Anda di halaman 1dari 21

Oleh: Anissa (1610029002)

Pembimbing: dr. Kaharuddin, Sp.Rad.


Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah
keadaan dimana usus gagal atau tidak
mampu melakukan kontraksi peristaltik
untuk menyalurkan isinya.
Hampir selalu dijumpai pada pasien
pascaoperasi abdomen (24 72 jam)
Penyebab lain: peritonitis; atoni usus;
peregangan gas post traumatik (fraktur iga,
trauma medula spinalis, dan fraktur tulang
belakang); hipokalemia

(Djumhana, 2014); (Price & Wilson, 2006)


Untuk menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan mengenai ileus paralitik
terutama mengenai gambaran radiologinya.
Usus halus: tabung
yang kompleks,
berlipat-lipat yang
membentang dari
pilorus sampai katup
ileosekal (+7m)
duodenum, jejunum,
ileum.
Usus besar: tabung
muskular berongga
terbentang dari
sekum sampai
kanalis ani (+1,5m)
sekum, kolon,
rektum.
(Netter, 2006); (Guyton & Hall, 2006)
Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah
obstruksi usus dimana terjadi hambatan
motilitas usus yang disebabkan oleh
penyebab nonmekanis, seperti paralisis dan
kegagalan peristaltik.

(Dorland, 2010)
Intraabdominal Ekstraabdominal
Peritonitis Gangguan metabolik
Pankreatitis akut Ketidakseimbangan
Kolesistitis akut elektrolit hipokalemia,
Perforasi ulkus peptik hipokalsemia
Peritonitis bakterial Uremia GGA, GGK
Appendisitis Ketidakseimbangan
hormonal DM,
Iritasi retroperitoneal hipoparatiroid
Batu ureteropelvik Penggunaan obat-obatan
Pielonefritis antikolinergik/
Perdarahan retroperitoneal spasmolitik, opiat,
Gangguan suplai O2 antidepresan trisiklik,
Insufisiensi A. mesenterika fenotiazin
Insufisiensi V. mesenterika Sepsis

(Wintery; Syam; Simadibrata; Manan, 2003)


Terjadi bukan karena adanya gangguan mekanik,
tetapi dipengaruhi oleh penyakit lain.

Berhubungan dengan gerak peristaltik atau


hilangnya gerak peristaltik usus.

Gerakan peristaltik aktivitas otot polos usus yang


terkoordinasi, diatur oleh neuron inhibitory dan
neuron exitatory sistem enteric motor neuron.

Faktor yang berperan: sistem saraf simpatik


parasimpatik, neurotransmitter (adrenergik,
kolinergik, serotonergik, dopaminergik), hormon
intestinal, keseimbangan elektrolit, dsb.

(Djumhana, 2014)
Distensi usus, meteorismus, bising usus.
Mual, muntah, biasanya konstipasi namun dapat
juga diare.
Mungkin disertai demam (subfebril atau febril).
Kesan umum: ringan - berat, dapat disertai
kesadaran.
Dapat terjadi syok.
Penyakit atau kondisi penyerta: trauma,
prosedural pembedahan (khususnya abdomen),
pankreatitis, batu empedu, DM,
ketidakseimbangan elektrolit, agen spasmolitik,
pneumonia, dan infeksi.

(Wintery; Syam; Simadibrata; Manan, 2003)


Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Kesan umum: ringan - berat
Inspeksi: distensi abdomen.
Auskultasi : bising usus atau tidak terdengar sama sekali.
Perkusi: timpani
Palpasi : tidak ada reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri
lepas negatif).
Pemeriksaan Tambahan
RT: Rektum tidak kolaps, tidak ada kontraksi usus
Pemeriksaan Penunjang
Darah rutin (Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit),
elektrolit, BUN, kreatinin, amilase, lipase, AGD, Foto
Abdomen 3 Posisi, USG, CT scan, EKG.

(Price & Wilson, 2006)


supine erect LLD

(Siswanto, 2005)
(Erkonen&Smith, 2009)
(Heffernan, 2015)
( The University of Nottingham, 2009)
(Niknejad, 2016)
(Niknejad, 2016)
(Niknejad, 2016)
Konservatif dan suportif.
Dekompresi (NGT, rectal tube), menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit,
mengobati kausa dan penyakit primer, serta
pemberian nutrisi yang adekuat.

(Sjamsuhidajat & de Jong, 2010)


Bervariasi tergantung penyebab.
Pascaoperasi abdomen membaik dalam
24-72 jam.
Bila penyebab primer dari ileus cepat
tertangani, maka prognosis menjadi lebih
baik.

(Sjamsuhidajat & de Jong, 2010)


Ileus paralitik: kegagalan atau ketidakmampuan usus
melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan
isinya yang disebabkan oleh penyebab nonmekanis,
seperti paralisis dan kegagalan peristaltik.

Pemeriksaan abdomen 3 posisi dilatasi menyeluruh


gaster - rektum akibat akumulasi udara sepanjang
gaster, usus, dan colon herring bone appearance
dan line up air fluid level.

Pemeriksaan CT Scan distensi gas menyeluruh


pada usus halus maupun kolon tanpa adanya
radiographic transitional zone (RTZ).