Anda di halaman 1dari 53

UNIVERSITAS BATAM

PEMBIMBING :
dr. Basuki Adam, Sp.OT

Oleh :
Eka Kurniati

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
SMF ILMU BEDAH
RSUD EMBUNG FATIMAH
2017

“Trauma pada sistem muskuloskeletal dimana
apabila tidak mendapat penanganan yang tepat,
dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut bisa
berupa infeksi, kelumpuhan bahkan kematian”
 Klasifikasi:
1. mengancam jiwa (life threatening )
2. mengancam kelangsungan ekstremitas ( limb
threatening)

 Fraktur Terbuka  terdapat luka yang
menghubungkan fraktur dengan udara luar atau
permukaan kulit

1. Recognize (mengenali)
2. Reduction/reposition (mengembalikan)
3. Retaining/imobilisation (mempertahankan)
4. Rehabilitation (rehabilitasi)

 1. Primary Survey : ABCD
 2. Secondary Survey
- cuci luka
- debridement luka (6jam) gunakan general
anestesi
-Imobilisasi, luka ditutup kain bersih, fragmen
jangan dimasukkan
- Antibiotik dan analgetik
-Pencegahan tetanus (250 unit ig tetanus)

refill. if closure delayed then external prefered  Early definitive wound cover – split skin grafts. fluid resuscitation. tetanus prophylaxis – 48-72 hrs  Surgical debridement – removal of de-vitalised tissue. blood  Antibiotics. ABCDE – check neurovascular status (pulses. local/distant flaps (involve plastics) . sensation. motor) . irrigation  Stabilization of fracture – internal/external. cap.

.

 Gas gangrene  Tetanus  Non-union/malunion . pseudomona sp. >10% in Type III  Osteomyelitis – staph aureus. Wound infection – 2% in Type I .

. saraf dan pembuluh darah. kumpulan gejala pada suatu ekstremitas yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakompartemen yang terdiri dari fascia. otot.

constrictive dressings/plasters  Haematoma – pt with coagulopathy at increased risk . Crush injury  Circumferential burns  Snake bites  Fractures – 75%  Tourniquets.

.

 5 Ps of ischaemia  Severe pain. “bursting” › Pain (out of proportion sensation to injury)  Pain with passive stretch › Paresthesias  Tense compartment › Paralysis  Tight. shiny skin › Pulselessness › Pallor  Can confirm diagnosis by measuring intracompartmental pressures (Stryker STIC) .

120 mm Hg Difference between diastolic pressure and compartment pressure (delta Pulse Pressure pressure)< 30mmHg is indication for immediate decompression 60 mm Hg Ischemia 30 mm Hg Elevated Pressure 10 mm Hg Normal 0 mm Hg .

bandages and dressings  Arrange urgent fasciotomy . Early recognition › Muscle necrosis at delta pressure < 30mm Hg › Irreversible injury 4-6 hrs  Remove cast.

.

 Volkman ischaemic contractures  Permanent nerve damage  Limb ischaemia and amputation  Rhabdomyolysis and renal failure .

1. Operatif  fasciotomi . Non operatif  Menempatkan ekstremitas setinggi jantung  Mengoreksi hipoperfusi  Pemberian diuretik dan manitol  Menggunakan aspirin dan ibuprofen untuk mengurangi inflamasi 2.

.

.

Dimana kefatalannya disebabkan oleh perdarahan retroperitoneal dan cedera-cedera lain sehubungan dengannya . Disrupsi cincin pelvis merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada pasien cedera multipel.

 Tanda klinis: 1.Adanya pembengkakan atau hematom progresif pada daerah panggul. skrotum atau perianal  Biasanya penyebab perdarahan pada fraktur pelvis adalah dari pleksus vena pelvis posterior .

Terapi definitif  Terapi definitif. pemasangan C-CLAMP. Direct pressure 2. pelvic sling. dengan 1. Resusitasi cairan  Hentikan perdarahan. PASG 3.  Rujuk . Pemasangan stagen.

.

 Pemeriksaan: . Crush Syndrome  keadaan klinis yang disebabkan kerusakan otot. yang jika tidak ditangani akan menyebabkan kegagalan ginjal.

Hiperkalemia 4. DIC  Pengelolaan: . Komplikasi: 1. Asidosis metabolik 3. Hipovolemi 2. Hipokalsemia 5.

 Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis  tulang lepas dari sendi (brunner & suddarth) .

otot.Apa yang terjadi jika dislokasi ?  Robek kapsul sendi. ligamen dll  Kerusakan p darah & syaraf  Perdarahan dalam sendi  Avaskular nekrosis kepala sendi  Terganggu pertumbuhan sendi .

