Anda di halaman 1dari 25

Pembuatan Cushion Gum berbahan baku Karet Alam

untuk Ban Pesawat

Selasa, 11 April 2017

Oleh :
Yunita Elisabeth S (1513013)
Sunarsih (1513016)

TEKNIK KIMIA POLIMER


POLITEKNIK STMI JAKARTA
KEMENTRIAN PERINDUSTRIAN RI
Outlines:

Pendahuluan

Tinjauan Metode
Pustaka Penelitian
Penelitian
PENDAHULUAN
Latar Belakang:
Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama karet alam terbesar di
dunia yang dapat mengekspor hasil komoditas perkebunan karet ke beberapa
negara.
Karet merupakan bahan atau material yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
manusia, sebagai bahan yang sangat mudah didapat, praktis, ringan dan tentu
saja modern.
Akan tetapi penggunaan karet alam tersebut masih sangat terbatas pada produk-
produk yang umum saja , padahal dengan suatu teknik perekayasaan karet alam
tersebut dapat dimanfaatkan pada industri pesawat terbang salah satu contohnya
teknik yang digunakan memiliki nilai tinggi. Salah satu produk teknik tersebut
adalah Cushion Gum (perekat ban pesawat) yang berfungsi untuk melapisi ban
sebelum di tempelkan pada Line.
Permasalahan:
1. Belum optimalnya pemanfaatan bahan baku karet alam untuk
barang teknik yang memiliki nilai tambah tinggi.
2. Perlu mencari cushion gum yang cocok untuk merekatkan 2 material
antara ( Karet-karet dan Karet-kanvas).
3. Bagaimana pengaruh variasi komposisi Natural Rubber untuk FRR
dan FRC terhadap sifat vulkanisat kompon karet untuk optimasi
perekat (Cushion Gum) ban pesawat terbang ?
Hipotesis:
1. Dengan suatu teknik perekayasaan karet alam dapat dimanfaatkan pada industri
pesawat terbang salah satu contohnya teknik yang digunakan memiliki nilai
tinggi, produk teknik tersebut adalah Cushion Gum (perekat ban pesawat).
2. Merekatkan 2 material antara ( Karet-karet dan Karet-kanvas) dengan
menggunakan lem perekat karet dan menempelkan ke dalam alat
Hotpress, setelah itu di lanjutkan dengan Peel Test sehingga di
dapatkan Cushion Gum yang cocok untuk FRR dan FRC.
3. Dalam komposisi NR untuk FRR dan FRC sangat berpengaruh sekali untuk
merekatkan 2 material yang berbeda. Sesuai dengan standar yang telah di
tetapkan oleh BPPT di dapatkan 2 kompon yang mendekati standar tersebut,
yaitu FRR 3 (menggunakan Carbon Black 660) dan FRC 2 (menggunakan
Carbon Black 330).
Tujuan Penelitian:
1. Untuk mengetahui cara merekayasa Cushion Gum dari Karet Alam untuk
ban pesawat.
2. Untuk mengetahui pengaruh Filler terhadap Cushion Gum yang di hasilkan.
3. Untuk mengetahui apakah Cushion Gum yang di hasilkan memenuhi target
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.

Manfaat Penelitian:
1. Mengembangkan formulasi kompon karet untuk Cushion Gum .
2. Memberikan informasi pengaruh filler Cushion Gum yang di hasilkan.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Karet Alam:
Karet alam adalah polimer isoprene (C5H8) n yang mempunyai berat molekul rata-ratanya
tersebar antara 10.000 400.000. Karet alam yang diperoleh dari pohon Hevea Brasiliensis
ini adalah bentuk alamiah.(Tarachiwin et all, 2005)
Karet alam juga merupakan bahan dasar perekat, dan pelarut yang digunakan biasanya air
yang menyebabkan kualitas perekat menjadi rendah. Perekat menjadi lambat mengering dan
cenderung membentuk lapisan yang banyak mengandung air.
Oleh karena itu perekat yang dibuat dari karet alam hanya mampu pada substrat yang
berpori-pori lebar yang dapat mendifusikan dan menguapkan residu air. Zat padat dari karet
alam biasanya lebih tinggi ketimbang dengan bahan perekat lain yang menggunakan bahan
pelarut organik.
DEFINISI KOMPON

1. Kompon Karet:
Kompon karet adalah campuran antara karet alam dengan bahan-
bahan kimia yang ditentukan komposisinya dan pencampurannya
dilakukan dengan cara penggilingan pada suhu 75C. Komposisi
kompon karet berbeda-beda tergantung pada barang jadi karet
yang akan dibuat. Sebelum bahan baku karet alam dicampur
dengan bahan pembantu, terlebih dahulu bahan baku karet tersebut
dilunakan (mastikasi) atau diplastisasi dengan cara digiling (Blow,
2001).
Proses Pembuatan Kompon:
Kompon terdiri dari campuran karet alam, filler hybrid (carbon black dan silica),
plasticizer, accelerator, activator, co-activator, dan antidegradant yang belum mengalami
vulkanisasi.
1. Mastikasi adalah proses awal dalam pembuatan kompon karet. Mastikasi merupakan
proses penurunan berat molekul karet yang ditunjukan dengan penurunan viskositas
karet sehingga pencampuran bahan kompon yang sebagian besarnya berupa serbuk
padat, dapat bercampur dengan mudah dan merata dengan karet.
2. vulkanisasi ialah proses pemanasan keret ban setelah dicampur dengan belerang
tujuannya sebagai pengikat polimer karet tersebut . (Charles Goodyear, 1839)

Namun secara kimiawi, vulkanisasi adalah proses pembentukan polimer karet untuk saling
bertautan satu sama lain (cross-linking). Tujuan proses vulkanisasi karet adalah agar barang
jadi yang akan dihasilkan menjadi kuat (Ompungssu, 1987).
Bahan kimia karet (bahan aditif):
Bahan kimia karet yang digunakan untuk pembuatan kompon karet umumnya terdiri dari:
1.Bahan pemvulkanisasi Adalah bahan kimia yang dapat bereaksi dengan gugus aktif pada
molekul karet membentuk ikatan silang tiga dimensi. Bahan pemvulkanisasi yang paling
umum digunakan adalah belerang (sulfur), khususnya digunakan untuk memvulkanisasi karet
alam atau karet sintetis jenis SBR, NBR, BR, IR dan EPDM.

2. Bahan pencepat (accelerator) Adalah bahan kimia yang digunakan untuk mempercepat
reaksi vulkanisasi.

3. Bahan penggiat (activator) Adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam sistem
vulkanisasi dengan pencepat untuk menggiatkan kerja pencepat. Penggiat yang paling umum
digunakan adalah kombinasi antara Zn O dengan asam stearat.

4. Bahan antidegradant Adalah bahan kimia yang berfungsi sebagai ozonan dan anti oksidan,
yang melindungi bahan karet dari pengusangan dan meningkatkan usia penggunaannya.
Contoh : wax (anti ozonan), dan senyawa turunan fenol (ionol).

5. Bahan pengisi (filler) Bahan pengisi ditambahkan kedalam kompon karet dalam jumlah
yang cukup besar dengan tujuan meningkatkan sifat fisik, memperbaiki karakteristik
pengolahanan tertentu dan menekan biaya. Bahan pengisi dibagi dalam dua golongan besar,
yaitu : bahan pengisi yang bersifat penguat (contoh: carbon black, silica).
6. Bahan pelunak (softener) Adalah bahan kimia yang berfungsi untuk melunakkan karet
agar mudah diolah menjadi kompon karet. Jenis bahan pelunak antara lain jenis aromatic,
naftenik, parafinik, ester dsb.

Skema kerja:
APA ITU CUSHION GUM ?
Cushion Gum adalah lembaran tipis karet (Tebal - 0,8 mm) digunakan untuk
proses konvensional atau Hot Ban Vulkanisir, dan cocok untuk iklim dingin
dan panas.
Chusion gum bahan untuk melapisi ban sebelum ditempel line
Proses cushion gum terjadi pada Vulkanisir dingin yaitu proses dingin bagian
telapak ban gundul/casing hasil pemarutan terlebih dulu dilapisi kompon
perekat (cushion gum), selanjutnya ke permukaan cushion gum ditempelkan
potongan-potongan karet matang (vulkani-sat) yang sudah berkembang,
disusun melingkar memenuhi seluruh permukaan ban. Tahap berikutnya
adalah vulkanisasi yang dilakukan didalam otoklap pada suhu relatif rendah.
STANDAR CUSHION GUM: FRR ( RUBBER TO RUBBER)
No Bahan Phr ( FRR 1) Phr (FRR 2) Phr (FRR 3)
1 NR (RSS-1) 100 100 100
2 ZnO 5 5 5
3 St.acid 1 1 1
4 TMQ 1 1 1
5 Carbon Black 220 35 -
6 Carbon Black 330 35 -
7 Carbon Black 660 35
8 Paraffinic Oil 5 5 5
9 Cohedur 2 2 2
10 CBS 0.7 0.7 0.7
11 Sulfur 2.5 2.5 2.5
12 6 PPD 1 1 1
13 Aktiplas 0.4 0.4 0.4
STANDAR CUSHION GUM: FRC (RUBBER TO CANVAS)
No Bahan Phr ( FRC 1) Phr (FRC 2) Phr (FRC 3)
1 NR (RSS-1) 100 100 100
2 ZnO 5 5 5
3 St.acid 2.5 2.5 2.5
4 TMQ 1.25 1.25 1.25
5 Carbon Black 220 47.5 - -
6 Carbon Black 330 - 47.5 -
7 Carbon Black 660 - - 47.5
8 Silica 2.5 2.5 2.5
9 Silane 0.5 0.5 0.5
10 Paraffinic Oil 5 5 5
11 Cohedur 0.5 0.5 0.5
12 CBS 0.7 0.7 0.7
13 Sulfur 2.5 2.5 2.5
14 Aktiplas 0.4 0.4 0.4
STANDAR CUSHION GUM: FRC (RUBBER TO CANVAS)
No Bahan Phr ( FRC 2)
1 RSS-1 100
2 ZnO 5
3 St Acid 2,5
4 TMQ 1.25
5 Carbon Black N 330 47.5
6 Silica 2.5
7 Silane 0.5
8 Rhenogran 1.5
9 Recorcirol 3
10 CBS 0.7
11 Sulfur 1.5
12 Aktiplas 0.9
13 Parafinic Oil 5
7.5
10
STANDAR CUSHION GUM: FRR ( RUBBER TO RUBBER)
No Bahan Phr ( FRR 3)
1 RSS-1 100
2 ZnO 5
3 St Acid 2,5
4 TMQ 1.25
5 Carbon Black N 660 47.5
6 Rhenogran 1.5
7 Recorcirol 3
8 CBS 0.7
9 Sulfur 1.5
10 Aktiplas 0.9
11 Parafinic Oil 5
7.5
10
METODE PENELITIAN
Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah pengumpulan data, survey,
pembuatan formula, pembuatan sampel, dan pengujian sampel.
Formula Cushion Gum:
FILLER
Filler adalah bahan yang digunakan untuk meningkatkan
sifat-sifat mekanik seperti tensile strength, stiffness, tear
resistance, dan abrasion resistance. Filler juga dapat
memperbaiki sifat vulkanisat pada karet.
Filler yang paling populer adalah Carbon Black dan Silica,
dan ada beberapa jenis lainnya yang masing-masing
tergantung pada persyaratan kinerja yang berbeda untuk tread,
sidewall, and apex.
Bahan lain juga diperlukan untuk membantu dalam
pengolahan ban atau berfungsi sebagai anti-oksidan, anti-
ozonants, dan anti-aging.
CARBON BLACK
Carbon black adalah istilah yang sering digunakan untuk menamakan
beberapa bahan yang digunkan sebagai penguat bahan karet, sebagai pigment
hitam, dan arena konduktivitasnya digunakan dalam beberapa alat elektrik.
Carbon black merupakan material nano yang paling banyak digunakan dan
agregat nya berukuran dari belasan sampai ratusan nanometer, ukuran tertentu
akan memberikan sifat tertentu pada komposit dimana carbon black
digunakan. (Omafumaet al., 2011).
Penambahan carbon black akan mempengaruhi sifat kompon, viskositas dan
kekuatan kompon akan bertambah, namun penggunaan carbon black
mempunyai kelemahan, yaitu daya lekat kompon akan berkurang. Hal ini
membuat carbon black tidak kompak dengan bahan penyusun lainnya pada
saat pencampuran.
SILIKA
Silica adalah bahan pengisi ( filler ) selain carbon black pada
pembuatan karet. Silica adalah filler yang ramah lingkungan yang
biasanya digunakan secara luas dalam industri karet karena dari
petroleum yang bebas, biaya rendah, dan kekuatannya tidak boros.
Lebih dari itu, bila dibandingkan dengan filler carbon black, silica
telah menunjukkan suatu resistensi rolling lebih rendah tanpa
kehilangan resistance wetskid, justru membuat silica lebih
menjanjikan dalam manufaktur " ban hijau " yang ramah lingkungan
dengan efisiensi bahan bakar yang tinggi, emisi gas rumah hijau
rendah, dan keamanan saat berkendara tinggi. (Job. K Trends, 2014)
Diagram Proses Chusion Gum:

PERSIAPAN BAHAN BAKU

MIXING 1 (T: 80C, 32 Rpm)

1. Rabber dan Peptizer (t=6 menit)


MIXING 2 (T: 70C, 32 Rpm)
2.filler (carbon black dan silika), Milling (T= 70C) MASTERBATCH
Antiox/0z,Activator, oil (t=5 menit) DISIMPAN 1. MASTERBATCH (t= 2 menit)
SELAMA 24 JAM
3. oil (t=2 menit) 2.CURATIVES (t=2 menit)

Milling (T= 70C)

PEMBUATAN SAMPEL
1. UJI RHEO DAN VISKO
KARAKTERISASI SAMPEL KOMPON KARET
2. PROSES PEMATANGAN DI
HOTPRESS
KARAKTERISASI PEMROSESAN KOMPON KARET

Pada penelitian ini, hasil proses pembuatan kompon


karet sebelum dibuat sampel, diuji rheo (kematangan)
terlebih dahulu untuk menentukan waktu matang karet
pada saat pembuatan sampel pada alat hotpress (proses
vulkanisasi) dan diuji viskositas untuk menentukan
kekentalan pada kompon karet.
PENGUJIAN TEKNIS VULKANISAT KARET

1. Pengujian Tarik (Tensile Test)

2. Pengujian Ketahanan Pengikisan (Abrasion Test)

3. Pengujian Kekerasan (Hardness Test)

4. Pengujian Pantul (Rebound Resilience Test)

5. Pengujian Kerekatan (Peel Test)

6. Pengujian Berat Jenis

7. Pengujian Carbon Dispersion


PENGUJIAN CUSHION GUM KARET DENGAN CANVAS
Cushion gum (perekat kompon) dengan karet-karet yaitu perekatan dengan
menggunakan bahan uji karet dengan karet.
Cushion gum (perekat kompon) dengan karet-logam yaitu perekatan dengan
menggunakan bahan uji karet dengan Canvas.

Tahap pengujian
Sebelum perekat dioleskan pada permukaan Canvas, perlu dilakukan
persiapan pada permukaan karet (karet dari PTM) sebanyak 2 lembar karet .
Kemudian menyiapkan besi 3 lapisan dan canvas yang sudah di potong sesuai
dengan Cushion Gum yang kita buat.
Setelah itu besi yang paling lebar di letakkan sebagai alas kemudian di letakan
Karet (yang dari PTM) kemudian letakkan Canvas yang sudah ada Cushion
Gum yang sudah kita buat (FRC) kemudian letakkan karet lagi dan setelah itu
di tutup kembali .
Setelah persiapan bahan yang akan direkatkan, kemudian di masukkan ke
dalam alat Hotpress untuk menyatukan 2 material yang berbeda supaya bisa
lengket.
Setelah dikeluarkan dari alat Hotpress, sampe di biarkan sampai dingin dan
kemudian di potong-potong sudapa dapat diuji daya kerekatannya.
Data sementara dalam pengujian

*dari pengujian kenapa karet-logam tidak terlalu merekat karena.


Panjangnya rantai molekul karet mengakibatkan rendahnya daya rekat
yang dihasilkan karena masih banyaknya jumlah ikatan rangkap dalam
struktur molekulnya. Banyaknya ikatan rangkap ini mengakibatkan selama
vulkanisasi terjadi sedikit ikatan silang yang dapat mengurangi kekakuan
perekat sehingga daya rekatnya juga dapat berkurang jika ingin hasil nya
lebih baik menggunakaan karet sklo yaitu karet alam yang diatambahkan
menggiling karet bersama 5% asam sulfat pekat, lalu dipanaskan pada
120C.
TERIMA KASIH
SEMOGA BERMANFAAT