Anda di halaman 1dari 67

Gangguan Neurotik Gangguan

Somatoform Dan Gangguan


Terkait Stress
(F4)
Disusun oleh :
Alivia Febianita
Nita Kurniasih
Anggraini Hertanti

Pembimbing : dr. ismoyowati Putri Sp.KJ


1. Agorafobia dengan atau tanpa panik
2. Fobia sosial
3. Fobia spesifik
4. Gangguan panik
5. Gangguan cemas menyeluruh
6. Gangguan campuran cemas depresi
7. Gangguan obsesif-kompulsif
8. Reaksi terhadap stress yang berat dan gangguan
penyesuaian
9. Post traumatic stress disorder
10. Gangguan disosiasi (konversi)
11. Gangguan somatoform
12. trikotilomania
F40. GANGGUAN ANXIETAS FOBIK
F40.0 Agorafobia

Agorafobia berasal dari kata latin agora yang berarti pasar


diluar ruangan. agorafobia ditandai oleh ketakutan yang
hebat yang membuat tidak berdaya akan tempat atau
situasi yang sulit untuk meloloskan diri atau sulit untuk
mendapatkan pertolongan apabila terjadi serangan
cemas.
Agorafobia tanpa riwayat gangguan
panik
Bedasarkan DSM III R
Ketakutan akan gejala tiba-tiba yang menyebabkan
ketidakmampuan atau memalukan

Bedasarkan DSM 1V
Penghindaran situasi didasarkan pada suatu
permasalahan yang berhubungan dengan gangguan
medis
Kriteria diagnosis
Agorafobia tanpa gangguan panik
Agorafobia berhubungan rasa takut mengalami gejala
mirip panik (pusing atau diare)
Tidak memenuhi kriteria gangguan panik
Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari
suatu zat
Agorafobia dengan gangguan panik
Ditandai
dengan terjadinya serangan panik yang
spontan dan tidak diperkirakan pada saat berada di
keramaian
Kriteria diagnosis untuk agorafobia
dengan gangguan panik
Terdapat agorafobia dengan gangguan panik
Serangan panik yang bersifat rekuren
Terdapat minimal 1 serangan dalam waktu minimal satu
bulan:
- Kekhawatiran kan mengalami serangan tambahan
- Ketakutan yang berlebihan akan serangan itu dan
akibat dari serangan itu
- Perubahan perilaku yang bermakna akibat adanya
serangan tersebut
Kriteria diagnosis
Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung
dari zat (penyalahgunaan obat dan medikasi)

Serangan panik tidak disebabkan karena gangguan


fobia sosial, fobia spesifik, obsesif kompulsif,Stress pasca
traumatik,.
F40.1 Fobia Sosial
Dikenal juga sebagai gangguan kecemasan sosial, fobia
sosial adalah ketakutan akan diamati dan dipermalukan di
depan publik. Hal ini bermanifestasi sebagai rasa malu dan
tidak nyaman yang sangat berlebihan di situasi sosial
(seperti berbicara di depan public, miksi dikamar kecil). Hal
ini mendorong orang untuk menghindari situasi social dan
ini tidak disebabkan karena masalah fisik atau mental
(seperti gagap, jerawat, atau gangguan kepribadian)
EPIDEMIOLOGI
1. Perempuan lebih banyak terkena dibandingkan laki-laki
2. Usia puncak awitan adalah remaja, walaupun awitannya lazim
antara usia 5-35 tahun.
3. Prevalensi 6 bulan untuk fobia sosial adalah kira-kira 2 3 per 100
orang