Gagal reposisi tertutup  Interposisi jaringan  Button hole dislocation  Dislokasi disertai fraktur b. Tertutup 2. Neglected cases & Dislokasi lama  Retaining  Rehabilitation . Terbuka (Open Reduction). jika  a. Reposisi  mengembalikan posisi kaput 1.

 artritis septik  Sepsis  terutama yang terbuka  Nekrosis kepala sendi  Kaku sendi  Dislokasi habitualis  Gangguan pertumbuhan cacat  Myositis ossificans .

sesuatu yang menonjol atau tonjolan alat (organ) tubuh akibat kecelakaan atau trauma. . Amputasi traumatik hilangnya sebagian atau seluruh anggota gerak.

.

Biasanya dilakukan pada kasus kasus yang gawat. . • Amputasi tertutup  dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 cm di bawah potongan otot dan tulang.• Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama.

tapi jahitannya lebih jarang. dikenal juga dengan istilah amputasi semi open. • Tujuan mengapa jenis amputasi ini dijahit situasional adalah :  Jika masih ada kotoran. jahitan akan kering dan luka akan tertutup sehingga tidak perlu dilakukan operasi ulang .• Amputasi semi terbuka / tertutup  selain kedua jenis amputasi di atas. jenis amputasi ini adalah yang cocok digunakan. Jika luka terjadi pada golden periode. Prinsip amputasi ini sama dengan amputasi tertutup. maka dapat keluar dengan sendirinya  fungsi drainage  Jika sudah tidak ada kotoron.

.

.

Selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong plastik II yang berisi campuran air dan potongan es batu (4 derajat celcius) • Penderita dibawa ke RS dengan fasilitas replantasi .• Fungsi vital penderita diperbaiki • Hentikan pendarahan • Luka dibungkus secara steril atau bersih lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik kedap air lalu diikat.

.

 Haematoma  Infeksi  Nekrosis  Kontraktur  Neuroma  Phantom limb .

.

arteri brachialis dan arteri femoralis. arteri inguinalis. Diagnosis umumnya ditegakkan dengan arteriografi atau Dopler. dan pengukuran saturasi O2 jari distal . Lesi vaskuler besar yang tersering adalah arteri poplitea dan arteri radialis.

. Fractures and dislocations can be associated with vascular and nerve damage  Always check neurovascular status before and after reduction  Diagnosis: 1.

unconscious . knee  Direct/penetrating trauma  Thrombus  Direct Compression/ Acute Compartment Syndrome › Cast. Fracture › Humerus. femur  Dislocation › Elbow.

Injury Vessel 1st rib fracture Subclavian artery/vein Shoulder dislocation Axillary artery Humeral supracondylar fracture Brachial artery Elbow Dislocation Brachial artery Pelvic fracture Presacral and internal iliac Femoral supracondylar fracture Femoral artery Knee dislocation Popliteal artery/vein Proximal tibial Popliteal artery/vein .

 Paraesthesia/numbness  Injured limb cold. cyanosed. pulse weak/absent  Call for help! › Remove all bandages and splints › Reduce the fracture/ dislocation and reassess circulation  If no improvement then vessels must be explored by operation  If vascular injury suspected angiogram should be performed immediately .

.

 Tekanan langsung  Penggunaan tourniquet pneumatic  dan resusitasi cairan yang agresif .

 Inflammation of a synovial membrane with purulent effusion into the joint capsule.  Usually monoarticular  Usually bacterial › Staph aureus › Streptococcus › Neisseria gonorrhoeae . Followed by articular cartilage erosion by bacterial and cellular enzymes.

luka tembus pada sendi  Komplikasi pembedahan  Direct invasion through penetrating wound. Hematogen. arthroscopy  Direct spread from adjacent bone abcess  Blood spread from distant site . Hampir 90% kuman penyebab adalah staphylococcus. intra-articular injection.  Trauma.

20-25%* › *Hip is the most common in infants and very young children  Wrist.40-50%  Hip. Knee. elbow. ankle.10%  Shoulder.10-15% .

 Prosthetic joint  Joint surgery  Rheumatoid arthritis  Elderly  Diabetes Mellitus  IV drug use  Immunosupression  AIDS .

raised WCC/CRP. Rapid onset  Joint pain  Joint swelling  Joint warmth  Joint erythema  Decreased range of motion  Pain with active and passive ROM  Fever. positive blood cultures .

 Diagnosis by aspiration › Gram stain. culture › Leucocytes >50 000/ml highly suggestive of sepsis  Joint washout in theatre  IV Abx 4-7 days then orally for another 3 weeks  Analgesia  Splintage . microscopy.

 Rapid destruction of joint with delayed treatment (>24 hours)  Growth retardation. deformity of joint (children)  Degenerative joint disease  Osteomyelitis  Joint fibrosis and ankylosing  Sepsis  Death .