Anda di halaman 1dari 103

Pengantar Penerjemah

QothI dan Dhonny dalam Al-


Quran dan Hadist
Makna qothI dan Dhonny
Qothi: Dhonny:
Pasti 100% Belum Pasti ( kurang
Hanya memunyai dari 100%)
satu kemungkinan memunyai lebih dari
Bukan lahan ijtihad satu kemungkinan
Tidak Boleh lahan ijtihad
berbeda pendapat
Mungkin berbeda
Tegas.
Mengingkarinya pendapat
kafir Toleransi
Pembagian qothI dan Dhonny
Periwayatan Makna

Mencari kepastian Meneliti makna
apakah benar dari yang dimaksud
Rasulullah saw. dari sebuah lafadh
QothI wuruud QothI Dilalah

Dhonny wuruud Dhonny Dilalah

Dari sisi Periwayatan

Dhonny Wuruud QothI Wuruud

Hadis Aahad Al-Quran
Masih Ada Ijtihad tentang Hadis Mutawatir
Shahih atau tidak shahihnya
Tidak ada Ijtihad Shahih
Kalaupun Shahih tetap
atau tidaknya
masih dhonny wurud
Kepastian dari Rasulullah Ada kepastian 100%
saw kurang dari 100% dari Rasulullah
Mungkin ada beda pendapat Tidak ada beda
Toleransi pendapat
Dari sisi Makna

Dhonny Dilalah QothI Dilalah

Mempunyai lebih dari satu Hanya Mempunyai satu
makna makna
Lahan Ijtihad Bukan Lahan Ijtihad
Mungkin Beda Pendapat
Tidak boleh beda
Toleransi
pendapat
Tidak boleh mengklain saya
benar dan yang lain salah
Tidak ada toleransi
Istilah yang dipakai al-khoto
wa ash-showab
Masalah Bidah Adalah
Dhonny Baik Dari Sisi
Wurud Ataupun Dilalah
Beberapa Pertanyaan?
Apakah ada perbedaan pendapat
dalam konsep dan definisi bidah?
Apakah pendapat dalam masalah
bidah berkisaran antara tepat ( ash-
showab) dan tidak tepat (al-khoto)?
Atau antara haq da bathil?
Apakah pembahasan dalam masalah
ini masuk dalam lingkup ijtihad?
Beberapa Pertanyaan?
Apakah Ulama satu pendapat dalam
menilai bidah atau tidaknya sebuah
masalah baru dalam agama yang
berhubungan dengan ibadah?
Apakah Terlalu mudah mem-bidahkan
suatu amalan ibadah baru dalam
agama adalah dibenarkan?
Perintah Menjauhi Ahli Bidah


.
Dan apabila kamu melihat orang-orang
memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka
membicarakan pembicaraan yang lain. Dan
jika syaitan menjadikan kamu lupa (maka
larangan ini), janganlah kamu duduk bersama
orang. orang yang zalim itu sesudah teringat
(akan larangan itu). (QS. 6:68)

.
Diantara prinsip yang menjaga muslim dalam
hal agama dan taqwa adalah tidak bergaul
dengan ahli bidah.
:
.
]) 8 ( [
Ketika ditanya tentang qodariyah ibnu umar
menjawab: kalau kalian bertemu dengan
mereka katakana, saya tidak kenal kalian,
dan kalian tidak kenal saya
: - -
:
:
.
Jangan duduk dengan ahli bidah , saya
khawatir kalian akkan kena laknat
:
.
barang siapa mencitai ahli bidah, ia sudah
menghancurkan amal shalihnya, dan cahaya
Islam sudah meninggalkan hatinya

:
]) 2/473 ( [.
Kalau kalian mendenganucapan dari ahli bidah
letakkan jari kalian di telinga, kemudian
ucapkan:tidak halal bagiku untuk berbicara
dengannya sampai ia berdiri dari tempat
duduknya
:
[ .
]) 2/460(

Saya biasa makan bersama yahudi atau nasrani,


tapi saya tidak makan dengan ahli bidaha. Saya
berharap ada benteng dari besi antara saya
dengan ahli bidah.
Sebab Penulisan Buku
Masalah bidah adalah masalah krusial

Orang-orang yang tidak shalat?


Atau orang-orang yang shalat berjamaah
namun setelah shalat selesai mereka
berzikir dan berdoa berjamaah dengan
suara keras dan berdoa dengan mengangkat
tangan?
Tidak shalat adalah maksiat
Zikir dan doa berjamaah adalah bidah
Maka orang yang tidak shalat lebih baik
karena hanya melakukan maksiat?
Apakah seperti itu????
Masalah bidah adalah masalah krusial
Konsep Bidah harus dipelajari dengan sempurna
dan secara amanah.
Samar dalam memahami konsep bidah
menimbulkan keresahan bahkan perpecahan
yang dimulai dengan saling mencaci.
Contoh :
Orang-orang yang merayakan maulid Nabi lebih
berdosa dari peminum khamr, pencuri, pejina
dan pembunuh.
memakai ayat-ayat mengenai orang kafir untuk
diterapkan kepada orang mukmin.
Contoh Ayat Tentang Orang Kafir Yang
Dituduhkan Kepada Orang Mukmin


