Anda di halaman 1dari 25

PEMILIHAN SUMBER

PEMBIAYAAN
BAGIAN 1

Program Pendidikan Profesi Akuntansi Muthia Duharana C.


Universitas Andalas Dewi Kurniati Airlangga
Perencanaan
Manajemen pajak
Pajak yang
pajak menekankan
dikenakan
merupakan pada
dianggap
upaya dalam pengendalian
sebagai beban
melakukan setiap
dalam
penghematan transaksi yang
menjalankan
pajak secara memiliki
usaha
legal konsekuensi
pajak
Sumber
Pembiayaan

Internal Eksternal
Pokok Bahasan

Dampak dari Menahan Laba (Pendanaan Internal)

Dampak dari Pendanaan Melalui Modal (Equity Financing)


dan Distribusi Laba (Distributing Dividend)

Dampak dari Pendanaan Melalui Utang (Debt Financing)


Terutama Oleh Pemegang Sahamnya
I. DAMPAK DARI MENAHAN LABA
(PENDANAAN INTERNAL)

Laba ditahan diperoleh dari hasil kegiatan operasi


perusahaan dan sebagai sisa alokasi dana yang tidak
dibagikan sebagai deviden
Bertujuan untuk investasi dalam pengembangan
perusahaan dan meningkatkan kinerja operasi.
Laba Ditahan (Retained Earnings) bukan objek pajak
penghasilan
Laba Ditahan (Retained Earnings) akan dikenakan
pajak penghasilan apabila dibagikan kepada pemegang
saham sebagai dividen
Metode pendanaan internal ini tidak praktis ketika suatu
perusahaan baru memulai bisnisnya, alasannya setiap ada
aliran arus kas positif atas kegiatan operasi dipakai untuk
pertumbuhan perusahaan. Namun, dalam rencana jangka
panjang, perusahaan dapat merencakan transisi dari
pembiayaan eksternal berubah menjadi pembiayaan
internal.
Jika dibandingkan dengan utang, modal, laba ditahan
secara umum bukan merupakan suatu pembatasan
pembayaran. Sebagai tambahan, dengan menggunakan
pembiayaan internal maka akan membuat suatu
perusahaan tumbuh tanpa memberikan kewenangan
manajemen
Hukum pajak merubah pengaruh pilihan pendanaan internal.
Jika suatu pajak diharapkan meningkat, penerimaan yang
cukup harus ditahan untuk menutupi pajak yang tidak dibayar
ketika suatu transaksi terjadi. Jika suatu pajak menurun, maka
memerlukan tambahan dana internal.
Kondisi pasar tentunya akan mempengaruhi. Jika pendanaan
eksternal mahal maka pendanaan internal dapat digunakan
lebih banyak. Jika pendanaan eksternal murah, maka
pendanaan internal dapat digunakan lebih sedikit.
Demikian pula halnya dengan sifat bisnis mempengaruhi
kelayakan. Margin laba yang tinggi membutuhkan kemampuan
untuk menggunakan pendanaan yang lebih tinggi. Sebaliknya,
margin laba yang rendah membutuhkan kemampuan untuk
menggunakan pendanaan yang lebih rendah.
Teori Preferensi Pajak

Teori preferensi pajak, apabila dipandang dari sudut pandang pajak, para
investor umumnya akan menyukai pembayaran dividen yang rendah
ketimbang menerima pembayaran yang tinggi, hal ini dipengaruhi oleh
beberapa factor yaitu :

- Keuntungan modal jangka panjang dikenakan tarif pajak 20 %,


sedangkan laba dividen dikenakan tarif efektif yang dapat mencapai angka
maksimal 38,6%. Para investor yang menerima sebagian besar dividen
memilih menahan atau menanamkan kembali labanya dalam bisnis,
sehingga pertumbuhan laba mungkin akan mengarah pada kenaikan harga
saham, dan akibatnya keuntungan modal dengan pajak rendah akan
menggantikan dividen yang pajaknya tinggi.

- Pajak atas keuntungan tidak akan dibayarkan sampai saham tersebut


dijual.
- Seorang ahli waris tidak dikenakan pajak atas keuntungan modal
Karena keunggulan tersebut para investor umumnya menyukai perusahaan
menahan sebagian besar laba mereka.
Aturan Penahanan Laba yang Berlebihan

