Anda di halaman 1dari 34

TUTORIAL KASUS

KEHAMILAN POST C

TERM Disusun oleh:


Lamtioma R.S Gultom
Gita Rosalina
Nurushiami Khairati

Pembimbing:
dr. Handy Wiradharma, Sp. OG
IDENTITAS

Nama : Ny. K
Usia : 32 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Muso salim
MRS : 15 Juni 2017
ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Keluar cairan seperti lendir
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien rujukan dari praktek Sp.OG karena melewati waktu
taksiran persalinan.
Pasien mengeluhkan adanya rasa kencang-kencang sejak 1
jam yang lalu, namun jarang dan sebentar saja. Keluar
lendir bercampur darah (-), keluar air-air (-). Pasien
mengaku masih dapat merasakan gerakan janin.
ANAMNESIS

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat HT (-), riwayat DM (-), alergi
(-) penyakit jantung (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


-Riwayat HT di keluarga disangkal,
riwayat DM (-), alergi (-) penyakit
jantung.
ANAMNESIS

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat HT (-), riwayat DM (-), alergi
(-) penyakit jantung (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


-Riwayat HT di keluarga disangkal,
riwayat DM (-), alergi (-) penyakit
jantung.
ANAMNESIS

Riwayat haid :
Menarche sejak usia 14 tahun, lamanya haid 7
hari, teratur, banyaknya pendarahan 2-3 kali
ganti pembalut wanita/hari
HPHT : 15/8/2016
TP : 22/5/2017
ANAMNESIS

Status Pernikahan :
Menikah 1 kali sejak usia 28 tahun. Lama usia
pernikahan sekarang adalah 7 tahun.

Riwayat Kontrasepsi :
KB sebelum kehamilan: Suntik 3 bulan selama 4 tahun
RIWAYAT KEHAMILAN,
PERSALINAN & NIFAS
Keada
Tahu Penolon
Umur Jenis Jenis an
N n Tempat g
kehamil Persalin Kelamin Anak
o Part Partus Persalin
an an Anak/ BB Sekara
us an
ng
Perempu
RS an/
1 2005 Aterm Spontan Dokter Hidup
Bersalin 2900
gram
Hamil
2 2012
Ini
PEMERIKSAAN FISIK
Tinggi / Berat Badan : 152 cm/ 59 kg
Keadaan umum : sakit ringan
Kesadaran : CM (GCS = E4V5M6)
Tanda-tanda vital:
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Suhu : 36,8 C
Pernapasan : 20 x/menit
Status Obstetrik
Linea nigra (+), striae albicans
Inspeksi
(+), bekas operasi (-)

Tinggi Fundus Uteri : 29 cm


Leopold I : Bokong
Palpasi Leopold II : Punggung kanan
Leopold III : Presentasi kepala
Leopold IV : Sudah masuk PAP

Porsio tebal, Pembukaan 1 cm,


VT Kepala H-I, Ketuban (+)
menempel, bloodslyme (-)
DJJ : 131x/menit, His : 1x/10, 15 20
LABORATORIUM
Hb : 10,3 g/dl
WBC : 13.150/mm3
HCT : 31,8%
PLT : 350.000/mm3
BT : 3
CT : 9
GDS : 91 mg/dl
Ur : 20,0
Cr : 0,5
HBsAg : Non Reaktif
Ab HIV : Non Reaktif
DIAGNOSIS
G2P1A0 gravid 42-43 minggu, janin
tunggal hidup intrauterin + post term
+ oligohidramnion
WAKTU OBSERVASI
15/06/2017 Menerima pasien baru dari IGD, dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
21.30 WITA S: pasien mengeluhkan perut kencang-kencang, namun jarang dan hanya sebentar