]23/[
Ayat Ini ditiduhkan kepada yang merayakan
maulid


]3/ [
Ayat ini dituduhkan kepada mukmin yang
melakukan tawasul dengan Nabi saw
Tiga Hal Penting
Pertama: Ahlu sunnah wal Jamaah harus
menyatukan kata, hati dan barisannya.
Kedua: Dialog dan diskusi adalah suatu hal yang
wajar. Namun jangan sampai merusak rasa saling
menghormati. Hal tersebut terwujud dengan dua
syarat; satu: Diskusi dilakukan dengan cara ilmiah,
dalil dilawan dengan dalil, argument dibalas dengan
argument. Kedua: setiap pihak yang terlibat diskusi
hendaknya berpegang dengan adab dialog
Ketiga: buku ini diharapkan menjadi sebab
mendekatnya pandangan yang berbeda dalam
masalah bidah
Kesempurnaan Agama
Dan Realita Adanya
Masalah Baru (Nawazil)
Ulama Sepakat
Kesempurnaan syariat Islam , maka tidak butuh
tambahan dan tidak mengalami pengurangan
Peringatan keras tentang melakukan bidah dalam agama
baik dengan cara menambah, mengurangi ataupun
merubah.
Kejadian dan masalah baru (nawazil) terus bermunculan
dan tidak berakhir.
Setiap Nawazil pasti ada hukum Allah yang berkenaan
dengannya. Hukum tersebut ada dalam Al-Quran dan
sunnah.
ijtihad disyariatkan bagi Ulama muslimiin. Hakikat
ijtihad adalah mencari hukum dari kejadian dan masalah
Apa Yang Dilakukan Kalau Muncul
Nawazil Dalam Ibadah?
Apakah Divonis bidah atau dilakukan ijtihad?
Contoh:
Doa khatam Quran dalam sholat taraweh atau sholat
qiyam di bulan Ramadhan.
Asyaul-walidain. (jamuan makan mlam yang diadakan
setelah satu atau dua bualan dari meninggalnya orang
tua. Dalam acara ini diundang kerabat, rekan dan
tetangga. Dengan harapan pahalanya sampai kepada
orangtua yang sudah meninggal.)
Merubah bentuk masjid: membuat garis diatas karpet
masjid untuk meluruskan shaf shalat
Bagaimana Memahami al-Muhdatsaat?
o Apakah al-muhdats termasuk dalam masalah baru
sehingga memungkinkan hukum yang lima?
o atau al-muhdatsaat otomatis menjadi bidah?
Ada perbedan pendapat:
kelompok pertama berpendapat bahwa seluruh hal yang
baru dalam agama mempunyai hukumnya masing-masing.
Kelompok kedua berpendapat bahwa seluruh hal baru
dalam agama bidah yang sesat.
disebabkan tidak adanya penentuan makna bidah dalam
agama secara jelas dan terang
Kalau Ulama belum sepakat dalam makna jelas dari bidah
jelek dalam syariat , maka jalan satu-satunya adalah saling
memaklumi satu sama lainnya
Makna Bidah
Konsep Bidah
Makna Bidah- tercela- dalam Syariat.
Bidah dalam syariat adalah hal-hal baru yang
diciptakan bertentangan dengan kaidah-
kaidah agama Islam dan bertentangan
dengan tex-tex nya (nushus). Hal-hal baru
tersebut berhubungan denga urusan agama
dan tidak berhubungan dengan kehidupan
yang mana sangat ditentukan oleh mashlahat
manusia dan keberlangsungan hidupnya,
seperti sistim pendidikan, sistim kerja,
bangunan dan lain sebagainya.
Seluruh Ulama Sepakat

setiap hal baru yang memiliki warna
agama, tidak ditemukan dalam kurun
waktu pertama, namun tidak
bertentangan dengan nushush syariat
Islam dan kaidah-kaidahnya. Apakah hal
baru seperti ini termasuk bidah sesat
atau tidak?
Tiga Pendapat :
1. Setiap hal baru yang berhubungan dengan agama dan tidak
bertentangan dengan syariat, mempunyai hukum yang sesuai
dengannya. Ia tercakup dalam lima. Disebut hasanah kalau
boleh dan disebut sayyiah kalau dilarang, mereka Al-
muwassiuun. ( bidah dalam bahasa)
2. Hal baru dalam agama yang sesuai dengan syariat mempunyai
satu hukum saja yaitu haram. Setiap hal baru bidah, setiap
bidah sesat , dan setiap kesesatan di neraka. (al-
Mudhoyyiquun)
3. Al-Muhdast kalau termasuk dalam kaidah-kaidh syariat atau
ada Nushush yang menunjukkannya tidak disebut bidah. Akan
tetapi diberi nama dengan hukum syari yang sesuai. Kalau
tidak termasuk dalam kaidah-kaidh syariat atau tidak ada
Nushush menunjukkannya maka disebut bidah. Maka
menurutnya semua bidah sesat.
Definisi Bidah
Definisi al-Iz bin Abdussalam rahimahullah:
mengerjakan sesuatu yang tidak ada dan tidak
dikenal di zaman Rasulullah SAW , Ia terbagi
menjadi wajib, haram , mandub (sunah) ,
makruh dan mubah, Cara menentukannya
dengan jalan menakar bidah tersebut dengan
kaidah syariah.
Definisi Ibnu Hajar: hal baru yang diciptakan ,
tidak memiliki dalil dalam syariat
Definisi Ibnu Rajab rahimahullah :Hal baru
yang diciptakan , dalam syariat tidak ada dalil
yang menunjukkan hal baru tersebut
Selama Ada Dalil Dalam
Syariat Tidak Dikatakan
Bidahh
Ibnu Taimiyah Tentang Bidah
Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: hal yang
bertentangan dengan tex-tex Islam adalah
bidah , hal ini merupakan kesepakatan ulama.
Dan hal yang belum diketahui bertentangan
terkadang disebut bidah (Kitab Daru-ttaarudh
karangan Ibnu Taimiyah. Jilid;1 hal:140 , semakna
dengannya di buku al-fatawa jilid 20 hal: 159 )
ungkapan Ibnu Taimiya menunjukkan bahwa
hal baru kalau tidak bertentangan dengan
nushush terkadang tidak dinamai bidah.
Kesimpulan Definisi
Mafhum Mukholafah dari definisi-
definisi bidah menunjukkan bahwa hal
baru dalam ibadah tapi mempunyai
landasan tidak disebut bidah.
Sering disebut: bidah idhofiyah, bidah
hasanah
Bahkan sunah.
Syatibi dan Bidah


....