IRC (Internal Revenue


Code) melarang ini dengan The Internal Revenue
tujuan untuk mencegah Service (IRS) adalah
perusahaan menahan laba bagian dari Badan
demi menghindari pajak. Departement Keuangan
Federal Amerika
Jika IRC dapat Serikat yang
membuktikan adanya bertugas memungut
penahanan laba tanpa semua pajak, dan
memonitor serta
alasan yang jelas, maka mengawasi penerimaan
perusahaan dapat pajak
dikenakan tarif pajak
penalti atas akumulasi laba
tersebut.
II. DAMPAK DARI PENDANAAN MELALUI MODAL
(EQUITY FINANCING) DAN DISTRIBUSI LABA
(DISTRIBUTING DIVIDEND)
Pendanaan dalam bentuk modal dilakukan oleh perusahaan
melalui penjualan kepemilikan saham biasa perusahaan tersebut.
Perusahaan umumnya memiliki tujuan untuk meningkatkan
nilai pemegang saham. Dalam menambah pemilihan waktu,
aspek nilai waktu dari keuntungan pajak penting dalam
keputusan struktur modal. Untuk para investor, pemilihan waktu
pembayaran dapat direkayasa sehingga pembayaran dilakukan
dalam meminimalisasi pajak. Deviden dapat dibayarkan ketika
tarif pajak menurun. Dengan demikian, pajak ditunda dan
kemudian ditransformasi ke dalam penghasilan dari keuntungan
modal yang dipajaki dengan tarif rendah.
Dampak dari Distribusi Laba
(Distributing Dividend)

Deviden merupakan pembagian laba kepada pemegang


saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki.
akan mengurangi laba ditahan dan kas yang tersedia bagi
perusahaan,
distribusi keuntungan kepada para pemilik adalah tujuan
utama suatu bisnis.
Besar kecilnya persentase yang dibagikan tergantung dari
kebijakan perusahaan maupun permintaan dari pemegang
saham terutama pemegang saham utama dan harus disetujui
dalam RUPS.
Jenis-Jenis Deviden
1. Dividen tunai
Bentuk tunai dan dikenai pajak pada tahun pengeluarannya
2. Dividen bentuk saham
Biasanya dihitung berdasarkan proporsi terhadap jumlah saham
yang dimiliki. Contohnya, setiap 100 saham yang dimiliki, dibagikan 5
saham tambahan. Metode ini mirip dengan stock split karena dilakukan
dengan cara menambah jumlah saham dan mengurangi nilai tiap saham
sehingga tidak mengubah kapitalisasi pasar.
3. Dividen interim.
Kebanyakan distribusi dividen menyebabkan berkurangnya jumlah saldo
laba, pengecualiaan berlaku untuk :
Dividen saham dalam bentuk pemecahan saham;
Dividen likuidasi (pembagian aktiva kepada seluruh persero untuk
mengembalikan seluruh atau sebagian modal resmi perusahaan; dan
Pembagian lainnya yang bukan merupakan dividen dalam pengertian
akuntansi komersial, tetapi diperlakukan seperti itu dalam ketentuan
perpajakan.
Dalam pembagian dividen terdapat tiga tanggal
untuk diperhitungkan
tanggal pengumuman,
pendaftaran,
pembayaran.

Dividen resmi terutang oleh badan saat secara resmi


dilakukan pengumuman pembagian dividen. Untuk
tujuan pemajakan, sesuai dengan ketentuan pasal 23 dan
pasal 26
Pemberi Dividen Akan Memotong Jenis PPh dan Tarif yang
Berbeda-beda Tergantung Siapa Penerima Dividennya

Dividen WP Badan DN atau BUT yang menerima dividen,


dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15% dari penghasilan bruto.
Dividen Sebagai Objek Pemotongan PPh Final Pasal 4 ayat
(2) WP OP DN yang menerima dividen, dipotong PPh
Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final sebesar 10%
Dividen Sebagai Objek Pemotongan PPh Pasal 26 WP LN
yang dividen dari Indonesia, dipotong PPh Pasal 26
sebesar 20%
Dividen yang Dikecualikan dari Objek Pajak

Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf f UU PPh

dikecualikan dari objek pajak adalah dividen atau bagian laba


yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP
DN, koperasi, BUMN, atau badan usaha milik daerah, dari
penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan
bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat: menerima
dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan
dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari
jumlah modal yang disetor.
III. DAMPAK DARI PENDANAAN MELALUI
UTANG (DEBT FINANCING) TERUTAMA OLEH
PEMEGANG SAHAMNYA

Dana yang berasal dari hutang mempunyai biaya modal


dalam bentuk biaya bunga, karena itu diharapkan
perusahaan mampu melakukan keseimbangan struktur
modal secara optimal termasuk kebijakan hutang yang
dapat meminimalkan biaya modal dan menghindari
terjadinya konflik antara pemegang saham dengan
manajemen, karena keputusan yang diambil oleh
manajemen dalam pencarian sumber dana tersebut
sangat dipengaruhi juga oleh para pemilik/pemegang
saham.
Pajak Penghasilan dengan Hutang