O: KU sedang
TD: 120/80 mmHg, N: 80x /menit, adekuat, regular,
RR: 20x/menit, Suhu: 36,5 C (per axiller)
Inspeksi: Linea nigra (+), striae albicans (+), bekas operasi (-)
Palpasi:
TFU : 29 cm
Leopold I : Bokong
Leopold II : Punggung kanan
Leopold III : Presentasi kepala
Leopold IV : Sudah masuk PAP
VT: Porsio tebal, Pembukaan (1 cm), Kepala H-I, Ketuban (+) menempel, caput (-),
bloodslyme (-)
DJJ : 140x/menit,His : 1-2x/10menit 15-20 detik

A: G2P1A0 gravid 42-43 minggu , janin tunggal hidup intrauterine + oligohidramion

P: Saran dr. SpOG


- Observasi di VK
- NST
WAKTU OBSERVASI

15/06/2017 S : ibu mengatakan perut mules, perdarahan (-)


21.30 WITA O : KU sedang
TD : 110/80 mmHg N : 80X/i RR : 24x/I
DJJ : 136x/menit, HIS 1x/10, 15-20

A: G2P1A0 gravid 42-43 minggu , janin tunggal hidup intrauterine + oligohidramion

P:
Observasi sampai besok pagi

S : ibu mengatakan gerak janin (+) mules (-) keluar lendir darah (-)
O : KU sedang
TD 110/70 mmHg N : 78x/I RR : 18x/I T : 36,7
16/06/2017 DJJ : 133x/menit, His : -
11.00 VT 2cm, ketuban (+) menempel kepala H1, porsio tebal lunak, bloodslym (+)
A : G2P1A0 gravid 42-43 minggu , janin tunggal hidup intrauterine +
oligohidramion
P : lapor dr Sp.OG
SC jam 14.00
WAKTU OBSERVASI
16/06/2017 LAPORAN OPERASI :
14.05 WITA Operator : dr. Gusti Hesty Nuraini, Sp. OG
Anestesi : dr. Yanti, Sp. An

Diagnosis preop : G2P1A0 grav 42-43mggu + oligohidramion

Pasien diposisikan supine dengan spinal anastesi.


1. Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine dan lapangan operasi
dipersempit dengan duk steril
2. Dilakukan insisi linea mediana lapisan demi lapisan mulai dari kutis, sub kutis,
lemak, fascia transversa, m.obliqus internus, m.transversus, kemudian
peritoneum.
3. Eksplorasi dan identifikasi perlekatan usus, kemudian dibebaskan secara
tumpul dan tajam dengan hati-hati.
4. Tampak uterus hamil, pisahkan plica vesica uterina. Dilakukan insisi transversal
segmen bawah rahim lapis demi lapis
5. Melahirkan bayi dengan cara mengekstraksi kaki kemudian disusul dengan
menarik bokong, disusul dengan melahirkan badan, leher, dan kepala. Plasenta
dikeluarkan dengan cara manual plasenta
6. Membersihkan bekuan darah dan sisa plasenta.
WAKTU OBSERVASI
8. Uterus dijahit:
Endometrium dengan monocryl 1,0
Miometrium dengan monocryl 1,0
Tunica serosa dengan monocryl 1,0
9. Evaluasi perdarahan, drainase dengan NaCl 0,9% kemudian di suction
10.Lapisan abdomen dijahit lapis demi lapis:
Peritoneum dengan catgut plain 2,0
Otot dengan catgut plain 2,0
Fascia dengan vicryl 1,0
Lemak dengan catgut plain 2,0
Subcutis dengan catgut plain 3,0
11.Observasi perdarahan selama operasi
12.Operasi selesai
WAKTU OBSERVASI

16/6/2017 LAPORAN PERSALINAN


14.35 WITA Keadaan Ibu Pasca Persalinan
O: KU sedang
TD: 100/70 mmHg, N: 80x /menit, adekuat, regular, RR: 18x/menit, Suhu: 36,1 C (per axiller)

Anak
Lahir hidup
J.K : Perempuan
BB : 2500gr
Panjang badan : 47cm
Kelainan kongenital : tidak ada

P:
Terapi post sc :
- Inj cefotaxime 3x1gr
- Inj Antrain 3x1gr
- Kalnex 3x1gr
- Inj ranitidine 2x1
WAKTU OBSERVASI