) /1)286
)Syatibi Dan Bidah(lanjutan


....



( ... /1 )192-191
Syatibi sepakat dengan muwassiiin bahwa
sesatu yang baru dalam agama tapi mempunyai
dalil tidak bidah
Perbedaan syatibi dan muwassiiin hanya dalam
menilai beberapa hal baru dalam agama. Seperti
menjadikan hari kelahiran nabi hari raya.
Tiga konsep bidah
1. Setiap hal baru yang berhubungan dengan agama mempunyai
hukum yang sesuai dengannya. Ia tercakup dalam lima.
Disebut hasanah kalau boleh dan disebut sayyiah kalau
dilarang. (Al-muwassiuun)
2. Hal baru dalam agama mempunyai satu hukum saja yaitu
haram. Setiap hal baru bidah, setiap bidah sesat , dan setiap
kesesatan di neraka. (al-Mudhoyyiquun)
3. Al-Muhdast kalau termasuk dalam kaidah-kaidh syariat atau
ada Nushush yang menunjukkannya tidak disebut bidah. Akan
tetapi diberi nama dengan hukum syari yang sesuai. Kalau
tidak termasuk dalam kaidah-kaidh syariat atau tidak ada
Nushush menunjukkannya maka disebut bidah. Maka
menurutnya semua bidah sesat.
Perbedaan pendapat pertama dan ketiga hanya perbedaan
lafadh saja. Perbedaan pertama dan kedua perbedaan secara
substansi
Apakah Syatibi Sependapat Dengan
Mudhoyyiqin?
Secara Konsep Syatibi Bersama Muwassiiin!
Saya menyimpulkan bahwa Syathibi rahimahullah
berpendapat bahwa bidah adalah sebuah
terminology syariat , maksud dari bidah adalah
setiap hal baru yang bertentangan dengan dalil-
dalil syariat dan kaidah-kaidahnya.
Sedangkan al-muhdats yang tidak bertentangan
dengan dalil-dalil syariat maka tidak disebut kata
bidah. Ia adalah hal baru yang disyariatkan sesuai
dengan hukumnya yang sesuai. Karena nushush
syariah kulliyyah (umum, yang mencakup bagian-
bagiannya) dan kaidah-kaidah umum syariat
mendukungnya.
Secara Substansi Ada Dua
Konsep Bidah

Al Mudhoyyiquun Al-Muwassiuun
Sempit Memahami Luas Memahami
Bidah Bidah
Mudah dan Cepat Hati-hati dalam
Membidahkan membidahkan
Pembagian Bidah

Bidah Lughowiyah Bidah Syariyah


Hasanah Sayyiah Dholalah

Sesuai Hukum yang Lima Bidah hasanah


Wajib,Sunah,Mubah (Hasanah) kadang
Makruh,haram (sayyiah ) disebut sunah
Memahami sukuut syaari


Pembagian Sukutu Syari
Tidak menurunkan Tidak menurunkan
hukum karena tidak hukum padahal
terdapat sebab atau terdapat sebab atau
hal yang hal yang
mengharuskan
diturunkannya hukum mengharuskan
diturunkannya hukum
Disebut al-muqtadhi
() Dan tidak terdapat
Berhubungan dengan mani ()
nawazil (masalah baru) Berhunbungan
Berhunbungan dengan dengan masalah bidah
Mashlahah Mursalah Khusus dalam Ibadah
Masalah Baru

Dalam Selain Ibadah;


Dalam Ibadah
Muamalat dan wasail

Berkenaan dengan Berkenaan dengan


Bidah atau tidak Maslahah Mursalah

Shalawat sebelum Naik Haji dengan


pesawat terbang
azan
Azan dengan
Shalat raghaib speaker
Syarat Bidah Dalam Ibadah
Al-Muqtadhi Al-mani

Sesuatu yang
Sebab Terjadi menghalangi
sebuah dilakukannya
perbuatan sebuah
perbuatan

Harus Ada Harus Tidak Ada


Terdapat Muqtadhi
Namun Ada Mani
Shalat Tarawih Berjamaah setiap malam:
Dizaman Rasulullah shalat tarawih ada
Berarti muqtadho diturunkannya hukum ada.
Namun terdapat mani , yaitu khawatir
diwajibkan.
Rasulullah tidak Tarawih jamaah di masid tiap
malam karena ada mani.
Ketika Rasulullah meninggal maka mani dari
tidak tarawih berjamaah setiap malam sudah
hilang maka mengadakan tarawih berjamaah
tiap malam tidak bidah.
Terdapat Muqtadhi
Dan Tidak Ada Mani
Zakat Sayuran:
Dizaman Rasulullah ada Sayuran
Berarti muqtadho diturunkannya hukum ada.
Tidak ada mani , yaitu hal yang menghalangi
terjadinya hukum.
Ketika Rasulullah tidak mewajibkan zakat
untuk sayuran difahami bahwa sayuran tidak
ada zakatnya.
Mewajibkan zakat sayuran termasuk bidah.
Memahami Hadis Tentang Bidah
:

:
:


.
( .
)






( /2)592






:

:
:


.
( .
)
Memahami Tiga Hadis
Tentang Bidah
Hadis Pertama
Rasulullah SAW berkata dalam khutbahnya:
...

...
Amma badu, sebaik-baiknya pembicaraan adalah
kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah
petunjuknya Muhammad SAW , seburuk-
buruknya perkara agama adalah hal-hal baru
dalam agama, setiap yang baru adalah bidah,
setiap bidah sesat, dan setiap sesat di neraka.
Memahami Hadis Pertama
Ada perbedaan pendapat tentang makna
kata seluruh ( ) dalam hadis.
Kelompok mudhoyyiquun : sabda Rasulullah
saw setiap hal baru bidaha adalah makna
umum yang tidak ada pengecualiannya. Oleh
karenanya pembagian bidah menjadi lima
adalah bertentangan dengan hadis ini.
Kelompok muwassiiin memahaminya
dengan makna seluruh tapi ada
pengecualiannya, maka maknanya sebagian
besar.
Syarah Imam Nawawi
) 154/6

)
, Imam Nawawi berkata:Sabda Rasulullah SAW
dan setiap bidah sesat , ini adalah makna umum
yang ada pengecualiannya, yang dimaksud adalah
sebagian besar bidah.
( 104/7
....