.
Etiologi
Faktor genetika

Pola
asuh yang salah pada anak ( orang tua
overprotektif terhadap anak-anaknya)
Kriteria diagnosis
1. Rasa takut yang nyata dan menetap terhadap satu atau lebih situasi
sosial atau penampilan saat seseorang terpajan dengan orang yang
tidak dikenalnya atau terpajan dengan kemungkinan akan
diperhatikan orang lain
2. Pajanan terhadap situasi sosial yang ditakuti hampir selalu
mencetuskan ansietas yang dapat berupa serangan panic
3. Orang tersebut menyadari rasa takutnya berlebihan dan tidak
beralasan
4. Situasi sosial atau penampilan social yang ditakuti dihindari atau
dihadapi dengan ansietas maupun penderitaan yang intens
5. Penghindaran, antisipasi ansietasm atau distress pada situasi social
atau penampilan yang ditakuti mengganggu fungsi rutin normal
6. Pada seseorang yang berusia dibawah 18 tahun, durasinya
sedikitnya 6 bulan
7. Rasa takut atau penghindaran tidak disebabkan efek fisiologis
langsung suatu zat atau keadaan medis umum dan tidak dapat
digolongkan sebagai gangguan jiwa lain
Terapi
Psikoterapi : melibatkan suatu kombinasi metoda perilaku dan
kognitif ,termasuk latihan ulang kognitif

Farmakoterapi : inhibitor monoamine oksidase, khususnya


phenelzine (nardil), adalah obat yang dilaporkan efektif dalam
mengobati fobia sosial tipe umum. Fobia sosial yang ditandai dengan
situasi kinerja : antagonis reseptor adrenergik-beta (atenolol dan
propanolol)
F40.2 FOBIA SPESIFIK
Fobia spesifik adalah adanya rasa takut yang kuat dan
menetap akan suatu objek atau situasi. Fobia spesifik ditandai
oleh ketakutan yang tidak rasional akan objek atau situasi
tertentu.

Fobia yang paling sering adalah takut terhadap


binatang tertentu ( biasanya laba-laba, ular , tikus),
terbang ( pterigofobia ), ketinggian ( akrofobia ), air,
suntikan, transportasi umum, tempat tertutup (
klaustrofobia ), dokter gigi ( odonsiatofobia ), badai,
terowongan, dan jembatan
EPIDEMIOLOGI
Fobiaspesifik adalah gangguan jiwa yang paling lazim
pada perempuan dan paling lazim kedua pada laki-laki.
Prevalensi 6 bulan fobia spesifik sekitar 5 hingga 10 per
100 orang . Rasio perempuan dibanding laki-laki sekitar 2
banding 1 .

Puncaknya saat usia 5-9 tahun tipe yang lebih sering


adalah tipe yang takut terhadap darah atau takut
terhadap injeksi

Untuktipe situasional (takut terhadap badai ) biasanya


pertengahan usia ke 20
ETIOLOGI
1. Pengalaman emosional. Contoh: pengalaman
mengemudi kecelakaan

2. Modeling : seseorang mengamati reaksi pada orang


lain

3. Pengalihan informasi : seseorang bisa diajarkan atau


diperingatkan tentang bahaya objek tertentu

4. Faktor genetik
KRITERIA DIAGNOSIS
Rasa takut berlebihan yang nyata, menetap dan tidak beralasan, dicetuskan
oleh adanya atau antisipasi terhadap suatu objek atau situasi spesifik.
Pajanan terhadap stimulus fobik hampir selalu mencetuskan respons ansietas
segera, dapat berupa serangan panik terikat secara situasional atau serangan
panik dengan predisposisi situasional.
Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya beralasan atau tidak beralasan
Situasi fobik dihindari atau dihadapi dengan ansietas maupun penderitaan
yang intens
Penghindaran, antisipasi ansietas, atau distres pada situasi yang ditakuti
mengganggu fungsi rutin normal, pekerjaan ( atau akademik ), atau aktivitas
maupun hubungan sosial secara bermakna, atau terdapat distres yang nyata
karena memiliki fobia ini.
Pada seseorang berusia 18 tahun, durasinya sedikitnya 6 bulan

Ansietas, serangan panik, atau penghindaran fobik yang berkaitan


dengan objek atau situasi tidak disebabkan gangguan jiwa lain, seperti
gangguan kompulsif, gangguan stres pascatrauma, atau gangguan
ansietas perpisahan, fosia sosial, gangguan panik dengan agorafobia,
atau agorafobia tanpa riwayat gangguan panik.
PENATALAKSANAAN
Terapipemaparan : menggunakan pemaparan stimulus
fobik yang serial , bertahap, dan dipacu diri sendiri

