Anda di halaman 1dari 31

Referat

Faringitis
Oleh
Tjo Kevin Jaya S.
112016004
Faring

Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang berbentuk seperti corong


dengan bagian atas yang besar dan bagian bawah yang sempit. Faring
merupakan ruang utama traktus resporatorius dan traktus digestivus. Kantong
fibromuskuler ini mulai dari dasar tengkorak dan terus menyambung ke
esophagus hingga setinggi vertebra servikalis ke-6.
Nasofaring merupakan bagian tertinggi dari faring, adapun batas-batas dari nasofaring ini
antara lain :
- batas atas : Basis Kranii
- batas bawah : Palatum mole
- batas depan : Rongga hidung
- batas belakang : Vertebra servikal

Orofaring disebut juga mesofaring, karena terletak diantara nasofaring dan laringofaring.
Dengan batas-batas dari orofaring ini antara lain, yaitu :
- batas atas : Palatum mole
- batas bawah : Tepi atas epiglottis
- batas depan : Rongga mulut
- batas belakang : Vertebra servikalis
Laringofaring (hipofaring) merupakan bagian terbawah dari faring. Dengan
batas-batas dari laringofaring antara lain, yaitu :
- batas atas : epiglotis
- batas bawah : kartilago krikodea
- batas depan : laring
- batas belakang : vertebra servikalis
Fisiologi Faring

Respiratorik
Digestivus
Artikulasi
Proteksi (lingkaran Waldeyer)
Waldeyers Ring
Fungsi Menelan

Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses


memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut the process of taking
food into the body through the mouth.
Faringitis

Faringitis adalah peradangan dinding faring yang dapat disebabkan akibat


infeksi maupun non infeksi.
Etiologi
Banyak microorganism yang dapat menyebabkan faringitis, virus (40-60%)
bakteri (5-40%). Respiratory viruses merupakan penyebab faringitis yang paling
banyak teridentifikasi dengan Rhinovirus (20%) dan coronaviruses (5%). Selain
itu juga ada Influenza virus, Parainfluenza virus, adenovirus, Herpes simplex
virus type 1&2, Coxsackie virus A, cytomegalovirus dan Epstein-Barr virus (EBV).
Selain itu infeksi HIV juga dapat menyebabkan terjadinya faringitis.
Patogenesis

Bakteri Streptococcus DropletBatuk dan bersinSel


sehatMultiplikasiSekresikan toksin Kerusakan pada sel Inflamasi pada
orofaring dan tonsil.
Kerusakan jaringan ini ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada
faring Periode inkubasi faringitis hingga gejala muncul yaitu sekitar 24 72
jam.
Klasifikasi Faringitis

Faringitis Akut
a. Faringitis Viral
Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan
menimbulkan faringitis.
Rinorea,
Mual,
Nyeri tenggorokan dan sulit menelan.
Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis.
Virus influenza, Coxsachievirus, dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat.
Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash
EBV Banyak Eksudat
b. Faringitis Bakterial

Nyeri Kepala
Demam Tinggi
Jarang disertai batuk
Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan dengan menggunakan
Centor criteria, yaitu :
- Demam

- Anterior Cervical lymphadenopathy


- Tonsillar exudates
- Absence of cough

0-1 =Tidak mengalami faringitis


1-3 =Pasien memiliki kemungkian 40% terinfeksi
4 = Pasien memiliki kemungkinan 50% terinfeksi
c. Faringitis Fungal
Keluhan nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak plak putih di
orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis.
Faringitis Kronik

a. Faringitis Kronik Hiperplastik


Pasien mengeluh mula-mula :
-Tenggorok kering gatal
-Batuk yang berdahak.

Pada faringitis kronik hiperplastik:


- Terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring
- Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring
- Lateral band hiperplasi.
- Tampak mukosa dinding posterior tidak rata dan berglanular
B.Faringitis Kronik Atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis
atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga
menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring.

Pada pemeriksaan tampak:


- Mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan bila diangkat tampak mukosa
kering
- Mulut berbau
FARINGITIS SPESIFIK

Faringitis luetika
Faringitis leutika atau faringitis syphilis ini dapat disebabkan oleh Treponema
palidum yang dapat menimbulkan infeksi di daerah faring
Stadium primer
Stadium sekunder
Stadium tertier
b. Faringitis tuberculosis
Faringitis tuberculosis merupakan proses sekunder dari tuberculosis paru. Pada
infeksi kuman tahan asam
Gejala:
Keadaan umum pasien buruk karena anoreksia dan odinofagia
Nyeri yang hebat di tenggorok
nyeri di telinga
Otalgia
pembesaran kelenjar limfa servikal
Gejala klinis

Secara garis besar faringitis menunjukkan tanda dan gejala-gejala seperti:


Rinorhea
Demam
Odinofagia
Suara serak
Kaku dan sakit pada otot leher,
Faring yang hiperemis
Tonsil membesar
Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis faringitis dapat dimulai dari anamnesa yang


cermat dan dilakukan pemeriksaan temperature tubuh dan evaluasi
tenggorokan, sinus, telinga, hidung dan leher.
Pada faringitis dapat dijumpai faring yang
Hiperemis,
Eksudat,
Tonsil yang membesar dan hiperemis,
Pembesaran kelenjar getah bening di leher.
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah lengkap


GABHS rapid antigen detection test bila dicurigai faringitis akibat infeksi
bakteri streptococcus group A
Throat culture
Penatalaksanaan

A.Pada viral faringitis:


Istirahat
Minum yang cukup dan berkumur dengan air yang hangat.
Analgetika diberikan jika perlu:
Antivirus metisoprinol (isoprenosine) diberikan pada infeksi herpes simpleks dengan dosis
60-100mg/kgBB ,pada orang dewasa dan pada anak <5tahun diberikan 50mg/kgBB.
B.Pada faringitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya
streptococcus group A:
Antibiotik Penicillin G Benzatin 50.000 U/kgBB/IM
Amoksisilin 3x500mg
Eritromisin 4x500mg
Kortikosteroid Deksametason 8-16mg/IM
Analgetik
Antipiretik
A.Pada faringitis kronik hiperplastik :
-Dilakukan terapi lokal dengan melakukan kaustik faring dengan memakai
zat kimia larutan nitras argenti atau dengan listrik (electro cauter)
- Pengobatan simptomatis diberikan obat kumur, jika diperlukan dapat
diberikann obat batuk antitusif atau ekspetoran

B. Pada faringitis kronik atrofi :


Pengobatannya ditujukan pada rhinitis atrofi dan untuk faringitis kronik atrofi
hanya ditambahkan dengan obat kumur dan pasien disuruh menjaga kebersihan
mulut.
a. Faringitis luetika
Penisilin 500mg 3x1

b. Faringitis tuberculosis
Isoniazid 300 mg/hari
Rifampisin 600mg /hari
Selama 9 sampai 12 bulan merupakan terapi yang paling efektif
Prognosis

Umumnya prognosis pasien dengan faringitis adalah baik


Komplikasi

Demam rheumatic
Abses peritonsil.
Sinusitis
Otitis Media
KESIMPULAN

Gejala dan tanda yang ditimbulkan faringitis tergantung pada mikroorganisme


yang menginfeksi. Terapi faringitis tergantung pada penyebabnya. Bila
penyebabnya adalah bakteri maka diberikan antibiotik dan bila penyebabnya
adalah virus maka cukup diberikan analgetik dan pasien cukup dianjurkan
beristirahat dan mengurangi aktivitasnya