)....
Hadis ini mengecualikan keumuman sabda
Rasulullah saw setiap muhdast bidah.dan yang
dimaksud adalah bidah yang bathil dan tercela.
Hadis Kedua:
Rasulullah bersabda:

barang siapa membuat hal baru dalam agama ini dan
bukan bagian dari agama ini, makka hal tersebut ditolak
Apakah bukan bagian dari agama adalah syarat lazim
atau qoidun ?
Al-Mudhoyyiquun: syarat lazim yaitu sifat yang pasti ada
dalam setiap hal baru (al-muhdats). Artinya setiap hal
baru pasti bukan bagian dari agama. Hadis tersebut tidak
bisa difahami dengan sebaliknya (mafhum mukholafah).
Maka tidak bermakna bahwa sebagian hal baru ada yang
termasuk dalam agama.
Al-Muwassiun: qoidun, maka boleh mafhum mukholafah.
Kalau bukan bagian dari agama ditolak, kalau ternyata
bagian dari agama diterima
Hadis Ketiga:








Barang siapa membuat sunnah dalam Islam
sunah-yang baik maka ia mendapat pahalanya
dan mendapat pahala orang yang
mengerjakannya setelah dia, tanpa mengurangi
pahala orang yang mengerjakanya sedikitpun.
Barang siapa membuat sunnah dalam Islam
sunah-yang buruk maka ia mendapat dosanya
dan mendapat dosa orang yang mengerjakannya
setelah dia, tanpa mengurangi orang orang yang
mengerjakanya sedikitpun
Memahami Hadis Ketiga
Apa makna kata dalam hadis?
mempunyai dua makna : membuat dan

menghidupkan.
Mudhoyyiqun : bermakna menghidupkan
Muwassiun: menghidupkan dan membuat.
kalau hanya bermakna
kata
menghidupkan tidak selaras dengan akhir
dari hadis diatas. Yaitu menghidupkan
sunnah yang jelek. Dalam Islam tidak ada
sunnah Jelek
Memahami Hal Yang Tidak
Dilakukan Rasululah saw
Hal yang ditinggalkan Rasulullah SAW dan tidak dikerjakan
, dengan sengaja, tidak mempunyai makna wajib, kadang
bermakna haram, makruh, mubah atau dianjurkan
(musthab).
Rasulullah SAW tidak melakukannya karena ada sebab
seperti menjelaskan bahwa yang ditingalkannya itu boleh
tidak dikerjakan, atau khawatir menimbulkan kesulitan
bagi umatnya, atau karena alasan maslahat lain.
Dalam hal ini kita harus meliha al-qoroin (indikator yang
bisa dipakai untuk memahami maksud tertentu) yang
menyertai ketika Rasulullah SAW tidak mengerjakan hal
tersebut.
Kalau tidak ada qorinah yang mennjukkan sebabnya maka
perbuatan yang tidak dikerjakan adalah mubah, boleh
dikerjakan.Sedangkan tidak melakukan dengan tidak
sengaja maka tidak ada hukum syariat apapun yang
berhubungan dengannya.
Kaidah yang mengatakan bahwa suatu hal yang
tidak dikerjakan Rasulullah SAW menunjukkan
bahwa hal yang ditinggalkan tersebut adalah
haram,
kaidah ini dibatalkan dengan sabda Rasulullah SAW:



Biarkan saya dengan apa yang sudah saya
tinggalkan buat kalian, Umat sebelumkalian hancur
karena pertanyaan mereka, penentangan mereka
terhadap nabinya. , kalau saya melarang kalian dari
sesuatu maka tinggalkanlah. Kalau saya
memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sekuat
tenaga kalian
Melakukan Hal Yang Tidak Melakukan Hal Yang Tidak
dilakukan Rasulullah adalah Dilakukan Rasulullah adalah
tidak ada hukumnya. bidah
Tergantung Baik dan Tidaknya

)
(

)





(

(:
(
Manhaj Rasulullah saw.
Dalam Menerima Atau
Menolak Hal Baru
dalam Agama.
Seorang Sahabat Dari Anshor, mengimamai
Sholat Di Masjid Quba dengan Membaca Al-Ikhlas
setelah Fatihah Sebelum Surat