Manfaat
Penghematan
Modigliani dan Miller (1963) Pajak melalui
berpendapat bahwa, Apabila ada pajak pendanaan
penghasilan perusahaan maka dengan hutang
penggunaan hutang akan meningkatkan
nilai perusahaan karena biaya bunga
hutang adalah biaya yang mengurangi
pembayaran pajak (tax deductable
Biaya
expense). Namun pendapat tersebut kebangkrutan
belum mempertimbangkan financial yang lebih tinggi
akibat
distress dan agency cost. penggunaan
hutang

Trade-Off Theory
Keuntungan dari Pendanaan melalui Utang

Utang pajak menyediakan manfaat pajak, karena


pengeluaran bunga dapat merededuksi pajak

utang bisa mendorong manajer untuk lebih disiplin dalam


pilihan-pilihan investasi mereka

utang tidak memberikan pihak pemegang surat utang


(debtholder) hak suara, sehingga tidak terjadi pergeseran
pengendalian perusahaan
Berbeda dengan dividen yang merupakan non deductible
expense, jumlah total dana yang tersedia untuk membayar para
pemilik hutang dan pemegang saham akan lebih besar jika
hutang digunakan, sehingga bunga hutang jga disebut
perlindungan pajak.
Semakin besar jumlah hutang semakin besar pula keuntungan
perlindungan pajak dan semakin besar nilai perusahaan, jika
semua hal lain dianggap tetap. Namun, jika penghasilan kena
pajak jumlahnya kecil atau negatif, keuntungan perlindungan
pajak dari hutang akan berkurang atau bahkan tidak ada. Selain
itu, jika perusahaan bangkrut dan dilikuidasi, penghematan
pajak di masa depan yang berhubungan dengan hutang akan
hilang. Hal ini membuat keuntungan perlindungan pajak atas
hutang, menjadi tidak pasti.
Dalam pasal 18 ayat Undang-Undang Pajak
Penghasilan

1) Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan


keputusan mengenai besarnya perbandingan
antara utang dan modal perusahaan untuk
keperluan penghitungan pajak berdasarkan
Undang-Undang ini

Manajemen Perpajakan, PPAk 2015


Pembahasan

1. 8 Oktober 1984 dengan berlakunya Keputusan Menteri


Keuangan Nomor 1002/KMK.04/1984 tentang
Penentuan Perbandingan antara Utang dan Modal
Sendiri setinggi-tingginya adalah 3 : 1.
2. 8 Maret 1985 dikeluarkan Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia 254/KMK.01/1985 yang berisi
mengenai penangguhan pelaksanaan Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor :
1002/KMK.04/1984, karena dikuatirkan akan
menghambat perkembangan dunia usaha. Penangguhan
yang dimaksud sampai saat yang ditentukan kemudian
oleh Menteri Keuangan.

Manajemen Perpajakan, PPAk 2015


3. 9 September 2015 baru ditetapkan Peraturan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
169/PMK.010/2015 . Besarnya perbandingan antara
utang dan modal ditetapkan paling tinggi sebesar
4:1. Ketentuan ini berlaku mulai berlaku sejak Tahun
Pajak 2016

Manajemen Perpajakan, PPAk 2015


Yang dikecualikan dari ketentuan adalah:
Wajib Pajak bank;
Wajib Pajak lembaga pembiayaan;
Wajib Pajak asuransi dan reasuransi;
Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang
pertambangan minyak dan gas bumi, pertambangan umum,
dan pertambangan lainnya yang terikat kontrak bagi hasil,
kontrak karya, atau perjanjian kerjasama pengusahaan
pertambangan, dan dalam kontrak atau perjanjian dimaksud
mengatur atau mencantumkan ketentuan mengenai batasan
perbandingan antara utang dan modal; dan
Wajib Pajak yang atas seluruh penghasilannya dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final berdasarkan peraturan
perundang-undangan tersendiri; dan
Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang infrastruktur.

Manajemen Perpajakan, PPAk 2015


Apabila besarnya rasio antara utang dan modal Wajib Pajak
melebihi besarnya perbandingan yang ditetapkan

maka biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan dalam


menghitung penghasilan kena pajak adalah sebesar biaya
pinjaman sesuai dengan perbandingan utang dan modal,
yang meliputi:
bunga pinjaman;
diskonto dan premium yang terkait dengan pinjaman;
biaya tambahan yang terjadi yang terkait dengan perolehan
pinjaman (arrangement of borrowings);
beban keuangan dalam sewa pembiayaan;
biaya imbalan karena jaminan pengembalian utang; dan
selisih kurs yang berasal dari pinjaman dalam mata uang
asing sepanjang selisih kurs tersebut sebagai penyesuaian
terhadap biaya bunga dan biaya

Manajemen Perpajakan, PPAk 2015


TERIMAKASIH