Anda di halaman 1dari 15

Aspek Hukum, Medikolegal

dan Prosedur Merujuk


Pasien Bertatus Tahanan
Skenario 4
Seorang laki-laki, pasien lama anda, datang ke tempat praktek anda. Ia menyapa dengan baik
seperti biasanya, dan kemudian meminta tolong kepada Anda untuk melakukan sesuatu. Kakak
kandungnya saat ini sedang diperiksa oleh kejaksaan karena diduga telah melakukan tindak pidana
korupsi, dengan status tahanan. Ia sebenarnya menderita penyakit jantung yang telah lama
dideritanya, penyakit lever dan, penyakit lutut kanannya (osteochondritis genu) sehingga ia
mengalamai hambatan dalam berjalan. Pasien lama Anda tersebut menunjukkan kepada Anda
data-data medik kakaknya. Pasien lama Anda terseut mendengar bahwa di Jepang terdapat
seorang profesor ortopedi yang sangat mahir dalam menangani penyakit lututnya. Oleh karena itu
ia meminta kepada Anda untuk dapat membuatkan surat pengantar ke profesor di Jepang tersebut.
Istilah yang Tidak Diketahui
-
Rumusan Masalah
Seorang laki-laki meminta surat rujukan ke
Jepang untuk kakaknya yang berstatus tahanan.
Mind Map
Hipotesis
Surat rujukan obat tidak dapat diberikan
kepada laki-laki tersebut.
Aspek Hukum dan Medikolegal
UU No. 36 tahun 2012 bab V menyebutkan mengenai pembukaan rahasia
kedokteran.
UU Kesehatan nomor 36 tahun 2011, pasal 150 (1) pemeriksaan kesehatan
jiwa untuk kepentingan penegakan hukum (visum et repertum psychiatricum) hanya
dapat dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa pada fasilitas pelayanan
kesehatan. (2) Penetapan status kecakapan hukum seseorang yang diduga
mengalami gangguan kesehatan jiwa dilakukan oleh tim dokter yang
mempunyai keahlian dan kompetensi sesuai dengan standar profesi
Pasal 21 ayat (1) KUHAP adalah unsur perlunya penahanan dilakukan atau
disebut juga syarat subjektif. Syarat subjektif diletakkan pada keadaan yang
menimbulkan adanya kekhawatiran tersangka atau terdakwa melarikan diri,
merusak atau menghilangkan barang bukti atau mengulangi tindak pidana.
Surat Rujukan Berobat untuk
Tahanan
Mengingat Pasal 33 Undang-undang No.5 I Tahun 1991 tentang Kejaksaan RI, dan
untuk mengantisipasi hal-hal diatas, dengan ini diberikan petunjuk sebagai berikut :
1. Ijin berobat ke luar negeri hanya dapat diberikan terhadap kondisi-kondisi dan jenis
penyakit tertentu yang belum dapat diobati di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia
2. Ijin berobat ke luar negeri bagi tersangka/terdakwa hanya dapat diberikan oleh
Jaksa Agung RI setelah memenuhi syarat-syarat tertentu.
3. Ijin berobat ke luar negeri harus diajukan oleh tersangka/terdakwa atau
keluarganya setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter sepesialis penyakit
yang bersangkutan, dan dilengkapi surat keterangan resmi dari Rumah sakit
Pemerintah yang ditunjuk untuk dapat memberikan rujukan guna berobat ke luar
negeri (Rumah Sakit Umum Pusat Cipto MangunKusumo Jakarta) dengan
penjelasan bahwa rumah sakit di Indonesia belum dapat memberikan pelayanan
medis / pengobatan terhadap penyakit yang diderita oleh tersangka/terdakwa
4. Ijin berobat ke luar negeri diajukan kepada Jaksa Agung RI, melalui jalur berjenjang
(Kejaksaan Negeri, Kejaksaan Tinggi, Jaksa Agung Muda yang bersangkutan)
dengan menjelaskan nama dan alamat lengkap rumah sakit di luar negeri yang akan