e


( /1)268
Bahwa seorang dari ansor menjadi imam di masji
Quba.
Ia selalu memulai surat yang akan ia baca dalam
shalat dengan surat al-Ikhlas sampai selesai.
Setelah itu ia membaca surat lain setelah al-
ikhlas. Ia melakukannya disetiap rakaat.
Sahabat yang lainnya menegurnya. Mereka
berkata: engkau memulainya dengan surat ini.
dan engkau merasa tidak cukup dengan surat al-
ikhlas sampai engkau membaca surat lain. Pilih
saja salah satunya, cukup membaca al-Ikhlas atau
tidak membaca al-Ikhlas namun membaca surat
lain.
Ia menjawab: saya tidak akan
meninggalkannya! kalau kalian setuju aku
mengimami kalian dengan cara saperti itu saya
akan jadi imam. Kalau kalian tidak setuju saya
tidak akan jadi imam.
Jamaah sholat melihat bahwa Ia adalah orang
terbaik diantara mereka. Mereka tidak ingin
orang lain mengimami. Ketika Nabi saw
menginjungi mereka mereka menceritakan
kejadian itu..
Kemudian Rasulullah bertanyakepada imam
tadi:Apa yang membuat engkan menolak untuk
mengerjakan apa yang diminta sahabatmu?
Apa yang membuatmu selalu membaca surat ini
disetiap rakaat?
Imam masjid menjawab: saya mencintainya
Rasulullah saw berkata:Kecintaanmu terhadap
surat al-Ikhlas membuatmu masuk surga
Kesimpulan :
Rasulullah menyetujui dua hal:
Pertama: selalu membaca surat al-ikhlas
setelah al-fatihah
Kedua: Cara Sahabat mengambil kesimpulan,
yaitu sesuai dengan perintah umum membaca
Quran setelah al-fatihah.
Seorang Sahabta Selalu membaca al-Ikhlas
Sebelum Ruku
Rasulullah SAW mengutus sebuah pasukan perang
(sariyah). Pasukan tersebut dipimpin seseorang.
Pimpinan pasukan selalu membaca surat al-Ikhlas untuk
mengakhiri bacaanya.
Ketika pasukan kembali mereka bertanya kepada
Rasulullah saw tentang perbuatan pimpinan mereka.
Rasulullh saw menyuruh mereka untuk menanyakan hal
itu pada pimpinan mereka. Beliau berkata: tanyakan
kepada dia, kenapa melakukan hal itu?
kemudian mereka menanyakannya . Ia menjawab:karena
surat tersebut sifat Ar-Rahman ( Allah ) , dan saya suka
membacanya .
Rasulullah saw berkata: kabarkan kepada dia bahwa Allah
mencinyainya. (Hadis Riwayat Bukhori, Muslim dan Nasai )
Seorang Sahabat Membuat Bacaan Dalam
Shalat Dan Nabi SAW Tidak Mengajarkannya









:



. :
( /1) 419
disebutkan bahwa seseorang datang tergesa-gesa menuju
shalat. Nafas dia mendorongnya , kemudian dia bisa
mendapatkan ruku,
kemudian takbir dan mengucapkan hamdalah.



Rasulullah bertanya siapa yang mengucapkan kalimat tadi.
Tidak seorangpun menjawab.
Rasulullah saw mengulang pertanyaanya dan berkata
sesungguhnya ia tidak mengucapkan hal yang buruk.
Kemudian ia mengaku dan memberikan alasan bahwa ia
terdorong oleh nafanya dan mengucapkan hamdalah dengan
lafadh tadi
Setelah itu Rasulullah saw bersabda:saya melihat duabelas
malaikat berlomba sipa diantara mereka yang duluan
menuliskannya.
Beberapa Muhdatsat Yang dibuat Sahabat
1. Bilal bin Rabah ra selalu komitmen dengan berwudhu
setiap kali beliau batal wudhu dan beliau selalu
melakukan sholat dua rakaat setelah wudhu dan
setelah adzan
2. Sholat Khubaib bi Adi ra dua rakaat sebelum dibunuh
3. Seorang sahabat selalu membaca surat al-Ikhlas di
setiap rakaat sholat malam
4. Munajat seorang sahabat kepada Allah saw dengan doa
yang belum pernah didengar dari Rasulullah saw.
5. Seorang sahabat ra menambah lafadh zikir setelah ia
bangun dari ruku
6. Sunnahnya Muaz bin Jabal ra dalam hal sholat masbuk
7. Abu Said al-Khudriy ra meruqyah seseorang yang digigit
ular
Pertanyaan?
Kenapa Sahabat ra yang melakukan
muhdatsaat tidak Betanya Kepada
Rasulullah Sebelum
melakuakannya?
Bahkan yang bertanya bukan
pelaku?
Apakah Pelaku Tidak Takut Bidah?
Atau Karena sesuai dengan Syariat?
Apakah termasuk Sunnah Taqririyah?
Sahabat melakukan amalan-amalan baru di atas sebelum
Rasulullah Saw. menjelaskan hukumnya kepada mereka,
padahal sangat mungkin dan mudah bagi mereka untuk
bertanya.
Hal ini menunjukkan bahwa Sahabat tidak merasa
bersalah untuk melakukannya dan tidak menilainya
sebagai perkara bidah yang tercela. Sebab jika hal itu
bidah, pastilah mereka akan meninggalkannya.
Rasulullah Saw. membenarkan perbuatan para Sahabatnya
dan perkara-perkara baru yang berkaitan dengan agama
yang mereka lakukan.
Hal ini memberikan dalil jelas bahwa tidak semua yang
Rasulullah Saw. tinggalkan, berarti haram. Jikalau tidak,
pastilah semua perkara baru yang dilakukan oleh para
Sahabat termasuk hal-hal yang diharamkan, sebab
Rasulullah Saw. tidak pernah melakukannya.
Rasulullah Menolak Sujud Muaz kepadanya.
Rasulullah saw tidak setuju dengan sujudnya Muadz bin Jabal
ra kepadanya.
Muadz ra ketika berkunjung ke Syam atau yaman melihat
Nashrani sujud kepada pendeta. Juga melihat yahudi sujud
kepada pendeta.
Rasulullah saw bertanya kepada Muadz:untuk apa mereka
melakukan hal ini? Mereka menjawab:Ini adalah
penghormatan kepada para Nabi. Aku mnjelaskan:Kami
lebih berhak untuk melakukannya kepada nabi kami.
Kemudian Rasulullah saw berkata:mereka berbohong kepada
Nabi-nabi mereka, sebagaimana mereka merubah kitab suci
mereka, kalau saya disuruh untuk memerintahkan sujud
seorang manusia kepada seorang manusia maka saya akan
menyuruh perempuan untuk sujud kepada suaminya. (Hasi
riwayat Ahmad, ibnu Majah, Hakim, Thabrani, Haitsami dalam
al-mujmma ilid:4 hal:568 )
Kesimpilan Manhaj Rasulullah Dalam
Menilai Menerima atau menolak hal baru
dalam Agama.
Kalau melihat atau mendengar yang baru,
Rasulullah saw tidak langsung memvonis
bidah.
Rasulullah saw. bertanya sebab dilakukannya
amalan baru tersebut
Kemudian Rasulullah saw menilai apakah
diterima atau ditolak. Menerima yang sesuai
dengan Syariat
Menolak yang tidak sesuai
Manhaj Para Sahabat
Tentang Hal-hal Baru
Setelah Rasulullah Saw.
Wafat.
Hal Baru YangDiterima
Abu Dzar ra.banyak melakukan shalat sunnah tanpa
memperhatikan jumlah rakaatnya.
Mutharrif bin Abdillah berkata, Saya duduk bersama beberapa
orang Quraisy. Tiba-tiba datang seorang laki-laki, kemudian ia
shalat, ruku dan sujud, namun tidak duduk setelah dua rakaat.
Aku pun berkata, Menurutku, orang itu tidak tahu apakah dia
menyudahi rakaat shalatnya dalam jumlah genap atau ganjil.
Mereka berkata, Kenapa tidak kamu temui dia dan beritahu dia?
Aku pun berdiri menemuinya seraya berkata, Wahai hamba Allah,
saya tidak tahu, apakah kamu shalat dengan jumlah rakaat genap
atau ganjil.
Ia menjawab, Tetapi, Allah Maha Mengetahui. Saya mendengar
Rasulullah Saw. bersabda:
.