Pendekatan kognitif : mendorong kenyataan bahwa


situasi tersebut pada dasarnyay adalah aman

Farmakoterapi : antagonis -adrenergik


F41. GANGGUAN ANXIETAS LAINNYA
F41.0 GANGGUAN PANIK

Gangguan panik ditandai dengan adanya serangan panik


yang tidak diduga dan spontan yang terdiri atas periode
rasa takut intens yang hati-hati dan bervariasi dari sejumlah
serangan sepanjang hari sampai hanya sedikit serangan
selama satu tahun
EPIDEMIOLOGI :

1. Wanita 2-3 X lebih sering daripada laki-laki


2. Faktor sosial, yaitu riwayat perceraian/perpisahan yang belum lama
3. Paling sering pada dewasa muda
ETIOLOGI

Faktor biologis : berbagai kelainan biologis di dalam struktur otak


dan fungsi otak
Zat yang mencetuskan panik
Pencitraan otak
Prolaps Katup mitral
Faktor genetik
Faktor psikososial
GAMBARAN KLINIS

Serangan dimulai dengan periode gejala yg meningkat cepat selama


10menit
Gejala mental utama, yaitu ketakutan yg kuat dan perasaan ancaman
kematian
Pasien tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya
Pasien merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam
memusatkan perhatian
Tanda fisik, yaitu takikardi, palpitasi, sesak nafas, dan berkeringat
Pasien sering mencoba meninggalkan situasi dimana dia berada untuk
mencari bantuan
TATALAKSANA

Alprazolam ( Xanax ) dan paroksetin ( Paxil ) adalah dua obat yang


disetujui U.S. Food and Drugs Administration ( FDA ) untuk terapi
gangguan panik. Antagonis reseptor adrenergik belum terbukti
berguna untuk gangguan panik. Suatu pendekatan konservatif adalah
memulai dengan paroksetin, sertalin ( Zaloft ) atau fluvoxamin (
Luvox ) pada gangguan panik terisolasi. Jika diinginkan kendali
yang cepat, terhadap gejala yang parah, pemberian singkat
alprazolam harus dimulai bersama dengan SSRI; diikuti penurunan
dosis benzodiazepinsecara perlahan.
F41.1 GANGGUAN CEMAS
MENYELURUH
Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh
situasi
Gangguan kecemasan adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran
penting tentang kecemasan yang berlebihan, disertai respons perilaku,
emosional dan fisiologis
Akibat interaksi biopsikososial termasuk faktor genetik dengan situasi
tertentu (stress atau trauma) yang menimbulkan sindroma klinis yang
bermakna
Angka prevalensi 3-8% dengan rasio perempuan dan laki-laki 2:1
Etiologi
Teori Biologis : daerah otak yang telah di hipotesiskan terlibat di
dalam gangguan kecemasan umum adalah ganglia basalis , sistem
limbik dan korteks frontalis
Teori genetik
Teori psikoanalitik : kecemasan adalah suatu konflik bawah sadar
yang tidak terpecahkan
Teori kognitif-perilaku : bahwa pasien dengan gangguan kecemasan
umum adalah berespon secara tidak tepat dan tidak akurat terhadap
bahaya yang dihadapi
Diagnosis
Menurut kriteria DSM IV TR (pasien harus menunjukkan gejala anxietas
primer) yang meliputi:
Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan, timbul setiap hari, sepanjang
hari dan terjadi selama sekurangnya 6 bulan terhadap suatu aktivitas atau
situasi
Sulit mengendalikan kekhawatirannya
Kecemasan dan kekhawatirannya disertai dengan 3 dari 6 gejala penyerta
yaitu:
Kegelisahan
Merasa mudah lelah
Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong
Iritabilitas
Ketegangan otot
Gangguan tidur (sulit atau tetap tidur, tidur gelisah dan tidak puas)
Diagnosis
Kecemasan, kekhawatiran atau gejala fisik menyebabkan penderitaan
yang bermakna secara klinis atau menyebabkan gangguan pada
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi lainnya
Gangguan yang terjadi bukan karena efek samping dari penggunaan
zat-zat tertentu (NAPZA) atau kondisi medis
Pada anak-anak, terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk
ditenangkan serta keluhan somatik yang menonjol
Adanya gejala lain yang bersifat sementara tetapi tidak membatalkan
diagnosis utama yaitu GAD
Manifestasi klinis
Ketegangan motorik (bergetar, kelelahan, sakit kepala)
Hiperaktivitas otonom
Napas pendek
Berkeringat
Palpitasi
Gejala saluran pencernaan
Kewaspadaan secara kognitif dalam bentuk iritabilitas
Diagnosis banding
Kecemasan dengan akibat kondisi medis umum dan penyalahgunaan
zat
Harus dibuktikan dengan hasil laboratorium dan EKG
Gangguan psikiatrik lainnya seperti gangguan panik, fobia, obsesif-
kompulsif, hipokondriasis, gangguan somatisasi, gangguan
penyesuaian dengan kecemasan dan gangguan kepribadian
Terapi
Secara farmakologis
DOC: gol Benzodiazepin (dari dosis terendah kemudian
ditingkatkan sampai mencapai respons terapi selama 2-6 minggu,
kemudian tappering off selama 1-2 minggu)
Gol non-benzodiazepin seperti buspirone (lebih efektif
memperbaiki gejala kognitif), sulpiride, hydroxyzine
SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor): sertraline dan
paroxetin, efektif pada pasien GAD dengan riwayat depresif
Terapi
Non-farmakologis
Psikoterapi
Relaksasi
Biofeedback
Terapi suportif
Psikoterapi bersifat tilikan : memusatkan untuk
mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengendalikan
kekuatan ego
Prognosis
Sebanyak25% penderita akhirnya mengalami gangguan panik dan
dapat mengalami gangguan depresi mayor
F41.2 GANGGUAN CAMPURAN
ANSIETAS DAN DEPRESI
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan
kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga
hilangnya kegairahan hidup tetapi tidak mengalami gangguan dalam menilai
realitas, kepribadian tetap utuh
Gangguan campuran kecemasan dan depresi melingkupi pasien yang
memiliki gejala cemas dan depresi tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik
untuk suatu gangguan mood.

