Anda di halaman 1dari 7

Multilevel Approach To Community Health (MATCH)

Disusun Oleh :
1. Agus Sutriani
Sejarah
Model ini dikembangkan pada tahun 1980-an untuk merespon
kekurangan dalam model Precede-proceed yang kurang focus dalam
implementasi program (simon-morton 1988 cit Fertman & Alensworth 2010).
Pengertian
Menurut Green & Kreuter, 1999 cit Fertman & Allensworth,2010, Model
pengembangan program promosi kesehatan yang dapat dipergunakan untuk
mengatasi masalah kesehatan adalah salah satunya adalah MARCH.

Merupakan kerangka kerja yang lebih menitikberatkan pada implementasi


program. (simon-morton 1988 cit Fertman & Alensworth 2010).
Multilevel Approach To Community Health (MATCH)
mempunyai lima langkah utama yaitu :

1 Goal Selection

5 Penilaian
2 Perancangan
Intervensi

MATCH

4 Persediaan
Perencanaan 3
Pembangunan
Program
Fase dan langkah-langkah MATCH
Fase 1 : Goal Selection
Langkah 1 : Seleksi indikator status kesehatan
Langkah 2 : Identifikasi populasi beresiko
Langkah 3 : Identifikasi perilaku masalah kesehatan
Langkah 4 : Identifikasi faktor lingkungan yg menyebabkan masalah

Fase 2 : Perancangan Intervensi


Langkah 1 : Mengenal pasti sasaran intervensi
Langkah 2 : Memilih objektif intervensi
Langkah 3 : Mengenal pasti pengantara di dalam objektif intervensi
Langkah 4 : Memilih pendekatan intervensi

Fase 3 : Pembangunan Program


Langkah 1 : Mewujudkan komponen atau unit program
Langkah 2 : Memilih dan membangunkan kurikulum atau panduan intervensi
Langkah 3 : Membangunkan sesi perancangan
Langkah 4 : Mewujudkan atau memperoleh bahan instruksional, produk atau sumber

Fase 4 : Persediaan Pelaksanaan


Langkah 1 : Memudahkan penggunaan, pelaksanaan dan penyelenggaraan
Langkah 2 : Memilih dan melatih pelaksana

Fase 5 : Penilaian
Langkah 1 : Mengawal proses penilaian
Langkah 2 : Mengukur kesan
Langkah 3 : Memantau hasil

(Sumber : Simmons-Morton et al., 1988)


Kasus
Tn. S (35 th) dan Ny. D (29 th) tinggal dikontrakan yang kumuh dan belum di karuniai anak, setiap harinya
banyak lalat dan nyamuk yang masuk di tempat tinggal mereka karena tempat sampahnya di depan dan tidak
tertutup. Tn. S adalah perokok berat dan bekerja sebagai supir kontainer pada proyek pembangunan jalan di koja.
Tn. S sering batuk-batuk dan sesekali batuk darah. Setelah berobat ke Puskesmas Tn. S di diagnosa TB paru duplek
dan harus menjalani pengobatan.
ketika perawat Z mengkaji Tn. S mengatakan akan menjalani pengobatan hingga tuntas, kemudian perawat
Z mengingatkan pada Tn. S untuk kontrol sehari sebelum obatnya habis. Pada seminggu kemudian ketika jadwal
kontrol ternyata Tn. S tidak datang ke Puskesmas. Akhirnya perawat Z berisisiatif untuk mengunjungi Tn. S yang
kebetulan adalah warga binaan puskesmas. Pada pertemuan tersebut perawat Z mendapatkan data Tn. S
mengatakan ia sibuk bekerja dan belum sempat untuk kontrol dan akan pergi esoknya. Istri Tn. S pun tidak
mengingatkan untuk kontrol dengan alasan karena Tn. S sulit untuk di larang dan sampai dengan sekarang Tn. S
masih merokok. Tn. S mengatakan patuh untuk minum obat tetapi sulit untuk berhenti merokok.
Daftar Pustaka

Morton, B. G. S. et al., (2010). Model promosi kesihatan umum. (online),


(https://www.scribd.com/doc/239429902/Unit-4-Model-Promosi-Kesihatan-Umum, diakses pada
20 Mei 2017).