Barangsiapa sujud (shalat) kepada Allah sebanyak satu kali, Allah
akan mencatat baginya satu kebaikan karenanya; akan
menghapus satu kesalahan karenanya; dan mengangkat satu
derajat untuknya.
Aku bertanya, Kamu siapa?
Ia menjawab, Abu Dzar.
Aku pun kembali kepada teman-temanku dan berkata,
Semoga Allah membalas kalian dengan keburukan, hai
teman-teman yang buruk! Kalian menyuruhku untuk
mengajari salah seorang Sahabat Rasulullah! (h.r.
Ahmad))
Abu Dzar ra. memperbanyak rukuk dan sujud. Beliau tidak
duduk setelah dua rakaat untuk membaca tasyahud.
Beliau tidak juga mengucapkan salam di antara dua
rakaat. Bahkan, Beliau tidak berniat melakukan shalat
dalam jumlah rakaat tertentu. Semua ini beliau lakukan
karena senang memperbanyak jumlah sujudnya.
Imam Haitsami berkata, Imam Ahmad dan Al-Bazzar
meriwayatkan hadits ini dengan beberapa sanad.
Sebagian diriwayatkan oleh para perawi hadits shahih.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-
Mujamu al-Ausath. (Al-Majma, 2/514).
Hal Baru Dalam Agama Yang Ditolak Sahabat
Ibnu Abbas ra. mengingkari perbuatan Muawiyah bin Abu Sofyan
ra. yang mencium rukun Iraqi dan rukun Syami ketika tawaf.
Ibnu Abbas ra. berkata kepada Muawiyah ra., Rasulullah Saw. hanya
mencium Hajar Aswad dan Rukun Yamani ketika tawaf.
Muawiyah ra. menjawab, Tidak ada satu pun bagian Kabah yang
tidak dihormati.
Ibnu Abbas ra. membaca ayat:Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu, suri teladan yang baik bagimu. (q.s. Al-Ahzab: 21)
Muawiyah ra. berkata, Ya. Kamu benar. (h.r. Bukhari, Ahmad dan
Tirmidzi)
Imam Syafii berkata, Kita tidak mencium keduanya --Rukun Iraqi
dan Rukun Syamibukan karena mengabaikannya. Bagaimana
mungkin Ibnu Abbas mengabaikannya, padahal ia sedang bertawaf
mengelilinginya? Akan tetapi, kami mengikuti Sunnah Rasulullah
Saw., baik dalam hal melakukan atau meninggalkan sesuatu. Jikalau
meninggalkan Rukun Iraqi dan Rukun Syami termasuk mengabaikan
keduanya, pastilah meninggalkan bagian-bagian Kabah di antara
keduanya juga dianggap mengabaikannya; padahal tidak ada
seorangpun yang mengatakan seperti itu.
Kesimpulan Manhaj Sahabat
Sahabat membedakan, dengan ilmu dan pemahaman yang Allah
karuniakan kepada mereka, antara perkara-perkara baru yang baik
yang diperbolehkan untuk dilakukan dengan perkara-perkara baru
yang buruk dan diharamkan untuk dilakukan.
setiap perbuatan baik yang dianjurkan dan sesuai dengan dalil-dalil
serta kaidah-kaidah umum syariat, termasuk bagian dari perkara-
perkara baru yang baik dan terpuji, dengan syarat tidak
bertentangan dengan dalil syari, tidak menimbulkan kerusakan,
tidak menafikan atau bertentangan dengan petunjuk Rasulullah
Saw.
Sebaliknya, perkara-perkara baru yang bertentang dengan dalil-
dalil dan kaidah umum syariat, atau bukan bagian perkara yang
diperintahkan secara umum, atau menimbulkan masalah
kerusakan ajaran agama atau perkara duniawi, atau bertentangan
dengan contoh dan petunjuk Rasulullah Saw., merupakan perkara-
perkara baru yang tercela dan bidah sesat yang diperingatkan oleh
Rasulullah Saw. dalam sabdanya:

.

Setiap perkaara baru adalah bidah; semua bidah adalah kesesatan; dan semua
kesesatan berada dalam neraka.
Qiyas Dalam Ibadah
Qiyas
Dalam Ibadah Bisa difahami.
Disebut Illah
Boleh dilakukan qiyas.
Sebab Hukum
Tdak bisa difahami
Disebut sebab ()
Dalam kategori taabbudi,
tidak boleh dilakukan
qiyas.