17/06/2017 S : nyeri luka op berkurang


07.00 WITA O : KU sedang
TD : 110/80 mmHg N : 80X/i RR : 24x/I
A: Post op SC a/i oligohidramnion H-1
P:
- Inj cefotaxime 3x1gr
- Inj Antrain 3x1gr
- Kalnex 3x1gr
- Inj ranitidine 2x1

S : nyeri luka op berkurang


18/06/2017 O : KU sedang
07.00 WITA
TD 110/70 mmHg N : 78x/I RR : 18x/I T : 36,7
A : Post op SC a/i oligohidramnion H-2
P : lapor dr Sp.OG
ACC KRS, obat pulang :
Asam mefenamat 3x1
Biosanbe 1x1
Ceftriaxon 3x1
Definisi
Kehamilan postterm adalah kehamilan yang memanjang atau lebih dari 40 minggu
atau lebih.
Istilah lain kehamilan postterm:
Kehamilan serotinus
Kehamilan lewat waktu
Kehamilan lewat bulan
Prolonged pregnancy
Extanded pregnancy
Post date atau pasca maturitas

(Vostrcil & Dayman, 2011); (Prawirahardjo,


2010)
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, prevalensinya 4%-19%
dari 4 juta kelahiran bayi yang lahir dalam 42
minggu atau lebih

Di Indonesia, kehamilan postterm terjadi


18,74% dari 374 kelahiran

Wanita dengan kehamilan postterm


meningkatkan resiko kehamilan postterm
berikutnya.

Wanita obesitas memiliki insiden yang lebih


tinggi terjadi kehamilan postterm
Etiologi
Penyebab terbanyak adalah kesalahan dalam penetapan
waktu ovulasi dan konsepsi berdasarkan laporan periode
menstruasi terakhir.

Gangguan Anencephaly: kelainan struktur ini mencegah inisiasi


yang dapat
menyebabkan normal kelahiran dan menghasilkan kehamilan yang
kehamilan memanjang.
postterm
Congenital primary fetal adrenal hypoplasia. Adrenal
fetus penting untuk produksi kortisol dan androgen
yang membantu terjadinya partus.
Kekurangan plasenta sulfatase menyebabkan
penurunan estrogen dan selanjutnya akan menunda
terjadinya partus.
(Galal, 2012)
Faktor Resiko
Faktor resiko kehamilan postterm

