Anda di halaman 1dari 18

HIRARKI DALAM

MATEMATIKA, BELAJAR,
KEMAMPUAN DAN
MASYARAKAT
Oleh
Radiusman
Rachmatia Yudha Ningsih
Hirarki dalam Matematika
Hirarki bisa didefinisikan bagi badan pengatahuan
matematika dengan keseluruhan struktur. Awalnya tanda
(ekspresi) dalam matematika berada pada level terendah
yaitu 0 ( belum ada), tetapi dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan khususnya matematika maka tanda ( ekspresi )
dalam matematika telah mencapai jumlah minimum n dari
setiap aplikasi. Setiap tanda ini menunjukkan bahwa setiap
lambang memiliki hubungan (hirarki) satu sama lain yang
disebut hubungan inferensial atau defisional. Hubungan
inferensial adalah yang paling tepat untuk dipertimbangkan,
karena menunjukkan hubungan justificatory antara dalil dan
rumus matematika, yang memberikan struktur teori aksiomatik
deduktif.
Struktur matematika yang hirarkis ini bisa ditemukan
dalam elemen Bourbaki (Kneebone, 1963). Bourbaki
memberikan penjelasan matematika sistematik,
dimulai dengan menetapkan teori, dan
mengembangkan satu setelah muncul teori murni,
matematika struktural.
Kritik terhadap Pandangan Hirarkis
Kemampuan Matematis
Ruthven (1987) memberikan krtik yang tajam atas
stereotip kemampuan, dan berpendapat sebaliknya,
dimana konsistensi pencapaian matematika siswa
kurang dari yang diperkirakan, berbeda-beda
dalam topik dan waktunya.
Ada dua pandangan teoritis yang menentang hirarkis
matematik: sosiologis dan psikologis.
Lanjutan

Argumen sosiologis yang menolak pandangan hirarakis


tentang kemampuan dalam matematika berasal dari teori labelling .
Kaitan yang kuat antara latar belakang sosial dan kinerja pendidikan
dari hampir semua jenis merupakan yang paling lama dibangun dan
merupakan hasil yang paling didukung dalam penelitian sosial dan
pendidikan (Departemen pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, 1988b)
Argumen psiokologi (Vygotsky 1962) berpendapat bahwa
kemampuan pelajar bisa diperluas, melalui interaksi sosial, melampaui
zone of proximal development. Interaksi perkembangan personal
dan konteks sosial serta sasaran melalui aktivitas menjadi dasar dari
Activity Theory (teori aktivitas). Kemampuan bukanlah takdir namun ini
dibentuk dandikembangkan melalui instruksi, praktek dan penguasaan
aktivitas
Tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan
ternyata ada juga yang tidak sepenuhnya setuju dengan
kehirarkian matematika. Dalam teori individu atau domain
beberapa hirarki tentunya hal ini tidak ada, seperti
derajat Turing (tidak bisa dipecahkan) dalam teori rekursi
(Bell dan Machover, 1977). Namun hal ini tidak memiliki
struktur bahkan dalam pecahan signifikan dari
pengetahuan matematika. Maka bisa dinyatakan dengan
tegas bahwa matematika tidak memiliki seluruh struktur
hirarkis.
Implikasi Pendidikan
Hubungan antara matematika dan kurikulum
Ada dua hubungan antara matematika dan sebuah kurikulum
yaitu:
(1) Kurikulum matematika harus merupakan seleksi
representatif dari disiplin matematika, sekalipun dipilih
dan dibentuk sehingga dapat diperoleh untuk pelajar.
(2) Kurikulum matematika merupakan entitas independen,
yang tidak perlu menunjukkan disiplin matematika.
Namun sebagian besar teoretikus kurikulum menolak
kemungkinan kedua, karena mereka berpendapat bahwa
kurikulum harus menunjukkan pengetahuan dan proses
penelitian disiplin subjek(Stenhoyse, 1975; Schwab, 1975;
Hirst dan Peters, 1970).
LANJUTAN

Penelitian tentang perubahan kurikulum telah


mendokumentasikan bagaimana perkembangan
matematika memberikan peningkatan melalui tekanan
yang digunakan oleh ahli matematika pada
perubahan dalam kurikulum matematika sekolah yang
menunjukkan peningkatan (Cooper, 1985); Howson,
1981). Lebih umum, dalam pendidikan matematika
diterima bahwa isi kurikulum harus menunjukkan sifat
disiplin matematika.
Hirarki dalam Belajar Matematika
Pandangan semacam ini diwujudkan dalam teori
Piaget tentang perkembangan intelektual. Pelajar harus
mengusai operasi pada satu tahap sebelum dia siap
berpikir dan menjalankan level selanjutnya. Piaget
menciptakan istilah decalage untuk menggambarkan
kompetensi hirarki yang melampau.
Psikolog lain yang menyatakan bahwa belajar
sifatnya hirarkis adalah Gagne. Dia mengemukakan
bahwa topik hanya bisa dipelajari ketika hirarki
prasyaratnya telah dipelajari.
Konsep sebagai entitas yang diperlukan