Selama Bisa Difahami Boleh Dilakukan Qiyas


walaupun dalam Bab Ibadah
80
Contoh Qiyas Dalam Ibadah
Mengucapkan sebelum pelaksanaan
shalat Ied; dikiaskan pada shalat gerhana
Melafalkan niat shalat boleh menurut sebagian
ulama; dikiaskan pada niat (ihram) haji dan ibadah
kurban.
Mengucapkan salam dua kali pada shalat jenazah;
dikiaskan pada shalat biasa.
Orang yang pingsan tidak wajib mengqadho shalat;
dikiaskan pada orang gila (hilang ingatan).
Mengeluarkan zakat untuk hasil tanaman yang
dijadikan sebagai makanan pokok; dikiaskan pada
biji gandum.
81
Dalil yang membolehkan qiyas dalam
masalah ibadah,
hadits yang menjelaskan bahwa Umar bin Khattab
ra. pernah mencium istrinya ketika ia sedang
berpuasa. Ia pun berkata kepada Rasulullah
Saw.,Wahai Rasulullah, saya telah berbuat
kesalahan besar hari ini; saya mencium istriku,
padahal aku sedang berpuasa.
Rasulullah Saw. pun bertanya, Bagaimana
menurutmu, jika kamu berkumur-kumur dalam
keadaan berpuasa?
Umar ra. menjawab, Tidak apa-apa.
Rasulullah Saw. pun menjawab, Kalu begitu, ada
apa dengan mencium?
82
Contoh-contoh
Perbedaan Salaf
dalam Menerapkan
Hukum Perkara Bidah
( 36 Masalah)
Kendati seluruh ulama menjauhi
bidah dan meyakini bahwa
membuat perkara baru dalam
urusan agama adalah haram,
namun para ulama salaf
ataupun khalafberbeda
pendapat dalam memberikan
hukum untuk sebuah perkara
bidah.
Perbedaan Pendapat Ulama Terdahulu

Amalan yang
Fatwa Bidah Fatwa Boleh
Diadakan
Ulama dari mazhab Hanafi
Melafazkan Niat Dalam
Ibnu Taimiyah dan Syafii, serta sebagian
Shalat
ulama mazhab Hambali
Membaca Basmalah
Ibrahim An-Nakhai , Waki
Dengan Keras Dalam mazhab Syafii
bin Jarrah
Shalat

Membaca Doa Kunut Pada


Mazhab hanafi Mazhab Syafii
Sholat Subuh
Perbedaan Pendapat Ulama Terdahulu
Amalan yang
Fatwa Bidah Fatwa Boleh
Diadakan

Azan Pertama Sebelum Utsman bin Affan


Matahari Tergelincir Ibnu Umar
Pada Hari Jumat Dan Sahabat

Menghidupkan Malam tabiin yang hidup di Negeri


Ulama Hijaz, Imam Malik
Nisfu Syaban dan Syam ,Imam Ahmad, Ibnu
bin Anas
keutamaanya Taimiyah ,
Sebagian besar ulama
mazhab Syafii dan Hambali,
Mentalkini Mayit Sebagian ulama
sebagian ulama mazhab
maliki dan hanafi
Contoh Perbedaan
Kelompok
Mudhoyyiqiin Dalam
Menghukumi Masalah
Baru (20 masalah)
Manhaj Mudhoyyiqiin dalam menilai bidah:
Tidak pernah dilakukan salaf sholeh.
kalau seandainya baik maka salaf sholeh akan
terlebih dahulu melakukannya.
Ketika terdapat muqtadho ( sesuatu yang
mengharuskan terjadinya suatu hal) dan tidak
terdapat hal yang menghalanginya (al-mani) dan
sahabat tidak melakukannya maka hal ini
menunjukkan bahwa hal baru tesebut haram
Syariat Sudah sempurna


Adanya Bidah mengisyaratkan bahwa Islam Belum
Sempurna dan Ini bertentangan
Pertanyaan Yang Menggangu
Apakah mudhoyyiqun konsisten dalam
menerapkan konsep dan manhaj bidah?
Apakah bidah antara haq dan bathil?
Apakah Pelaku bidah tidak usah
didengar perkataanya?
Apakah setiap Bidah sesat dan setiap
yang sesat di neraka?
Perbedaan Pendapat Ulama
Amalan yang
Fatwa Bidah Fatwa Boleh
Diadakan

Ibnu Baz, Ibnu


Asyaul Walidain Ibnu Utsaimin
Jabrain, Al-Fauzan

Berdzikir dengan Ibnu Baz, Ibnu


Al-Fauzan, Albani
tasbih Jabrain, Ibnu Utsaimin

Membaca doa Albani, Bakr Abu Ibnu Baz, Ibnu


khataman Al-Quran Zaid, Ibnu Ibnu Jabrain, Al-Fauzan,
dalam shalat Utsaimin Ibnu Utsaimin
Perbedaan Pendapat Ulama
Amalan yang
Fatwa Bidah Fatwa Boleh
Diadakan