EPIDEMIOLOGI
Angka prevalensi diperkirakan mencapai 10% pada populasi umum
Diagnosis
Menurut kriteria PPDGJ-III
Terdapat gejala ansietas maupun depresi dimana masing-masing tidak
menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan
diagnosis tersendiri. Bagi ansietas, beberapa gejala seperti otonomik harus
ditemukan
Bila ditemukan ansietas berat disertai depresi yang lebih ringan, harus
dipertimbangkan kategori gangguan ansietas lainnya atau gangguan ansietas
fobik
Bila ditemukan sindrom depresi dan ansietas yang cukup berat untuk
menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut
dikemukakan dan diagnosis gangguan campuran tidak bisa digunakan
Bila gejala tersebut berkaitan erat dengan stress kehidupan yang jelas maka
harus digunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian
Manifestasi klinis
Tandadan gejala cemas
Ketegangan motorik (bergetar, kelelahan, sakit kepala)
Hiperaktivitas otonom
Napas pendek
Berkeringat
Palpitasi
Gejala saluran pencernaan
Kewaspadaan secara kognitif dalam bentuk iritabilitas
Manifestasi klinis
Gejala depresi menurut PPDGJ-III
Gejala utama
Afek depresi
Kehilangan minat dan kegembiraan
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadan mudah lelah (rasa
lelah yang nyata sesudah kerja yang sedikit) dan menurunnya aktivitas
Gejala lainnya
Konsentrasi dan perhatian berkurang
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
Tidur terganggu
Diagnosis banding
Gangguan ansietas
Gangguan depresif
Gangguan kepribadian
Gangguan distimik
Gangguan mood
Penatalaksanaan
Secara farmakologis
Triazolobenzodiazepines (co: alprazolam)
Buspirone
Fluoxetin (anti-depresan)
Non-farmakologis
Psikoterapi
Relaksasi
Biofeedback
Terapi suportif
Psikoterapi bersifat tilikan
F42. GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF

Istilah obsesi merujuk pada suatu gagasan atau bayangan pikiran atau impuls yang timbul
dalam pikiran individu secara berulang.
Istilah kompulsi meujuk pada dorongan yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu.
Gambaran penting gangguan obsesif kompulsif adalah gejala obsesi atau kompulsi berulang
yang cukup berat hingga menimbulkan penderitaan yang jelas pada orang yang
mengalaminya.
EPDEMIOLOGI
Dewasa laki-laki dan perempuan sama-sama cenderung terkena
GAMBARAN KLINIS
Gagasan atau impuls masuk kedalam kesadaran pasien secara menetap timbul perasaan
takut dan cemas pasienmengambil tindakan balasan atau perilaku terhadap impuls awal.
Gagasan tersebut dikenali sebagai sesuatu yang aneh sehingga individu merasa adanya
keinginan kuat untuk melawan.
POLA GEJALA
1. Kontaminasi mencuci berulang kali diduga terkontaminasi debu, feses, urin, kuman
2. Keraguan patologis ragu dengan diri sendiri dan merasa bersalah karna lupa
melakukan sesuatu
3. Pikiran yang mengganggu tindakan seksual atau agresif bagi pasien. Biasanya dapat
melaporkan diri sendiri ke polisi
4. Simetri kebutuhan atau ketepatan yang menyebabkan kompulsi mengenai kelambatan
5. Pola lain menarik-narik rambut (trikotilomania), menggigit-gigit kuku dll
KRITERIA DIAGNOSTIK
Untuk diagnosis pasti, gejala obsesif atau tindakan kompulsif atau keduanya harus ada
hamper setiap hari selama minimal 2 minggu berturut turut
Hal itu merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita
Gejala obsesif harus mencangkup hal berikut :
1. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri
2. Minimal ada 1 pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan meskipun ada yang tidak
dilawan penderita
3. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut bukan untuk memberi kepuasan atau kesengan
4. Gagasan, bayangan pikiran harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan
5. Perilaku berulang
DIAGNOSIS BANDING
Ada kaitan erat antara gejala obsesif dengan depresi. Bila terjadi episode akut, maka
diagnosis diutamakan dari gejala yang timbul lebih dahulu.
Diagnosis ditegakan bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif
timbul.
Bila tidak ada gejala yang menonjol, depresi dianggap sebagai diagnosis yang primer
Pada gangguan menahun, prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala
lain menghilang.
TATA LAKSANA
Farmakoterapi Antidepresan trisiklik : Clomipramine 3 x 25 mg
SSRI : Fluoxetin 2 x 20 mg atau Setraline 2 x 50 mg
Psikoterapi Psikoterapi suportif, terapi perilaku, terapi kognitif perilaku

PROGNOSIS
Prognosis buruk jika perlu opname, adanya kepercayaan yang mengarah ke
waham dan adanya gangguan kepribadian
F43. REAKSI TERHADAP STRES BERAT DAN
GANGGUAN PENYESUAIAN
F43.1 Gangguan Stres Pasca Trauma

Timbul sebagai respon yang berkepanjangan dan atau tertunda terhadap kejadian atau situasi
yang menimbulkan stres, cenderung menyebabkan distres pada hampir setiap orang.
GEJALA KLINIS
1. Bayangan-bayangan kejadian traumatik yang terulang kembali (flashback) atau dalam
mimpi
2. Kondisi perasaan beku & penumpulan emosi
3. Menjauhi orang lain
4. Tidak responsif terhadap lingkungannya
5. Anhedonia
6. Menghindari aktivitas dan situasi yang berkaitan dengan traumanya
7. Kadang terjadi reaksi dramatik, mendadak ketakutan, panik atau agresif bila teringat
traumanya.
PEDOMAN DIAGNOSIS

Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah
kejadian traumatik berat (massa laten yang berkisar antara beberapa minggu beberapa bulan,
jarangg sampai melampaui 6 bulan).

Sebagai bukti tambahan selain trauma harus didapatkan bayang-bayang atau mimpi-mimpi
dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang kembali (flashback).

Gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku semuanya dapat mewarnai
diagnosis tetapi tidak khas.
TERAPI
1. Amitriptyline
2. Benzodiazepine
3. SSRI : citalopram, sertraline, fluvoxamine, paroxetine
F44. GANGGUAN DISOSIATIF (KONVERSI)
Adanya kehilangan (sebagian/seluruh) dari integrasi normal antara ingatan masa lalu,
kesadaran akan identitas & penginderaan, serta kendali terhadap gerakan tubuh.
Gangguan ini merupakan hal yang bersifat psikogenik yang berkaitan dengan kejadian
traumatik, problem yang tidak dapat diselesaikan dan tidak dapat ditolerir atau gangguan
dalam pergaulan.
Keadaan disosiatif cenderung berakhir setelah beberapa minggu atau bulan, terutama onset
yang berkaitan dengan kejadian traumatic.
PEDOMAN DIAGNOSTIK
1. Tidak ada bukti gangguan fisik
2. Bukan merupakan akibat keadaan medis
3. Adanya gangguan psikologis dalam keadaan yang penuh tekanan (stress) atau hubungan
interpersonal yang terganggu (meskipun disangkal)
BENTUK GANGGUAN DISOSIATIF
1. Amnesia Disosiatif
Adalah ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang baru saja terjadi,
biasanya tentang peristiwa yang menegangkan atau traumatik dalam kehidupannya
bukan disebabkan oleh gangguan mental organik.
2. Fugue Disosiatif
Memiliki semua ciri amnesia disosiatif, ditambah gejala melakukan perjalanan
meninggalkan rumah atau tempat kerja yang disengaja, seringkali mengambil identitas
dan pekerjaan yang sepenuhnya baru walaupun identitas baru biasanya kurang lengkap.
3. Gangguan identitas disosiatif
Umumnya dianggap sebagai gangguan disosiasi yang paling berat
dan kronis, ditandai dengan dua kepribadian atau lebih.
4. Gangguan Depersonalisasi
Ditandai dengan rasa berulang atau menetap mengenai lepas dari tubuh atau pikiran.
F45. GANGGUAN SOMATOFORM
Kelompok penyakit yang luas dan memiliki tanda dan gejala yang berkaitan dengan tubuh
sebagai komponen utama.

Gangguan ini mencakup interaksi pikiran-tubuh; didalam interaksi ini dengan cara yang
masih belum diketahui otak mengirimkan berbagai sinyal yang memengaruhi kesadaran
pasien dan menunjukkan adanya masalah serius dalam tubuh. Selain itu perubahan ringan
neurokimia, neurofisiologi, dan neuroimunologi dapat terjadi akibat mekanisme otak atau
jiwa yang tidak diketahui yang menyebabkan penyakit.
GANGGUAN SOMATISASI
Banyak gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lab.

Melibatkan sistem organ yang multiple (cth: gastrointestinal dan neurologis)

Bersifat Kronis.

Penderitaan psikologis, gangguan fungsional & pekerjaan, perilaku mencari bantuan medis yg berlebihan.

Wanita lebih banyak menderita dibandingkan pria (5:1).

Awitan gangguan ini sebelum usia 30 th dan biasanya dimulai ketika usia remaja.

Gejala-gejala umum yang sering dikeluhkan adalah mual, muntah, sulit menelan, sakit lengan dan tungkai, nafas
pendek, amnesia, komplikasi kehamilan dan menstruasi.

Pasien beranggapan dirinya menderita sakit sepanjang hidupnya.


DIAGNOSIS (DSM-IV-TR)
Awitan gejala sebelum usia 30tahun.
Selama perjalanan gangguan, keluhan pasien harus memenuhi minimal 4 gejala nyeri, 2
gejala git,1 gejala seksual, dan 1 gejala pseudoneurologik serta tak satupun dapat dijelaskan
melalui pemeriksaan fisik dan lab.
TERAPI
1. Psikoterapi individual / kelompok
2. Psikofarmakoterapi
GANGGUAN KONVERSI
Gangguan pada fungsi tubuh yang tidak sesuai dengan konsep anatomi dan fisiologi dari sistem saraf
pusat dan tepi hal ini secara khas terjadi dengan adanya stres dan memunculkan disfungsi berat
Rasio wanita dibandingkan pria 2:1 sampai 10:1.
Gejala yang paling sering muncul adalah paralisis,buta, dan mutisme.
Ganggguan konversi sering kali berkaitan dengan gangguan kepribadian pasif-agresif, dependen,
antisosial, dan histrionik.

