugas di rawat jalan
Apoteker di rawat inap (RS kls A dan B)
Apoteker di instalasi gawat darurat (RS kls A dan B)
Apoteker di ruang ICU (RS kls A dan B)
Apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi
yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik
di rawat inap atau rawat jalan
Apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat
merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat
inap atau rawat jalan
APOTEKER DIBANTU TTK
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan
langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang
berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien
Meliputi :
Manajerial: pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai, dan
pelayanan farmasi klinik
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai
a. pemilihan;
b. perencanaan kebutuhan;
c. pengadaan;
d. penerimaan;
e. penyimpanan;
f. pendistribusian;
g. pemusnahan dan penarikan;
h. pengendalian; dan
i. administrasi.
Dalam ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-
Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit: Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan
Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah
Sakit harus dilakukan oleh Instalasi Farmasi
sistem satu pintu
Sistem satu pintu: bahwa rumah sakit hanya
memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk
pembuatan formularium pengadaan, dan
pendistribusian alat kesehatan, sediaan farmasi,
dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien.
Manfaat
pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penggunaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai;
b. standarisasi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai;
c. penjaminan mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai;
d. pengendalian harga Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai;
e. pemantauan terapi Obat;
f. penurunan risiko kesalahan terkait penggunaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (keselamatan pasien);
g. kemudahan akses data Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai yang akurat;
h. peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit dan citra Rumah Sakit; dan
i. peningkatan pendapatan Rumah Sakit dan peningkatan kesejahteraan
pegawai.
a. pengkajian dan pelayanan Resep;
b. penelusuran riwayat penggunaan Obat;
c. rekonsiliasi Obat;
d. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
e. konseling;
f. visite;
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO);
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
j. dispensing sediaan steril; dan
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD);
Merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
mengidentifikasi, mencegah, dan
menyelesaikan masalah terkait Obat.
Perluasan dari paradigma lama yang
berorientasi kepada produk (drug oriented)
menjadi paradigma baru yang berorientasi
pada pasien (patient oriented) dengan filosofi
Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care)
Tugas dan Tanggung jawab IFRS
Tugas utama IFRS adalah pengelolaan
perbekalan kesehatan di RS baik rawat tinggal /
jalan maupun semua unit termasuk poliklinik.
Tanggung jawab IFRS
Menyediakan terapi obat optimal
Menjamin pelayanan bermutu tinggi dan bermanfaat.
Biaya minimal
Mengembangkan yanfar
Memenuhi kebutuhan unit pelayanan keperawatan,
staf medik, penderita
Instalasi : fasilitas penyelenggaraan pelayanan.
Farmasi Rumah Sakit : seluruh aspek
kefarmasian dilakukan di RS
IFRS : unit atau fasilitas di RS, tempat
penyelenggaraan pekerjaan kefarmasian
Instalasi farmasi : bagian dari Rumah Sakit
yang bertugas menyelenggarakan,
mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi
seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta
melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian
di Rumah Sakit.
IFRS

RS adalah institusi untuk komunitas

Farnasi RS bagian dari RS mempunyai berbagai fungsi dasar;


mendukung yandik, praktik farmasi RS, koordinasi dengan
departemen lain. Taat pada kebijakan RS

Farmasi RS perlu diklat dan spesialisasi

Berpraktik di RS perlu pendidikan dan pengalaman khusus

Kontak dengan profesional kesehatan lain


Untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari:
1) Apoteker
2) Tenaga Teknis Kefarmasian

Untuk pekerjaan penunjang terdiri dari:


1) Operator Komputer/Teknisi yang memahami
kefarmasian
2) Tenaga Administrasi
3) Pekarya/Pembantu pelaksana