Shalat qiyam pada 10


Ibnu Utsaimin, Ibnu
malam terakhir bulan Tidak diketahui
Jabrain
Ramadhan

Membaca Al-Quran Bakr Abu Zaid, Afifi,


Al-Fauzan, Albani
untuk membuka acara dan Ibnu Utsaimin

Garis-garis untuk Ibnu Baz, Al-Fauzan,


Albani
meluruskan shaf Afifi, Lajnah Daimah
Perbandingan Antara Tiga Amalan
Baru Dalam Agama
pertama: perayaan maulid Nabi
kedua: sholat qiyam lail di sepuluh hari terakhir
bulan Ramadhan
ketiga: Asyaul-walidain
Kesimpulan:
ketiga amalan tersebut mirip dari berbagai sisi.
seharusnya hukumnyapun mirip.
Seluruh argumen yang dipakai untuk menolak
maulid nabi seharusnya dipakai pula untuk
menolak sholat qiyam Ramadhan dan asyaul-
walidain.
Lanjutan .
Barang siapa mengharamkan perayaan maulid Nabi
karena berbagai sebab, maka seharusnya
mengharamkan sholat qiyam di sepuluh terkhir
bulan Ramadhan. Juga harus mengharamkan
asyaul-walidain karena sebab yang sama.
Usaha untuk membedakan ketiganya dalam hukum
sama sekali tidak berdasarkan dalil yang diakui.
Usaha membedakannya hanya berdasarkan pada
salah satunya terbiasa dilakukan dan yang lainnya
tidak terbiasa dilakukan.
Ada pepatah mengatakan: barang siapa tidak
mengenal sesuatu maka ia akan memusuhinya
Toleransi Syeikh Utsaimin
Dalam Bidah
Dalam sebuah fatwa, Syeikh Muhammad bin
Utsaimin pernah menentukan sikap bahwa
dirinya tidak akan mudah membidah sebuah
amalan yang berbeda dengan sunnah, ketika
amalan itu boleh masuk dalam kategori
ijtihad para ulama.
Beliau pernah ditanya tentang bersedikap
tangan ketika berdiri setelah ruku, yang telah
dibidahkan oleh Syeikh Albani.
Toleransi Syeikh Utsaimin Dalam Bidah.....Lanjutan
Beliau menjawab, Aku tidak akan mudah membidahkan
sebuah amalan yang berbeda dengan sunnah, ketika
amalan itu boleh masuk dalam kategori ijtihad para
ulama. Orang-orang yang meletakkan tangannya di dada
ketika, mendasarkan amalan ini dengan dalil sunnah.
Ketika amalan ini dibidahkan, tentu akan sangat berat
bagi mereka. Oleh karena itu, tidak tepat kalau orang
menyebut kata bidah dalam kasus seperti ini. Karena
hal itu akan menyebabkan orang mudah membidahkan
orang lain dalam masalah-masalah yang sebenarnya
masih merupakan perbedaan pendapat para ulama.
masalah seperti itu, belum bisa dipastikan mana
pendapat yang benar dan mana pendapat yang salah.
Kalau sepert itu, maka akan terjadi perpecahan yang
sangat parah.
Realita permasalahan Bidah
kesepakatan teori dalam definisi bidah tidak secara otomatis
sepakat dalam menilai bidahnya hal-hal baru dalam agama.
Adalah suatu hal yang sangat sulit untuk sepakat dalam
menetapkan hukum bidah terhadap suatu hal yang baru
dalam agama, bahkan dikalangan ulama yang memandang
sempit makna bidahpun termasuk hal sulit. Padahal mereka
memandang segala hal yang baru dalam agama adalah bidah.
Sebagian orang yang tergesa-gesa menghukumi sesuatu
dengan bidah terkadang tidak melandasinya dengan dalil
syari dan kaidah syariat yang baku. Kaidah syari yang ada
terkadang dilanggar.
Menilai sesuatu bidah lebih disebabkan karena realitas
lingkungan yang mereka hadapi. Sesuatu inovasi baru dalam
agama yang menjadi tradisi mereka diberi fatwa boleh dan
tidak ada keraguan bahwa hal tersebut tidak bidah.
Sebaliknya inovasi baru dalam agama yang tidak sesuai
dengan tradisi mereka diberi fatwa bidah dan haram yang
tidak diragukan
Pesan buku ini
Menjelaskan secara detail makna bidah dari
berbagai sisi yang sangat komplek
Perbedaan pendapat dalam hukum berbagai
hal-hal yang baru dalam agama, secara
khusus hal-hal praktis, antara disyariatkan
dan bidah, terkadang masuk dalam lingkup
perbedaan pendapat yang dibolehkan,
berkisar antara ash-showab (tepat) dan al-
khoto yang (tidak tepat). Tidak semua
masalah berada dalam lingkup al-haq dal al-
bathil.
Pesan buku ini
Dari sisi teori, sepakat dalam definisi bidah dan
hukumnya mungkin mudah. Namun sangatlah
sulit sepakat dalam menerapkan hukum bidah
kepada beberapa hal baru dalam agama.
Sejak jaman salaf sholeh para ulama berbeda
pendapat dalam menentukan definisi bidah dan
hukumnya. Perbedaan tersebut sangat tajam.
Mengarahkan para pemuda kebangkitan Islam
yang peduli terhadap agamanya dan menjaga
mereka dari melakukan sesuatu yang berakibat
patal yang disebabkan pemahaman mereka
yang sempit tentang bidah.
Pesan buku ini.........lanjutan.
Bagi pihak yang menghukumi dan menilai hal-hal
baru, apakah bidah atau tidak, hendaknya
menahan diri dan berhati-hati dalam menuduh
seorang muslim dengan tuduhan melakukan bidah
dalam agama. Karena para ulama berselisih
pendapat dalam banyak masalah. Perselisihan
mereka sangat jelas dalam masalah-masalah
tersebut, antara menilainya sunah, mustahab,
boleh dan bidah. Kalaulah para ulama, benteng
syariah, berbeda pendapat dalam penilaian
sesuatu yang baru , bukankah lebih baik kalau
seandainya kaum muslimin saling memaklumi
dalam perbedaan pendapat mereka terhadap
berbagai masalah yang dinilai bidah?
Hendaknya Menerapkan
Konsep Syaikh Uthaimin
Dalam Masalah Bidah
Ijtihadiyah
Toleransi Dalam Masalah Ijtihadiyah

Pasti Bidah Pasti Sunah

Tidak
Pasti
Menshalatkan jenazah.pelarangan
menshalatkan jenazah di kuburan
Qothi = tsawabit
Azan di kuburan,.
Shalat nisfu
Qunut,makmum.klo imamnya qunut
Mengqodho shalat orang yang meninggal
Hukum 40.100 hr
Tabarruj.
Foto yg dipajang
Zikir dengan suara dengan keras
ultah
Mudah membidahkan
Jd bingung, yg boleh ijtihad
Menentukan sesuai syariah
Konsep tsb dari muhamad bin abdul wahab
Memahami agama jangan pakai akal
Haji dengan mahram,....umroh satu kali umrah
satu haji
Bertoleransi , dengancara apa?