merawat tersangka/terdakwa agar sewaktu-waktu dapat dihubungi.
5. Harus ada jaminan dari tersangka/terdakwa dan keluarganya bahwa
tersangka/terdakwa yang bersangkutan akan segera kembali ke Indonesia setelah
rumah sakit yang bersangkutan memberikan keterangan bahwa tersangka/terdakwa
dapat dirawat kembali di Indonesia.
6. Kejaksaan yang menangani perkara tersangka/terdakwa yang berobat ke luar negeri
wajib memantau dan meminta perkembangan hasil pengobatan tersangka/terdakwa
dari rumah sakit di luar negeri yang bersangkutan, sekurang kurangnya I (satu )
bulan sekali, dan meminta penjelasan masih perlu atau tidaknya tersangka/terdakwa
dirawat di rumah sakit tersebut. Laporan hasil pemantauan dikirim setiap bulan
kepada Jaksa Agung RI., tembusan kepada Jaksa Agung Muda Intelijen dan Jaksa
Agung Muda yang bersangkutan.
Fitness to Stand Trial
seseorang (terperiksa) akan diajukan ke sidang
pengadilan, terlebih dulu harus dipenuhi syarat-
syarat sebagai berikut:
1. Apakah sidang dapat dilaksanakan (applicable)?
2. Apakah sidang tidak berbahaya (harmful) bagi
terperiksa?
3. Apakah sidang bermanfaat (beneficial)?
Fitness to be Detained
Kelayakan seseorang untuk ditahan atau suatu ukuran kemampuan
seseorang secara medis untuk menjalani penahanan. Pemeriksaan
kelayakan pada kasus ini dapat diperiksa oleh dokter kejaksaan atau
dokter forensic baik melalui permintaan kejaksaan maupun penasihat
hukum kondisi kesehatannya layak untuk penahanan, maka tersangka
akan ditahan di tempat tahanan yang disiapkan, bila kondisi kesehatan
tersangka tidak memungkinkan untuk penahanan, maka tersangka akan
dirawat di rumah sakit dengan pengawasan dari pihak kepolisian dan atau
kejaksaan.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Palpasi
Perkursi
Auskultasi
Pemeriksaan Penunjang
1. Jantung: darah lengkap, enzim jantung, EKG
2. Liver: tes fungsi hati, USG
3. Osteochondritis genu: laboratorium darah, radiologi
Interpretasi
Seseorang dapat ditahan dengan melakukan pemeriksaan
kelayakan oleh dokter kejaksaan atau oleh dokter kedokteran
forensik baik melalui permintaan perjaksaan maupun
penasihat hukum tersangka. Para dokter penilai ini akan
menilai kondisi kesehatan fisik dan mental tersangka, bila
secara medis kondisi kesehatan layak untuk penahanan, maka
tersangka akan ditahan di tempat tahanan yang disiapkan,
bila kondisi kesehatan tersangka tidak memungkinkan untuk
penahanan, maka tersangka akan dirawat di rumah sakit
dengan pengawasan dari pihak kepolisian dan atau kejaksaan.
Pada kasus ini dokter tidak memberikan surat keterangan dokter atau
dalam hal ini surat pengantar berobat ke Jepang. Hal ini dia tidak lakukan
karena menurutnya tidak sesuai dengan Kode Etik Profesi Kedokteran di
Indonesia, dimana dokter tidak boleh boleh memberikan surat keterangan
dokter tanpa melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu. Jika dia
melakukan hal tersebut dan ada pihak ketiga yang dirugikan maka dokter
dan orang yang menggunakan surat keterangan tersebut bisa dikenakan
sanksi pidana.
Kesimpulan
Dokter tidak memberikan surat pengantar
berobat untuk kakak pasien yang tertuduh
sebagai tindak pidana korupsi karena
melanggar Kode Etik Profesi Kedokteran
Indonesia yang dimana dokter tidak boleh
memberikan surat keterangan dokter
tanpa melakukan pemeriksaan medis
terlebih dahulu.