Struktur organisasi IFRS: tergantung dgn


kebutuhan RS
1. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi
seluruh kegiatan Pelayanan Kefarmasian yang optimal dan profesional
serta sesuai prosedur dan etik profesi;
2. Melaksanakan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai (BMHP) yang efektif, aman, bermutu dan efisien;
3. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan BMHP guna memaksimalkan efek terapi dan
keamanan serta meminimalkan risiko;
4. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) serta
memberikan rekomendasi kepada dokter, perawat dan pasien;
5. Berperan aktif dalam Tim Farmasi dan Terapi;
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan Pelayanan
Kefarmasian;
7. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium Rumah Sakit.
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan
BMHP
a. memilih Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP sesuai kebutuhan pelayanan Rumah Sakit;
b. merencanakan kebutuhan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan BMHP secara efektif, efisien
dan optimal;
c. mengadakan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan BMHP berpedoman pada perencanaan yang
telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku;
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan BMHP

d. memproduksi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan


BMHP untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit;
e. menerima Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang
berlaku;
f. menyimpan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP Pakai sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan
kefarmasian;
g. mendistribusikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan BMHP ke unit-unit pelayanan di Rumah Sakit;
h. melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu;
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan BMHP

i. melaksanakan pelayanan Obat unit dose/dosis sehari;


j. melaksanakan komputerisasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan BMHP (apabila sudah memungkinkan);
k. mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang
terkait dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP;
l. melakukan pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan BMHP yang sudah tidak dapat digunakan;
m. mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan BMHP;
n. melakukan administrasi pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan BMHP
Pelayanan farmasi klinik

a. mengkaji dan melaksanakan pelayanan Resep


atau permintaan Obat;
b. melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan
Obat;
c. melaksanakan rekonsiliasi Obat;
d. memberikan informasi dan edukasi penggunaan
Obat baik berdasarkan Resep maupun Obat non
Resep kepada pasien/keluarga pasien;
e. mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi
masalah yang terkait dengan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai;
Pelayanan farmasi klinik

f. melaksanakan visite mandiri maupun bersama tenaga


kesehatan lain;
g. memberikan konseling pada pasien dan/atau
keluarganya;
h. melaksanakan Pemantauan Terapi Obat (PTO)
i. melaksanakan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
j. melaksanakan dispensing sediaan steril
k. melaksanakan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada
tenaga kesehatan lain, pasien/keluarga, masyarakat dan
institusi di luar Rumah Sakit;
l. melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit
(PKRS).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kegiatan
IFRS tidak dilakukan sebagaimana mestinya
sehingga berakibat ;
Ketidak tepatan penggunaan obat (terutama
AB)
Ketidak tepatan penulisan resep
Tidak ada formularium atau tidak
digunakannya formularium
Distribusi obat tidak tepat di rawat inap
Tim Farmasi dan Terapi (TFT) tidak berdaya
Strategi terdiri atas Perencanaan dan pelaksanaan
Perencanaan : proses atau memilih cara mencapai
tujuan sebelum melakukan tindakan (keputusan
antisipasi)
Perencanaan strategis (Renstra) : proses oleh
pimpinan organisasi untuk masa depan dan
mengembangkan prosedur dan operasi yang
diperlukan mencapai masa depan.
Renstra mencakup (pengembangan rencana) secara
tertulis terdiri dari analisis internal dan eksternal,
penetapan visi dan misi, tujuan jangka panjang,
pengembangan program strategis, analisis celah,
rencana tindakan terpadu)
Visi IFRS
Pernyataan tentang IFRS yang diinginkan pimpinan IFRS
pada suatu titik waktu tertentu yang akan datang.
Impian apoteker / farmasis RS menjadi kenyataan pada
waktu tertentu.
Visi RS dan visi IFRS dasar aspek rencana strategis IFRS
Arah bagi IFRS untuk bergerak
Visi memerlukan misi untuk tercapainya visi juga
rencana strategis dan operasi.
Contoh Visi adalah IFRS X menjadi rujukan pelayanan
kefarmasian di ASEAN.
Misi
Mengartikulasikan cara visi dapat dicapai.
Mengembangkan misi IFRS dengan menguraikan Apa,
Siapa, Bagaimana, kenapa IFRS.
Lingkup Fungsi IFRS, ada 2 yaitu ;
Fungsi non klinik dan
Fungsi klinik.
Fungsi non klinik biasanya tidak
memerlukan interaksi dengan
profesional kesehatan lain, sering
tanggung jawab Farmasis
Lingkup non klinik : perencanaan,
penetapan spesifikasi produk dan pemasok,
pengadaan, pembelian, produksi,
penyimpanan, pengemasan, distribusi.
Lingkup Fungsi klinik, fungsi farmasi dilakukan
dalam program RS. Contoh ; pemantauan terapi
obat, evaluasi penggunaan obat, penanganan bahan
sitostatik, sentra informasi obat, pelaporan reaksi
obat merugikan, formularium, PFT, TPN.
Fungsi klinik ; dilakukan langsung sebagai bagian
dari perawatan ke penderita, memerlukan interaksi
dengan profesional kesehatan lain. Contoh ;
Konseling ketika akan pulang, Wawancara sejarah
obat penderita, Edukasi penderita
IFRS sebagai unit produksi
menjamin mutu produk yang dihasilkan untuk
penderita dan profesional kesehatan di RS.
Bertanggung jawab dalam pengadaan obat / sediaan
obat, baik pembelian langsung atau produksi sendiri
dalam skala RS, jika tidak ada diperdagangan ( Perlu
standar mutu ISO 9001 dan CPOB).
Melaksanakan pengemasan / pengemasan kembali
obat / sediaan farmasi dan pengemasan unit
tunggal/dosis.
IFRS sebagai unit pelayanan
Memberikan pelayanan produksi bersifat nyata
(tangible) dan Pelayanan farmasi klinik tidak nyata
(intangible) bagi konsumen (pasien, Dokter,
Masyarakat RS)
Komponen dasar utama farmasi klinik yaitu ;
komunikasi, konseling (obat kepada penderita),
konsultasi (hal obat dengan profesional kesehatan
lain).
Standar minimal IFRS
Dilakukan sesuai praktik profesional dan etika yang
dapat diterima dan sesuai undang-undang yang
berlaku.
Standar minimal IFRS berarti pelayanan IFRS yang
harus dilakukan secara terus menerus memberi hasil
yang baik.
Standar manajerial
Pimpinan IFRS : Seorang apoteker kompeten dan
memenuhi persyaratan hukum.
Personel : Dibantu Apt, AA, D3 Far, teknisi,
sekretariat
Panduan, program, kebijakan dan prosedur Perlu
dibuat.
Standar Fasilitas
Ruangan, peralatan, bahan, perbekalan

Standar Distribusi dan pengadaan obat


Dikembangkan pimpinan IFRS bersama PFT, staf
medik, perawat dan disiplin lain.
Standar Informasi Obat
IFRS, memberi informasi akurat dan komprehensif
bagi staf medik, profesional kesehatan lain dan
pasien.
Apoteker /Farmasis ; pustaka, CD ROM dan internet

Kegiatan edukasi pasien koordinasi dengan perawat,


staf medik dan bagian edukasi pasien.
Standar Jaminan terapi obat yang rasional
Obat rasional : Pasien menerima obat sesuai
kebutuhan klinik, dalam dosis, periode / interval
pemberian, harga (Pasien yang benar, obat benar,
indikasi tepat, aman, harga sesuai, dispensing benar,
informasi benar)
Aspek penting Pelayanan Kefarmasian adalah
memaksimalkan penggunaan obat yang rasional.
Mutu dan terapi obat rasional ditentukan antara lain;
Dokter penulis resep, mengikuti proses penulisan baku
Obat didispensing di IFRS dengan cara aman dan sehat
yang sebelumnya telah dikaji.
Informasi penderita ; profil pengobatan
Informasi klinis penderita
Regimen dosis
Dalam TFT, Pimpinan IFRS bertindak sebagai
sekretaris pada TFT (motor penggerak, membuat
jadwal kegiatan, notulis, menyediakan data dan
informasi untuk agenda rapat).
Aktif pada evaluasi formularium
Aktif pada evaluasi penggunaan obat
Pengendalian infeksi nosokomial, dll
Standar Penelitian
Standar Konsumsi obat dan produk biologik yang
aman
Kebijakan dan prosedur terdokumentasi, dikaji ulang,
revisi.
Standar Mutu dalam pelayanan perawatan penderita
yang diberikan oleh IFRS