Menurut Bell (1983), konsep adalah struktur


konseptual, terdiri dari sejumlah konsep (dalam
pengertian sempit) bersama dengan hubungan antar
Hampir semua hal tersebut merujuk pada konsep
dalam psikologi matematis,seperti konsep nilai
tempat, atau bahkan konsep sepuluh. Oleh sebab itu
konsep dihubungkan dengan konteks penggunaan
Konsekuensi untuk Kurikulum Nasional
dalam Matematika
Hasil empirik yang dilaporkan di atas sebagian
besar fokus pada porsi kecil dari kurikulum
matematika dan usia yang dibatasi serta tingkat
pencapaian. Selain itu telah dilihat bahwa ada
alasan teoritis kuat mengapa hirarki tetap tidak bisa
menjelaskan belajar siswa.
Selain itu kurikulum matematika atau pn
kurikulum secara umu hanya dibiarkan berjalan
secara empirik tanpa adanya pengembangan menuju
kurikulum berbasis penelitian.
Hirarki Kemampuan Matematis
Anak yang pencapaian rendahnya dalam
bidang matematika dikaitkan dengan kemampuan
umum yang rendah, maka pelajaran matematika
perlu secara khusus dirancang guna membentuk
jaringan sederhana yang dikaitkan dengan ide dan
aplikasi mereka. (Cockroft, 1982 hal 98). Dengan
dipahaminya konsep matematika maka akan
meningkatkan pula kemampuan yang lain.
Hirarki Sosial
Hirarki sosial dalam hal ini ada hubungan/ strata
atau tingkatan dalam kehidupan. Dalam Hebrew Old
Testment sebuah hirarki implisit menempatkan Tuhan
ditempat palig atas, diikuti oleh malaikat, lalu nabi di
bumi seperti musa, diikuti oleh kepala suku, manusia
lalu anak-anak dan wanita. Di bawah mereka adalah
hantu dan akhirnya Lucifer atau Satan dirinya sendiri.
Nilai sangat dihubungkan dengan hirarki, semakin
tinggi, semakin baik, dengan yang paling ekstrim
dikaitkan dengan tuhan dan setan.
Pendidikan dan Reproduksi Hirarki
Sosial
Karl Marx (1967) berpendapat bahwa kondisi
material dan hubungan produksi mempunyai kekuatan
penentu atas struktur dan hubungan dalam
masyarakat. Teori neo-Marxist (Giroux 1983) yang
menekankan pentingnya struktur sosial dan ekonomi,
atau budaya dan hubungannya dengan agen
manusia.
Oleh sebab itu pendidikan merupakan alat
yang dapat merubah suatu hirarki sosial dalam
masyarakat.
Hubungan antar Matematis,
Kemampuan dan Hirarki Sosial
Ideologi hirarkis yang keras
Dalam ideologi ini pengetahuan matematika praktikal
level rendah dianggap sebagai kurikulum yang teapt
untuk siswa yang dianggap memiliki kemampuan dan
kecerdasan matematis yang lebih rendah, yang
dipersiapkan untuk level pekerjaan yang lebih rendah
dan strata dalam hirarki masyarakat. Matematika teoritis
level yang lebih tinggi dianggap kurikulum tepat untuk
siswa kemampuan matematis yang lebih tinggi yang
diharapkan untuk mendapat level pekerjaan yang lebih
tinggi dan posisi sosial, mungkin dalam profesi
Ideologi hirarkis progresif

Ideologi yang menjadi penyokong, teori hirarki matematika dan


kurikulum matematika dikaitkan dengan pandangan kemampuan
hirarkis dalam matematika dan pandangan masyarakat hirarkis, kelas
dan karyawan. Seperti di atas ada penyesuaian antara level:
Pengetahuan dan keterampilan matematika yang sederhana dan
praktikal dianggap menggantikan kurikulum yang tepat bagi siswa
dengan kemampuan rendah yang dianggap telah ditakdirkan untuk
level pekerjaan yang rendah dan juga strata sosial yang rendah.
Pengetahuan dan keterampilan matematika yang lebih kompleks
menggantikan kurikulum untuk siswa dengan kemampuan tinggi, yang
dianggap telah ditakdirkan untuk level pekerjaan yang tinggi dan juga
posisi sosial yang juga tinggi.
KESIMPULAN

1. Bentuk pendidikan matematika memainkan peran yang


sangat penting dalam reproduksi (atau menantang) hirarki
sosial, namun hanya salah satu dari beberapa elemen,
yang memasukkan filosofi matematika dan teori
pengetahuan matematika. Epistimologi dan isi pendidikan
memainkan peran yang sangat penting dalam
menciptakan atau mengubah hirarki sosial.
2. Belajar Matematika dapat menentukan tingkat hirarki
sosial seseorang.
3. Kemampuan siswa dalam membuat kehirarkian dapat
diperoleh dengan cara sendiri (Piaget) maupun dengan
cara bersosialisasi ( Vygotsky)