Primiparitas

Riwayat kehamilan postterm sebelumnya

Anensephali janin

Predisposisi genetik

(Galal, 2012)
Patogenesis
Masih belum diketahui
Produksi peptida corticotrophin releasing hormone (CRH) dihubungkan dengan lamanya
kehamilan.
Sintesis CRH oleh plasenta meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya usia
kehamilan dan saat puncak persalinan.
Pada wanita dengan persalinan prematur peningkatan ini terjadi lebih cepat dibandingkan
dengan persalinan postterm.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor keturunan yang bersifat polimorfisme pada gen
yang berpengaruh pada jalur fisiologis CRH sehingga proses persalinan terjadi.
CRH secara langsung mempengaruhi produksi DHEAs, suatu prekursor sintesis estriol plasenta
oleh kelenjar adrenal pada fetus. Konsentrasi CRH ibu dalam plasma berhubungan dengan
konsentrasi estriol.
Peningkatan estriol dipengaruhi karena peningkatan CRH ibu lebih cepat dibandingkan dengan
peningkatan estradiol karena adanya peningkatan rasio estriol terhadap estradiol yang telah
diperkirakan akan menciptakan keadaan estrogenik pada akhir-akhir kehamilan. Pada saat
bersamaan terjadi penurunan konsentrasi progesteron plasma pada akhir kehamilan dan
bahkan bisa turun drastis. (Galal, 2012)
Manifestasi Klinis
Gambaran ini berupa:
Kulit kering
Keriput
Mengelupas luas; pewarnaan mekonium pada kulit, umbilikus, dan selaput
ketuban
Menghilangnya lemak subkutan; badan kurus yang menunjukkan pengurasan
energi; dan maturitas lanjut karena mata bayi terbuka, tampak siaga, tua, dan
cemas (Cunningham et al., 2010; Martaadisoebrata, Wirakusumah, & Effendi,
2012).
Gambar 2.5 Gambaran pada bayi dilahirkan pada usia 43
minggu dengan tanda-tanda dismaturitas (Cunningham et al.,
2010)
Diagnosis
Mengetahui tanggal haid terakhir dengan rumus Naegele
Tingginya fundus uteri.
Mulainya gerak janin.
Denyut jantung janin.
Menggunakan USG (Crown Rumph Length, biparietal, panjang femur
Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan laboratorium.
Kadar lesitin/spingomielin
Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA)
Sitologi cairan amnion
Sitologi vagina
Gambar 2.6 Tata laksana kehamilan lewat
waktu (Manuaba, Manuaba, & Manuaba,
2006; Manuaba I. B., 2001; Cunningham et
al., 2010)
TEORI KASUS
ANAMNESIS
Faktor resiko kehamilan postterm Ibu berusia 32 tahun
umumnya Status paritas saat ini G2P1A0
Usia ibu Jenis kelamin perempuan
Nuliparitas Tidak ada riwayat kehamilan post term
kehamilan postterm sebelumnya. sebelumnya
Janin laki-laki dan obesitas juga
telah terbukti memiliki hubungan
dengan peningkatan perpanjangan
kehamilan.
PEMERIKSAAN FISIK
Tingginya fundus uteri. Lebih dari 20 minggu, - Didapatkan TFU 29 cm dengan usia kehamilan 42-43
tinggi fundus uteri dapat menentukan umur minggu
kehamilan secara kasar.
- Pemeriksaan Leopold, didapatkan : Tinggi Fundus
Gerak janin. Pada primigravida dirasakan
Uteri : 29 cm
sekitar umur 18 minggu dan pada
multigravida pada 16 minggu. petunjuk umum
Leopold I : Bokong

untuk menentukan persalinan adalah Leopold II : Punggung kanan


quickening ditambah 22 minggu pada Leopold III : Presentasi kepala
primigravida atau ditambah 24 minggu pada Leopold IV : Sudah masuk PAP
multiparitas. His : 1x/10, 15 20
- Denyut jantung janin. Dengan stetoskop
- Auskultasi
Laennac denyut jantung janin dapat terdengar
DJJ : 131x/menit
pada umur kehamilan 18-21 minggu. Tetapi
bila didengarkan dengan fetalphone Doppler,
maka sudah dapat didengar pada umur
kehamilan 12 minggu. Sehingga apabila telah
lewat 32 minggu sejak dapat didengarnya
denyut jantung janin dengan fetalphone
Doppler maka mempunyai kemungkinan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menggunakan USG. Sampai umur kehamilan 12 minggu panjang Hasil lab :
puncak kepalabokong (Crown Rumph Length / CRL) dalam Hb : 10,3 g/dl
millimeter, memberikan ketepatan 4 hari dari taksiran persalinan. Hct : 31,8%
Umur kehamilan 16-20 minggu dilakukan pengukuran Biparietal BT : 3
Diameter (BPD) dalam millimeter serta Femur Length (FL) dalam CT : 9
millimeter memberikan ketepatan 7 hari dari taksiran persalinan. WBC : 13.150 sel/mm3
Pemeriksaan radiologi. Umur kehamilan ditentukan dengan melihat Trombosit : 350.000
pusat penulangan.. sel/mm3
Pemeriksaan laboratorium. GDS : 91 gr/dl
Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA) Ur : 20
Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 Cr : 0,5
detik, pada umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA HbsAg : NR
kurang dari 45 detik. Bila didapatkan ATCA antara 42-46 detik 112 : NR
menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung lewat waktu.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sitologi cairan amnion Hasil lab :
Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam Hb : 10,3 g/dl
cairan amnion. Bila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi Hct : 31,8%
10%, maka kehamilan diperkirakan 36 minggu dan apabila 50% BT : 3
atau lebih, maka umur kehamilan 39 minggu atau lebih. CT : 9
Sitologi vagina WBC : 13.150 sel/mm3
Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) Trombosit : 350.000
mempunyai sensivitas 75%. Perlu diingat bahwa kematangan sel/mm3
serviks tidak dapat dipakai untuk menentukan usia gestasi. GDS : 91 gr/dl
Kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan lewat bulan bila Ur : 20
didapatkan 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan: Cr : 0,5
Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan dinyatakan positif HbsAg : NR
Telah lewat 32 minggu sejak denyut jantung janin pertama kali 112 : NR
terdengar dengan system Doppler
Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali
Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya denyut jantung janin
pertama kali dengan stetoskop Laenec
DIAGNOSIS