Etiologi :
Faktor biologis

Faktor psikodinamis
Diagnosis (DSm-IV-TR)
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang melibatkan fungsi motorik volunter atau sensorik yang
diperkirakan suatu kondisi neurologis atau kondisi medik umum lainnya.
B. Faktor psikologis dinilai berkaitan dengan gejala dan defisit karena permulaan atau eksaserbasi gejala
atau defisit didahului oleh konflik atau stresor lainnya.
C. gejala atau defisit tidak dengan sengaja dibuat atau berpura-pura
D. Gejala atau defisit, setelah cukup penelusuran, tidak dapat secara penuh dijelaskan sebagai kondisi medik
umum, atau sebagai akibat langsung daru zat/ secara kulturan/ pengalaman penebusan
E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan atau hendaya yang bermakna secara klinis dibidang sosial,
pekerjaan atau fungsi lain/ menuntut evaluasi medis
F. Gejala atau defisit tak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama
perjalanan gangguan somatisasi, dan bukan karena gangguan mental lainnya.
POST TRAUMATIC STRESS
DISORDER
Pasien diklasifikasikan menderita gangguan stres pascatraumatik bila mengalami stres
emosional besar yang akan menimbulkan trauma (peperangan, bencana alam, penyerangan,
pemerkosaan, kecelakaan yang serius) bagi hampir setiap orang.
Gangguan stres pascatraumatik terdiri dari :
1. Pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran yg membangunkan
2. Penghindaran yg persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas
3. Kesadaran berlebihan yang persisten
Gejala penyerta stres pascatraumatik adalah depresi, kecemasan, pemusatan perhatian buruk
Menurut DSM-IV, lama gejala minimal untuk gangguan stres pascatraumatik adalah 1 bulan
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi seumur hidup gangguan stres pascatraumatik diperkirakan 1-3%
Gangguan stres pascatraumatik dapat terjadi pada semua usia, tapi paling menonjol pada
dewasa muda karna sifat situasi yang mncetuskannya.
Trauma untuk laki-laki biasanya karena pengalaman peperangan dan untuk wanita biasanya
trauma karena penyerangan atau pemerkosaan
Gangguan itu terjadi pada kondisi bercerai, janda, orang yang menyendiri, memiliki
gangguan ekonomi atau menarik diri secara sosial
ETIOLOGI
Karena adanya stressor
GEJALA KLINIS
Pengalaman ulang peristiwa yg menyakitkan, pola menghindar, kekakuan emosional, dan
kesadaran yang berlebihan yang hampir tetap.
Pemeriksaan status mental menunjukan rasa bersalah, penolakan dan penghinaan.
Gejala penyerta lain seperti agresi, kekerasan, pengendalian impuls buruk, depresi, keadaan
disosiatif, serangan panik, ilusi, halusinasi dan gangguan berhubungan dengan zat
DIAGNOSIS BANDING
Kemungkinan pasien juga mengalami cedera kepala selama trauma, epilepsi, gangguan
penggunaan alkohol, gangguan berhubungan zat laainnya.
KRITERIA DIAGNOSIS
1. Diagnosis ditegakan bila timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik
berat
2. Selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian
traumatiksecara berulang
3. Gangguan otonomik, gangguan afek,dan kelainan tingkah laku ada tetapi tidak khas
4. Suatu sekuele menahun yg terjadi lambat setelah stres luar biasa
TERAPI
Pendekatan dengan mendukung, mendorong untuk mendiskusikan peistiwa dan pendidikan
tetang mekanisme untuk mengatasinya.
Terapi farmakologi dengan memberi obat trisiklik yaitu Imipramine (Tofranil) dan
Amitriptyline
PROGNOSIS
Baik apabila onset gejala cepat, durasi gejala singkat yaitu kurang dari 6 bulan, dukungan
sosial yang kuat, tidak ada ggn psikiatri, medis atau berhubungan zat lain.
Kira-kira 30% pasien pulih, 40% terus mendeita gejala ringan, 20% menderita gejala sedang,
10% tetap tidak berubah atau menmburuk
TRIKOTILOMANIA
Trikotilomania adalah kebiasaan seseorang terus menerus mencabuti rambut mereka sehingga
timbul daerah-daerah botak.
Trikotilomania merupakan gangguan yang merupakan bagian dari gangguan obsesif
kompulsif.
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH