Anda di halaman 1dari 18

Efektifitas Radiografi Dada,

Ultrasound Paru dan CT Dada untuk


Diagnosis Gagal Jantung Kongestif

Eni Fatromi
Made Widhi Kerta Purwani SS
ABSTRAK
Edema paru hidrostatik adalah peningkatan
abnormal cairan ekstravaskuler sekunder yang
meningkatkan tekanan pada sirkulasi
pulmonal, karena gagal jantung kongestif atau
overload volume intravaskular.
Interpretasi tanda radiologis edema paru
kardiogenik sering dipertanyakan dan bersifat
subjektif.
USG paru (LUS) dapat menilai kongesti paru
melalui evaluasi artefak gema vertikal, yang
dikenal sebagai Garis B.
Integrasi radiograf dada konvensional dengan LUS
bisa sangat membantu untuk mendapatkan
diagnosis yang benar
Penggunaan Computed Tomografi (CT) terbatas
dalam kasus edema paru kardiogenik, karena
biaya tinggi, sedikit digunakan dalam keadaan
darurat dan paparan radiasi.
PENGANTAR
Penilaian yang akurat terhadap efektivitas
perawatan medis untuk mengurangi kongesti
paru, merupakan langkah dasar yang benar
dalam pengelolaan pasien dengan ADHF
X-ray thorax (CXR) adalah prosedur pertama
untuk menilai kongestif paru, tapi interpretasi
tanda radiologis, seperti redistribusi opasitas
vaskular dan edema interstisial, sering
dipertanyakan dan subjektif
USG paru (LUS) telah terbukti bermanfaat
dalam menilai kongestif paru dengan evaluasi
artefak vertical comet tail, yang disebut Garis
B
Multipel dan small air-fluid interfaces karena
struktur kecil yang kaya akan cairan dikelilingi
udara di perifer paru, menciptakan fenomena
gema diwakili oleh banyaknya B-lines.
pemindaian Computed Tomography (CT) dada,
jarang digunakan untuk mendiagnosis
kongestif paru, kecuali kasus selektif dimana
kondisi interstisial paru lainnya masuk ke
dalam diferensial.
X-RAY
Urutan tanda yang terlihat pada radiografi dada
adalah:
(1) "Redistribusi" opasitas vaskular menuju lobus atas dan
distensi vena pulmonalis bagian atas;
(2) pembesaran dan hilangnya struktur hilar;
(3) garis septal paru bagian bawah, diindikasikan sebagai
garis Kerley A dan B;
(4) Peribronchial dan perivascular cuffing dengan
pelebaran dan mengaburkan batas; dan
(5) penebalan fisura interlobar dengan akumulasi cairan
subpleural
Cardiomegali dan efusi pleura adalah temuan
radiologis adjunctif yang cukup sering
dideteksi pada kongestif paru kardiogenik.
Edema alveolar, menunjukkan bilateral dan
biasanya opasitas parenkim simetris, dengan
distribusi sentral atau basilar, tanpa air
bronchogram
Kemungkinan diagnosis benar pada CXR lebih
besar pada yang lebih berat dan
berkepanjangan akan menjadi kongesti paru,
karena tanda radiologis lebih akurat dan
terlihat jelas.
Berkaitan dengan diagnosis kongestif paru
kardiogenik, CXR cukup spesifik (spesifisitas
76%, 83%), tapi kurang sensitif (50% -68%).
CXR tidak memiliki peran langsung dalam alur
untuk diagnosis gagal jantung
CXR tidak cukup sensitif, karena gagal jantung
tidak bisa disingkirkan dengan pasti dengan
adanya pola radiologis normal.
GAMBAR 1
Rontgen dada posterior-anterior pada pasien
dengan gagal jantung kongestif dan edema
paru interstisial. Pada gambar yang
ditampilkan, tanda radiografi yang mengarah
pada edema paru interstisial termasuk
pembesaran (enlarged) dan hilangnya
pembuluh darah besar (paru), baik Kerley's A
maupun Kerley's B lines berhubungan dengan
kardiomegali.
GAMBAR 2
X-ray dada anterior posterior menunjukkan
pembesaran atrial dan ventrikel kiri, dengan
redistribusi sirkulasi paru dari basis ke apeks
sugestif mengarah pada kongesti paru (A),
perhatikan pembuluh darahnya lebih
menonjol (prominen) di lapang paru atas
dibandingkan dengan basis paru, hanya
kebalikan dari normal (B).
GAMBAR 3
Radiogram supine pada pasien dengan edema
alveolar kardiogenik. Perhatikan bahwa
struktur perihilar vaskular tidak didefinisikan
karena adanya perifer konfluen dan
konsolidasi gravitasi, dengan efusi pleura luas.
Kardiomegali juga terlihat.
GAMBAR 4
Radiografi Dada Antero-Posterior dengan edema
pulmo asimetris dengan insufisiensi mitral
grade 3 memperlihatkan edema predominan
dalam lobus superior dekstra.