- Kehamilan postterm adalah - G2P1A0 gravid 42-43 minggu,


kehamilan yang janin tunggal hidup
memanjang atau lebih dari intrauterin + post term +
40 minggu ditambah satu oligohidramnion
hari atau lebih

PENATALAKSANAAN
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kehamilan postterm - Pada pasien ini dilakukan
sebagai berikut. tindakan SC atas indikasi
1. Menentukan apakah kehamilan memang berlangsung lewat bulan atau tidak. kontraksi uterus yang tidk
2. Identifikasi kondisi janin dan keadaan yang membahayakan janin. cukup kuat dan post term.
Pemeriksaan kardiotokografi seperti nonstress test (NST) dan contraction stress
test dapat mengetahui kesejahteraan janin sebagai reaksi terhadap gerak janin
atau kontraksi uterus. Bila didapat hasil reaktif, maka nilai spesifitas 98.8%
menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Pemeriksaan USG untuk menentukan
besar janin, denyut jantung janin, gangguan pertumbuhan, derajat kematangan
plasenta, jumlah dan kualitas air ketuban.
Beberapa pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan seperti pemeriksaan kadar
estriol.
3. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 sampai 20
kali/menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal 10 sampai 20 kali/menit).
Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan
janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan
mengalami risiko 33% asfiksia.
PENATALAKSANAAN
4. Periksa kematangan serviks dengan skor Bishop. Terdapat lima faktor yang - Pada pasien ini dilakukan
termasuk kedalam skor Bishop yaitu dilatasi serviks, konsistensi serviks, pembukaan tindakan SC atas indikasi
serviks, posisi dan penurunan kepala. Kematangan serviks ini memegang peranan kontraksi uterus yang tidk
penting dalam pengelolaan kehamilan postterm. cukup kuat dan post term.
5. Bila serviks telah matang (dengan skor Bishop > 5) dilakukan induksi persalinan
dan pengawasan intrapartum terhadap jalannya persalinan dan keadaan janin.
Induksi pada serviks yang telah matang akan menurunkan risiko kegagalan.
Bila serviks belum matang perlu dinilai keadaan janin lebih lanjut apabila
kehamilan tidak diakhiri
NST dan dan penilaian kantong amnion. Bila normal kehamilan dapat dibiarkan
berlanjut dan penilaian janin dilakukan dua kali seminggu.
Bila ditemukan oligohidramnion atau dijumpai deselerasi variabel pada NST, maka
dilakukan induksi persalinan.
Bila volume cairan amnion normal dan NST tidak reaktif, tes kontrsksi harus
dilakukan (CST). Bila hasi CST positif, terjadi deselerasi lambat berulang,
variabilitas abnormal (<5/20 menit) menunjukkan penurunan fungsi plasenta
janin, mendorong agar janin segera dilahirkan dengan mempertimbangkan bedah
sesar. Bila CST negatif kehamilan dapat dibiarkan berlangsung dan penilaian janin
dilakukan tiga hari kemudian.
Kehamilan lebih dari 42 minggu diupayakan diakhiri